Menyikapi Krisis 2011. Tetap Sederhana dan Terencana

Sejak akhir November, selain pemberitaan Silvio Berlusconi, maka berita krisis Irlandia dan Italia bolak-bolak balik diulang media massa.  Terlebih menjelang tutup tahun seperti sekarang ini, dimana angka pengangguran, inflasi, pajak dan semacamnya seakan menemukan angka yang akurat.  Menurut media massa, tahun 2011 krisis ekonomi di Italia masih awet seperti 3 tahun belakangan ini.  Bisa jadi lebih parah, mengingat situasi makro ekonomi belum membaik.  Negara Yunani, Irlandia dan Portugal dituding sebagai salah satu biang kerok krisis ekonomi di Uni Eropa.

Aku cuma mengelus dada yang lumayan rata 😦😦.  Rasanya bosan mendengar berita yang sama dari tahun ke tahun, walau harus kuakui ada rasa cemas menyelip dalam hatiku.  Terpikir, apa yang harus aku lakukan seandainya krisis ekonomi semakin buruk dan panjang?  Kalau tiba-tiba restoran tempatku bekerja tutup, apa yang harus aku lakukan?  Di Indonesia juga belum ada usaha sampingan untuk survive bila keadaan terburuk terjadi.  Sejak dulu pengen banget buka usaha, tapi selalu ada kendala.  Disamping itu, urusan keluarga sedemikian banyaknya, satu per satu minta perhatian dan konsentrasi, hingga kita tiba di penghujung 2010.  Aku belum menyiapkan apa-apa untuk kepulanganku, maksudku kepulanganku untuk stay selamanya di Indonesia.

Mungkin karena aku tidak menyangka akan gagal kuliah di sini, maka aku tidak mendahulukan urusan membuka usaha di Indonesia.  Setelah bulan Maret lalu aku memutuskan berhenti kuliah, semua masalah tentang future justru menjadi terang benderang.  Awalnya, aku pikir, seandainya aku lulus kuliah dari sini, tentu bukan hal yang sulit untuk berganti profesi.  Tapi kenyataan di depan mata tidak seperti itu.  Kondisi yang ada tidak memungkinkan untuk kembali ke bangku kuliah.  Alternatif kalau pulang ke Indonesia ya harus membuka usaha sendiri.

Kalaupun aku mau melamar kerja, dalam benakku banyak kendala yang ada.  Selain faktor umur, apa ya skill yang bisa kutawarkan di luar sana?  Pengalamanku selama ini cuma : cleaning service, nyuci piring dan mengurus toko.  Memulai karir sebagai penjaga toko jelas tidak menjanjikan.  Balik lagi sebagai cleaning service?  Hadohhhh….hadooohhhh….  🙂🙂 .

Bolak-balik kubuka buku besarku yang berisi anggaran dan pendapatanku, termasuk didalamnya tercatat pengeluaran rutin setiap bulan, skema pembayaran hutang, ancer-ancer menabung selama 2011, target yang ingin aku capai dan lain sebagainya.   Rancangan atau daftar target hingga termin waktu selama bulan 2011 sudah tercatat rapi.  Tapi seiring berjalannya waktu, membuat pengalamanku lebih banyak.  Aku belajar bahwa apa yang di atas kertas tidak selalu sama dengan yang terjadi di dunia nyata.  Faktor X memegang peranan penting.

Dalam hal keuangan, rencana dan sebagainya,   tahun ini ada yang tercapai dan ada pula yang meleset.  Kalau yang meleset dan penyebabnya bukan diriku, terpaksa aku ikhlaskan.  Tapi kalau pengendalian diri yang buruk dan tidak patuh terhadap anggaran yang ada, itu yang bikin kesal.  Sering pembenaranku, sesekali memanjakan diri tentu tidak masalah, toh sehari-hari aku sudah hemat dan membantu keluarga.  Tapi ya itu tadi, sampai beberapa tahun ini, bersenang-senang tidak ada dalam anggaranku.  Duitnya ga cukup… 🙂 :)  Arghhhh…. sebel, sebel, sebel…..

Oh ya, balik lagi ke anggaran yang udah aku susun.  Aku cukup terpukau beberapa lama.  Menelan ludah yang pahit juga.  Tahun 2011 tampaknya bakal salah satu tahun penentu untuk masa depanku.  Agar semua rencana yang udah aku susun tercapai, mau ga mau aku harus patuh, harus disiplin  terhadap perencanaan yang sudah aku buat.  Apa arti dari semua itu?  Tahun 2011 masih harus (lebih) hemat dan (lebih) sederhana.  Lha, selama ini?… haihaiahaiahai….😦😦

Baiklah, menunda kesenangan beberapa saat bukanlah akhir segalanya, hiburku dalam hati.   Ancaman krisis ekonomi dan kehilangan pekerjaan lebih mengerikan daripada tidak memiliki barang-barang yang ada di etalase toko.  Sebetulnya,  aku mengucapkan syukur karena masih diberi kesempatan untuk berencana pada tahun 2011.  Walau kadang aku ga bisa menutupi perasaan cemas atau sedikit cemburu melihat teman-teman yang sudah mapan.  Aku sangat ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia, buka usaha, pensiun dini dan kembali sekolah.  Terus terang, aku sudah tidak sabar bisa menyalurkan minatku pada fotografi, travelling (kangen masa kuliah, bisa terbang dan hinggap dimana saja), belajar hal-hal baru dan semua yang aku suka.  Tetap sabar berusaha, tidak lupa bersyukur biar hidup lebih tenang (lumayan juga ngurangin tekanan darah).  Sebentar lagi ganti tahun.  Sebentar lagi hidupku lebih hemat dan lebih terencana. 🙂🙂

Salam,

Ket.  gambar dari Google

2 thoughts on “Menyikapi Krisis 2011. Tetap Sederhana dan Terencana

  1. sudi berkata:

    coba buka usaha guide wisata buat orang itali yg mau ke indonesia, atau sebaliknya orang indonesia yg mau jalan2 ke itali…. klo udah lumayan jalan, gw dapat bonus ke itali PP ya…🙂

    • lintasophia berkata:

      Ide yang menarik Sud. Tapi kalo krisis gini, sektor yang paling terasa itu ya pariwisata. Boro-boro plesir jauh, antar benua, plesir Eropa aja menurun kok.
      Ini lagi berfikir keras, usaha yang bisa menjamin masa tua dan bisa diwariskan ke anak-anak kelak. 🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s