Wajah Rambo Hati Rinto

Ini cerita berdasarkan laporan pandangan mata selama berada di ruang tunggu sebuah rumah sakit tadi pagi, saat aku terdampar di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para lansia.  Betul, lansia atau mereka yang seumuran kakek nenek kita.  Di ruangan lain yang disekat oleh pintu kaca tembus pandang ada beberapa orang tua sibuk berbicara dan mengeluh betapa panas summer kali ini.  Salah satu diantara mereka tangannya tidak lepas dari alat rajut berbentuk sumpit dan benang woll berwarna biru muda.

Tidak lama setelah aku duduk di situ, masuk seorang nenek dengan kursi roda dibantu oleh seorang asisten rumah sakit.  Aku mempersilakan petugas itu menempatkan si nenek di sebelahku karena lebih luas.  Sementara aku pindah ke tempat duduk lain yang masih kosong.  Petugas menitipkan nenek  itu pada seorang dokter dan segera berlalu dari hadapanku.  Tidak berapa lama kemudian masuk seorang pria, tinggi besar.  Dari lengannya yang berwarna coklat samar terlihat tatto.  Di kepalanya yang botak masih nongkrong sebuah kaca mata hitam dan bila terkena silau lampu, kaca mata itu memendarkan warna orange kemerah-merahan.  Jelas sudah bahwa pria yang di depanku ini banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.

Pria yang baru masuk tersebut menempati kursi yang kududuki sebelumnya.  Semoga si nenek yang duduk di kursi roda tidak takut melihat pria yang sosoknya mengingatkanku para pengendara moge (motor gede) semacam Harley Davidson.  Ia mengajak si nenek ngobrol dan belakangan aku tahu bahwa si nenek itu ternyata ibunya… Oalaaaa…sudah berburuk sangka aku 😦 .   Si nenek, seperti kebanyakan orang tua lainnya yang memasuki fase ”seperti anak kecil” sebentar-sebentar mengeluh bahwa kakinya kedinginan.  Suaranya nyaris seperti anak kecil yang sedang merajuk dan cenderung tidak sabaran.

Dengan penuh perhatian pria bertubuh rambo membenahi selimut kotak-kotak merah yang menutupi paha si nenek.  Tidak sampai di situ.  Beberapa lama kemudian si nenek mengeluh kembali bahwa kakinya tetap kedinginan.  Si nenek meminta anaknya untuk mengecek apakah roknya tersingkap sehingga kakinya bersentuhan langsung dengan kursi roda.  Pelan-pelan layaknya memegang kristal, pria itu menyingkapkan selimut dan meneliti lebih seksama.  Mereka berbisik.  Selimut dirapatkan kembali.  Si nenek terseyum.

Suasana hening.  Pria itu mengeluarkan buku untuk menghalau jenuh saat menunggu.  Sebuah buku bersampul hitam.  Tidak jelas judulnya, namun dari kejauhan aku bisa lihat kalau itu adalah buku bergambar.  Komik tepatnya.  Belum selesai pria itu membuka halaman yang dimaksud, kembali si nenek mengajak berbicara.  Si pria mendekatkan telinganya.  Buku terjatuh dan ia membiarkannya begitu saja.  Selesai berbicara, si pria membenahi posisi duduknya kembali mencoba mencari halaman pada buku yang telah terjatuh.

Kembali si nenek minta perhatian dengan meminta si pria membacakan untuknya surat rujukan dari dokter.  Si pria mengambil kertas-kertas dari pangkuan si nenek.  Dengan nyaris bersimpuh si pria membacakan surat rujukan yang dimaksud.  Begitu manis  adegan yang terekam pagi ini.  Sesekali dokter dan suster yang lewat menyelamatkanku dari aksi usilku mengawasi ibu dan anak yang cuma berjarak 4 meter dari hadapanku.  Terkadang pandanganku kulemparkan pada beberapa gambar di dinding yang mayoritas berisi informasi tentang diabetes.

Sama seperti si nenek, aku juga sudah merasa jenuh di ruangan ini.  Tidak ada sinyal di sini, artinya hiburan satu-satuku adalah mengamati keadaan di sekitarku.   Terlanjur curi-curi pandang pada pasangan ibu dan anak itu, aku kembali mengamati mereka.  Si ibu tampak berbicara sendiri, anaknya tenggelam dalam komiknya.  Meski ruangan sejuk, tapi kaos ungu pria itu yang bertuliskan Barcelona tak urung dihinggapi bintik-bintik keringat.  Aku tidak suka melihat mereka tenggelam dalam fikiran masing-masing.  Ayo nek, lakukan sesuatu.  Merajuklah, pintaku dalam hati.  Aku suka melihat kemesraan kalian.

Seakan  kami sedang bertelepati, si nenek  mendengarkan permintaanku dan mulai  mengatakan sesuatu.   Pria itu kembali mendekatkan telinganya sambil mengusap-usap leher si nenek.  Indah sekali.  Mungkin ia sedang menenangkan ibunya agar lebih sabar dalam menunggu.  Sejenak kupalingkan pandanganku dan mencari-cari handphone yang sudah terlanjur kuselipkan begitu saja ke dalam tas.  Saat mengangkat wajahku, sekilas kulihat mereka tertawa.  Pria itu mengacak-acak rambut si nenek dan merapihkannya kembali dengan jarinya.

Aku mencoba menebak sedekat apa hubungan mereka berdua.   Seorang nenek berusia di atas 80 tahun dengan rambut telah memutih nyaris keperak-perakan dan seorang anak usia di atas 45 tahun.  Bertubuh besar, berkesan sangar dan ganas.   Apakah selama ini mereka tinggal bersama, cuma berdua saja?  Kemana suami si nenek sekaligus ayah pria bertubuh rambo itu?  Apakah sejak dulu pria itu selalu bersikap semesra itu terhadap ibunya.  Apakah kau telah menikah, hai pria Rambo?  Apakah pasanganmu kau pelakukan sama baiknya seperti ibumu?

Sejuta apakah yang belum sempat melompat dari kepalaku terhenti begitu saja saat dokter memanggil namaku.  Sambil menuju ruangan dokter, kulemparkan pandanganku pada mereka.  Si pria mengangkat  tangan si nenek  agar ia dapat  meletakan tangannya di atas pangkuan si nenek.  Tidak lama aku berada di ruang pemeriksaan.  Sambil melintas saat hendak pulang, aku menemukan kepala pria itu telah  bersandar pada bahu si nenek.  So sweet!

Banyak anak yang lupa terhadap orang tuanya.  Mungkin karena alasan praktis hingga menitipkan mereka di panti jompo atau  asisten pribadi.  Tentu saja tidak semua seperti itu dan tiap pilihan  pasti ada alasan tersendiri.  Tapi menemani seorang ibu yang telah renta dan berubah menjadi kekanak-kanakan?  Tidak semua orang mampu melakukannya apalagi dengan kesabaran seperti pria Rambo di hadapanku ini.   Atau jangan-jangan pria Rambo itu baru pertama kali mengantarkan ibunya berobat hingga kelihatannya ia sangat menikmati pagi ini.  Tapi senyum diantara mereka menepis dugaanku.  Orang sini jarang senyum dan suka mengeluh.  Berbeda dengan pria ini.  Mereka orang yang beruntung, saling mengasihi satu sama lain.

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s