1 Kado 2 Hadiah

Minggu lalu adalah ulang tahunku.  Berlalu biasa saja seperti hari lainnya.  Tiup lilin dan makan kue tart justru kami lakukan keesokan harinya, sehari setelah ultahku.  Karena pas hari H, restoran tempatku bekerja libur mingguan.  Aku sendiri bekerja sampai sore dan setelah itu aku pulang.  Tidur.  Belum lama aku bergulung di selimutku yang hangat, tiba-tiba muncul ajakan dari teman dan kakak iparku untuk jalan-jalan sore.  Sebetulnya aku males banget.  Selain cuaca buruk, sudah beberapa minggu aku belum istirahat.  Tapi karena teman dan kakak iparku sedang mencari sesuatu, akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka.  Asal jangan jauh-jauh, kataku.

Malamnya (subuh waktu Bandung), aku menelfon rumah.  Setelah 3 keponakanku bergantian menyanyikan lagu ”Selamat Ulang Tahun,” bahkan Lia (yang paling kecil), berhasil menyanyikan 5 versi lagu ulang tahun.  Mulai dari  yang standard : selamat ulang tahun kami ucapkan…. dst.  Disusul, happy birthday to you…happy birthday to you…  Kemudian : potong kuenya, potong kuenya…dst.  Masih ada : tiup lilinnya, tiup lilinnya…dst. Terdengar di belakang suara ibuku : ”Pulsa….pulsa…”

Setelah segala macam ucapan selamat ulang tahun, termasuk segudang doa, kami bertukar khabar terakhir.  Aneh juga sih bertukar khabar lagi, karena beberapa jam sebelumnya (termasuk sehari sebelumnya) kami juga udah bertemu di telfon.  Tapi ini kebiasaan kami, suka ngobrol yang ga penting-penting.  🙂

”Aku punya sesuatu untukmu.” Kataku.

”Oh ya… Apa tuh?” Tanya ibuku.

”Pasti udah bisa nebak.”

” Tas ya?” Ibuku kegirangan….🙂🙂

” Yup, tadi aku beli dari toko langganan kita.  Tas kesukaanmu” Jawabku membenarkan tebakan ibuku.

” Astagaaaa… Tas dari toko itu pan harganya mahal. ..” Ibuku kadang beli tas di sini, aku yang temani.  Jadi beliau hafal kisaran harga tas yang ada.

” Ga apa.  Itu untukmu.  Udah lama pan pengen tas itu?” Ibuku malah gantian bingung dengan tas yang kumaksud.  Secara  beliau sering lihat-lihat model tas yang banyak dipajang di etalase toko tersebut.  Masih sedikit penasaran dengan tas yang kumaksud, ibuku bertanya lebih lanjut.  Aku pun malah kasih tebak-tebakan tentang tas itu.  Beliau kegirangan.  Mungkin ada gambaran tas melintas dalam benaknya.

” Ah…kayaknya yang itu ya?  Tapi ga mungkin ah… Itu kan mahal.   Jadi yang mana ya?”  Ibuku tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.  Aku tidak mengiyakan tebakannya, biar seru.

” Dari ciri-cirinya, kayaknya udah kutahu yang kau maksud.  Tapi ga mungkin ah… Mahal.  Kau duit dari mana?” Ibuku tidak pintar menyimpan perasaannya.  Pantas saja ibuku gembira.  Dulu waktu beliau tinggal di sini, kami suka melihat-lihat tas itu, sampai penjualnya hafal kelakuan kami.  :)  Hormon gembiranya menular padaku yang jauh ini.  Aku senang.

”Udah lama aku niatin ngambil tas itu untukmu.  Tapi bolak balik duitnya kepake… Hehehehe…”  Ibuku sendiri nyaris berteriak pas tahu harganya.

