Memberi Perspektif Positif Pada Sebuah Pilihan

Genova, 24 Desember 2010

Sore itu, dengan langkah tergopoh-gopoh aku pulang ke rumah.  Dari kejauhan, aku menangkap seraut wajah yang sudah kukenal, tapi entah dimana.  Kami cuma saling pandang.  Aku mengangguk sebagai tanda hormat pada perempuan yang sedang bersandar di depan sebuah supermarket.  Setelah beberapa meter aku meninggalkannya, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.

” Mbak…” Aku memalingkan wajah mencari asal suara.  Ternyata itu suara perempuan yang tadi menatapku dari kejauhan.  Dibuka kupluknya sehingga kini aku bebas menatap wajahnya.  Oalaaaa… Ternyata ia salah satu kru yacht yang sedang bersandar di Genova.  Sering sekali ia dan teman-temannya makan di restoran tempatku bekerja.

Ia yang asal Bali sedang menunggu temannya yang sedang berbelanja di supermarket.  Kami saling bertukar khabar, hingga obrolan nyerempet ke persiapan Natal yang tinggal sehari lagi.  Ia kaget karena aku tidak pulang ke Indonesia untuk merayakan Natal dan tahun baru.  Tentu saja kami tidak bisa pulang untuk itu karena cuti tahunan biasanya Februari selepas San Valentino.

” Gimana rasanya Natal sendirian, tanpa keluarga?” Tanyanya.

” Biasa aja.  Kebiasaan sih”.  Jawabku sambil ikut-ikutan menyandar ke tembok.  ” Ini Natal ke-7 tanpa keluarga.”  Tambahku.

” Lha, kamu sendiri gimana?  Betah amat hidup di laut.” Tangkisku.

” Namanya juga cari duit.  Laut pun dihadapi.” Kami tertawa bersama-sama.   Nasib orang-orang rantau.

Kami melanjutkan obrolan tanpa peduli dingin menghadang.  Dari obrolan sore itu, terungkap bahwa sebetulnya kami-kami ini sudah sangat ingin kumpul bersama keluarga.  Merayakan Natal atau Lebaran bersama orang-orang terkasih.  Itu kalau kita berbicara tentang enaknya merayakan Natal atau Lebaran.

Bagaimana kalau urusan ngumpul di saat-saat kemalangan?  Misalnya orang tua sakit atau meninggal.  Tentu kita tidak bisa cepat-cepat pulang setiap orang tua sakit dan menjadi orang pertama yang merawatnya, walau dalam hati sangat ingin.  Jadi sebetulnya, enak ga sih tinggal di luar negeri?  Aku menjawabnya : tergantung orangnya.   Seribu pertanyaan senada sudah kudengar selama kurun 7 tahun aku di sini.

” Mbak, kapan bakal stay selamanya di Indonesia?”  Lagi-lagi pertanyaan yang sama.  Sebuah kalimat yang sudah sering muncul di benakku.

” Belum tahu.  Karena aku harus mempersiapkan segala sesuatu di Indonesia….”  Aku menjawab dan langsung terdiam.

” Januari nanti aku mudik selama 2,5 bulan.  Pengennya ga balik lagi.  Tapiiiiiii, ntar di Bali ngapain ya?”  Pertanyaan itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.  Ternyata kami memiliki pertanyaan yang sama.

” Lagi pula, aku masih harus bantu keluarga.”  Lanjutnya lagi.  Ciri khas keluarga Indonesia, terlebih bila orang tua kita tidak memiliki pensiun pada masa tuanya.  Ini juga yang membuatku bertahan, demi keluarga.

*****

Untukku dan teman-teman yang bernasib sama (bekerja/tinggal jauh dari orang tua), setelah sekian lama mungkin bisa memberikan jawaban yang lebih tegas.  Menurutku, kerja di LN itu tidak enak… 🙂 .  Terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan.

Kalau masalah materi, itu tergantung orangnya.  Kalau sudah menjalani sendiri kehidupan sebagai kuli di negeri orang, membandingkan penghasilan bersih dengan pengorbanan (batin) selama di sini, kadang tidak seimbang.  Maksudnya gini, setiap bulan tentu kita tahu berapa nilai pendapatan yang bisa kita sisihkan sebagai tabungan.  Biar lebih gampang, kita ambil angka 300 Euro sebagai tabungan tiap bulan.  Kadang untukku, angka itu sangat kecil dan tidak sebanding dengan homesick yang kurasa.  Lalu, kenapa tidak pulang saja?  Ini juga kadang pertanyaan yang sulit dijawab.  Iya, ya… kenapa ga pulang saja?  Jawabnya, karena sekarang ini adalah jalan terbaik untukku dan keluarga.

