Mengubah Ketakutan Menjadi Kekuatan

Barusan, ada cewek  lagi nyari kado untuk temannya.  Badan mungil, rambut keriting dan berminyak.  Dari gesturenya, kelihatan dia sangat gugup, gemetar dan selalu membenarkan kaca matanya.  Bukan membenarkan rambut lho, itu mah Gayus.  Setelah sekian menit mencoba beberapa cincin metal, aku menanyakan apakah barang yang diinginkannya sudah ditemukan. Menurutnya,  ia sudah beberapa kali main ke toko tempatku bekerja.  Serta telah  punya ide  mengenai kado untuk temannya.  Masalahnya dananya belum ada, padahal cuma 6 Euro lho.

Akhirnya, dia bilang kalau dia hari ini tanpa uang dan akan kembali besok untuk membeli barang yang dimaksud.  Selain itu, dia juga menanyakan lowongan kerja di tempatku.  Sayangnya, kami sedang tidak butuh karyawan.  Latar belakang pekerjaan sebelumnya, lebih banyak di bidang akunting.  Cukup banyak nama perusahaan besar yang pernah disinggahinya selama 7 tahun terakhir ini.

Nah, sebetulnya dari perusahaan tempat ia bekerja terakhir kali, ia dimutasi bukan dipecat.  Manajemen memintanya untuk pindah ke kota kecil (Ventimiglia).  Kalau tidak salah sekitar sejam lebih dari Genova.  Menurutnya, dengan jarak tempuh segitu, otomatis ia harus mengontrak  kamar kecil, sekitar 200 Euro per bulan.  Ini yang memberatkannya.  Gaji yang bakal diterima 1000 Euro/bulan.  Tentu sangat berat membagi gaji segitu, harus bayar apartemen, gas, listrik dan keperluan pribadi lainnya, tuturnya.  Terpaksa aku menolaknya, tuturnya lagi.

Aku terperangah mendengar alasannya menolak mutasi tersebut.  Tanpa sadar aku menyayangkan pilihannya itu.  Lalu kami berdua menghitung bakal pengeluarannya setiap bulan, seandainya kemarin ia jadi ke Ventimiglia.  Apartemen 200 euro/bln, gas atau listrik 50 euro/bulan.  Belanja dan keperluan pribadi 200 euro/bulan.  Dana cadangan 50 euro/bulan.  Total pengeluaran sekitar 500 euro/bulan.  Artinya, masih ada sekitar 500 euro/bulan dengan bebas untuk ditabungnya.

Namun, alasan yang bikin aku nepok jidat itu adalah, seandainya dia menemukan pekerjaan di Genova, tentu tidak harus bayar kontrakan, gas, listrik, ini dan itu.  Sampai sekarang dia masih tinggal bersama orang tuanya, jadi penghasilannya bersih untuk dirinya sendiri.  Sesekali ikut patungan bayar tagihan, katanya.  Astaga, jawabannya itu membuatku miris.

Tanpa bermaksud tidak menghormati keputusannya, aku menggambarkan bahwa sebetulnya ia melewatkan kesempatan emas.  Aku menggambarkan bahwa gaji rata-rata di Italia itu sekitar 1200-1400 euro/bulan dengan 40 jam kerja/minggu.  Jadi, bisa dikatakan bahwa mugkin 1000 euro itu agak minim (sayangnya, aku tidak tahu 1000 euro/bulan itu untuk berapa jam kerja per minggunya).  Tak bermaksud pula membuatnya menyesal, aku menggambarkan bahwa aku sebagai orang asing juga harus bayar kontrakan, gas, listrik, sampah dan lain-lain.  Dan masih hidup kok.  Gaji pokokku malah lebih kecil daripada gaji yang ditawarkan padanya.

”Aku kerja 2 kali lebih lama dibanding kau biar bisa punya gaji lebih.” Kataku menggambarkan suasana finansialku.  Dia menggeleng.

”Lagi pula, kalau kerja kantoran kan dari pagi sampai sore.  Kalau masih butuh, kau bisa kerja sampingan lainnya.”  Lagi-lagi dia menggeleng.

