Semoga Krisis Tak Mengikis Sukacita Natal

Met pagi Indonesia,

Tinggal sehari lagi kita bisa bertemu dengan Natal yang penuh suka cita.  Bagaimana perasaan kalian?  Senang, sedih atau campur-campur karena jauh dari keluarga seperti yang aku rasakan saat ini?  Apa pun itu, semoga damai dan suka cita Natal kali ini bisa bikin hati lebih tenang sekaligus jadi penguat menyambut 2011.

Eh tau ga, kalau ada sebagian orang yang justru takut bertemu Natal.  Maksudku, ia merasa takut karena banyaknya jumlah kado Natal yang harus disediakan.  Selama Desember ini, rasanya kupingku sudah mati rasa mendengarkan keluhan tamu akan besarnya pengeluaran akibat urusan kado-mengkado.  Terlebih saat ini Italia sedang krisis parah.  Meningkatnya jumlah pengangguran atau sedikitnya kerja yang ada membuat pencari kado harus memutar otak agar kado Natal bisa terbungkus sebagaimana biasanya.

Harus aku akuin, tahun ini omzet toko dan restoran menurun drastis, mungkin terparah dalam sejarah selama kami di sini.  Kami tidak sendiri karena toko-toko lain juga mengalami hal yang sama.  Kalau aku khawatir akan tahun 2011 yang akan datang, yang gosip-gosipnya di radio merupakan tolak ukur ekonomi Italia (makin terpuruk atau bangkit), sedangkan banyak orang yang aku temui justru khawatir akan kado-kado Natal.

Tidak di Indonesia maupun di sini, kami tidak punya kebiasaan bertukar kado saat Natal.  Kami akan membeli kado saat teman ulang tahun dan itu pun patungan.  Lebih ke arah kebersamaan dan bersifat ”kenangan” daripada komersil ”keharusan” berkado.  Banyak tamu yang mengeluh dan ingin Natal cepat-cepat berlalu agar urusan kado juga cepat berakhir.  Menurutku agak aneh sih kalau pada akhirnya Natal lebih dimaknai sebagai ritual tukar kado.

Tentu saja betul bahwa Natal itu momen yang tepat untuk berbagi dengan orang terkasih, sebagai wujud sukacita Natal itu sendiri.  Tapi pelan-pelan nilai itu justru tertutupi oleh komersialisasi Natal.  Televisi dan iklannya berpengaruh kuat dalam hal ini. Makanya tidak heran, globalisasi kado Natal juga hinggap di Indonesia yang notabene tidak mengenal tradisi saling bertukar kado di saat Natal.  Dan bisa ditebak ujungnya, banyak orang memaksakan diri ”merayakan” Natal dengan kado-kado dan penganan mewah.

Aku tidak ingat, apakah saat aku kecil aku sudah paham makna Natal atau tidak.  Tapi setiap Natal selalu penuh suka cita, karena ada banyak kudapan di rumah.  Selain itu, ibuku tidak harus ke pasar, aku bisa bersamanya sepanjang hari.  Biasanya, kami akan pergi ke rumah paman paling tua.  Di sana kami akan makan-makan dan bermain-main bersama sepupu yang lain. Tentu saja, tidak ada kado-kado saat itu.  Anak-anak riang, orang tua juga senang.

Karena aku pelayan toko yang baik, biasanya aku ngobrol dengan tamu toko.  Dari obrolan itulah aku bisa menilai kemampuan ekonomi seseorang menjelang Natal.  Kadang jadi lucu, Natal berbiaya sangat mahal.  Padahal Yesus saja lahir di kandang domba.  Kadang aku jatuh kasihan melihat tamu yang sampai memijat-mijat jidatnya karena pusing melihat daftar kado di tangannya.  Satu sisi aku ingin menghiburnya dan menyarankan tahun ini tidak perlu ada kado Natal, yang penting pemaknaannya.  Tapi sikapku itu tentu saja bertolak belakang dengan pekerjaanku yang mengejar target penjualan.

Kadang  setelah mengucapkan salam ke tamu yang telah melakukan transaksi di toko, dalam hati aku berdoa untuk ketenangan jiwa mereka.  Semoga krisis ekonomi tak mengikis sukacita Natal.  Mari kembali baru, seperti bayi yang baru lahir (Natal).

Krisis atau tidak krisis ekonomi, mari kita rayakan Natal dengan kesederhanaan.  Biar cuma hati saja yang berdendang dan dipenuhi kemeriahan warna-warni Natal.  Jangan takut akan Natal, karena Natal itu menguatkan.  Untukku Natal itu waktunya  kontemplasi dan membangun mimpi-mimpi baru.  Natal itu indah.  Ada harapan di sana.

Selamat hari Natal 2010 dan Tahun Baru 2011.  Tetap semangat untuk keadaan lebih baik.  Tuhan memberkati.

Salam,

Ket. gambar dari Google.

Iklan

2 thoughts on “Semoga Krisis Tak Mengikis Sukacita Natal

  1. Sophie berkata:

    Selamat merayakan natal Nov, selamat menyambut tahun baru 2001, semoga menjadi awal tahun yang lebih baik buatmu.

    Aku di china malah jarang beli kado, hehehe soalnya disini kan sendiri, keluarga besar di US. Mungkin karena tradisi ya jadinya tiap tahun ya sudah keterusan. Dulu juga beli kado jauh2 hari, pas on sale, hehehe.
    Disini cuma anak 2, sama suami, malah tahun ini janjian sama suami, utk ortu ngak usah kado.
    Tadi lucu pas buka kado, aku ngk tega masa sih ngak beli kado buat suami, akhirnya aku beli, dia ngak tau, eh taunya dia juga beli buat aku, hahaha..

    Ada atau tidak ada kado, kita tetap merayakan natal, yang penting makna dari natal itu yang kita rasakan..

    • lintasophia berkata:

      Hai mbak, makasih udah mampir.
      Tahun ini memang benar-benar mengerikan di sini krisisnya, sulit untuk tidak cemas. Setiap tahun juga kami bersyukur tidak ada acara kado.
      Di Bandung sendiri tidak ada kemewahan. Ibuku cuma membuat beberapa penganan kecil karena kasian pada ponakan yang sudah menantikan kue-kue Natal. Kami sendiri tidak menu spesial di sini. Tadi beli kue beberapa potong. Benar-benar sederhana deh, sama seperti tahun lalu. Natal kali ini justru lebih bermakna untukku. Semakin merasakan pahitnya hidup justru membuatku bersyukur untuk semua yang telah aku terima selama ini.
      Met Natal untukmu dan keluarga. Salam hangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s