100 % Gen Ibuku. Selamat Hari Ibu, Cantik!

Met pagi Indonesia…

Kalau kalian perhatikan, dari sekian banyak catatan yang aku tulis, sebagian besar pasti menyinggung-nyinggung tentang ibuku.  Mungkin karena aku memilih mencatat sesuatu yang ringan dan biasa saja, yang inspirasinya bisa dari mana saja, salah satunya ibuku.

Aku dan ibuku bagai pinang tak berbelah.  Semakin ke sini, wajahku makin mirip dengan ibuku.  Kami 6 bersaudara, dan yang benar-benar replika ibuku ya aku.  Skala 1:1.   Saudaraku yang lain secara fisik ikut bapakku (tinggi dan mancung), sedangkan aku pendek dan pesek😦.  Dan lucunya, seiring berjalannya waktu, gejala penyakit yang diderita ibuku mulai tampak padaku… Hadoh!  Gen 100 % ini namanya.

*****

Secara karakter, aku dan ibuku mirip ga ya?  Ibuku adalah salah satu perempuan tangguh yang ada di bumi ini.   Sejak kecil, kami terbiasa hidup susah (bahkan sangat susah), di sinilah ketangguhan ibuku terlihat.  Ibuku mau melakukan apa saja agar kami anak-anaknya yang seabrek-abrek ini tidak kekurangan makan.

Biasanya ibuku berjualan, mulai dari pakaian, sayuran hingga ikan asin.  Semua dijabanin.  Dulu, aku membantu ibuku berjualan di pasar.  Tergantung masuk sekolah jam berapa.  Ibuku berangkat subuh sekali, sekitar pukul 03.00 pagi, naik becak.

Aku menyusul ke pasar setelah hari menjelang siang, sekalian meminta bekal untuk sekolah.  Aku di pasar tidak lama.  Kadang cuma mengganti ibuku, barangkali mau pergi ke kamar mandi atau berbelanja sayur.  Sekitar pukul 08.00 pagi beliau sudah kembali ke rumah, dengan becak yang menjemputnya tadi pagi.  Begitu seterusnya.

Ketika kami berjualan sayur-mayur, selepas masak di rumah, siang harinya ibuku pergi berbelanja ke pasar induk Caringin.  Naik bus kota biar hemat. Ketika tiba di rumah, badannya kuyup oleh keringat.  Kalau musim penghujan, badannya penuh lumpur.  Kasihan sekali melihatnya.

Setelah mandi dan makan seadanya, kami mulai membersihkan sayur-mayur yang akan dijual besok.  Atau, saat kami berjualan ikan asin, sore harinya kami mulai membungkus ikan asin menjadi satuan kecil.  Biasanya per 100 gram.  Ibuku nyaris tidak pernah istirahat apalagi bersenang-senang.  Seujung kuku pun, ketangguhan ibuku tidak dapat kutiru.  Terbukti, ketangguhan itu adalah suatu proses dan bukan hasil genetika.

Kenangan manis akan selalu dikenang, tapi sebaliknya untukku, separuh hidupku berisi yang susah-susah,  lebih banyak kenangan masa pahit yang terekam, termasuk dengan ibuku.  Teringat dulu, kalau aku membantu ibu berjualan di pasar di musim hujan.  Kita sama-sama kerepotan membentangkan plastik putih agar jualan selamat dan tidak busuk.

Hujan sangat besar pagi itu, tidak ada pembeli dan kami sama-sama kelaparan.  Aku tidak meminta apa-apa walau perut melilit dan masuk angin.  Ibu mengajakku berteduh ke pos hansip, menunggu hujan reda sambil mengawasi dagangan dari kejauhan.  Pos hansip sendiri dipakai sebagai tempat penyimpanan lampu petromaks yang disewakan ke para pedagang di pasar.

Aku dan ibuku berdiri berhimpitan karena ruangan sangat kecil.  Mungkin feeling ibu yang sangat kuat, tanpa aku bicara sepatah kata pun, tiba-tiba penjual kacang hijau datang menghantarkan bubur kacang hijau.  Masih panas dan asapnya menari-nari di udara.  Sejenak kulirik ibuku, takut ada salah paham antara tukang bubur kacang hijau dan kami.  Ibuku mengangguk, aku menerima bubur kacang hijau.

