Mangan Ora Mangan…

Aku memutuskan membuat catatan ini, biar bisa tidur. 🙂 .  Iya nih, lagi banyak fikiran.  Bulan depan mau pulang tapi belum punya bekal….halah… Masalahku itu ga jauh dari masalah duit ya?  Tapi sungguh, aku sudah berusaha memenej diri dengan baik, sudah  menghitung dan menuliskan semua di buku besar anggaran pendapatan dan pengeluaran,  tapi pas prakteknya sering kali meleset.  Kendalanya dimana ya?

Selalu ada faktor X (pengeluaran tak terduga dan tak bisa ditunda).   Kadang jumlahnya tidak besar tapi cukup membuatku tidak bisa menabung.   Kemarin, pas aku masih membayar cicilan uang muka rumah, terkadang bekalku sudah habis sebelum tiba gajian berikutnya.   Singkat cerita, selama 6 bulan ini, aku hidup benar-benar hemat dan kadang gali lubang tutup lubang.

Desember lalu  merupakan bulan terakhir membayar DP rumah (sisanya dicicil 30 bulan ke depan…ufff), artinya bulan ini aku udah agak longgar dong.  Tapi itu cuma perkiraanku saja.  Ternyata bulan ini pajak pendapatanku naik sekitar 80 %.   Biasanya,  total pajak penghasilanku 300 Euro/bulan, tapi bulan lalu 500 Euro.  Selisihnya cuma 200 Euro sih dan kalau dirupiahkan pun tidak seberapa.  Tapi tetep aja bikin ketar ketir karena itu sudah masuk pos ”bekal pulang.”

Lalu apa yang membuat aku gelisah?  Karena bulan depan pulang dan aku belum punya duit!  Pegimana ya?  Kemaren udah terpikirkan ga usah pulang tahun ini, tapi ibuku ga setuju.  Mangan ora mangan sing penting ngumpul.  Minimal setahun sekali.  Iya juga sih…  Aku juga udah pengen banget tidur tanpa nyetel alarm sebelumnya.  Pengen makan masakan ibuku.  Rindu juga ama keponakan-keponakan dan temanku.  Pengen merasakan sinar matahari, terlebih winter tahun ini kejam.  Di atas semua itu, aku kangen ibuku.

Beberapa hari ini godaan untuk tidak pulang justru menguat dalam batinku.  Apalagi sampai kemarin, majikan belum mengiyakan permohonanku untuk mengambil dana pesangonku.  Tampaknya, aku terlalu memaksakan diri untuk  pulang tahun ini.  Lebih baik aku membenahi keuanganku selama setahun ini dan mudik tahun depan saja.  Saat aku bertekad ga akan pulang,  sedetik kemudian otakku langsung kasih peringatan bahwa aku harus istirahat.  Sudah 11 bulan ini aku bekerja tanpa henti, barang sehari pun, maka aku berhak untuk istirahat. Lagian, ga bertemu orang-orang terkasih bisa bikin aku gila!

Belum pernah aku sebokek tahun ini 😦 .  Bahkan tahun lalu saat pengeluaran besar sekalipun, aku tidak perlu pusing.  Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan dana untuk berbagai keperluan, termasuk bekal pulang.  Tahun ini kondisi keuanganku agak spesial,  maka aku pun memutuskan  untuk pasrah saja.  Jika ternyata aku ga punya bekal, maka dengan berbesar hati aku tidak bisa mudik.

Dalam hati aku tidak sepakat  kalau dana pesangon digunakan untuk  bekal pulang.  Itu persediaan kalau kelak aku berhenti kerja dan memutuskan pulang ke Indonesia.  Atau, menurutku lebih baik kalau dana pesangon digunakan untuk investasi dan semacamnya.  Tapi ini darurat sipil, batinku.  Aku  bertekad untuk tidak menambah hutang, sebisa mungkin….hehehehehe….  Puji Tuhan, pelan-pelan hutang yang sempat terbentuk karena urusan rumah kemaren, satu per satu sudah kubayar.  Maka dari itu, aku berjuang sekuat tenaga untuk  bertahan dan tidak mudah menambah hutang.