Katanya, hidup itu masalah memilih.  Sebelum menjatuhkan pilihan, pasti kita sudah mempertimbangkan faktor resiko.  Iya dong, jangan yang dipikir enaknya aja ya.  Sebelum aku mengiyakan bekerja di sini, aku sudah membekali diri dengan informasi memadai.  Apalagi dengan zaman internet, semua informasi bisa kita dapat dengan sekali klik.  Dari kumpulan informasi itu aku bisa mempertimbangkan untung ruginya bekerja di LN.

Hal tidak enak yang pertama kali menjadi fikiranku adalah, jauh dari teman-teman.  Dari dulu aku terbiasa ngumpul dengan teman-teman.  Oke, hidup itu berjalan dan sudah tiba periode untuk melangkah sendiri-sendiri.  Pertimbangan lainnya, kalau kerja di LN, tentu saja urusan ngumpul dengan keluarga bakal merepotkan.  Kita harus mau nabung dan berhemat biar bisa mudik.  Nabung dan berhemat?  Memang seharusnya begitu kan?    Belum lagi kendala cuaca dan makanan yang tidak cocok dengan lidah.  Tapi aku yakin waktu akan mengubah lidahku menjadi lebih bersahabat dengan masakan Italia.  Dan itu terbukti.

Lho, kok kayaknya banyakan ga enaknya tinggal di LN?  Banyak yang menyangka bahwa dengan tinggal atau bekerja di LN bakal punya banyak uang.  Itu salah, temans.  Jangan lihat angka gaji kita dalam bentuk Eurolalu di-Rupiahkan.   Di sini biaya hidup sangat mahal.  Lagi, lagi harus mau hemat dan nabung biar gaji bersisa di bank.  Aku fikir, teori nabung dan berhemat berlaku juga di Indonesia.  Mungkin bedanya, kalau di sini kemungkinan nabung dalam jumlah banyak  masih lebih besar dibanding di Indonesia.  Cuma menang di situ saja.  Tapi itu kembali ke gaya hidup setiap orang.  Di sini mah, segala merk ada.  Sangat menggoda mata dan dompet tentunya. 🙂

Kalau hidup di LN tapi masih tetap kere dan susah, mengapa bertahan?  Mana pengorbanannya pun banyak banget.  Aku bisa mengatakan, karena sekarang ini jalan terbaik.  Dengan bekerja di sini, pelan-pelan mimpiku tercapai, masih bisa bantu orang tua juga.  Intinya apalagi kalau bukan demi kehidupan yang lebih baik?

*****

Genova, 30 Januari 2011

Teman, kadang kita tidak bisa menghindar dari situasi yang menyesakkan dada, terlebih kalau pilihan di depan mata sangat terbatas.  Atau, sering kita pengen lurus, ternyata akhirnya malah belok kiri dan kanan.  Bisa jadi  target sudah di depan mata, tapi jalannya berliku.  Naik turun pula.  Apa yang bisa kita lakukan selain menjalaninya saja.   Ikhlas saja sambil berusaha melihat peluang lain.  Jangan lupa  nambah skill dan penghasilan.

Untuk kalian yang sedang galau dan menempuh perjalanan berliku, jangan putus asa apalagi balik kanan lalu menyerah.  Camkan dalam hati bahwa ini pilihan terbaik dan tidak perlu disesali.  Kita-kita yang dalam kategori : masih merintis karir, keuangan belum stabil, jenuh dengan situasi kerja dan segudang tidak enak lainnya tapi kudu dijabanin juga, ayo jangan nyerah.  Kasih perspektif positif untuk setiap pilihanmu.  Katakan, ini cuma sementara saja,  demi periuk dapur.  Masih bete karena kemarin gagal merayakan pergantian tahun baru di Singapur?  Tenang, Singapura ga akan pergi kemana kok.  Yang penting bayar asuransi pendidikan anak dulu.  Kemarin suami minta frekuensi jalan ke mall dikurangi, biar bisa beli susu si kecil?  Ga perlu marah atau nyekek suami ya.  Ambil positifnya aja, yang penting nutrisi dan kebutuhan si kecil terpenuhi.

Catatan ini lebih tepat ditujukan untukku yang lagi berjuang (halah…) survive.  Ga apa puasa jajan, yang penting pelan-pelan mimpi tercapai.  Kalau aku ga mau menjalani hidup seperti susah seperti ini, tentu saja tidak ada peningkatan hidup yang signifikan untukku.