Aku tahu pagi itu kami belum jualan sepeser pun,  perasaan sungkan untuk melahap bubur kacang hijau tampaknya terbaca ibuku. Aku menawarinya paruhan.  Ibuku menunjukan termosnya yang berisi teh manis hangat.  Aku menghabiskan bubur kacang hijau.  Perutku mulai terasa hangat.

Tidak cuma masalah bubur kacang, tapi masih banyak hal-hal kecil yang tetap melekat dalam ingatanku.  Seingatku, ibuku tidak marah saat pertama kali melihat aku merokok, malah beliau sering membelikanku rokok.   Dulu aku pernah tanya alasan ibuku tidak marah melihat aku merokok.  Jawabnya  simple aja ”Aku tahu anakku.  Lagian,  resiko tanggung sendiri.”

Suatu hari, aku mudik ke  Bandung dan kami jalan-jalan di sekitar BIP.  Mungkin karena di sini aku terbiasa merokok di jalan (suatu hal yang mustahil dilakukan perempuan di Indonesia), secara tidak sadar aku mengutarakan keinginan merokok. ”Ya udah, merokok saja.” Katanya.

”Apa kata orang?”  Aku minta pertimbangan.

”Omongan orang kok dipikirin.”  Jawab ibuku.  Kemudian aku mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.  Rupanya tiupan angin di pelataran Bandung Indah Plaza lumayan kuat, sehingga usahaku menyalakan rokok sia-sia belaka.  Ibuku mendekatkan kedua telapak tangannya berusaha menghalau angin yang akan menggagalkan apiku.  Seorang bapak yang sedari tadi dengan pandangan najisnya  memperhatikan polah kami  tidak urung kena tegur ibuku.

”Apa lihat-lihat?  Urus, urus saja keluargamu.”  Hardik ibuku.  Padahal aku tidak marah kepada bapak itu.  Walau aku sudah dewasa dan bisa membela diri, tapi ibuku tidak suka kalau anaknya dilihatin orang seperti itu.  Hehehe, galak ya 🙂.

Betul ungkapan yang mengatakan, seorang anak adalah tetap seorang anak di mata ibunya, tidak peduli berapapun usianya.  Ibuku bagaikan mantel yang menutupi tubuhku saat kedinginan.  Keren ya?  Aku belum punya anak.  Ga yakin juga nih bisa seperti ibuku.

Untuk urusan rokok, ibuku memang aneh.  Mungkin berbeda dari ibu kebanyakan yang melarang anak perempuannya merokok.  Pas aku kuliah dan sering mondar-mandir Bandung-Jogjakarta, ibuku tidak pernah memberiku uang saku untuk ke Jogja.  Saat  kupamitan, biasanya ibuku menyelipkan sekilo jeruk dan 2 bungkus rokok ke tanganku.

”Hemat-hematlah rokokmu, biar cukup selama kau di sana.”  Ibuku mesti membisikan seperti itu.  Tau ga sih, karena ini juga aku cinta mati sama ibuku.  Bukan karena semata ibu kandungku, tapi karena dia ibu yang aneh.  Seorang perempuan yang tahu kapan waktunya menjadi ibu dan teman untukku. Kami sangat terbuka dan jujur.  Aturan main dalam sebuah persahabatan kan?

Nah, ngomong-ngomong tentang kejujuran ini, aku juga jadi takut berbohong pada ibu termasuk hal sepele.  Dari dulu aku pengen ditatto, tapi ibuku justru tidak suka.  Sebetulnya aku bisa saja membuat tatto di bagian tersembunyi dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa.  Tapi ya itu, aku ga mau melanggar konsep dasar dalam sebuah persahabatan.

