Pacarku Tidak Romantis

Hari Jum’at lalu aku terima sebuah paket dari mas Ipung.  Hmmm…lama baru aku buka amplop kecil itu.  Antara percaya dan tidak percaya si dia mengirimkan sesuatu untukku.  Aku amati tulisan tangan di amplop.  Benar, itu tulisan tangan Mas Ipung.  Aku goyang-goyang amplop berwarna coklat di tanganku.  Tidak terdengar bunyi apa-apa.  Tebakanku melayang dan menebak-nebak isinya.  Buku?  Tapi kok tipis amat.

Setelah 1 jam aku terima paket tersebut (dan nyaris terlupa hehehehe…), aku buka.  Betapa kaget aku melihat isinya, sekeping CD (Compact Disc) The Best of Kahitna.  Haaaa… Kok Kahitna?  Teman baikku juga bertanya hal yang serupa.  Kok Kahitna?  Aku ingat-ingat lagi obrolan dengan Mas Ipung sebulan lalu

”De, suka Kahitna ga?” Tanya Mas Ipung

”Ga… Aku suka Padi atau Boomerang.” Jawabku

”Yaaaahhhh…. 😦 ” Mas Ipung membalas dengan ditambahi emoticon menangis.  Saat itu aku ga berfikir bakal dikirimin CD Kahitna.    Kata temanku yang kebetulan chat siang itu : ”Ipung mah bodor (bhs Sunda : lucu),  beli dulu baru nanya.”

”Kayaknya, kirim dulu baru nanya.”  Balasku.  Temanku tertawa.

Tapi, memang beneran kok, aku ga pernah mengira akan dikirim CD Kahitna.  Karena seingatku Mas Ipung itu orang yang praktis.  Saking praktisnya, tahun lalu dia lupa ultahku dan lalai pula mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun.  Padahal, itu sudah kuingatkan jauh-jauh hari agar dia segera ke kantor pos.  Tapi ya itu, janji-janji tinggal janji… Hingga tiba ultahku, eh kartunya belum nongol.  Aku fikir cuma karena telat nyampenya.  Pas aku konfirmasi, Mas Ipung malah bilang belum dikirim.  Alasannya lupa.

Gubrak!  Judulnya, ngajak perang ini mah.  Bayangkan, sudah diingatkan biar ga lupa ultahku seperti yang sudah-sudah, eh  ini sampai hari H malah belum dikirim.  Karena urusan postcard ini, hubungan memanas sampai beberapa hari.  Tidak terima!  Bukan masalah postcardnya saja, tapi lebih bahwa dikirimin kartu aku akan merasa dibuat istimewa.

Karena momennya udah lewat, aku minta ga perlu lagi mengirimkan postcard itu.  Tapi, entah apa yang dipikirkannya, beberapa hari sebelum Natal lalu, aku menerima 2 buah kartu pos sekaligus.  1 berisi ucapan selamat ulang tahun ditambah 1 lagi kartu ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru.  Pas aku terima kedua postcard itu, aku cuma geleng-geleng sambil nepok jidat.  🙂

Nah, Mas Ipung itu benar-benar tidak romantis.  Beberapa pengalaman menyebalkan aku share di sini.  Pertama, dia itu ga suka mall.  Ini aku sudah tahu sejak status kami adalah teman biasa.  Tapi, kami kan ga setiap bulan bertemu dan pacaran.  Pengen dong sesekali jalan berdua ke mall.  Suatu hari pas mudik, aku bilang pengen jalan-jalan  ke mall.  Mas Ipung mengiyakan.  Oke….berangkatlah kami menuju kota.  Ketika tiba di daerah Malioboro, motor berhenti.

Begitu aku turun dari motor, ”Aku tunggu di tempat Daviv ya.  Miskol kalau udah beres,  biar ta’ jemput.”    Belum selesai kumaknai kalimatnya, Mas Ipung sudah hilang dari pandanganku.  Dooohhh…boro-boro kali jalan berdua sambil pegangan tangan.  Aku melangkahkan kaki yang lunglai ke pelataran mall.  Tiba-tiba sadar, kok jadi gini ya?  …Ihiks…ihiks…  :(.  Si dia tidak mengerti bahwa kalau perempuang bilang : pengen ke mall itu berarti ajakan agar pasangan juga menemani jalan-jalan, sambil pegangan tangan.  Bukan cuma nganter jemput sampai depan mall.  Itu mah tukang ojek, mas….

Kekonyolan apalagi ya?  Hmmm ya, masalah kesetaraan gender.  Jadi, ceritanya Mas Ipung ini memegang teguh prisip kesetaraan gender.  Awal-awal pacaran agak susah bertransformasi dari teman biasa ke bukan teman biasa.  Tidak ada perlakuan spesial.  Huaaa…sebel deh.  Ada kejadian lucu (sekarang mah lucu, kalo dulu pengen jitak rasanya)  waktu nunggu bus no. 7, aku lupa nama daerahnya.  (Ada yang bisa bantu ga, bus no. 7 di Yogya itu rutenya lewat mana aja ya?).   Setelah sekian lama, bus nomer 7 pun muncul dan berhenti tepat di depan Mas Ipung.  Dengan sekali lompatan Mas Ipung sudah berada di dalam bus, sementara aku manyun, memutuskan diam saja.  Kaki tidak bergerak.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Mas Ipung berlari-lari menghampiriku.  Rupanya, dia baru sadar bahwa aku tidak jadi naik bus saat dia berbicara sendiri di dalam bus.  Dia buru-buru turun dari bus.   ” Lho, kok ga naik?”  Tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.  Ada nada khawatir di situ.

”Lha, sampean naik duluan.”  Kataku masih manyun.

”Ya ampun, pintu busnya kan tepat di hadapanku.”  Secara halus jawabannya menyiratkan Ladies First ga berlaku.

”Aku kaget e waktu sampean ternyata ga ada di bus.”

”Biarin.” Jawabku, tapi dalam hati saja….kekekekekekek….  🙂

Balik lagi masalah CD Kahitna.  Sampai sekarang CD itu belum aku mainkan.  Di satu sisi aku senang mendapat kejutan.  Tapi di sisi lain aku menemukan, bahwa sewindu pacaran ternyata tidak bisa mengubah karakter seseorang.   Berarti, kemana si dia setiap aku cerita bahwa aku suka rocker gondrong, aku suka PADI atau aku pengen nonton konser Boomerang?  Ini kan ibarat Anda tidak memakan sambel tapi dikirimin sekilo cabe?  Ugghhhh….. Walau si dia tidak romantis  tapi orangnya baik pisan, hiburku dalam hati.

Salam,

Ket. : gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Pacarku Tidak Romantis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s