Ajaib. Aku Bisa Pulang!

Minggu, 20 Februari 2011

Hujan sejak kemarin menjadi kenangan terakhir untuk bulan ini, sebelum kami cuti kerja sebulan dan pulang ke Indonesia.  Yup, besok pagi kami pulang ke Indonesia, melalui bandara Malpensa, Milan.  Menyiapkan kepulangan menjadi alasanku sempat menghilang dan tidak buat catatan beberapa waktu belakangan ini.  Sebelumnya, 90 persen aku yakin tidak mungkin bisa pulang, kecuali ada keajaiban.

Kondisi keuanganku yang berat membuatku pasrah dan berbesar hati untuk melewatkan cuti tahunan kali ini di rumah saja.  Berbagai cara sudah aku lakukan tapi gagal jua.  Hingga pada suatu Selasa, minggu terakhir di bulan Januari lalu.  Angelina, sahabatku berbagi rumah (kami tinggal serumah, tapi memiliki pintu masuk berbeda) mampir ke rumah untuk mengantarkan uang listrik.

Sore yang dingin, aku memilih menyembunyikan diri di balik selimut.  Kebetulan kepalaku benar-benar penat karena berhari-hari tidak tidur memikirkan masalah kepulangan ini.  Pintu rumah dibukakan oleh kakak iparku.  Dalam hitungan detik Angelina sudah berada di hadapanku.

”Hei, kamu kenapa?  Sakit?  Tumben sore-sore sudah tidur.”  Sapa Angelina.

”Ga, aku baik-baik aja kok.”  Jawabku sambil membenahi posisiku.  Kamarku benar-benar berantakan.  Kusingkirkan beberapa barang yang berserakan di lantai dan menyorongkan kursi untuk Angelina.

”Mukamu jelek banget.  Lagi suntuk ya?”

”Ga suntuk.  Aku sedang memikirkan apa saja yang bisa kulakukan selama sebulan libur.  Maksudku, kegiatan yang murah meriah…hehehehhehe…”

”Astaga, kamu ga jadi pulang?”  Mulut Angelina terkatub takjub.

”Iya, bokek sih.  Apa boleh buat.  Di sini juga ga masalah kok.”  Jawabku sekenanya sambil menyalakan rokok.

”Tidak, kamu harus pulang biar bisa istirahat.  Kalau di sini kamu tetep suntuk.”  Alasan Angelina kubenarkan dalam hati.

”Aku ga punya duittttt…. Ga apa, udah resiko.  Kemaren kakakku bilang, bahwa aku masih harus bayar tambahan bangunan (dapur) dan canopy.”   Jelasku.

”Lha, piye tho…”

” Maka dari itu, mestinya aku butuh sedikit lagi saja untuk nambah bekel pulang.  Kalau ini, malah aku kehabisan dana sama sekali.  Jadi, boro-boro pulang kali ya.”

”Waduh, tapi kalau kamu ga pulang, kasihan ibu dan keponakanmu.  Mereka pasti kangen.”  Mendengar penjelasan Angelina, aku tahan air mataku, pura-pura tegar.  Aku sangkal pula bahwa aku tidak kangen rumah karena tiap tahun juga pulang.

”Pulanglah.  Kau bisa pakai duitku.  Kau harus pulang.  Harus.”  Angelina menawarkanku untuk memakai dananya.

” Ga ah… Aku udah komit ga akan menambah hutang.  Baik hutang kepada teman maupun kartu kredit.  Dengan kondisiku seperti ini, pasti berat bayar hutang….”  Aku mengucapkan terima kasih dan menolak tawarannya.

” Tapi kamu harus pulang.  Kembaliinnya kapan-kapan saja.”  Kembali kutolak tawarannya.  Terus terang, aku juga masih ada sedikit hutang terhadap Angelina.  Rencanaku, mulai bulan Mei  akan mencicilnya.  Jika ditambah dengan pinjaman baru, pasti berat sekali.  Lagi pula, menambah hutang hanya akan mengacaukan Perencanaan Keuangan yang telah kususun, dimana salah satunya adalah membeli komputer pada bulan September nanti.

Setelah beberapa jam Angelina pamit.  Aku mengantarkannya sampai di muka pintu.  Sekiranya kau berubah fikiran dan mau menerima tawaranku, cukup mengirim SMS saja, katanya.  Aku mengedipkan mata sambil menutup pintu.  Terima kasih, kataku.

*****

Waktu berlalu, hingga tiba saatnya untuk membeli tiket.  Aku bingung dan sangat takut salah mengambil keputusan.  Sudah sore, aku sempatkan untuk menelfon ibuku, sekedar memberi tahu bahwa aku tidak pulang.  Takut aja sih, ntar ibuku kaget melihat aku tidak ada diantara rombongan yang mudik…hehehehhehe….🙂

Belum apa-apa, ibuku sudah nangis saat kuutarakan tidak akan pulang tahun ini…halah… Walau tanpa kujelaskan sekalipun, ibuku sangat faham kondisi keuanganku.

