Gajah Mati Meninggalkan Gading, Manusia Mati Meninggalkan Asuransi

Ini sisa cerita sehabis mudik lalu.  Salah satu agenda utamaku akhirnya tercapai.  Buat asuransi pensiun.  Horeeeee….  Hihihihi, aku seneng banget karena akhirnya terwujud.  Biasanya, sebelum mudik aku udah buat rencana A, B, C dan seterusnya.  Jadwal reunian dan kunjungan juga sudah tersusun rapi, termasuk mengunjungi kantor asuransi.  Setiap tahun  adda agenda mengunjungi kantor asuransi  dan tiap tahun pula gagal.  Maklumlah, sok sibuk ga jelas.🙂🙂

Nah, pas mudik lalu, hari kedua di rumah, aku langsung menghubungi 108, menanyakan nomor telefon asuransi yang selama ini ada di kepalaku.  Pihak penerangan Telkom memberikan 2 nomer telfon sekaligus.  Sayangnya, dari pagi hingga sore hari aku hubungi, tidak satu pun panggilanku dijawab.  Berhari-hari aku coba nelfon dan hasilnya sama.  Grrrrhhhh….  Rasanya geram sekali.  Setelah seminggu aku di Bandung, tiba waktunya untuk melarikan diri sejenak ke Jogja selama 4 hari.  Aku putuskan nanti kembali menghubungi perusahaan asuransi jika telah di Bandung lagi.😦😦

Kembali ke Bandung, hal pertama yang kulakukan adalah bermain dengan angka-angka nomer telfon perusahaan asuransi.  Uuuuhhhh…dasar ga profesional, telfonku tidak ada yang menjawab.   Sedikit kesal kuputuskan untuk tidak lagi memikirkan  perihal asuransi.  Bodo ah…  Mereka (perusahaan asuransi) yang bakal rugi karena bakal kehilangan (kesempatan) mendapatkan aku sebagai kliennya.  

Aku berhenti memikirkan perihal asuransi dan memilih jalan-jalan ke Bali bersama kakak, adik, sepupu dan teman-temanku.  Kegemasan akan asuransi sudah lenyap dari benakku.   Sekembalinya dari Bali, aku stay beberapa hari di Bandung, melepas rindu dengan keluarga.  Aku memutuskan kembali ke Jogja untuk terakhir kalinya.

Aku di Jogja lagi selama 4 hari.  Menjelang pulang ke Genova, aku flash back apa saja yang telah aku lakukan dan belum (harus) lakukan selama di Indonesia.  Dan whoaaaaaa…..muncul kembali si asuransi yang minta diperhatikan.  Duh, aduh….pegimana ini?  Aku sedang di Jogja (Bantul) dan jauh dari mana-mana.  Bagaimana caraku mendapatkan informasi tentang asuransi yang aku butuhkan?  Segera kuhubungi ibuku untuk minta pendapatnya.  Ibuku menyarankan agar aku mencoba melirik perusahaan asuransi lain, yang selama ini tidak kupikirkan sama sekali.

Kebetulan, 2 keponakanku serta kakak dan iparku merupakan pemegang polis di asuransi rujukan ibuku ini.  Well, sekedar bertanya tentu tidak masalah.  Aku menganggap informasi yang bakal kudapat sebagai bahan perbandingan dengan perusahaan asuransi incaranku selama ini.  Aku dan sales asuransi (dan ternyata masih saudara dekat) mendapatkan kata sepakat, bertemu di rumah.

Mbak Rista (nama sales), membantu membuatkan skema asuransi pensiun sesuai dengan kebutuhanku.  Aku prioritaskan asuransi pensiun, sedangkan kesehatan tidak aku ambil.  Bila sesuai rencana, beberapa tahun ke depan aku masih di sini, dimana kesehatan dijamin oleh pemerintah.  Maka aku tidak memerlukan perlindungan kesehatan.  Fokus untuk pensiun saja.

Beberapa skema sudah jadi.  Ada beberapa opsi yang  dapat difikirkan.  Aku kembali fokus melihat kondisi keuangan yang ada.  Diantara semua, opsi dengan premi paling besar justru menggodaku.  Tapi melihat kondisi keuangan yang ada, aku putuskan mengambil yang medium  saja.  Itu juga sudah memadai.  Ada beberapa kondisi yang menguntungkan dan membuatku (akhirnya) mengambil asuransi ini, misalnya ;

  • Usia pertanggungan (bila aku meninggal) hingga 99 tahun.  Artinya, bila aku meninggal, ntar ahli waris yang tercantum di polis akan mendapatkan sekian rupiah.
  • Hingga usia 65 tahun, bila aku mengalami kecelakaan dan mengakibatkan cacat atau tidak bisa bekerja, maka aku mendapatkan dana sekian rupiah.
  • Perlindungan kesehatan juga termasuk di dalamnya,  tentu syarat dan kondisi berlaku ya…

Ada hal lain yang membuatku mengambil asuransi ini, yakni aku cukup membayar selama 10 tahun saja.  Jadi, kita tidak perlu membayar premi selama,  misalnya 20 tahun, tapi dana  baru bisa diambil setelah tiba masa pensiun yang disepakati.  Di sini, dana  dapat dicairkan sewaktu-waktu.  Ada sedikit penalti, tapi tidak signifikan.  Toh seandainya kita menyimpan dana di bank, ada biaya administrasi bulanannya.

Apa keuntungan lain?  Aku bisa tidur nyenyak…hihihihi….  Berkaca dari pengalaman orang tuaku yang tiap bulan harus nunggu kiriman dari anak-anaknya,  aku tidak mau seperti mereka.  Aku tidak mau merepotkan anak-anakku kelak,  yang belum tentu penghasilan mereka memadai untuk dibagi.  Ibuku cuma tersenyum mendengar alasanku.

Ini merupakan asuransi kedua yang aku miliki saat ini.  Sebelumnya, aku sudah membuka unit link di salah satu bank.  Sudah berjalan selama 6 tahun dan 4 tahun lagi bisa diambil.  Kalau asuransi yang pertama lebih ke faktor  ”iseng”  karena nilainya tidak seberapa (salah satu alasan aku membuka asuransi pensiun dengan premi lebih besar).    Walau berat dan memotong anggaran jajan yang ada, aku menganggap asuransi pensiun ini  sebagai aset.  Wong hitung-hitung nabung kok.   Kedua asuransi ditambah aset-aset  properti yang ada,  sudah memadai untuk pensiunku di Bantul nanti.

Permasalahan mendasar sekarang adalah menyiapkan usaha keluarga sebagai sumber penghasilan sebelum masa pensiun tiba.  Kebetulan, sedikit banyak aku membiayai beberapa keponakan.   Saat ini mereka sudah sekolah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Membagi penghasilan yang ada ke beberapa pengeluaran wajib serta sebisa mungkin  investasi butuh kesabaran dan ketelitian.    Sekarang mikirnya harus pelan-pelan dan hati-hati.  Ada masa depan beberapa anak di pundakku.  Hal yang menghiburku adalah, sekarang aku tidak terlalu cemas.  Bila sesuatu terjadi padaku, ada asuransi yang akan menanggungnya.  Ibarat kata, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan asuransi.  * very smile😉😉

Terima kasih udah menyempatkan diri membaca catatan ini.  Selamat berakhir pekan.

Salam,

Lintasophia

2 thoughts on “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Manusia Mati Meninggalkan Asuransi

    • lintasophia berkata:

      Teteh banyak pisan bidang usahanya? Duh, seandainya aku tau mah, pasti teteh orang pertama yang ta’ hubungi.
      Sukses untukmu, teh. Happy Sunday😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s