Nah, kadang antara tekad dan kenyataan sering tidak nyekrup.  Idealisme sering berbenturan dengan keadaan yang dominan  minta dimengerti.  Pusing ya….  Lalu, bagaimana menutup catatan ini?  Jadinya pulang ga ya?  Wait and see aja (baca : pasrah).  Semua usaha sudah aku lakukan, biarkan Pemilik Alam saja yang memutuskan.  Aku siap menjalaninya  (* menulis kalimat terakhir sambil terhuyung-huyung.  Antara agak  yakin,  dan yakin, seyakin-yakinnya).

Catatan sudah rampung.  Yuk ah, aku mau mencoba tidur.  Have a great day ya…

Salam,

Ket. gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Mangan Ora Mangan…

  1. sophie berkata:

    kalau boleh tau apa itu dana pesangon? bisa ngk cuma diambil buat bekal pulang,jgn semua. kadang kita butuh istirahat, butuh recharge, bukan hanya kerja dan kerja, kaciankan badanmu tanpa istirahat 11 bulan. kalau ngk pulang terus menunggu tahun depan itu lama loh, 11 bulan lagi. ayo pulang..hahahah kompor ye..aku ke jogja tgl 4 Feb ini, lauching buku, terus mampir ke jkt, janjian ketemuan sama abang. God bless you, semoga semua bisa indah pada waktunya, take care.

    • lintasophia berkata:

      Dana pesangon = hak yang diterima setiap karyawan saat berhenti kerja. Sama kayak pesangon di Indonesia. Kurang lebih, pesangon 1 tahun kerja = 1 kali gaji pokok.
      Di sini, setiap bulan majikan wajib mencicil pesangon kita (ada lembaga yang mengurusnya) dan kita bisa cek pesangon di slip gaji. Pesangon ini bisa diambil di muka, kalau kepepet. :(.
      Aku mau ambil sedikit untuk bekal pulang (tiket pesawat udah lunas). Tapi ya itu tadi, aku belum dapet jawaban. Keruwetan ini terjadi karena aku ga ada jeda (baru ambil rumah trus mudik). Pas bokek kemaren, kadang minjem dikit dari temen (termasuk kartu kredit) untuk survive. Nah, kemaren pada ta’ bayar tuh utang yang kecil-kecil. Akhirnya, aku malah ga punya dana simpenan.
      Makasih banyak ya mbak. Aku usahakan pulang. Sayangnya jadwal kita ga cocok. Aku belum tau tanggal pasti berangkat dari sini. GBU too.

  2. butet berkata:

    Ab, jangan give up.. Kl Tuhan berkehendak, apa pun bisa terjadi.. sekedar sharing, natalan kemaren aku pun pulang rada memaksakan diri, meskipun dah disiap-siapin dari jauh-jauh hari, tapi kadang pengeluaran tak terduga ada ajja. Tapi karena dah diniatin banget, meski dana untuk di kampung halaman rada berkurang, tapi tetap tak mengurangi kegembiraan kami kumpul bersama… kami merayakan natal dan tahun baru bersama di rumah mama dan bapa secara sederhana, tak jadi ke luar kota seperti rencana semula. Sampe kami pulang ke rumah masing-masing kebersamaan itu terasa begitu indah, tak dinyana itu merupakan kebersamaan kami yg terakhir dgn mama.

    Jadi jangan give up keep hoping till the end…whatever the ending will be, just keep in mind, abeh telah berusaha sebisa abeh dan tetap berpengharapan… and miracle do happen 🙂

    • lintasophia berkata:

      Mbak Butet, aku belum give up, cuma lagi mentok aja. Aku takut salah mengambil keputusan.
      Orang tuaku sudah tua, secara halus, beliau yang memintaku untuk pulang. Sebetulnya, ibuku bukannya ga ngerti kondisiku, tapi belum pernah beliau memintaku pulang walau ngutang sekalipun seperti sekarang ini. 🙂 Biasanya ibuku menyerahkan keputusan ke tanganku. Ga jarang bilang, ga perlu pulang kalau maksain diri. Tapi kali ini beda…

      Doain ya aku nemu solusinya. Makasih udah mampir dan kasih dukungan.
      Aku ikut berbela sungkawa untuk inong. God bless your family.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s