Apalagi ya kenangan tentang ibuku?  Oh yaaaa… Ibuku itu sangat menerima teman-temanku yang beragam latar belakangnya (kebanyakan pengamen).  Dulu, aku punya teman tuna netra  (lupa lagi namanya).  Ia adalah seorang penggemar Inka Christie.  Temanku ini sering main ke Bandung dan biasanya menginap di rumahku.

Nah, dulu kontrakan kami itu bertingkat.  Kamar tidur di lantai 2.  Kebayang kan kegaduhan yang timbul saat temanku nginap di rumah?  Saat temanku harus ke WC, terpaksa ia turun tangga, maka ibuku yang menunggui di bawah.  Ibuku tidak pernah mengeluh, padahal istirahatnya terganggu.

Sejak dulu, rumahku juga jadi base camp teman-teman.  Hampir tiap hari ada teman di rumah.  Kondisi keuangan yang pas-pasan tidak pernah membuat ibuku mengeluh.  Entah bagaimana caranya, periuk nasih selalu terisi penuh.  Urusan lauk-pauk tidak utama, yang penting ada nasi.  Tidak boleh meninggalkan rumah dalam keadaan lapar, kata ibuku.  Malah ibuku paling rajin mengkhawatirkan keadaan temanku bila ia lama tidak muncul di rumah.

Ibuku jarang berbicara konsep kasih sayang, berbagi dan semacamnya.  Tapi beliau melakukannya lewat tindakan nyata.  Waktu jual pakaian bekas, kami punya banyak sekali barang yang tidak terjual.  Biasanya kami mengumpulkannya dan menaruhnya di sudut rumah. Setelah terkumpul sekarung atau dua karung, kami akan membawanya ke perempatan jalan Antapani.  Di sana banyak keluarga pengamen.  Pakaian bekas yang tidak terjual itu untuk mereka.

Sejak dulu kami tinggal di lingkungan kumuh, padat penduduk dan mayoritas keluarga miskin.  Sewaktu kami berjualan ikan asin, remah-remah ikan asin kadang dibeli tetangga.  Harganya sangat murah.  Biasanya tetangga mencampur remah-remah ikan asin dengan sambal tomat.  Kurang lebih nama menunya adalah : sambal tomat ikan asin.  Kadang ibuku menerima pembayaran atas remah-remah ikan asin itu, tapi lebih sering menggratiskannya.  Sesama orang miskin ga boleh pelit, katanya suatu ketika.

Setelah aku fikir-fikir, ibuku mampu melakukan sesuatu yang sulit, yakni berbagi dikala dirinya sendiri juga butuh pertolongan.  Kalau aku?  Dooohhhh…jauuuuhhhhh….   Ga perlu dibandingin, karena tidak sepadan.

Apalagi ya istimewanya ibu?  Jago masak.  Kalau aku? Ihiks…malu mengakui ketidakmampuanku atas yang satu ini.  Ibuku mampu membuat hidangan lezat dengan bahan sederhana.  Masakannya juga tidak jauh dari kangkung, daun singkong atau capcay.  Paling banyak tentu saja variasi capcay.  Kalau hari ini capcay berisi buncis dan wortel, lain hari kembang kol dan wortel. Itu saja diputar-putar. Tapi untukku luar biasa nikmatnya.

Bisa dihitung berapa kali kami makan daging dalam setahun, selain karena mahal ya kami lebih suka ikan.  Jadi, kalau hari ini ikan kembung, besok ikan pindang, lusa ikan tongkol, kemudian telur balado.  Menunya cuma begitu-begitu saja.  Kalau tidak ada uang, tempe atau mie instan.  Walau ibuku masaknya tergesa-gesa, hasilnya itu lho, persis sentuhan chef kenamaan.  Nikmat bukan kepalang.

Kalau aku? Weks, laper tapi capek ya tinggal beli pizza atau beli makanan siap saji lainnya. Haduh,haduh, bagaimana ya nanti nasib anak dan keluargaku?  Bisa ga ya kesabaranku 1 persen saja dari kesabaran ibuku?

