Adrenalin VS Tanggung Jawab

Barusan aku terima email konfimarsi dari sebuah toko on line,  bahwa besok ransel dan tenda yang kupesan akan dikirim ke alamatku.  Aku sangat senang.  Setelah menunggu bertahun-tahun (halah…), akhirnya kesampean memiliki tenda dan carrier sendiri.  Kelak, tenda dan carrier ini akan aku pakai pas mudik bulan depan.  Belum pasti bakal naek gunung apa, yang penting nyicil peralatannya aja dulu. 🙂 .

Walau agak ribet harus bawa sleeping bag, carrier dan tenda dari sini, tapi aku merasa puas.  Karena harga di sini lumayan murah dibanding beli di Indonesia.  Asal rajin saja hunting dan membandingkan harga barang di toko on line.   Setelah menghubungi beberapa toko, akhirnya tenda merk Ferrino (tipe Kalahari) dan sebuah carrier Transalp 50 liter berhasil aku pesan.  Butuh waktu lama memesan kedua benda di atas, karena stok 2010 sudah habis.  Aku harus pesan dan menunggu.  Khusus tenda, aku memang mendapatkan selisih harga yang lumayan dibandingkan membeli di toko.  Sedangkan ransel cuma sekitar 13 % saja.  Kendalanya kalau beli ransel di toko, aku harus rela menunggu lumayan lama.  Karena jika aku pesan sekarang,  pemilik toko akan memasukkannya sebagai daftar orderan bulan Februari. Duh lamanyaaaa…   Hingga akhirnya ada titik terang dari 2 buah toko on line.  Positif, stok masih ada.  Aku langsung order.

Minggu lalu aku cerita ke ibuku bahwa aku sedang menunggu tenda idamanku.  Ibuku kaget mendengar bahwa aku mau naik gunung lagi.  Yaelaaahhh…. Ibuku itu orangnya kadang lebay dan terlalu khawatir.  Respon pertama adalah : No…no…and no.  Pokoknya : BIG NO.  Alasannya, biasanya saat mudik aku pasti sakit, nanti bukannya istirahat malah kecapekan.  Tapi di atas semua itu,  ibuku sangat takut bila sesuatu yang buruk terjadi padaku. Halah lagi….

Kemudian beliau mengingatkanku akan tanggung jawabku terhadap tempat kerja dan keluarga.  Beliau juga khawatir bagaimana nasib keponakan-keponakanku bila aku sakit?  Ihiks…ihiks… Kekhawatiran yang sama sudah kudengar sebelumnya dari majikanku.  Cuma beda susunan kalimat dan urutan pertanyaannya.

Adrenalin VS Tanggung Jawab

Jauh sebelum ibu dan majikanku melontarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, aku justru sudah khatam dengan hal itu.  Maksudku, aku su dah sadar diri dan penuh keikhlasan untuk menjalani hari-hari dengan tidak boleh sakit.  Sebagai gambaran, di tempatku bekerja, tiap pos diisi oleh 1 orang.  Tidak ada asisten.  Libur setiap hari Selasa (kecuali aku yang tetap bekerja di toko).  Jadi kebayang kan seandainya salah satu diantara kami tidak ada, pasti kondisi kerja timpang dan kacau balau.

Karena situasi kerja yang seperti itu, maka perasaan-perasaan pribadi, seperti ; enggan, capek, tidak enak badan dan lain-lain terpaksa diabaikan.   Seingatku, hampir 7 tahun di sini, aku tidak pernah pulang lebih awal atau tidak masuk karena sakit.  Jadi, kebayang kan betapa sudah berkarat kehawatiran ibu di hatiku?

Aku langsung ingat beberapa hari setelah Natal, aku dan teman-teman mampir ke Luna Park (pasar malam). Selama berkeliling Luna Park,  Erik mengajak kami untuk mencoba beberapa wahana permainan, semacam Roller Coaster, Halilintar dan lainnya.  Aku menolak  mencoba dengan alasan bahwa perutku masih penuh oleh pizza yang baru saja kami santap.  Padahal aku cuma ketakutan.  Lagi-lagi sebuah perasaan takut akan kecelakaan.  Adrenalin yang awalnya sudah dipuncak terpaksa disiram dan dimatikan.

