Hutang Jangan Dibawa Mati

Aku mau cerita dikit tentang Perencanaan Keuangan yang pernah aku tulis sebelumnya.  Semoga kalian tidak bosan ya.🙂

Setelah aku menulis tentang PK beberapa waktu lalu, beberapa temanku ikutan tertib administrasi alias membuat PK  juga.  Berdasarkan cerita dari teman-teman, kendala utama saat membuat PK adalah timbulnya rasa bosen.  Masak tiap hari mikirin duit melulu?  Kurang lebih gitu pendapat mereka.  Kok kayaknya hidup kurang rileks ya kalau pagi hingga sore bekerja dan malamnya masih harus menatapi lembar PK.  Udah ngantuk dan capek, boro-boro kali mengingat dan menuliskan apa saja pengeluaran kita hari ini.  Hehehehhe, bener sih.

Perencanaan Keuangan itu salah satu rutinitas membosankan dan bikin sakit hati.  Ya sakit hati dong, karena kita kudu mencatat sesuatu (duit)  yang sudah habis.  Sabar, katanya orang yang mau menyisihkan 5-10 menit/hari untuk mengamati kondisi keuangannya, memiliki potensi lebih besar untuk sukses secara finansial.  Amin. 🙂

Apa sih keuntungannya buat PK?  Di catatanku sebelumnya sudah pernah aku singgung, bahwa dengan PK kita bisa jujur tentang kondisi keuangan kita, misalnya :

  • Kita bisa mengetahui target pribadi atau kolektif dalam beberapa waktu yang akan datang.  Termasuk bagaimana cara mewujudkannya.  Kita bisa buat termin waktu (jangka pendek, menengah atau panjang).   Termin waktu ini diperlukan sebagai tolak ukur keberhasilan kita.  Kalo gagal, coba lagi dan mungkin dengan cara lain.
  • Mengetahui jumlah tabungan serta investasi yang kita miliki.  Kalau pengertian ini bisa difahami dengan mudah ya…🙂
  • Mengetahui jumlah hutang dan piutang yang kita miliki.   Banyak yang mengira bahwa menulis jurnal pendapatan dan pengeluaran itu sekedar menulis pengeluaran harian saja.  Itu kurang lengkap.  Sebaiknya, ada tabel tersendiri yang berisi rincian hutang yang kita miliki, misalnya ; nama pemilik utang, nomer kontak yang bisa dihubungi, jumlah awal hutang, yang telah dibayar dan sisa hutang.  Jangan lupa cantumkan secara rinci kapan hutang jatuh tempo termasuk bunga yang harus dibayar (kalau ada).  Dengan mengetahui hutang yang ada, kita juga bisa menghitung  jumlah kekayaan bersih yang ada.  Ada sisi lain hutang yang ingin aku ceritakan di bawah ini :

Mengapa Harus Merinci Hutang?

Pernah mendengar kata sambutan dari kerabat  seseorang yang baru ditinggal oleh salah satu anggota keluarganya?  Biasanya perwakilan keluarganya akan mengatakan seperti ini :   ‘‘Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih telah membantu almarhum/mah selama hidupnya.  Dengan kerendahan hati, kami juga minta maaf atas kesalahan beliau selama hidupnya agar dilapangkan jalannya.  Seandainya almarhum/mah masih punya urusan atau hutang yang belum selesai, dapat menghubungi keluarga.”

Yup, tepat sekali untuk kalian yang sudah bisa menebak arah pembicaraan kita kali ini.  Dengan adanya catatan rinci mengenai hutang piutang, kita dapat tetap melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak kita.   Apakah kita harus membayar hutang kita terhadap pemilik uang yang telah meninggal?  Jawabnya : harus, bahkan sampai sen terakhir.  Jangan kita menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan dengan menghilang atau mangkir dari kewajiban membayar hutang ya.

Kita  bisa menemui perwakilan keluarga  almarhum/mah untuk menyelesaikan perihal hutang piutang.  Namanya juga kematian,  datang tanpa diketahui waktunya.  Seringkali kita menemukan bahwa anggota keluarga yang meninggal ini tidak mengetahui detail hutang atau piutang almarhum/mah.  Untuk itulah rincian hutang piutang yang kita miliki dapat digunakan sebagai acuan.  Sebaiknya disertai dengan tanda bukti pembayaran (kuitansi).

Bagaimana bila terjadi perbedaan antara catatan yang kita miliki dengan catatan yang dibuat pemilik uang (almarhum/mah).  Bisa saja terjadi, misalnya cicilan  panci yang terakhir tidak sempat ditulis beliau.  Ada baiknya,  setiap masalah atau sengketa diselesaikan dengan cara kekeluargaan.  Kalau masalah hutang piutang terpaksa masuk ranah hukum, biasanya hal-hal tertulislah yang digunakan sebagai bukti di persidangan nanti.   Satu hal yang harus diingat, kematian pemilik uang bukan rejeki nomplok atau sama dengan pemutihan hutang yang kita miliki ya…🙂🙂

Lalu, bagaimana kalau situasi terjadi sebaliknya ya?  Orang tua atau keluarga kita yang meninggal.  Bagaimana urusan hutang piutangnya?  Pada siapa kita harus membayar hutang yang tertinggal dan kemana kita harus menagih piutang yang ada?  Aku belajar mencatat semua ini dari ibuku.

Menurut beliau, seandainya  ia wafat dan meninggalkan hutang, ia tidak mau jika keluarga yang ditinggalkan menjadi repot karena urusan hutang piutang.  Apalagi  kalau sampai jumlah  hutang kita dimark-up.  No way! Karena itulah, dari dulu ibuku selalu mencatat semua hutang piutangnya secara rinci, termasuk uangnya yang dipinjam oleh orang lain.  Akan lebih mudah untuk melacak dan menyeselaikan semuat kalau data base tersedia.

Semua catatan keuangan ibuku dapat dengan mudah kita temukan di bawah tumpukan pakaiannya.  Alasannya sederhana.  Dengan tidak menyimpannya di tempat tersembunyi, pihak keluarga  dapat menemukan riwayat keuangan ibuku dengan mudah dan menyelesaikan perkara  hutang piutang ini sesegera mungkin.  Tidak ada istilah mangkir atau tidak mengakui hutang ibu, karena ia mencatatkan semuanya.  Menurut ibuku, hutang jangan dibawa mati, yang masih hidup wajib melunasinya. 🙂

Salam,

Ket. gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s