Kalau Apes Tak Akan Lari Kemana

Ini cerita aneh pagi ini.  Aneh dan bikin gondok….ihiks…😦 .  Kemarin siang majikan memintaku untuk pergi membayar rekening listrik yang  jatuh tempo hari itu.  Aku menyanggupinya.   Kemudian majikan menunjukan angka tagihan yang harus dibayar dan menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan yang tertulis ditambah ongkos kirim via kantor pos.   Sebelumnya, surat tagihan sudah dirapikan alias dipotong.  Sebagai informasi, ketika kita menerima surat tagihan, entah listrik atau gas, kita akan menerima berlembar-lembar kertas yang berisi ; rincian pemakaian, data pelanggan dan total yang harus dibayarkan.  Di lembar terakhir terdapat semacam modul yang kita pakai sebagai kuitansi atau bukti pembayaran.

Pada lembar  berukuran  A4 ini, bagian atas merupakan data pelanggan dan bagian bawah adalah kuitansinya.  Sudah ada bolong-bolong kecil bagian tengah kertas dengan gambar gunting.  Artinya potong di sini.  Biasanya kita cukup membawa bagian bawah ke kantor pos.  Oke, kuitansi sudah dipotong dan berada di tanganku.  Setelah selesai jam kerja di toko, aku meluncur ke  tabacchi (toko rokok) terdekat, dimana kita juga bisa membayar tagihan listrik.  Ternyata, kalau membayar di tabacchi harus disertai potongan kertas berisi data pelanggan yang tadi sudah kami buang.  Aduh, gondok banget karena ternyata urusan tagihan listrik tidak bisa beres sore itu.  Terpikirkan untuk membayarnya di kantor pos pusat, tapi ngantrinya lama banget.  Sementara aku sudah janji menemani Septi dan kakak iparku untuk jalan-jalan sore itu.  Akhirnya, aku memutuskan akan membayarnya besok (hari ini) di kantor pos dekat rumah.   Untuk mengurangi resiko duit jatuh atau kecopetan, aku mampir menitipkan uang listrik tersebut ke bank yang letaknya tidak jauh dari tabacchi.  Urusan beres dan kami jalan-jalan sore.  Berburu baju anak!

Pagi ini, pukul 09.10 aku sudah nongkrong manis di kantor pos.  Saling melempar senyum dengan petugas yang sudah kukenal.  Tiba giliranku.  Surat tagihan dan ATM kuserahkan.  Eh, ternyata transaksi ditolak.  Dana di rekening tidak mencukupi, Anda telah mencapai limit transaksi bulan ini atau jumlah yang dibayarkan terlalu tinggi.  Silakan membayar dengan uang kontan, kata petugas sambil membaca tulisan peringatan di monitor komputernya.

” Haaaa, bagaimana bisa dana tidak mencukupi?  Wong kemaren sore baru ta’ transfer kok.  Ya sejumlah tagihan.”    Sanggahku sambil menceritakan peristiwa di tabacchi hingga bagaimana akhirnya uang listrik itu bermalam di rekeningku.

” Ohhhh, berarti kita masuk ke opsi selanjutnya.  Anda sudah mencapai limit bayar pakai ATM untuk bulan ini.”  Petugas menjelaskan kemungkinan lain gagal bayar pagi ini.

” Over limit piye?  Wong bulan iki koncone ora ono duit kok. ”  Aku mengeluh.  Tiba-tiba terlintas bulan berhemat yang terasa panjang ini. 😦

” Berarti, jumlah tagihan ini yang terlalu besar sehingga tidak bisa lewat ATM.”  Kata petugas.

” Lha, piye?  Duitnya udah ta masukin situ semua.  Mau ta’ talangin, yo aku ora onoooo… ”

” Gini ae.  Saiki sampean pergi ke bank tho, ambil tuh duit trus balik lagi sini.”  Petugas kasih solusi.

” Modar aku.  Beberapa menit lagi aku harus kerja, ga bisa ke bank trus balik lagi ke sini.”  Aku protes atas ketidaknyamanan ini.

” Lha piye?  Pokoke contanti (baca : kontan).  Opo ta’ cancel ae?  Sampean boleh balik lagi kapan-kapan, kalau sudah senggang dan ada duit kontan.”  Jelas petugas sambil mengetuk-ngetukan penanya ke monitor komputer.

” Ya ndak bisa, wong  jatuh temponya kemaren kok.”

” Gini aja.  Sampean ta’ tunggu sampai pukul 13.00 hari ini.  Kalau tidak datang, otomatis ta’ cancel.  Bawa duit kontan ya…”   Pinta petugas.  Aku cuma mengiyakan sambil dalam hati berteriak : urgghhhhh…..pengen nyekek.

Sebelum ke bank, aku mampir dulu ke toko.  Membuka toko, menyalakan lampu dan menyapu.  Semuanya serba dikebut.  Di hadapan petugas bank, kepalaku cuma menunduk.  Rasanya ga enak gitu lho, baru kemaren masukin duit, masak udah ditarik lagi.  Setelah dana di tangan, dengan kecepatan kuda aku berlari ke kantor pos.  Aku dilayani petugas yang sama.  Aku mengibas-ngibaskan lembaran uang ke udara.  Petugas kantor pos itu cuma tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.  Aku membalas senyumnya walau dalam hati menjerit.  Kok urusan bayar listrik  jadi ribet gini ya?  Memang, kalau apes tidak akan lari kemana….ihiks…😦

Dana masuk laci petugas.  Cuma sekali enter pada keypad komputer, kuitansi pembayaran berhasil dicetak.  Aku mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi, tepatnya berlari…. Uffffff….

Salam,

Ket.  gambar dari Google.

4 thoughts on “Kalau Apes Tak Akan Lari Kemana

  1. elnino berkata:

    Ealah Be..AB..baru tau aku ada limit pemakaian ATM, pdhl dananya ada ya… Tak kira tadi kepake buat belanja baju, hahaha…

    • lintasophia berkata:

      Aku juga baru tahu. Kirain selama ada dana, kita bisa bayar debit. Biasanya bayar listrik kotrakan pake ATM, tapi jumlahnya ga segede ini. Makasih udah mampir. Salam hangat selalu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s