Menjadi Saksi Kebangkrutan di Sekitarku

Siang yang mendung di sekitar San Lorenzo (toko tempat dimana aku bekerja),  sari berita krisis ekonomi yang tak putus di radio tak urung membuatku kembali ketar-ketir.  Bagaimana tidak khawatir, omzet penjualan selama tahun 2010 berada pada titik terendah selama aku bekerja di sini.  Penurunan omzet ini bukan milik kami semata tapi toko-toko lainnya juga.  Entahlah, apakah dapat disebut ”untungnya bukan kami sendiri yang merugi” atau justru sebetulnya ini kemalangan bersama.

Beberapa hari yang lalu, pandanganku tertegun pada sebuah toko yang hanya berjarak beberapa meter dari toko tempatku bekerja.  LIQUIDAZIONE TOTALE (cuci gudang besar-besaran) tertulis besar pada etalase toko.   Cuci gudang berlangsung selama bulan Desember hingga akhir Januari ini.  Kulekatkan pandanganku membaca informasi lebih lanjut.  Aku tidak berniat belanja karena justru ini berita mengecewakan untukku.

Pada lembar kertas yang ditempel tertulis alasan cuci gudang, yakni toko tersebut akan menutup usahanya.  Tidak dinyatakan bangkrut tapi aku meyakini bahwa mereka sedang mengalami kebangkrutan.  Karena toko yang sedang kita bicarakan ini adalah sebuah perusahaan multi nasional yang menjual barang-barang kelas atas, semisal Pinko, Givency, Dolce & Gabbana, Patrizia Pepe, Nolita, Dsquared, Chloe, Marc and Jacobs dan sebagainya.

Mereka pemilik nama dan modal besar.  Agak mustahil bisa bangkrut.  Tapi tampaknya,  krisis ekonomi kali ini tidak pilih kasih.  Modal besar atau kecil semua merasakan efeknya.  Bila toko ini tutup, Via San Lorenzo kehilangan gregetnya.   Maka tutupnya toko yang telah beroperasi sejak tahun 1990-an di Via San Lorenzo menjadi sebuah pukulan telak bagi lingkungan sekitarnya.  Toko berinisial CU ini merupakan toko ketiga yang sedang mengalami kebangkrutan dan letaknya benar-benar di dekatku.

Masih ada 1 toko pakaian lagi yang sedang akan menutup aktivitas usahanya.  Sama-sama menjual barang untuk kelas atas.  Sebagai gambaran, di toko kedua ini, untuk sepotong  kemeja pria, mereka menaruh bandrol di atas 100 euro.  Pada toko biasa, kita masih dapat menemukan setengah harganya, bahkan mungkin kurang.

Kebangkrutan toko mana yang membuatku paling merinding?  Jawabnya, adalah sebuah toko pakaian yang menjual barang-barang  (khususnya pakaian dalam)  merk Calvin Klein dan Roberto Cavalli.  Tepatnya, persis di sebelah kanan toko tempatku bekerja.  Untukku ini sangat mengerikan, karena biasanya orang sini rela berlama-lama  mengamati etalase toko tersebut.  Dari kejauhan, etalase toko yang memajang anek model pakaian dalam terbaru bagaikan cahaya lampu yang menarik laron untuk mendekat.  Pun demikian dengan masyarakat sini yang dari kejauhan mereka sudah tertarik untuk mampir atau sekedar melihat-lihat dari luar.

Nah, bagian kiri toko ini dan merupakan etalase utamanya berada di depan tokoku.  Sehingga jika ada orang berdiri di depan etalase mereka, otomatis mereka sedang berada di halaman tokoku.  Bisa dikatakan, kami sangat diuntungkan dengan etalase dan display pakaian dalam CK yang menggoda.  Rata-rata, setelah pengunjung melihat-lihat etalase mereka, maka kemudian pengunjung melirik toko kami.  Ini iklan gratis bagi kami.  Paling tidak, begitu yang kami rasakan selama ini.

Berita kebangkrutan toko yang di sebelah ini tidak mengejutkan kami.  Khabar ini sudah terhembus sejak setahun lalu.  Entah siapa yang memulai beritanya, tapi aku bisa membaca raut wajah pemiliknya yang kian hari kian mendung.  Sebagai sesama pedagang, kadang kami bertukar khabar tentang penjualan bulan ini atau prospek tahun yang akan datang.  Ada pula yang mengatakan bahwa toko sebelah sedang menunggu harga yang cocok untuk menjual tokonya.

Beberapa bulan lalu, sesaat setelah kami mudik, kami sempat bertukar khabar dengan pemilik toko sebelah.  Katanya tahun 2009 suram buat mereka.  Memasuki tahun 2010 keadaan tidak membaik,  apalagi  setelah musim belanja untuk kado Natal telah lewat, mereka nyaris tidak menjual apa-apa.  Ditambah lagi sekitar Februari dan Maret lalu, cuaca di sini sangat dingin.  Masyarakat enggan keluar rumah, ditambah krisis pula, lengkap sudah kesusahan yang ada, cerita bapak itu.

Mengapa aku kecewa dengan kebangkrutan ketiga toko di atas? Ya, karena jika mereka tutup dan tidak langsung ada toko penggantinya, maka Via San Lorenzo akan sepi.  Masyarakat tidak akan membuat Via San Lorenzo sebagai salah satu tujuan berbelanja karena minimnya jumlah toko yang ada.  Ini bukan pertanda baik untuk kami.  Sedikit banyak, klien tokoku adalah para warga yang kebetulan sedang lewat.

Kalau difikir-fikir, sekarang ini cuma ada masyarakat kelas atas dan bawah saja.  Mereka yang awalnya berada di kelas media terpaksa adaptasi menjadi masyarakat miskin kota.  Kelihatannya saja cantik dan elegan, padahal mah sebetulnya tidal punya daya beli.  Posisi mereka serba tanggung, yakni ”terbiasa” berlaku hidup mewah termasuk barang-barang fashion, terpaksa adaptasi mengenakan busana berbandrol rendah.  Mereka yang menjual barang dengan harga murah meraup keuntungan dari krisis ini. Masyarakat ramai-ramai berganti selera.Fenomena ini yang aku tangkap dari tutupnya ketiga toko penjual barang-barang branded.

Ketiga toko tersebut dihantam krisis ekonomi yang menghapus daya beli masyarakat.  Dulu, saat krisis ekonomi melanda Amerika Serikat, aku cuma bisa membayangkan keadaannya.  Sekarang, bayangan-bayangan itu berubah menjadi nyata.  Berita krisis di media massa dan obrolan dengan pengunjung toko semakin meyakinkanku betapa menakutkan hantu yang bernama krisis ekonomi ini.  Rasanya tidak percaya, aku menyaksikan dan mengikuti satu per satu toko di sekitarku mengalami kebangkrutan.

Sulit membayangkan Via San Lorenzo tanpa toko-toko untuk berbelanja.   Bagaimana kelak  wajah Via San Lorenzo tanpa ketiga toko terkenal tersebut?  Akankah masyarakat mulai melupakan Via San Lorenzo sebagai alternatif lain berbelanja?

Secara pribadi, aku juga teman-teman sedang melakukan gerakan nasional penghematan.  Kami mencoba melangkah dan bertahan semaksimal mungkin.  Walau  sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada kami kelak jika keadaan semakin buruk.  Sama sulitnya membayangkan toko apa kelak yang menggantikan toko di sebelahku.  Semoga krisis cepat berlalu dan toko pengganti di sebelahku tetap berjualan pakaian dalam dan menggantungnya di etalase sebelah kiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s