”Masak kau ga pengen ketemu aku?”  Tanya ibuku saat kubilang tidak akan pulang.

”Ya pengenlah…..” Jawabku.

”Ya udah, kau harus pulang.”

”Tapi aku ga punya duit….”   Akhirnya intonasi suaraku setengah berteriak.  Perpaduan antara kesal dan bingung.

” Apa kau ga bisa usahakan sedikit untuk bekal?”

” Udah, tapi mentok.”  Jelasku.

” Yang penting pulang saja dulu.  Ntar ga usah jalan-jalan dan jajan.  Kalo laper, makan di rumah saja.”  Kalaupun aku bisa pulang, tentu saja harus benar-benar berhemat.  Tidak ada jalan-jalan atau keliling pulau Jawa seperti rencanaku dulu.  Padahal, tenda, carrier dan sleeping bag sudah aku beli.  Rasanya kesal banget.  :(

” Gimana bisa happy kalau kau di situ sendiri?”  Kembali ibuku merajuk.  Ahhh……. Aku bingung mencari padanan kata yang tepat untuk menjelaskan perasaanku sesungguhnya.

” Bukankah sebelum membeli rumah kita sudah sepakat untuk menerima resiko bakal hidup pas-pasan?”  Tanyaku pada ibu.

” Iya, tapi kali ini lain.  Pokoknya, kau harus pulang biar kita bisa ketemu.  Lagian, biar kamu bisa istirahat.”  Kata ibuku.  Pendapatnya nyaris sama dengan Angelina.  Ahaaaa…. Angelina.   Tiba-tiba hatiku berbuncah gembira.  Rindu di dada kian terasa.

” Sebetulnya, Angelina menawarkan aku untuk pakai duitnya dulu biar bisa mudik.  Tapi aku tolak.  Kok rasanya ga enak ya?  Pinjeman yang dulu saja  belum kubayar, masak sudah pinjam lagi?”   Tanyaku pada ibu.

” Mungkin ini jalan yang ditunjukin Tuhan untukmu, biar bisa pulang.  Ambillah tawaran Angelina itu dan pulanglah.”  Aku menimbang-nimbang saran ibuku.  Lagi-lagi aku cemas.  Takut salah mengambil keputusan.   Bila aku terima tawaran Angelina itu, artinya aku menambah hutang baru dan kecil kemungkinan bisa beli komputer bahkan menabung.  Padahal aku sudah kepengen banget segera ”longgar” dan tidak puasa setiap hari.

Tidak….tidak…tidak….  Ini cuma sekedar godaan untuk melihat sekuat apa aku memegang teguh janjiku untuk tidak ”memaksakan diri.”  Semua orang juga faham bahwa tidak semua hal bisa dimiliki dalam waktu bersamaan.  Harus ada yang dikorbankan, bathinku.

” Eh, kok malah diam… Halo…halooo… ” Terdengar suara ibuku di seberang sana.

” Eh iya, iya… Aku dengar.  Aku cuma lagi berfikir kok.”  Jawabku buru-buru.

” Mikir apa lagi?  Udahlah, cepetan telfon Angelina.  Lagian aneh aja sih  kalau ntar syukuran rumah tapi kau malah ga ada. Pokoknya kau harus pulang dan kita bertemu.”   Duh, kadang sulit memahami ibuku.  Sedikit ragu, kuangkat hapeku.  Suara Angelina di seberang sana.  Ia mempersilakan aku mampir ke rumahnya.

Dengan menundukan kepala (sumpah, rasanya malu….), aku utarakan niatku.

”   Ibuku sangat ingin bertemu.  Dengan berat hati kuterima tawaranmu.   Masih berlaku kan?”  Suaraku yang berat mengawali obrolan sore itu.  Angelina cuma tersenyum.

” Butuh berapa?” Aku menyebutkan angka.  Angelina menganggukan kepala.

”Aku berjanji pasti kubayar secepatnya.”  Kataku…

” Dodollll… Ga usah mikir terlalu jauh.  Siapkan saja kepulanganmu.”   Angelina tertawa dan membuka lemari.  Tebakku, ia akan mengambil duitnya untukku.

” Dana tidak akan kuambil sore ini, tapi nanti saja sebelum pulang.”   Ia menganggukan kepala sambil menutup kembali lemarinya.

” Aku senang akhirnya kamu pulang.  Itu penting untukmu.  Kamu tahu, seandainya aku masih punya ibu, pasti tiap Imlek aku pulang.”  Tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita Angelina tentang mendiang ibunya.  Aku menelan ludah.

” Jangan lupa sampaikan salam hormatku untuk ibumu.”  Katanya saat mengantarku di depan pintu.  Kembali kumenganggukan kepala.

