Aku, Ibu dan Mereka. Sebuah Cinta Jarak Jauh

Beberapa hari yang lalu, aku ngobrol dengan ibuku.  Obrolan tidak penting tapi sangat rileks.  Nyaris sejam kita ketawa ketiwi, sambil sesekali kulirik pulsaku di monitor komputer.  Saling bertukar khabar terakhir.  Belakangan ini ibuku sering sakit-sakitan.  Sendi-sendinya pada linu.  Semacam encok, katanya.  Bisa jadi faktor umur juga selain masalah kegemukan  :(.

Sejak empedunya diangkat, ibuku sudah tidak boleh makan sembarangan.  Keluargaku juga jarang jajan di luar.  Kami memilih masak di rumah.  Dari dulu ibuku juga diet, tapi tetap saja gemuk.  Kemaren aku bilang, amit-amit gemuk kayak beliau.  Lebih rentan terhadap penyakit dan susah bergerak.  Tapi ibuku tertawa seperti biasa.  Ia selalu menertawakan ketakutanku menjadi gemuk.  Alasannya, gemuk di keluarga kami itu lebih ke faktor keturunan.  Artinya, cepat atau lambat aku akan gemuk… Argghhhh… 😦

Setelah obrolan kesehatan, topik berganti ke aktivitas sehari-hari.   Ibuku sekarang memilih di rumah saja.  Paling sesekali ke arisan atau keluar rumah.  Cuaca Bandung tidak kondusif.  Kami khawatir kesehatannya drop.  Kalau sedang ingin, ibuku memasak kue untuk orang rumah.  Atau menjahit.  Tapi paling banyak sih nonton TV selain mengurus keponakan.  Sekarang, aku udah ga mau lagi komplein tentang kesukaan ibu akan nonton sinetron.  Biar saja, yang penting beliau suka dan sehat.  Mungkin untuk ibuku, sinetron adalah Me Time-nya.

Kemudian giliranku bercerita tentang perkembangan kami di sini.  Aku bilang, aku udah buat blog lagi.  Ibuku cuma ngakak, soalnya dia yakin blog ini akan bernasib seperti para pendahulunya.  Pas aku bilang bahwa sudah sekitar 70 tulisan aku buat sejak Agustus lalu, beliau merasa surprise.  Sejak pagi kau keluar rumah dan kembali tengah malem, kapan nulisnya?  Tanya ibuku.  Ya sesempatnya, walau harus begadang sekalipun.

Ibuku yang pernah tinggal di sini selama beberapa tahun mengerti tentang minimnya waktuku untuk istirahat, apalagi untuk membuat catatan.  Aku bilang, entahlah.  Keinginanku sangat besar untuk menulis.  Sejak awal aku persembahkan blog ini untuk para keponakanku.  Selama ini kami selalu berjauhan, paling bertemu sekali setahun, itu pun cuma beberapa hari.  Catatan-catatan yang ada dan akan ada merupakan potongan puzzle yang kelak para keponakanku menyusun kembali menjadi sebuah gambar yang indah.  Tentu saja masih lama mereka baru bisa merangkai wujud asliku.  Abis masih kecil-kecil sih.

Sering terpikirkan apa yang bisa kutinggalkan sebagai kenang-kenangan ketika kelak aku tidak ada?  Harta tak punya, pun sawah… Hingga akhirnya muncul ide menulis kembali.  Mencatat lagi semua yang ingin aku ceritakan kepada mereka.  Aku tidak bisa mendongeng sebelum mereka tidur jadi setiap dongeng aku tuliskan di sini.  Akan ada banyak keluhan dan air mata di sini, begitu pula kebahagiaan.  Banyak cinta untuk mereka di setiap catatanku yang kelak akan menemani mereka.  Tentu saja selama Lintasophia masih ada.

Ihiks…ihiks…ibuku antara senang dan tidak senang mendengarkan penjelasanku.  Kayak mau mati aja, katanya.  Ada-ada saja ibuku.  Masak sih ngeblog berkaitan dengan kematian?  Justru aku sangat menghargai dan mencintai kehidupan, betapa pun sulit dan penuh rintangan.  Dan aku mencatat potongan-potongan kehidupan itu.

Hidup itu tidak mudah dan para keponakanku harus mengerti  itu agar  mereka menjadi manusia tangguh.  Tugas setiap manusia dewasa menjaga dan menuntun mereka yang masih hijau muda.  Tapi karena faktor jarak, tentu saja aku tidak bisa menjalankan peran itu secara langsung.   Untung ada Lintasophia. Ada aku di sini, juga banyak cerita tentang mereka di sini, terutama tentang ibuku.  Rasanya 1000 catatan tidak akan cukup untuk menggambarkannya.  Begitu pula proses tumbuh kembang para keponakanku (dan kelak anakku) menghiasi Lintasophia. Walau apa yang akan kututurkan adalah hal-hal remeh, seperti remah-remah makanan namun semoga dapat mengenyangkan.

Sayangnya, di rumah tidak ada koneksi internet.  Ibuku sangat ingin bertemu denganku di Lintasophia.  Mungkin kalau kakakku sedang tidak sibuk, mereka bisa mengantarkan ibu ke warnet.  Sekedar menyapa diriku.    Kami akan bertemu di sini.  Aku, ibu dan para keponakanku.  Sebuah cinta jarak jauh. 🙂 .  Semoga kita cepat bertemu dan berkumpul kembali.

Salam,

Ket. : gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s