Menyesal Tidak Menjadi Anggota DPR

Hari ini aku merasa malas ngapa-ngapain.  Badanku rontok….tok…tok…setelah seminggu lebih bekerja dari pagi hinga lewat tengah malem.  Kalau dipukul rata, sekitar 12 jam kerja/hari.  Hari Sabtu lalu malah 17 jam, tanpa henti.  Bentar, ta itung lagi : dari pukul 08.30 (Sabtu pagi)-01.30 (Minggu pagi).  Bener kan 17 jam.  🙂

Nah, berhubung selama seminggu ini jarang-jarang buka berita lewat internet (paling mengikuti berita tentang bencana alam), seharian ini aku fokus baca berita.  Bukan berita serius, tapi lebih ke hal-hal lucu, misalnya gosip tentang Julia Perez yang dikecewakan Dewi Perssik, Rahul Lemos yang marah-marah saat berusaha diwawancara wartawan usai nonton konser David Foster.  Tapi diantara semua berita selebritis itu, aku justru merasa terhibur dengan pemberitaan seputar studi banding anggota DPR.

Untukku studi banding ini jauh lebih lucu.  Di saat negara sedang dilanda musibah berturut-turut, butuh penanganan segera tapi masih juga pergi ke Yunani.  Alasannya itu lho : belajar etika Yunani.  Olaaahhh….please deh.  Kita tahu bahwa kebudayaan Yunani itu sangat memperngaruhi dunia.  Banyak tokoh-tokoh Yunani yang pemikirannya dicatat menjadi buku dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.  Kira-kira, kenapa ya anggota DPR tidak membaca buku-buku pemikiran tokoh Yunani?  Jelas sudah bahwa biar mereka biar bisa jalan-jalan.  Lumayan bo, mumpung masa tugas belum habis, sampai 2014 nanti masih punya ”hak” menggunakan uang negara.

Salah satu negara tujuan studi banding adalah Italia, tempatku berdomisili sekarang ini.  Menurut berita di KOMPAS, sebanyak 16 orang anggota komisi V DPR berangkat ke Italia pada tanggal 26 Oktober lalu.  Agendanya adalah mengenai RUU Rumah Susun.  Menurutku, agak aneh kalau karena RUU Rumah Susun maka Italia mesti dikunjungi 16 orang sekaligus.  Berat diongkos bo… Secara bayar make euro gitu lho.  Dan di atas semua itu, seingatku ga ada istilah rumah susun di sini (Italia).  Kami tinggal di appartemen yang selanjutnya kami sebut sebagai rumah.  Sedangkan untuk rumah yang selama ini kita kenal (bukan berbentuk apartemen, memiliki halaman, tinggal sendiri) lebih sering disebut viletta/villa.

Jadi, kira-kira rumah susun mana yang dimaksud oleh para anggota DPR?  Jangan-jangan, anggota DPR tidak bisa membedakan antara rumah susun, rumah hunian biasa, apartemen dan villa?  Atau, maksudnya rumah susun subsidi pemerintah Italia?  Dohhh…ada baiknya tuh para anggota DPR mengumpulkan informasi lebih lengkap lagi tentang ini.  Di Italia ga ada namanya rumah susun atas subsidi pemerintah.  Kalau pengen punya rumah, kumpulin uang untuk DP lalu ajukan kredit ke bank.  Lagian, doyan amat main ke negara lain.  Bukannya lebih baik menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dalam negeri?

Begitu banyak kontroversi mengenai studi banding yang dapat kita temukan di internet.  Tapi mungkin benar istilah 1001 jalan menuju Roma.  Selalu ada saja pembelaan anggota DPR mengenai studi banding ini.  Nah, sangkal menyangkal, pembelaan diri ini yang aku sebut sebagai hiburan hari ini.  Lumayanlah menertawakan kebodohan anggota DPR itu.  Dikira rakyat mudah tertipu dengan alasan mereka yang lucu-lucu itu?