”Non c’e lo faccio (aku tidak akan sanggup seperti itu).” Katanya…

********************************

Mengubah Ketakutan Menjadi Kekuatan

Met pagi Indonesia…

Itu tadi obrolanku dengan seorang tamu dan menjadi pengantar catatan kali ini.  KETAKUTAN.  Siapa diantara kita yang tidak pernah merasakan takut dalam hidupnya?  Aku juga penakut dan kadang cemas berlebihan mengenai masa depanku.  Apa yang akan kulakukan setelah tidak di Italia lagi?  Bekerja dimana atau mending wiraswasta?  Apakah gaji yang akan kuterima mencukupi kebutuhan hidupku kelak?  Dimana aku bakal tinggal? Dan bla…bla…bla… Kalau ditulis semua, catatan ini bakal berganti judul menjadi : Daftar Ketakutanku. 🙂🙂

Sudah beberapa hari ini kepalaku selalu memikirkan ayam goreng krispi (dengan saos tomat ABC tentunya), martabak, cokelat dan makanan enak lainnya.  Biasanya perasaan ngiler ini muncul setiap kali aku tidak punya dana, seperti bulan ini.  Baru beberapa hari gajian, tapi aku sudah bokek.  Benar-benar besar pasak daripada tiang namanya.  Sampai Desember nanti aku masih harus bayar uang muka rumah, lumayan besar.  Konyolnya, bulan ini terdapat tagihan gas dan sampah.  Terpaksa pos uang muka rumah dipotong.  Kresss…kress…kress… Tapi ternyata, gajiku tetap tidak mencukupi.  Terpaksa bekal pribadiku ikut terpangkas hingga mencapai point terendah seumur hidupku.🙂🙂

Nah, kondisiku itu sudah aku perkirakan sebelumnya, walau prakteknya jauh lebih berat daripada bayanganku.  Terus terang, mencicil rumah dengan pinjaman sana sini awalnya membuatku takut.  Duh, bisa tidur ga ya?  Lalu, bagaimana kalau aku sakit? Bagaimana kalau ternyata aku tiba-tiba kehilangan pekerjaan?  Dan pertanyaan menakutkan lainnya.

Dulu, aku selalu makan siang di luar dan tidak terlalu ribet masalah harga.  Paling bingung menunya, antara kebab atau pizza.  Lihat sekarang, terpaksa harus nahan lapar.  Bahkan untuk ngopi juga sudah jarang kulakukan di bar sebelah (sampai dicari-cari sama pelayan bar).  Bandingkan dulu, dalam sehari aku minimal ngopi 3 kali di bar sebelah.  Apalagi ya perubahan gaya hidupku?  Menu sarapan aku ganti.  Awalnya selama bertahun-tahun sarapanku itu sereal ternama dicampur susu plus secangkir besar kopi.  Sudah beberapa bulan kuganti dengan roti tawar dan selai coklat.  Beberapa bungkus roti tawar plus susu cuma sekitar 8 euro/bulan.  Sedangkan kalau sereal, aku harus mengeluarkan 30 euro/bulan.  Alamakkkk… aku ga pernah seketat ini berhitung.  Dan konyolnya, aku itu ga suka makan roti, makanya sejak dulu selalu sarapan sereal.  Tapi karena bersifat sementara, lidah dan perasaan juga harus bisa kompromi.

Ternyata, kalau dihitung-hitung…. sudah 4,5 bulan aku melakukan penghematan gila-gilaan ini.  Dan masih hidup kok!  Tinggal sekali lagi bayar uang muka rumah Desember nanti (ditambah kekurangan uang muka bulan ini), maka aku akan merasa bebas.  Kadang lucu juga, 5 bulan lalu aku masih bisa belanja beberapa gaun musim panas ternama, sepatu balerina, beberapa potong kaos plus jajan-jajan di Portugal.  Tapi sekarang, semuanya terasa dari jangkauan. :(  Buat beli kopi aja mikir dulu.

Hubungan antara pengantar, cerita mengenai kondisi terakhirku dan judul di atas adalah : setiap orang pernah takut.  Tidak perlu malu mengakuinya.  Ketakutan menjadi masalah kalau kita membiarkannya menjadi bayangan diri kita.  Jangan sampai : aku dan ketakutan, bagai handphone dan bluetooth… halah….

Mengapa penolakan klienku atas mutasi yang ditawarkan padanya menjadi pengantar catatan ini?  Karena ia tidak berani mengalahkan rasa takutnya untuk hidup jauh, dengan gaji yang menurutnya minim.  Kebiasaan hidup nyaman, berada di zona aman justru sering melenakan kita.  Percaya atau tidak, biasanya orang besar itu dulunya hidup sengsara.  Namun mimpi menjadi kekuatannya untuk berubah.  Apakah dulunya orang besar tidak punya rasa takut?  Tentu saja ada.  Orang besar juga punya rasa takut.  Faktor pembedanya adalah mereka berhasil melawan rasa takut. Orang besar lebih takut tidak dapat mencoba mewujudkan mimpinya daripada gagal bereksperimen.