”Tapi terlalu mahal.  Sayang duitnya, mestinya cukup untuk bayar kekurangan angsuran kemaren.  Daripada untuk tas, itu cukup untuk bekelmu 2 bulan… ” Jawab ibuku mendadak sedih.😦

”Ga, ga apa… Aku udah lama niatin.  Jangan khawatir tentang aku.”  Potongku cepat-cepat.

”Aku jadi ga enak.  Hari ini ultahmu, mestinya aku yang kasih kado.  Kok jadi terbalik ya?” Mungkin di seberang sana ibuku lagi garuk-garuk kepala.

” Doooohhh, biasa aja kali.  Ntar pas mudik, traktir aku bakso dan 1 slop rokok.  Impas.”  Kataku terbahak-bahak.

” Eh beneran lho… Aku jadi ga enak…” Ibuku menolak tas yang sudah lama  ia idamkan.  Waduh, begimana ini?  :(

” Becanda ah… Aku tahu mama udah lama pengen tas ini.  Sekarang udah ada, masak ditolak sih?  Ga mungkin kukembaliin ke toko.”

1 kado 2 hadiah

1 kado 2 hadiah

” Bukannya udah beberapa bulan ini kau puasa?  Ditambah beli tas mahal gitu, gimana caramu bertahan?”  Tanya ibuku.

” Pokoknya ada aja.  Aku udah sisihkan dana untuk ini, kan udah lama  kuniatin beli tas ini untukmu.  Tadinya mau ta’ beli Natal nanti pas dapet THR, tapi kata bapak (penjual) itu, ini tas terakhir.”  Aku membela diri.

Kami sama-sama terdiam.  Ibu menegurku karena aku tidak menanyakan pendapatnya terlebih dulu sebelum membeli tas, apalagi harganya mahal.  Tiap tahun juga aku menghadiahi tas untuk ibuku, tanpa nanya dulu.  Karena aku tahu ibuku sangat suka dihadiahi tas.  Jadi, kenapa kali ini harus minta izin?

” Jadi gimana dong?” Tanyaku memecah terdiamnya kami.

” Sayang duitmu, apalagi kau lagi kepepet kayak sekarang.”

” Kan aku udah bilang, aku udah nyisihin untuk itu.”

” Tapi mestinya bisa untuk keperluanmu yang lain…” Ibuku kok mendadak ribet begini ya?  Biasanya beliau senang aja tuh, ga perlu debat seperti ini.

”Ya udah kalau ga mau, ta’ balikin aja tasnya.  Ntar ta’ tanya anak-anak barangkali mereka mau belanja sesuatu, biar duitku balik lagi.”  Aku menyerah….😦😦

”Eh, eh, jangaaaaannnn…. Kau bilang tas terakhir?  Ntar kalo ga ada lagi, sayang kan?” Huahahahha…dasar ibuku mumu nana ipik.  Munapik.

” Aku jadi bingung….”

” Hmmm….gini aja.  Aku terima hadiahmu.” Jawab ibuku.

” Weks, dari tadi kek…” Sahutku dengan ketus.

Timingnya ga pas.  Yang sayangnya duitnya.”  Lanjut ibuku dengan logat Bataknya.

” Udah pagi nih.  Aku harus tidur.  Gara-gara urusan tas, panjang banget nih obrolannya.  Jadi, mau ga?”

” Iya….iya…aku terima.”

” Gitu dong…”

” Makasih ya.  Aku terima tasnya, tapi aku hadiahkan kembali untukmu sebagai kado ulang tahunmu hari ini”  Suara ibuku serak, serak sumbang.

”Haaaaaaa??????”  Aku kaget setengah mati.  Ibuku memang cerdik.  :)🙂

” Selamat ulang tahun ya.  Jaga kesehatan.  Semoga dilapangkan rejekimu.  Tuhan memberkati.  Tidur sana.  Udah pagi…” Ihiks….ihiks… giliran aku yang serak, serak sumbang.  How much I luv u, mom!

Salam,

Ket. : gambar koleksi pribadi dan dari Google

4 thoughts on “1 Kado 2 Hadiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s