* Agar catatan ini tidak terlalu panjang, silakan membaca pilihan-pilihan bijak daripada studi banding yang dilontarkan masyarakat melalui komentar di setiap artikel KOMPAS.

Misalnya salah satu wawancara dengan Taufik Kiemas yang menyatakan bahwa Parlemen Australia tertarik untuk belajar dari Parlemen Indonesia.  Terutama masalah demokratisasi (kalimat terakhir ini dilanjutkan seseorang, aku lupa namanya).  Lalu Taufik Kiemas menambahkan, bahwa majunya parlemen Indonesia sebagai  hasil studi banding ke luar negeri.  Wadoh….  Kalau mau buat statement mbok dipikir dulu.  Siapa yang bilang parlemen Indonesia itu maju?  DPR itu cuma kompak saat saling menutupi borok masing-masing.  Soale, kalau dia menggaruk borok orang lain, maka dia bisa tertular.  Jadi, borok itu penyakit menular heheheheheh.. 🙂

Eh, aku ga mau menulis lebih banyak tentang studi banding ini.  Tinggal baca aja di internet.  Tapi yang kocak juga nih dari urusan studi banding 16 anggota DPR ke Italia.  Aku ga menemukan sedikit pun berita tentang kunjungan Komisi V ini di website Kedutaan Besar Republik Indonesia.  Menurut berita di KOMPAS, kunjungan kerja akan berlangsung dari tanggal 26-30 Oktober 2010.  Sekarang udah November, masak iya mereka ga mampir ke kedutaan?

Pencarian jejak ini juga aku lakukan di Google, tapi ga ada tuh.  Tidak mungkin kunjungan kerja dan diplomasi ini tidak diliput oleh media.  Sangat aneh bukan?  Hayo, jangan berfikir kalau Komisi V tidak jadi berangkat.  Keberangkatan Komisi V ini telah dikonfirmasi melalui salah satu anggota Komisi V dari Partai Hanura, Saleh Husin.

Dengan berbagai kenyamanan sebagai anggota DPR, aku juga tertarik menjadi anggota DPR.  Kalau masalah jalan-jalan gratis ke LN, aku anggap itu sebagai bonus.  Yang menggiurkan adalah sejuta fasilitas yang tersedia; gaji bulanan, gaji rapat, uang saku kalau kunjungan, transportasi, salam tempel dari pengusaha.  Jika aku jadi anggota DPR, aku berjanji absensi akan 90 % penuh.  Aku juga berjanji akan memperjuangkan aspirasi rakyat.  Tidak akan tidur saat rapat.  Kalau studi banding tidak akan bawa keluarga.  Untuk sementara ini, cukup segitu janji-janjiku.

Hal terpenting yang harus kulakukan adalah mengumpulkan uang selama 3 tahun ini untuk modal kampanye pada Pemilu 2014 yang akan datang.  Masih ada waktu menabung sambil melihat partai mana yang menguntungkan untuk kumasuki…  :).  Hidup senang…lalalalala…lililili… : ).  Bisa jalan-jalan, ga perlu kerja 12 jam sehari,   Break Even Point (BEP) cepat pula. Duh, menyesal deh kenapa ga dari dulu jadi anggota DPR…ihiks…

Salam,

Ket. : gambar dari Google

Iklan

10 thoughts on “Menyesal Tidak Menjadi Anggota DPR

  1. judistira berkata:

    tradisi aji mumpung sprtnya sedang dipraktekan para anggota DPR.
    Bgmn tdk,seemenjak dilantik sampai detik ini mereka kompak menggeroti uang negara.
    Pdhl smua fasilitas sdh mrk dptkan,dr tissue toilet sampai jln2 ke LN
    Luarrrr binasaaa
    Sprtnya mmg jenis profesi yg menggiurkan hmmmmmm

    • lintasophia berkata:

      Salam kenal kembali.
      Betul, rakyat udah pada melarat, terlalu banyak darah yang dihisap.
      Korupsi berjemaah? Waduh, ntar susah bagi hasilnya dung…kekekkekek… 🙂
      Makasih banyak sudah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s