Makan Malam yang Ga Banget!

Dengan terburu-buru kuteguk air mineral dari botolnya.  Sebanyak mungkin, pikirku.  Di kepalaku masih terbayang mie instan super aneh yang baru saja kusantap.  Tepatnya, terpaksa kusantap.  Barusan, akhirnya tanganku gatal juga untuk membenahi rumah, minus kamar mandi.  Tidak ada yang istimewa dari acara bersih-bersih itu.  Rencana semula, pengen ngepel seluruh ruangan termasuk kamar mandi.  Tapi sakit perut sejak beberapa hari ini akibat kedatangan tamu istimewa membuat gerakanku lambat, mirip kura-kura.

Aku cuma berhasil menyingkirkan beberapa barang yang sudah tidak terpakai.  Kemudian, mengelap kompor dan kitchen set, diikuti membersihkan kompor dan microwave.  Tentu diakhiri dengan menyapu setelah sebelumnya memastikan 2 meja yang ada higienis.

Acara bersih-bersih barusan tak urung membuatku kelaparan.  Sedari siang baru makan sandwich sisa, dengan isi ala kadarnya.  Bolak balik kubuka lemari makan.  Masih teronggok dengan manisnya 2 bungkus mie instan yang bertuliskan ”Authentic Rasa Thailand.”

Dulu aku membeli ini karena terpaksa.  Indomie sedang kosong di toko langganan.  Awalnya ragu, tapi kuberanikan juga membawa 2 bungkus mie otentik ini ke kasir.  Sebelumnya, aku hampir mengambil mie asal Korea.  Tapi berdasarkan pengalaman, bumbunya terlalu pedas dan pekat.  Ngeri aku!

Mie Thailand dengan kemasan transparan ini rupanya seperti bihun karena memang terbuat dari tepung beras.  Cuma,  tiap helainya lebih besar dan agak pipih.  Mungkin satu keluarga dengan kwetiaw.  Aku baca baik-baik petunjuk memasaknya sambil menunggu air rebusan mendidih.

Tercatat di kemasan bahwa berat mie 100 gram dan bumbu 50 gram.  Well, ini terlalu banyak untukku yang terbiasa menyantap Indomie seberat sekitar 60 gram.  Belum lagi bumbunya.  Kalau sudah mateng bisa jadi sepanci nih, pikirku.  Tak apalah, nanti porsi terbanyak untuk kakakku yang kebetulan minta sekalian direbuskan untuknya.

Menurut saran penyajian, mie cukup dimasukan ke air mendidih selama 1-2 menit.  Dan ternyata itu bohong.  Butuh nyaris 4 menit hingga mie lunak.  Setelah mie matang, kuangkat dan tiriskan seperti petunjuk.  Kemudian aku menyiapkan air rebusan kedua, untuk memasak bumbunya yang 50 gram ini.  Berarti total 100 gram bumbu dari 2 bungkus mie.  Sengaja air rebusan aku siapkan banyak, secara 100 gram bumbu gitu lho.

Setelah air mendidih, kumasukan bumbu yang dimaksud sambil terus mengaduk-aduk hingga air kembali mendidih.  Setelah bumbu tercampur, bukannya makin lapar akibat aromanya yang nikmat.  Perutku semakin melilit.  Oh tidaaakkk…  Tampaknya aku tidak cocok dengan mie otentik Thailand ini.  Sekuat tenaga kutuntaskan acara masak memasak ini.  Kuah bumbu berwarna orange kecoklatan membuatku berfikir, berapa banyak MSG di sini?  Hilang sudah nafsu makanku.

Walau ragu, tapi tak urung bumbu kutuang juga ke mie yang telah direbus tadi. Warna piring yang putih membuat penampilan mie kelihatan menarik.  Apalagi dengan kuahnya yang tampak rupawan.  Tapi aku benar-benar tidak berniat menyentuhnya.  Kebiasaan tidak boleh membuang makanan membuatku meraih garpu dan menyorongkan beberapa suapan ke mulut.  Yaks…  Rasa apa ini?

Sungguh, aku tidak bisa memakan ini.  Lalu aku memutar otak.  Ahaaaa…  Mungkin bila disantap dengan telor mata sapi akan lain ceritanya.  Oke darling, sedikit perjuangan lagi tentu akan membuat segalanya lebih mudah.  Bergegas kukeluarkan penggorengan.

Pasukan pertama adalah 2 butir telur mendarat dengan mulus di atas penggorengan yang minyaknya telah panas.  Yess…  Dengan cekatan tanganku meraih stoples di atas microwave dan menaburkan butiran putih.   Sengaja kutaburkan agak banyak dengan harapan menyamarkan rasa mie instan yang memuakan itu.  Anggap saja mie instan itu sebagai pengganti nasi.  Malem ini, menunya bihun rebus dan telor mata sapi.

Tapi tunggu dulu…. Pelan-pelan, dari balik aroma telur mata sapi menyeruak wangi sesuatu yang hangus.  Bau yang kukenal.  Itu kan aroma gula karamel alias gula gosong.  Aaaahhh… Dasar dodol!  Aku menaburkan banyak gula putih ke telur mata sapiku.  Huaaaa….sedih…. Pantes aja aroma telor kali ini serba tidak jelas.

Kucungkil sedikit telor mata sapi, hmmm… tidak terlalu ketara rasa gulanya.  Walau ga yakin hasil akhirnya, tapi kutaburkan juga garam.  Tentu saja kali ini kupastikan bahwa aku benar-benar membuka stoples garam.  Kemudian kutaburkan sedikit lada hitam, karena adanya cuma itu.  Aroma telor mata sapi yang selama ini aku kenal sudah mulai kerasa.  Yes!  🙂  Sedangkan telor mata sapi untuk kakakku matang dengan sempurna.  Sukses tanpa kendala berarti….hehehehehehe…

Kutuang telur mata sapi ke piring, bergabung dengan penghuni pertama si mie otentik Thailand.  Ternyata kuahnya sudah menguap dan mieku jadi segede raksasa.  Makin aneh.  Sedikit kucicipi mie.  Yaks…ga ada rasa sama sekali.  Sudah tidak ada ide bagaimana cara membuat mie ini menjadi nikmat.  Minimal kelihatan nikmat.  Pada akhirnya, aku cuma menyantap 2 telor mata sapi.  Makan malam dengan menu Karamel Telor Mata Sapi  Lada Hitam benar-benar tidak disarankan ya temans.  Rasanya ga banget!  Hiiiiiii…..

Salam,

Ket.

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s