Sedikit cerita kenapa catatan usang ini akhirnya aku tamatkan juga.  Di luar lagi musim diskon akhir musim dingin.  Godaan sangat berat dan dahsyat.  Kemaren liat gaun sangat indah dan murah pula (diskon 50 persen).  Setelah aku coba, ternyata makin jatuh hati.  Bagus bangettttt…

Aku memutuskan untuk fikir-fikir dulu dan mengembalikan gaun tersebut ke rak.  Eh, ternyata gaun tersebut sampe terbawa mimpi.  Untungnya, aku kuat bertahan untuk tidak menggesek kartu kredit (karena sedang tidak punya dana cair).   Gaun indah itu bukan jodohku.  Walau sedikit kesal, aku yakinkan diri  bahwa tanpa gaun-gaun indah di toko, aku masih hidup kok.  Biar saja tidak jadi beli gaun, asal tidak nambah hutang lagi.   Udah ga ngambek dan kembali semangat lagi. 🙂

Catatan ke-100  ini aku persembahkan untuk kalian semua, terlebih yang begitu baik kasih support.  Aku beruntung memiliki keluarga dan teman yang begitu perhatian dan mau mendengarkan keluh-kesahku.  Makasih banyak ya.   Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua, berlipat ganda. 🙂

Salam,

Ket. gambar dari Google

Iklan

6 thoughts on “Memberi Perspektif Positif Pada Sebuah Pilihan

  1. Sophie berkata:

    Nov, aku mau komentar apa ya jadi hilang..hahaha..memang ya ada org bilang kalau dari luar selalu byk uang, gaji gede, padahal mereka ngk liat pengorbanan juga besar, semua apa2 mesti sendiri, sampai mau makan masakan ind, juga mesti jungkir balik. Tapi ya, hidup ini memang pilihan, semua ada konsekwesinya, bagaimana kita memandangnya, menjadikan lebih nyaman dalam menjalaninya. Lihatlah kebawah, maka kita akan bersyukur.
    Yooo mudikkkkkk yoooo…Pulang ke Jogja..

    • lintasophia berkata:

      Setuju banget, selalu bersyukur. Mumpung masih hidup, kita menikmati apa yang ada hari ini, apa yang kita miliki, bukan ribet untuk yang tidak kita miliki, apalagi mengeluh untuk sesuatu yang belum jelas. Thank’s alot. 🙂 🙂

  2. Rosda berkata:

    Mpi….
    Kalau soal godaan baju, tas. sepatu dan pernak-pernik lainnya, kayaknya aku cukup kuat tapi tidak untuk buku. Rasanya kok kurang..kurang dan kurang.

    • lintasophia berkata:

      Aku juga terbiasa membeli sesuai kebutuhan. Jarang kok aku membeli sesuatu yang ga jelas. Ikat pinggang aja cuma punya 1, umurnya udah 9 tahun. Kebetulan aku ga suka perhiasan, paling arloji. Kalo buku, aku memang maniak, salah satu belanja terbesarku.
      Tapi, aku memang me-reward diri sendiri, misalnya untuk tahun ini aku boleh jajan sekian rupiah, belanja suka-suka. Sebagai penghargaan untukku selama ini. Kebetulan, aku juga jarang tergiur barang-barang di toko.
      Nah,belanja suka-suka itu jajan untuk sesuatu yg tidak ada dalam daftar kebutuhan. Kalo suka, asal murah, aku boleh beli. Sayangnya, aku pas ga punya duit. Rasanya menohok ke hati. 😦 😦

  3. JC berkata:

    AB, renungan di hari pertama Tahun Baru Imlek yang bagus…

    Hehehe…masalah sabuk, lha sabukku lebih lama lagi…15 tahun lebih mungkin ada… 😛 yang satu lagi pemberian teman, kulitnya jebol, gespernya masih bagus, aku bawa ke tukang sepatu, bikinkan kulitnya lagi… hehe…

    Wah, satu lagi yang sama, aku paling “takut” ke toko buku, bisa gila-gilaan beli bukunya. Lebih “takut” lagi kalo anak-anak ikut, runyam sudah kantong… 😀

    • lintasophia berkata:

      Sabuk 15 tahun? Masya Allah…. udah layak masup musim tuh. 🙂
      Tentang buku, biasanya aku beli pas mudik. Sebagian aku baca di Indonesia dan sebagian ta bawa ke sini. Setiap pulang ke Indo, buku yang udah aku baca ta’ bawa pulang untuk disimpen di perpus.
      Makasih udah mampir, mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s