Hei, ibuku juga kocak dan polos.  Suatu pagi, aku, ibu dan Mas Ipung berjalan kaki karena sudah lama menunggu, ojek tidak muncul juga.  Rumah kami waktu itu di gunung, jadi mengandalkan jasa ojek.  Nah, karena kelamaan menunggu, kami memutuskan jalan kaki saja, pelan-pelan.  Perjalanan dari rumah hingga ke bawah sekitar 1,5 km.  Kami terus bersenda gurau agar jarak tidak terasa.

Sedang asyik-asyiknya ngobrol,  tiba-tiba ibuku masuk ke sebuah rumah (bagian belakang rumah tersebut).  Kami melihat ibu ngobrol dengan seorang perempuan yang sedang menyapu lantai.  Mereka tertawa.

”Oh…temannya”  Pikirku dan Mas Ipung.  Kami memutuskan menunggu di luar saja, agar tidak lama.

Sesaat kemudian ibuku keluar dengan wajah riang bukan kepalang.  Sebentar ia bersalaman dengan pemilik rumah yang sesekali tertawa seperti ibuku.  Kembali kami jalan bertiga.

”Aku tidak tahu kalo ada temanmu di sini.  Siapa?”  Tanyaku.

”Oh itu… Dia bukan temanku.  Tadi aku kebelet pipis, kebetulan pintu dapurnya terbuka.  Aku ikut kencing sebentar.”  Ibuku menjelaskan.

”Haaaaa….”  Teriakku dan Mas Ipung bersamaan.

”Hehehehe, orangnya baik kok.  Tadi juga disuruh duduk dulu, tapi aku bilang sedang buru-buru.”  Aku dan Mas Ipung cuma geleng-geleng  kepala.

*****

Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan tentang ibuku.  Aku sangat antusias sekaligus  emosional kalau harus berbicara tentang beliau.  Setelah tinggal berjauhan dan kesempatan berjumpa sangat terbatas, justru membuat ikatan batin makin kuat.  Sering banget kami ngobrol ngalor-ngidul ditelfon.  Bukan cuma sekedar bertukar khabar, tapi biar ibu ga kesepian.

Aku berjanji, bakal melakukan yang terbaik untuknya, mumpung beliau masih ada.  Banyak tukar fikiran juga mungkin baik untukku, sebagai salah satu proses menuju 100 persen setangguh ibuku.

Selamat hari ibu, cantik.  I luv u mom,  so much… 🙂🙂

Makasih banyak untuk semuanya.  Tanpamu, aku ga akan bisa seperti ini.  Sejuta cinta untukmu. 🙂

3 thoughts on “100 % Gen Ibuku. Selamat Hari Ibu, Cantik!

  1. Sophie berkata:

    Nov, percayalah dirimu sudah setangguh ibumu, saat ini dirimu dirantau orang, bergelut dengan kehidupan. Mungkin ketangguhan manusia itu lain, tapi semuanya itu melalui proses.
    Ibumu juga sebelum menikah tidak pernah berpikir akan semandiri, sehebat atau setangguh itu, tetapi karena keadaan.
    Jadi, dirimu sekarang ini bukan tidak bisa sehebat ibumu, tetapi keadaan berbeda. Aku yakin, dirimu juga sama hebatnya dengan ibumu.
    Hiks hiks ingat ibuku, beda tipis tipis, my mom juga harus membesarkan 5 anaknya, sendiri. Mom aku punya satu nasehat, sesusah apapun pasti akan berlalu, sesedih apapun pasti akan lewat, jangan ditangisi, jangan disesali, karena tidak akan menjadi lebih baik, tetapi jalaninlah, maka akan lebih ringan.

    • lintasophia berkata:

      Hihihi, makasih pujianmu mbak…🙂
      Sampean iki lho, kalo muji sampe bikin idungku terbang.
      Semoga pujianmu tidak membuatku lupa diri, tetap membumi dan tetap sabar. Eh, aku belajar banyak dari pengalaman hidupmu. Terus terang, sampean itu salah satu orang yang aku hormati dan aku ”dengarkan.” Berbahagialah anak-anak yang punya ibu sepertimu.
      Thank’s a lot. GBU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s