Ketika yang Tua Mengkhawatirkan yang Muda

Pada hari Rabu lalu, dengan menahan dinginnya pagi di 2 derajat celcius, aku dan seorang teman nekad  keluar rumah.  Tujuan kami adalah kantor ASL 3 Genova untuk memperbaharui Kartu Kesehatan.

Masih ingat kan tentang rencanaku beberapa bulan lalu untuk memperbaharui kartu kesehatan?  Ternyata, setelah hampir 6 bulan baru terlaksana.  Kalau bukan karena ibuku, tidak mungkin semua ini terjadi.

*****

Selasa lalu, saat berbincang di telfon dengan ibuku, aku menanyakan khabar terbaru seluruh keluarga, satu per satu.  Bahkan sampai keluarga yang jarang kusinggung dalam obrolan kami, tidak luput kutanyakan.  Ibuku penasaran dengan gelagatku (yang kayak kurang kerjaan), bertanya tentang motivasiku melakukan FAQ.

”Aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap kalian.”  Jelasku.

”Ga ada tuh…”  Jawab ibuku sambil tetap bercerita perkembangan terbaru di rumah.

”Sudah seminggu ini jantungku berdebar-debar tidak karuan.”

”Udah seminggu?”

”Iya.”  Jawabku.  ”Awalnya aku abaikan, tapi karena sering jadi kepikiran.  Jangan-jangan ini  sebuah feeling…

”Husss….” Sanggah ibuku sebelum aku menyelesaikan kalimatku.   ”Tidak ada feeling-feeling.  Semua di sini baik-baik saja.  Jangan-jangan kau kena gejala sakit jantung.”  Terka ibuku.

”What?  Please deh mom, eikkeh pan masih muda bersahaja.”   Kataku sambil menjelaskan beberapa data kronologis saat jantungku berdebar-debar dan merasa muyung.

”Kau lupa ya, kalau sebagian besar paman dan bibimu juga punya penyakit dan gejala yang sama.”  Penjelasan ibuku bikin keningku berkerut-kerut.

”Masa iya sih?”  Aku masih ga yakin.

”Ahhhh….kayaknya udah kena gejalanya  kau.”  Ibuku masih tetap bercerita tentang paman A, paman B, bibi C dan lain sebagainya.  Aku bingung dan ibuku tampaknya sangat akrab dengan perkaran jantung berdebar-debar ini.

”Iya, itu bisa saja faktor keturunan.”  Tambah ibuku lagi.

”Wahhhh…kalian ini, ga banget deh.  Kasih warisan itu tanah, rumah atau deposito.  Ini mah malah jantung (baca: penyakit)…” Aku merengek.

”Pengennya sih gitu… Tapi gimanalah…. Udah nasibmu itu.”

”Kejaaammmmm…..” Kali ini aku memang benar-benar protes.   ”Apa jangan-jangan aku anemia ya?  Secara aku pan sedang pengetatan ikat pinggang.”  Jawabku menerka-nerka.

”Kebanyakan memang menganggap sepele masalah jantung berdebar-debar ini.  Tapi hidupmu pan hancur banget.  Kurang makan kurang tidur.  Mana rokok dan kopimu kencang pisan.”  Papar ibuku.  Hihihihi….iya, iya… Aku memang kurang makan (gizi), kurang tidur (untungnya ga ditambah kurang kasih sayang 🙂 . )

”Ya udah, cepetan ke dokter biar jelas keadaannya.” Saran ibuku.

”Kartu kesehatanku udah kadaluarsa sejak Januari lalu.”

”Kan bisa diperbaharui.  Sementara itu stop merokok dan ngopi.”  Ultimatum ibuku.

”Waaaahhh…berat banget…huaaaa…huaaa…”  Aku merengek-rengek minta dispensasi.  😦

”Ehhh…mau sehat ga?”  Hardik ibuku.

”Mau…. Tapi kartukuuuu….  Males ah, sekarang lagi dingin-dinginnya di sini.  Ntar aja aku perbaharui setelah mudik, udah masuk Primavera (musim semi).”

”Ya ampun, kau mau ga bisa liat Lia tumbuh sampai dewasa?”

”Ya mau…”  Jawabku.

”Kau ga mau ya kalau pulang nanti ke Indonesia masih punya waktu banyak sama aku? Kan kita sudah janji untuk sama-sama jaga kesehatan.”  Aku kaget mendengar ucapan ibuku.  Sungguh, aku tidak menyangka segawat itu.  Semoga ibuku memang sedang panik dan lebay saja, sehingga sedikit berlebihan.

”Ya mau…”

”Kau kan ada internet.  Coba cari infonya biar kau yakin bahwa itu ga boleh dianggap sepele.  Jangan-jangan nanti kau duluan yang lewat daripada aku.”  Ibuku makin menaku-nakuti.

”Tidaaaakkkk….   Tadinya aku kira cuma anemia, tapi yang ini mah kayaknya lebih serem ya?”  Aku membuka Google dan membacakan sekilas info di sana untuk ibuku.

”Ya udah, nunggu apa lagi?  Besok pagi langsung buat Kartu Kesehatan yang baru.  Stop ngopi…dan seterusnya dan seterusnya.”  Nasehat ibuku sangat panjang kalau ditulis semua.

”Iya…iya….”  Hehehehe… Aku juga jadi ikut panik dan buru-buru mematikan telfon 🙂

*****

Dan holaaaa… Pukul 01.00 obrolan berakhir.  Buru-buru aku telfon temanku yang kebetulan kartunya juga sudah kadaluarsa.  Temanku sudah tidur dengan lelap selama 2 jam.

Aku utarakan rencanaku dan ia langsung menyetujuinya.   Dan ini lah kami, pagi-pagi sekali sekitar pukul 07.45 bergegas menuju halte bus.  Kami kurang tidur jadi semakin kedinginan ditambah pagi itu temperatur menunjukan suhu udara 2 derajat Celcius.

Mungkin aku sudah ”terkontaminasi” kelebayan ibuku.  Tapi bayangan-bayangan ”seandainya” aku sakit dan tidak bisa berkumpul dengan keluarga sangat menakutkan.  Lebih menakutkan daripada suhu di pagi itu.

** Dasar anak muda, ketika yang tua mengkhawatirkan keadaannya, malah sering dianggap sebuah canda.  🙂 🙂 Pisss, mom…

Salam,

Ket.  Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s