Memahami Perasaan Seorang Ibu

Pada 16 Mei nanti, ibuku akan genap berusia 63 tahun.  Masih terbilang muda sebetulnya, mengingat usia harapan hidup belakangan ini semakin lama.  Namun, kondisi kesehatan ibuku yang cenderung tidak stabil sering membuat perasaan kami yang jauh ini deg-degan.  Hal ini diperparah karena kakakku (cowok) yang tinggal berdekatan dengan beliau hijrah ke Genova.   Keputusan kakakku menyusul kami bekerja di Genova menjadi sebuah dilema.  Satu sisi, secara ekonomi diyakini bekerja di Genova merupakan keputusan terbaik.  Namun di sisi lain, tidak ada lagi yang menemani ibu dan bapakku di Bandung.

Awalnya, Kombet (nama panggilan kakakku) sebetulnya memiliki toko handphone yang menjual aneka telfon genggam, pulsa termasuk asesoris.  Sudah 6 tahun toko itu ada.   Semua berjalan lancar, toko handphone itu mampu membuat dapur kakakku tetap berasap.   Hingga tiba saatnya semua berubah sangat cepat, saat semua provide perang harga.  Biaya percakapan sesama operator bisa dikatakan 0 (nol) rupiah.  Bila digambarkan, dengan pulsa Rp. 20.000,00.- kita bisa pakai nelfon selama sebulan penuh.

Kemudahan ini berakibat fatal terhadap nasib para penjual pulsa.  Frekuensi penjualan pulsa menurun drastis karena kebutuhan akan pulsa jauh berkurang dibanding sekitar 2 tahun lalu.  Ditambah kehadiran Blackberry yang cukup menjadi godam yang memecah urat nadi penjual pulsa menjadi berkeping-keping.  Rata-rata konsumen membeli pulsa sebulan sekali, itu pun dengan jumlah yang minim.  Sekedar memenuhi iuran Blackberry.  Karena sekarang handphone bersifat all included.  Bisa BBM-an (Blackberry messenger), situs jejaring sosial dan internet.  Bisa dibayangkan dampak perang harga antar operator ini terhadap kelangsungan para penjual pulsa.

Sebagai keluarga besar, kami terbiasa berdiskusi memecahkan masalah diantara kami, salah satunya ya tentang Kombet ini.  Tahun lalu, setelah melihat langsung merosotnya perkembangan toko handphone, akhirnya dicapai kata sepakat agar kakak bekerja di Genova.   Selama menunggu visa kerja turun, aku sering memastikan bahwa ibuku baik-baik saja bila ditinggal Kombet dan Teh Maya.

Walau sedih, ibu dan bapakku rela dan iklhas bila Kombet dan Teh Maya harus di Genova.  Demi kebaikan mereka, demikian penuturan ibuku.  Aku tahu, bahwa sebetulnya ibuku berat melepas Kombet jauh, mengingat selama ini Kombet menjadi tumpuan dan tempat curhat ibuku.  Entah itu ibuku meminta Kombet mengantar keponakan ke Sekolah Minggu atau sekedar mengantarkan sekarung beras ke rumah.   Selain itu, kalau kami yang di sini butuh apa-apa, biasanya tinggal menghubungi Kombet.  Ibarat sebuah organisasi, kami adalah tim pemikir dan Kombet sebagai tim eksekusi (pelaksana).  🙂 🙂

Orang tuaku juga bukan orang berada yang mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.  Sampai saat ini, tiap orang dari kami harus benar-benar mandiri dan mengusahakan kehidupan yang lebih baik.  Orang tuaku tidak bisa dengan hanya menjentikan jari maka semua yang kami butuhkan dan inginkan tersedia.  Hal ini disadari betul oleh kedua orang tuaku hingga akhirnya merelakan kami untuk merantau, termasuk Kombet sebagai kloter terakhir.

Baru seminggu Kombet di sini, ada khabar kurang enak dari Bandung.  Ibuku sempat masuk UGD  (Unit Gawat Darurat).  Duhhhh… bingung jadinya, walau masih ada kakak perempuan dan kakak ipar di sana, tapi biasanya Kombet yang urus ini itu.  Karena terbiasa mendapatkan informasi perkembangan di rumah dari Kombet, urusan rumah sakit juga agak kurang sreg.  Kakak, kakak ipar dan bapak sudah mencoba menjelaskan kondisi ibuku, tapi   aku masih agak bingung.  Setelah masa kritis lewat dan mampu berfikir dengan tenang, barulah kami bisa menyerap informasi  tentang kesehatan ibuku dari orang rumah.  Ahhh…ada-ada saja.

Tidak cuma masalah administrasi yang membutuhkan kehadiran Kombet, salah satunya urusan pasang kaca patri.   Ceritanya,  di rumah sedang dipasang kaca patri.  Nah, ketika Kombet berangkat ke sini, pemasangan kaca ini sedang vakum karena sedang menunggu kaca yang dipesan belum jadi.  Seminggu yang lalu ibuku bercerita bahwa mereka tidak dapat menemukan alamat tukang kaca.  Bahkan, alamat yang ditulis di faktur tidak eksis.  Ibuku sempat panik.  Bolak-balik ibu dan bapakku menyusuri alamat yang dimaksud tapi hasilnya nihil.  Akhirnya aku minta Kombet yang menghubungi langsung tukang kaca.  Sekarang urusan kaca sudah beres.

Itu cuma segelintir masalah adaptasi yang harus dilakukan oleh ibuku tanpa kehadiran Kombet.  Pelan-pelan ibuku harus membiasakan dengan istilah-istilah asuransi, otomotif  dan perbankan.  Selama ini, Kombet yang mengurus pembayaran ini itu.  Awalnya ibuku serba bingung dan mendapat kejutan tidak enak, maklumlah selama ini ibuku cuma mendengar tapi tidak pernah terjun langsung.   Pelan-pelan kami bantu ibu untuk memahami istilah tekhnis yang ada di hadapannya.  Puji Tuhan, bapak dan ibu sangat kompak.  Mereka sabar aja menjalani kerepotan yang ada.

Kemaren aku tanya, apakah ibuku kangen Kombet?    Ibuku cuma bilang, yang penting kalian  (kami)  sehat-sehat saja.  Semoga keadaan membaik dan cepat kumpul kembali.  Sebagai orang tua, beliau tidak mau bersikap lebay dan menuntut berlebihan terhadap anak-anaknya.  Ulang tahun kali ini pasti berbeda.  Lebih sepi, tanpa Kombet dan Teh Maya.  Tapi mungkin ulang tahun kali ini ibuku merasa lebih lega karena Kombet dan Teh Maya mendapatkan  jalan untuk memperbaiki nasib.  Perkembangan terakhir di keluarga besarku membuka mataku bahwa seorang ibu mau melakukan apa saja untuk anak-anaknya.  Seorang ibu rela  hidup kesepian dan tidak nyaman  sebab tidak ada lagi yang membantunya mengurus ini itu.  Ibuku memilih menekan perasaannya sendiri dan melepaskan kami pergi jauh.  God bless u, mom.

Salam,

Lintasophia

Ket. gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Memahami Perasaan Seorang Ibu

    • lintasophia berkata:

      Betul… Ibu itu perpaduan yang ”aneh” ya? Lembut sekaligus kuat. Ibuku memilih kesepian yang penting anak-anaknya bisa survive.
      Hidup para ibu yang mau berjuang untuk anak-anaknya. 🙂

    • lintasophia berkata:

      Betul itu teh Saw…
      Happy mother’s day ya… Ini merupakan hari untuk semua perempuan yang rela berjuang untuk anak-anaknya. 😉 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s