*****

Sambil membuat catatan ini, dimana merupakan malam terakhir sebelum mudik, fikiranku melayang-layang mengumpulkan kepingan peristiwa beberapa waktu belakangan ini.  Dimana berbagai kejadian berulang, sepotong-sepotong, datang secara tiba-tiba tapi sanggup membuatku dadaku berdebar kencang.  Awalnya aku yakin tidak bisa pulang saat gajiku tidak cukup untuk ditabung untuk bekal  pulang.  Saat itu sudah lampu kuning, aku mempersiapkan diri seandainya tidak jadi pulang.

Akhir bulan Januari, setelah aku lihat jumlah kerja selama sebulan, ada sedikit harapan di hatiku.  Tampaknya, ada sedikit yang bisa ditabung untuk bekal pulang.  Tapi diluar dugaan, ternyata ada yang harus dibayar pertengahan bulan ini bersamaan dengan cicilan rumah.  Hatiku kembali kecut.  Aku memantapkan diri untuk tidak pulang.  Barang-barang yang akan kubawa pulang kembali kususun ke lemari.  Koper kupinggirkan, agar tidak mengganggu fikiranku.

Hingga akhirnya Angelina muncul dan menawarkan dananya kupakai untuk bekal pulang.  Atas permintaan ibu, aku pulang dan atas ijinnya pula aku menerima tawaran itu.  Rasanya aneh,  semua berlangsung cepat.  Menurut teman baikku, mungkin ini jalan yang ditunjukan Tuhan untukku agar bisa pulang.   Walau kadang cara dan waktunya tidak dapat ditebak, tapi kembali Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk menolongku.  Seorang teman baikku di Bali sana mengatakan bahwa memang rejekiku bisa pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga.  Beberapa teman membenarkan  pula tindakanku untuk pulang, sekalipun harus minjem dulu.

Minggu lalu Angelina mampir ke toko tempatku bekerja.  Ia datang untuk mengantarkan dana yang dimaksud.  Rasanya aneh dan berdebar-debar.  Rasanya ingin kupeluk ia saat itu.  Sebetulnya, nilai nominalnya tidak terlalu besar dan mestinya aku mampu mengumpulkannya.  Dengan kondisiku seperti sekarang ini,  bantuan terbaik adalah bantuan yang datang di saat kita membutuhkan.  Angelina, terima kasih banyak.  Rasanya masih aneh dan ajaib karena aku bisa pulang.  :)🙂 .  Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan berlipat ganda.

Besok pagi-pagi sekali kami berangkat ke Milan.  Koper dan barang bawaan sudah siap, walau masih harus dibongkar ulang karena kelebihan beberapa kilo.  Pasalnya, dengan menyisihkan sedikit dari dana yang ada, aku mendadak membeli oleh-oleh untuk para keponakanku.  Aku tidak peduli sekalipun ibuku protes karena aku masih ngotot bawa oleh-oleh untuk keponakan sedangkan  kondisiku sendiri mengenaskan, tapi aku senang sekali.  Bagiku, anak-anak tidak perlu tahu kalai tantenya sedang bokek.  Peristiwa mudik ini sudah lama kami nantikan.  Meski nanti aku cuma stay di Bandung atau melewatkan sepanjang hari di Jogja, itu sudah lebih dari cukup.

Sampai bertemu di catatan berikutnya ya, semoga dalam keadaan lebih baik pula.  Tuhan memberkati.

Salam,

 

Ket.

Gambar dari Google

Video dari Youtube

 

9 thoughts on “Ajaib. Aku Bisa Pulang!

  1. Rosda berkata:

    Ikut senaang…akhirnya dikau bisa pukang juga. Andai aku disana, akan ku jeput engkau di bandara. Salam untuk kakak dan cucu-cucunya…🙂

  2. butet berkata:

    Ikut gembira mendengar dirimu akhirnya jadi pulang Abeh….selamat menikmati liburan dgn orang-orang yg kau cintai dan pedulikan

    • lintasophia berkata:

      Iya mbak, seneng banget…
      Sekarang aku lagi packing barang, soalnya dari kemaren sibuk nyari oleh-oleh untuk keponakan. Rasanya masih takjub nih bisa mudik. Makasih ya untuk doanya. Sampai ketemu lagi. GBU.🙂🙂

    • lintasophia berkata:

      Makasih Pak Dhe…
      Maaf baru bales sapaanmu, baru buka kompi sih…
      Aku ga ada kopdar, lebih banyak di rumah, maen ama ibu dan keponakan.
      Makasih untuk dukunganmu selama ini. GB ya…

  3. Sophie berkata:

    Horeeee, akhirnya mudik. Nov, aku tgl 13 Maret akan ada di bandung, kalau baca pesan ini, kalau kita bisa bertemu, inbox aku di FB no contactmu. Tgl 14 sampai 17 aku di jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s