Ngulik Nama Anak. Semakin Rumit Semakin Asyik

Dalam waktu bersamaan, kakak ipar dan 2 sahabat baikku sedang hamil.  Yup, sedang menanti kelahiran anak.   Apa saja sih yang biasa diobrolin perempuan yang sedang hamil?  Selain masalah suka duka sedang mengandung, termasuk urusan ngidam yang kadang ga masuk akal dan membingungkan orang banyak, pemilihan nama anak menjadi topik yang tidak kalah menarik untuk dibahas.

Kakakku yang cowok sedang sibuk mencari nama anak, begitu juga sahabatku.  Dari obrolan dengan mereka, aku lihat ada kecenderungan lebih asyik ngulik nama anak perempuan.  Lebih banyak pilihan nama, mudah dipadu-padankan (baju kaleeee) dan bikin penasaran.  Kok bisa bikin penasaran?  Ya saking banyaknya pilihan nama anak,  kemudian muncul perasaan tidak puas untuk kombinasi nama yang sudah difikirkan sebelumnya.  Penasaran hasil akhir utak-atik nama ini.

Misalnya nih, untuk nama calon keponakanku, kakakku udah buat rules alias aturan main tersendiri.  Nama bakal keponakanku kudu terdiri : nama khas orang Italia (berhubung mungkin due date di sini), disusul nama  tengah berbau Indonesia (kalau bisa nama Batak) kemudian terakhir  disusul marga, yakni Manurung.  Walau konsep sudah di tangan, tapi urusan milih nama cukup bikin pusing.  Selalu berubah karena merasa nama yang lain selalu lebih cantik.   Tempo hari kakakku suka nama Cecilia, aku fikir juga nama yang cantik.  Tapi ide tersebut mentah begitu saja saat mendengar Francesca, Veronica dan lain-lain.  Ujung-ujungnya malah belum ada nama yang nyangkut.

Lain lagi cerita sahabatku yang mengingkan sebuah nama untuk anaknya.  Dia suka sebuah nama, sebut saja Z.  Katanya, kalo punya anak perempuan ntar kudu dikasih nama Z.   Apa daya, ternyata nama tersebut sudah dipakai oleh teman suaminya….grrrhhhh…. 😦 :(.   Kembali urusan nama mentah lagi.  Temanku menginventarisis nama yang cantik dan unik sambil menunggu hasil USG jenis kelamin jabang bayi beberapa bulan ini.

Ngulik nama anak itu mengasyikan, seperti sedang memecahkan teka-teki atau menyusun puzzle.   Meski belum menikah, aku sudah punya nama calon anak….hihihihi…  Aku pernah memberi nama Aria Azzura  (bhs Italia : udara biru) untuk nama anak seorang teman.  Kami anggap Aria Azzura seperti anak sendiri  (kelak dipanggil Aryo)  walau akhirnya Aria Azzura dipanggil yang Maha Kuasa sebelum kami sempat memanggilnya Aryo.

Apa sih aturan nama untuk anakku kelak?  Begini, begini …

  • Karena nama adalah doa, maka makna dari nama anakku kelak harus baik.  Walau kata Shakespeare : apalah arti sebuah nama. Tapi untukku tetap penting.  Karena menyangkut syarat-syarat berikutnya.
  • Cantik.  Nama anakku kelak harus cantik biar ga malu-maluin anaknya (cucuku) kelak.  Ini juga wajib hukumnya.    Sebagai contoh, di sini ada seorang teman yang dikasih nama Sette Merda (terjemahan :  tujuh kotoran).  Kebayang ga sih muka si Sette Merda saat memperkenalkan diri?  Hai, namaku Tujuh Kotoran.  Nice too meet you.   Jangan-jangan yang diajak salaman urung mengulurkan tangan saat mendengar nama Sette Merda.  Ada pula orang tua yang tega memberi nama anaknya Troia (terjemahan : pelacur).  Bayangkan saat Troia dipanggil temannya : Troia, Troia come here!  Mungkin fikiran yang muncul di benak yang mendengar saat itu : wani piro?  🙂 🙂
  • Unik alias tidak pasaran.  Trend saat ini adalah nama-nama Arab.  Awalnya sih unik, tapi karena banyak yang pakai jadi terasa biasa.
  • Sebagai Identitas.    Rules di atas tidak bisa ditawar dan merupakan satu kesatuan utuh.  Menilik dari syarat yang ditetapkan oleh kakakku : nama khas Italia + nama  khas Indonesia/Batak (bermakna baik) + marga.  Kalau salah satu komponen tidak  terpenuhi, hasilnya malah janggal.  Sambil sharing tentang nama, temanku yang orang Solo ikut menyodorkan nama untuk anak laki-laki yang gampang-gampang susah.  Temanku  mengusulkan nama Widodo (arti : selamat).  Secara nama sebetulnya tidak malu-maluin dan maknanya baik pula.  Lalu mengapa kakakku menolak  Widodo?  Lha, mosok orang Batak dikasih nama Widodo?  *Dilarang bikin bingung orang lain…. 🙂 🙂

