Disorientasi Hidup

Beberapa hari yang lalu saat jam makan siang, seorang ibu tergopoh-gopoh masuk ke toko tempatku bekerja.  Lengannya bersimbah keringat menahan tumpukan koran dan majalah  yang demikian banyaknya.  Seperti biasa, aku menanyakan apa yang bisa kulakukan untuknya.  Ternyata, ibu itu butuh semacam shopping bag untuk kertas-kertas yang sedang dibawanya.

Lalu aku menyodorkan beberapa shopping bag, terbuat dari dari kain bermotifkan batik.  Setelah memilah-milah selama beberapa menit, ibu itu menyisihkan sebuah shopping bag.  Kemudian ia melanjutkan melihat barang-barang yang ada di toko.  Beberapa cincin sukses ia sisihkan.  Tidak sampai di situ, ia tampaknya tertarik dengan barang-barang lain.  Mungkin hari ini ia sengaja menghadiahi dirinya sendiri dengan berbelanja lumayan banyak.  Dari gayanya yang dengan kepercayaan diri penuh memintaku memisahkan beberapa barang, aku yakin bahwa ia akan belanja banyak sekali.

Setelah sekian lama berada di toko dan menyisihkan beberapa barang yang ia suka, lalu ia melihat arlojinya. Mengucapkan terima kasih sambil melambaikan tangan sambil berjanji akan kembali lagi.  Dengan terpana, aku cuma bisa berkata, sialan. Kirain mau beli.  Gayanya aja selangit. 😦 😦

*****

Kelakuan si ibu yang nyebelin itu mengingatkanku bahwa kita juga sering seperti dia (mungkin kita lebih parah 🙂 ), mengalami disorientasi hidup. Tadinya mau A tapi tanpa sengaja kita memetik B.  Rencana semula ke kanan tetapi tanpa sadar kita banting stir ke kiri.  Sudah lama kita menginginkan warna hitam, tapi pas barangnya ada kok malah jadi mengambil yang merah?  Bahkan  tak jarang kita  lupa rencana besar kita.  Kok bisa ya?

Kalau aku ibaratkan, hidup kita itu seperti saat berbelanja di supermarket.  Niat awal sih cuma mau beli bawang dan cabai.  Tak dinyana trolley penuh dengan barang-barang lain yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya.  Mungkin ada baiknya kita mengingat lagi nasihat bijak untuk selalu membawa daftar belanjaan saat melangkahkan kaki ke supermarket.

Dengan list di tangan, kemungkinan untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan dapat diminimalisir.  Atau, jika barang yang kita butuhkan tidak ada, kita dapat  segera mengambil barang penggantinya dengan fungsi yang sama.  Begitu juga dengan hidup.  Dengan adanya  peta, rancangan mimpi-mimpi  dapat membantu kita sampai di tujuan dengan selamat walau mungkin sedikit babak belur.

Disorientasi dalam belanja tidak terlalu besar akibatnya.  Paling pengeluaran bertambah dan kita terpaksa menggesek si duit plastik karena dana kontan tidak memadai.  Bagaimana  jika sebaliknya,  disorientasi terjadi dalam kehidupan kita?  Tidak ada jalan lain kecuali mengambil jeda, rehat dan memikirkan kembali tujuan hidup kita.

Jangan ragu untuk bertanya, apakah langkah yang kita ambil sudah tepat dan mendukung untuk mencapai tujuan hidup kita? Boleh kok bertanya pada orang lain, mana jalan paling cepat dan aman menuju A.  Seandainya situasi di kota A tidak mendukung untuk dikunjungi, boleh kok memikirkan kota B sebagai rencana cadangan.  Intinya tetap sama : Anda harus punya ide hendak kemana dan mau berbuat apa di sana.  Bertanya sebagai media mengumpulkan informasi bukan berarti merendahkan diri.  Terkadang orang lain memiliki informasi yang tidak kita ketahui sama sekali.

Setelah semua  informasi di tangan, baru melangkah ke tahap selanjutnya.  Buat skema yang jelas dan terperinci termasuk tenggat waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana.  Tentu saja, agar kita bisa memulai skema ini, kita harus tahu apa yang kita cari dalam hidup ini.  Tanpa tujuan yang jelas, kita hanya muter-muter atau jalan di tempat saja.  Tidak mungkin akan ada langkah besar jika tidak ada langkah pertama.  Tapi, bagaimana mungkin kita menggerakan kaki jika kita tidak punya arah?

Sekedar menguatkan, dengan membuat rancangan (dan lebih baik jika mencatatnya), kita mengurangi resiko gagal.  Karena tentu saja kita akan sering memikirkan faktor pendukung untuk mencapai tujuan, kelemahan kita termasuk resiko di setiap rancangan.  Sama halnya ketika kita berbelanja.  Saat kita membeli sekilo gula pasir, kita punya bayangan bahwa gula pasir itu akan cukup untuk keluarga kita selama seminggu.  Demikian juga dengan sekarung beras yang kita taksir akan cukup selama sebulan.  Dengan membuat rancangan, kita dilatih menganalisa keadaan dan tenggat waktu mencapai tujuan.

Kembali lagi ke petuah orang-orang bijak.  Konon, jangan berbelanja dalam keadaan perut kosong atau emosi sedang tinggi.  Ada hormon tertentu yang akan membuat kita kalap belanja.  Begitu juga dalam menentukan tujuan hidup.  Ketika hidup laksana berbelanja, ambil keputusan saat hatimu tenang dan kepala dingin.  Pikirkan semua baik buruknya dan siapkan diri untuk resiko yang ada.  Jangan biarkan disorientasi mencuri waktumu hingga terbuang percuma.

Selamat berbelanja eh selamat mencari tujuan perjanalan hidup ini.  Semoga tidak disorientasi lagi ya.  Tuhan memberkati.

Salam,

Lintasophia

Ket. gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s