Kepala Isi Sampah

Ada pepatah yang mengatakan : jika ingin menilai seseorang, lihatlah bacaannya.  Sekarang aku modifikasi sedikit menjadi : bila ingin menilai seseorang, lihatlah tontonannya, musik favoritnya, soft drink yang setia di tangannya termasuk makanan kegemarannya.  Apakah itu cukup untuk menilai seseorang?  Aku fikir sih begitu.  Sesuatu menjadi favorit atau  the must have  item, tentu karena pertimbangan khusus dan membutuhkan waktu serta proses.  Hubungannya dengan judul di atas?   Pernah mendengar pepatah : witing trisno soko jalaran kulino.  Artinya kurang lebih, cinta hadir karena terbiasa bersama.  Sesuatu yang biasa kita asup, dengar dan sentuh sering menjadi bias.  Apakah kita memcintainya atau sekedar terbiasa saja?

Beberapa waktu ini, walau secara tidak sengaja tapi aku melakukannya dalam keadaan sadar penuh, yaitu menikmati infotainment.  Dulu banget, aku tidak pernah menonton infotainment.  Males banget deh liat acara gosip dan ga bermutu gitu.  Kemudian, saat ibuku tinggal di sini, agar beliau tidak kesepian, aku membantunya mencari gosip-gosip terbaru dari selebritis tanah air.

Supaya obrolanku dan ibu agak nyambung, mau tidak mau aku kudu membekali diri pula dengan informasi seputar selebritis.  Sekarang, walau ibuku sudah tidak di sini, kebiasaan bergunjing, membincangkan gosip terhangat di televisi terus berlanjut.  Ditambah pula, setiap aku pulang kerja tengah malam (pagi waktu Indonesia) dan menyalakan http://www.mivo.tv, kebetulan acara saat itu adalah infotainment.  Tidak tanggung-tanggung, ada sekaligus 2 acara infotainment pukul 06.00 pagi WIB dengan durasi 60 menit.  Ck…ck..ck….

Iklannya yang mana tahaaannn…(banyak) menandakan bahwa acara tersebut memang diminati.   Sudah lama aku tidak menonton infotainment.   Terakhir itu pas Briptu Norman lagi booming.  Aku merasa bosan dan mengambil jeda dari  dunia perinternetan.   Kemarin pas lagi suntuk, iseng nonton lagi infotainment sambil terkantuk-kantuk.  Difikir-fikir, iseng banget sih ada orang yang sabar menonton kisah Ashanty, Syahrini, Anang dan Krisdayanti selama 1 jam penuh.   Ga gila?  Beritanya itu melulu yang dibolak-balik.  Semua infotainment menyajikan berita serupa.  Apakah selebritis Indonesia cuma mereka saja?

Aku tidak pernah tuntas menonton infotainment, biasanya cuma lihat sekilas kemudian pindah chanel.    Aku sih menghargai keputusan orang untuk mau nonton infotainment di pagi hari.  Bisa saja mereka lagi suntuk, males  berfikir yang berat-berat.  Tapi tega banget sih stasiun televisi menyajikan berita-berita yang ga penting (minimal menurutku).  Apa  sih faedahnya untuk masyarakat melihat pemberitaan seputar niat Kris Dayanti menjual rumah yang dulu mereka diami?  Apakah penting diumbar ke publik mengenai kegemaran Syahrini akan makanan pedas.  Seandainya dugaan operasi plastik yang diduga dilakukan oleh Syahrini tidak dibesar-besarkan oleh media, tentu saja masyarakat tidak perlu memikirkan masalah ini.

Rasanya sayang melihat  banyak  orang yang bersedia meluangkan waktu menuliskan komentar di media on line, padahal beritanya biasa saja.  Sebuah berita yang tidak perlu tanggapan sama sekali.  Bahkan KOMPAS aku perhatikan tiddak bosan-bosannya menyajikan berita tentang si A, bolak-balik, atas-bawah.  Berita tentang si A ini umumnya singkat saja, semacam sekilas info, tapi banyak banget artikelnya.  Tinggal klik related article, maka akan muncul aneka berita mengenai artis A.  Bisa saja artis A diberitakan sedang menyusun pernikahannya.  Bisa ditebak bahwa artikel pertama tentang si A pergi ke desainer terkenal, fitting baju pengantin, mencari seserahan, pergi ke salon dan sebagainya.

Kembali lagi ke masalah cinta datang karena terbiasa.  Awalnya kita menonton infotainment atau berita tidak bermutu karena iseng, sedang senggang.  Namun karena menjadi kebiasaan, kita lalu merasa kehilangan bila kehilangan 1 episode.  Lama-lama, kita mulai mencocokan jadwal kita dengan acara televisi.   Biar saja sinetron favorit kita dicerca sebagai sebuah pembodohan,  tapi kita terlanjur cinta dan bersedia mengikuti setiap episodenya.     Tanpa sadar, kita menyuplai kepala kita dengan makanan tidak bermutu, cuma sampah (junk food).     Sayang banget kan kalau kebiasaan ini kita lanjutkan karena anak-anak kita akan meniru kebiasaan ini.  Mereka akan melahap semua makanan (tontonan) yang tersedia di hadapannya tanpa memilah terlebih dahulu.   Sebagai orang tua, kita wajib menjadi panutan untuk anak-anak kita.   Melakukan atau menonton sesuatu yang tidak bermutu pada akhirnya menjadi sebuah pembenaran untuk anak-anak kita dan mereka akan mengikuti.

Masalahnya sering karena pilihan acara yang tidak menarik dan cenderung seragam.  Rata-rata isi acara stasiun televisi bisa dibagi menjadi : edukasi dan hiburan.   Kalau makanan (acara) yang tersedia ternyata tidak mendidik ya jangan di santap.  Pemilik stasiun televisi memiliki hak untuk menyajikan apa yang mereka miliki, tapi kita punya hak untuk memilih makanan apa saja yang masuk ke tubuh kita.  Jangan isi kepalamu dengan sampah.  Kalau makanannya tidak bernutrisi,  lebih baik mematikan televisi.

Salam,

Lintasophia

Ket.  gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s