Momen mampir ke Luna Park itu sudah lama aku nantikan.  Tetapi pas saatnya tiba, aku malah mematung.  Aku sangat ingin mencobanya lagi seperti 2 tahun lalu. Tapi sebagian hatiku mencegahnya.

Mulai timbul prasangka : bagaimana kalau aku jatuh, bagaiman bila ternyata safety belt-nya tidak bekerja maksimal.  Bagaimana kalau terjadi kecelakaan?  Bagaimana kalau kepalaku terlepas ke udara?😦 Semua fikiran buruk itu melintas di kepalaku yang bermuara dengan pertanyaan :   Siapa yang bisa menggantikanku dengan tiba-tiba?  Kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan tanggung jawabku terhadap keluarga?  Sejuta bagaimana membuatku menggelengkan kepala setiap melintasin arena permainan….ihiks…😦

Kembali ke urusan rencanaku untuk backpackeran.  Satu sisi ibuku merasa kasihan karena aku tidak pernah istirahat atau bersenang-senang.  Namun di sisi lain ungkapannya menyiratkan bahwa aku boleh bersenang-senang tapi dengan cara yang lumrah dan tidak perlu sampai pasang tenda segala.  Sikap ibuku ini sedikit berlebihan karena aku dari dulu manusia bebas dan beliau enjoy saja  (malah membekaliku dengan 2 bungkus rokok dan sekilo jeruk).  Dulu ibuku justru lebih khawatir melepas adik atau kakakku, padahal mereka cowok.  Ibarat kata, aku tidak pulang ke rumah pun tidak akan dicari, kecuali aku bawa sendok.  Hehehehehe…piss mom!

Backpacker for Soul

Setelah sedikit argumentasi (tapi ga berantem lho), akhirnya ibu merelakanku untuk backpackeran  pas mudik nanti.  Horeeeee….  Oitssss…sebetulnya ga semudah itu mengakhir obrolan tentang rencana naik gunung.  Sejuta nasihat kembali meluncur dari ibuku.  Kalau semua dirangkum kurang lebih menjadi seperti ini : hati-hati selama di perjalanan.  Jangan macem-macem dan cepat pulang.  Banyak orang yang masih butuh kau.  Alamakkkkk….berat amat petuahnya.  🙂. Begitulah ibuku yang kadang suka khawatir berlebihan.

Pokoknya mudik nanti aku harus jalan ke tempat baru.  Aku takut gila kalo terus  memikirkan tanggung jawab.  Walau kalau difikir-fikir, selama hidup adrenalinku juga ga pernah benar-benar mati.  Ada tanggung jawab ada adrenalin.  Lha, selama ini juga hidup sudah keras dengan berbagai pilihan yang kadang masuk kategori resiko tinggi.  Jadi sebetulnya kurang tepat pendapat ibuku kalau aku naik gunung atau keliling pulau Jawa sama dengan mencari bahaya.  Tapi dasar orang tua, kadang percuma diajak debat🙂 . Aku justru mencari pihak ketiga yang akan mengisi kembali kepala dan hatiku.  Sesuatu yang membuatku tetap berpijak pada tanggung jawabku dan mampu mengendalikan adrenalinku setiap hari.  Aku menamakannya : semangat.


Salam,

Ket :

– gambar dari Google

– video dari Youtube

 

 

 

 

4 thoughts on “Adrenalin VS Tanggung Jawab

    • lintasophia berkata:

      Beli di sini, tapi on line biar agak murah dikit…😦
      Kalo di toko, tenda itu 148 Eu, aku bayar (termasuk ongkir), cuma 85 Eu.
      Kalo carrier, harganya ga jauh beda dengan toko. Cuma, kemaren ke toko kudu mesen dulu.
      Aku pakai merk Ferrino. Coba mampir ke website mrk : http://www.ferrino.it
      Makasih udah mampir.

  1. Rosda berkata:

    Mpi…
    Entar kalau engkau udah jadi emak-emak dan punya anak gadis, baru bisa merasakan bagaimana kekhawatiran ibumu…hehehee

    • lintasophia berkata:

      Wkwkwkwkwk….lha, ibuku dulu ga seperti ini. Dulu beliau nyanteeeeee banget, beneran.
      Kalo ntar aku punya anak gadis? Hmmm, belum kebayang gayaku yang akan datang dalam mendidik anak. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s