*****

Kalau anakku cewek harus ada nama bapaknya plus marga tentunya.  Aturan lainnya dan bersifat wajib adalah : Sophia.  Harus ada Sophia yang artinya sumber kebijaksanaan.  Kalau dilihat secara utuh, mungkin nama anakku kelak seperti ini : Judistira  Helena Sophia …. .  Judistira adalah nama mas Ipung, pacar saat ini. *smile, sedangkan titik-titik merupakan marga yang nanti akan dimiliki Mas Ipung.  FYI, Mas Ipung kalau nikah dengan aku, ntar dapet marga lho.  Tapi seandainya Tuhan berkehendak lain dan bapaknya bukan Judistira, tetep nama anakku  : Helena Sophia.  Siapapun bapaknya, anaknya tetep Helena Sophia… *piss ah Mas Ipung.

Itu untuk nama anak perempuan.  Masih ada beberapa nama cantik lainnya, tapi bersifat tentatif.  Artinya, bakal dipakai kalau aku punya anak perempuan lebih dari 1.  Bagaimana untuk nama anak laki-laki?  Sebetulnya Mas Ipung seneng beberapa nama baptis tapi aku kurang  sreg.   Sudah aku bilang, urusan nama anak adalah hak prerogatifku. 🙂 .  Kalau anakku cowok, kudu pakai nama Alexander  (pejuang tangguh dan agung).  Nama depan tetep pakai Judistira dan terakhirnya pakai marga.  Kira-kira seperti ini : Judistira Alexander Isoka ….

Mungkin ada yang bilang, nama Judistira (sebagai nama bapak) kok di depan?  Karena umumnya di belakang ya.  Itu lebih biar enak didengar.  Lagi pula, nanti pan pakai marga, biar tidak aneh saja.  Keuntungannya, kalau Judistira diletakan di depan, maka kalau di buku absensi nama anakku akan berada di tengah-tengah.  Bandingkan kalau langsung nama Alexander, kemungkinan besar oleh bu guru dipanggil duluan. * Alasan yang lebay….hihihihi…. 🙂

Dari mana sih biasanya ide nama bayi?  Kalau zaman kakek nenek kita, mungkin dari kitab suci dan istilah sehari-hari  saja.  Seandainya kita menginginkan anak kita berbudi luhur, tinggal kasih nama Budianto.  Masih banyak istilah sehari-hari yang berubah menjadi nama orang,  misalnya, Suprihatin, Selamet, Sentosa, Makmur (nama bapakku).

Aturan mainnya juga simple.   Kalau nama pertama dikasih nama Eka, anak kedua dikasih nama Dwi, Tri untuk anak ketiga dan seterusnya.  Tinggal gabungin deh :  Eko Budianto.  Artinya kurang lebih : anak pertama yang berbudi luhur. Tuh gampang banget kan?  Kalau sekarang sih banyak banget situs-situs yang menyediakan ide nama anak.  Tinggal klik.  Semakin unik dan rumit semakin asyik…halah…  Mungkin kita bisa meniru cara orang tua kita yang memberi nama (berkesan) sederhana tapi bermakna dalam.  Jangan seperti kakakku lainnya yang pengen kasih nama anaknya kelak kudu mengandung unsur La Luna (bhs Italia : bulan).  La Luna keren sih.  Tapi coba bandingkan bakal nama hasil utak-atik kakakku : Alluna Mezza.  Kedengerannya sih keren tapi artinya ga banget deh : Pukul setengah dua.  Ngawur banget kan?

Seperti kakakku yang menyukai bulan, ide nama anak juga bisa muncul dari hal yang kita sukai.  Misalnya, ada temanku yang kasih nama anaknya Mawar dan Melati.  Bisa jadi orang tuanya penyuka bunga jenis Mawar dan Melati.  Waktu remaja dulu, aku suka jenis musik rock, cenderung yang berat alias heavy metal.  Pernah terfikir mau kasih nama Happy Metal untuk anak perempuanku.  Tapi ga yakin juga kalau nantinya anakku bakal enjoy menyandang nama itu.  Kalau sekarang  aku suka nama Sophia terlebih setelah tahu maknanya.   Dunia Sophie merupakan buku  favoritku sekaligus   kado pertama dari Mas Ipung.   Demikian juga nama Alexander, merupakan nama seorang sahabat dunia maya.  Ternyata maknanya agung.  Jatuh hati deh sama Alexander… 🙂

Met hunting nama ya temans…

Salam anget,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

2 thoughts on “Ngulik Nama Anak. Semakin Rumit Semakin Asyik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s