Bagaimana dengan resiko gagal?  Ya tentu saja harus diperhitungkan.  Tidak takut itu tidak sama dengan tanpa perhitungan.  Yang ingin aku garis bawahi adalah, jika punya keinginan atau mimpi, jangan takut untuk mewujudkannya walau kelihatannya sulit.  Ambil pena dan curahkan semua perasaanmu di atas secarik kertas.  Tulis semua ketakutan termasuk mimpi-mimpimu.  Ubahlah daftar ketakutanmu menjadi kalimat-kalimat positif.  Misalnya, aku takut kalau kelak pulang ke Indonesia bakal stay dimana?   Setelah diubah menjadi kalimat positif : agar aku bisa pulang ke Indonesia, maka aku harus punya rumah untukku pulang.  Agar kelak aku bisa tenang, maka aku harus membuka usaha di Indonesia.  Dan seterusnya dan seterusnya.   Ketakutan berubah menjadi mimpi.  Lebih enak kedengarannya… Heheheheh…. :)  Mulai dari situ, aku mulai melengkapi kebutuhan-kebutuhan untuk mewujudkan rumah mungil.  :)

Hal di atas cuma contoh sederhana saja.  Kata orang tua : jangan terlalu banyak fikiran, ntar makanan tidak menjadi daging.  Nah, daripada kebanyakan mikir, mending dilanjutkan dengan aksi.    Masih takut juga?  Hmmm…. Sedikit hiburan ini mah, walau pun gagal, tapi paling ga kamu sudah mencoba.  Sudah dapet poin lebih karena kegagalan dapat dipelajari dengan pengalamanmu.  Bayangkan, kalau ada 2 orang, A dan B.  Sama-sama ingin mendaki gunung walau cuaca buruk.  Si A walau tertatih-tatih tetap berusaha mendaki gunung.  Sementara si B tetap di bawah.  Beberapa waktu kemudian, si A sudah tiba di Pos I pendakian.  Badannya penat.  Si B masih segar bugar, tapi masih di pos pemberangkatan.

Bila setiap orang diberi jatah umur sampai 60 tahun saja, maka tiap orang akan mencapai usia tersebut.  Faktor pembedanya adalah : bagaimana kondisi setiap individu saat mencapai masa tuanya?  Lalu, jika cepat atau lambat kita mencapai usia tertentu, kenapa kita mau melewatkan umur dalam dekapan ketakutan?  Sangat logis kok merasa takut, tapi bukan berarti  kita tidak dapat meminimalisirnya.  Jangan takut untuk menjalani hal-hal sulit dalam hidup ini, tetapi takutlah ketika hidupmu kelak menjadi sulit.   Jangan sampai karena kita takut sehingga tidak melakukan apa-apa.  Seperti yang aku tulis di atas, melakukan atau tidak melakukan sesuatu, toh kita akan sampai pada usia 60 tahun.  Jadi, mending mengubah ketakutan kita menjadi kekuatan kan? …pling…pling… (* sambil kedip-kedip mata).🙂

Salam,

Ket. : gambar dari Google

4 thoughts on “Mengubah Ketakutan Menjadi Kekuatan

  1. ageng berkata:

    Lama ga mampir nih. Postinganya bagus, asik bacanya. Saya malah dulu sampe sekarang juga masih ga bisa ngilangin rasa takut saya pada setan, kecoak terbang, dan.. Ya gitulah🙂

  2. Sophie berkata:

    Yup, tulisanmu semakin bagus. Kan manusia itu lemah jadi ada saja ketakutannya, walau sudah dibilang ‘serahkan segala kekuatiran dan kebimbanganmu padaKu’, termasuk aku takut kalau anakku dapat pacar “orang itam” hahahaha rasis ya gua.

    • lintasophia berkata:

      Wadowwww…. masalah warna kulit, ini sisi lainmu yang aku baru tahu. Seksih gitu lhooo…
      Tapi wajar kok orang punya ketakutan, biar lebih hati-hati melangkah. Asal jangan berlebihan….
      Makasih banyak udah mampir. Sukses terus untukmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s