Pernikahan Itu Menggerus Kecantikan

Hari Kamis lalu, aku keliling-keliling kota dengan majikan yang biasa aku panggil Oom.  Urusanku sebenarnya sepele, cuma ngecek kerjaan di gudang yang harus aku dan Teh Maya garap mulai minggu depan.  Check baby check gudang cuma beberapa menit saja.  Yang lama itu justru ikut muter-muter dengan si Om.  Soalnya, aku dan Teh Maya numpang mobil si Om.  Jadi, judulnya pasrah dibawa ke sana-sini, ngikutin schedule majikan…hehehhehe.

Beberapa agenda si Om terlampaui dengan lancar.  Urusan mampir tinggal 2 kali lagi.  Ke salah satu kantor, bertemu karyawan si Om.  Kami menunggu karyawan yang dimaksud di mobil.  Ini lebih cepat daripada urusan mencari parkir dan naik ke gedung.   Tidak berapa lama, si F turun dengan membawa beberapa lembar kertas.  Saling sapa tanpa cipika cipiki karena posisi dudukku yang jauh dan nanggung untuk menggerakan badan sebab masih pakai sabuk pengaman.

Just say hallo dan aku membiarkan si F dan Om melanjutkan obrolan mereka.  Posisi dudukku di depan, di sebelah si Om yang menyetir, hingga leluasa mendengar percakapan mereka termasuk diam-diam mengamati wajah si F.   Dalam penglihatanku,  sekarang si F tidak secantik dulu lagi.  Memang harus kuakui,  sudah beberapa tahun aku tidak bertemu, sejak  si F  menikah.

Dari segi penampilan juga tidak seelegan dulu, padahal ia menikah dengan pria kaya raya.  Pipinya sekarang lebih padat (tembem) dengan pori-pori besar yang tidak tertutupi oleh make up.  Sejak dulu, si F selalu dandan natural tapi tetap cantik banget.  Ditambah lagi orangnya ramah dan periang.  Selalu ada senyum di wajahnya yang berbinar-binar.  Tubuhnya langsing bak model.  Konon,  saat pagelaran busana di Italia, ia pernah membeli gaun yang dibawakan oleh Naomi Campbell tanpa perlu mengurangi atau melepas jahitan pada gaun itu.  Si F berhasil mengenakan gaun itu tanpa mengubahnya barang 1 centimeter pun.  Nah, mungkin udah kebayang dong sosok perempuan cantik yang sedang ada di hadapanku ini.

Lambaian tangan F membuyarkan lamunanku.  Mobil bergerak.

”Itu si F ya?  Kok berubah, nyaris aku ragu kalau itu dia.”  Kataku  ke si Om.

”Ga ngenalin gimana?  Bukannya dari dulu udah kenal?”   Si Om balik nanya.

”Justru itu masalahnya.  Sejak terakhir kali  bertemu, ia sangat berubah.  Dulu ia sangat cantik, tapi sekarang berbeda.”  Aku tidak mungkin menggunakan kata ”jelek’,” karena pada dasarnya si F tetap cantik, cuma ada yang janggal.  Itu saja.

”Ya wajar dong kamu merasa aneh.  Kalian kan jarang bertemu.  Kapan kalian terakhir kali bertemu?”  Tanya si Om sambil sesekali mengecek Blackberry yang tergeletak di dashboard mobil.

”Sebelum ia menikah.”   Jawabku.

”Sekarang percaya kan se il matrimonio si consuma (terjemahan : pernikahan itu menggerus kecantikan).”  Bales si Om dengan tertawa.

”Apa si F  ga happy?”  Tanyaku lebih lanjut.

” Mana aku tahu.  Tapi kau kan bisa liat dari wajahnya.”

”Tau ah, kok aku jadi usil ya?”  Aku cuma mengernyitkan kening mendengar jawaban si Om yang mengambang.

”Usil atau kau jadi takut nikah?”  Ledek si Om.  Whuaaaaa….ada-ada aja si Om ini.

*****

Kesimpulan umum :

Untuk kalian yang sudah tidak single, coba deh sekali-sekali perhatikan wajah pasangan kalian.   Apakah ia lebih cantik atau lebih cakep setelah menikah?  Oittssss, maksudku aura wajah pasangan Anda secara keseluruhan.   Karena kebahagiaan itu berasal dari hati dan fikiran, maka ia akan memancar keluar.  Demikian juga sebaliknya.  Wajah yang dirundung mendung, tidak sedap dilihat bisa dipastikan bahwa ia tidak bahagia atau berbeban berat.

Ciri-ciri lainnya yang mudah dinilai adalah perubahan bentuk badan.  Katanya, bila perempuan stay dengan pria, otomatis bentuk badannya akan bertambah.  Selain faktor usia (terlebih jika telah melahirkan), kemungkinan adalah faktor makanan.  Pria makannya lebih banyak dan perempuan akan mengikuti pola makan suaminya.  Nah, kalo perempuan merasa rileks saat makan banyak bersama pasangannya, mungkin ia bahagia.

Perhatikan juga perubahan kebiasaan-kebiasaan antara Anda dan pasangan. Tentu maksudku perubahan-perubahan yang bersifat baik.   Jika waktu pacaran pasangan Anda temperamental dan ringan tangan, kemudian setelah menikah lebih lembut dan sabar, pasti ia happy dengan Anda.  Kalau dulu pasangan Anda mandi cuma sebulan sekali, itu pun karena sebelumnya kehujanan di jalan, tapi sekarang hampir tiap hari mandi serta jauh lebih bersih, bisa dipastikan ia bahagia dengan Anda.

Katanya, pernikahan itu bukan untuk mengubah seseorang menjadi seperti yang diinginkan pasangannya.  Lebih mengarah ke kompromi dan toleransi.   Kita bisa berdikusi dengan pasangan, mengenai batas-batas kompromi yang ada.  Semua bisa dibicarakan kok, itu  kalau Anda dan pasangan tipe yang demokratis.  Tapi banyak juga pasangan yang memendam masalahnya dalam hati.  Kalau secara fisik mungkin dapat dengan mudah diukur, tapi yang tertanam di hati pasangan Anda tidak akan ada yang tahu.   Karena itu, besok pagi amati baik-baik wajah pasangan Anda.  Kalau pesona eh aura kecantikannya memudar, bisa dipastikan ada yang tidak beres dalam pernikahan kalian.  Bisa jadi pernikahan kalian telah menggerus kecantikannya.

Salam,

Lintasophia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s