Tidak Jajan Sekali Tak Akan Mati. Sudahkah Anda Menyumbang Kali Ini?

Malam ini aku sangat senang, karena baru saja ngobrol dengan keponakan-keponakan dan ibuku.  Bukan masalah melepas kangen semata, tapi lebih karena obrolan malam ini.  Dengan Tony (9 tahun), tadi aku ngobrol tentang bencana alam di Indonesia, mulai dari gempa dan tsunami di Papua, meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta, banjir bandang di Papua juga Jakarta.

Tadi, aku minta Tony untuk ikut menyumbang juga dan dia sangat antusias.  Jadi caranya seperti ini, aku meminta Tony untuk menyisihkan uang jajannya dan disumbangkan ke korban bencana alam.  Tapi menurut Tony, kalau bekalnya yang cuma Rp. 3.000  itu disumbangkan tentu terlalu minim.  Kemudian, Tony malah mengajukan agar bekalnya selama 2 hari saja disumbangkan.  Wow… Luar biasa!  Ini diluar dugaanku.

Awalnya aku cuma mau mengenalkan konsep saling bantu (solidaritas), peduli terhadap sesama.  Itu saja.   Jadi tidak penting nilai nominalnya. Yang penting niatmu tulus, kataku.  Tony malah melanjutkan; ”Kalau tiga ribu rupiah cukup untuk apa?  Kalau Enam ribu udah lumayan meureun beli beras sekilo.” Tambahnya.  Sedikit kuberi gambaran lagi, kalau tiap orang Indonesia menyumbang tiga ribu rupiah, pasti jumlahnya akan besar sekali. Tapi Tony ngotot menyumbang enam ribu rupiah.  Aku terima tawarannya dengan senang hati.  : ).

Jujur, sempat aku takut kalau Tony menganggap proses bantu membantu ini sebagai sesuatu yang menakutkan.  Karena dengan menyumbang, berarti Tony tidak bisa jajan di sekolah.  Makanya, aku minta Tony menyisihkan sebagian uang jajannya tanpa harus berhenti jajan.  Ternyata, melalui pemberitaan di televisi, Tony suka membandingkan bahwa dirinya lebih beruntung daripada korban bencana alam.  Kurang lebih gitu cara berfikirnya.

Tony juga menanyakan prosedur mengantarkan beras sekilo, ini yang bikin aku terpingkal-pingkal.  Lalu aku jelaskan, bahwa menyumbang itu tidak mesti dalam bentuk barang.  Uang juga sudah memadai.  Nanti sumbangan kita dan sumbangan pihak lain akan dikumpulkan sebuah organisasi, dan organisasi ini  yang membelanjakan dana yang terkumpul sesuai dengan kebutuhan, misalnya ; susu bayi, makanan kering, beras, selimut atau tenda.

”Abang ga perlu ke Gunung Merapi untuk nganter sekilo beras.  Nanti Tulang Kombet yang transfer dananya.” Jelasku.

”Ohhhh….” Ada nada faham dan kelegaan dalam suaranya.  ”Kalau begitu, tante aja yang ngomong ke opung biar uang jajanku hari ini dititip ke tulang Kombet aja.”

”Oke, makasih banyak yaaa….”  Aku mengucapkan terima kasih banyak untuk kesungguhannya.  Ga sedikit pun Tony ragu untuk tidak jajan selama 2 hari ini.

Ketika aku utarakan isi perbincanganku ini dengan ibuku, beliau sangat bangga.  Ada rasa haru dalam hatinya.  Malah ibuku mengutarakan niatnya juga mau menyumbang ke Mentawai sejak kemarin, tapi dana di rumah sedang kosong.  Puji Tuhan, hari ini kiriman kami tiba dan ibuku sudah berjanji menyisihkannya sedikit untuk korban gempa di Mentawai.

Walau jumlah sumbangan tidak seberapa, tapi aku tahu bahwa ibuku pasti mengorbankan pos pengeluaran tertentu untuk hal ini.  Tapi menurut ibuku, ga jajan sekali ga akan mati.  Benar sekali, tidak jajan sehari tidak akan mati. Setelah tukar pendapat, akhirnya diputuskan bahwa sumbangan dari keluargaku untuk korban gempa di Mentawai.  Sedangkan sedikit sumbangan dariku, adikku dan Tony untuk korban Merapi di Yogya sana.

Perbincangan sederhana ini mengingatkanku akan obrolan sore tadi dengan seorang teman di Jogja sana.  Kebetulan temanku ini juga membantu di posko peduli korban Gunung Merapi.  Katanya, sekarang ini kepedulian teman-teman untuk korban bencana alam sudah berkurang.  Ketika kita menulis status di Facebook tentang sesuatu yang gokil, jahil dan menyenangkan, hampir bisa dipastikan bakal banyak yang mengomentari.  Sedangkan ketikan kita menulis status tentang bencana alam, tidak ada yang merespon sama sekali.

Buru-buru aku lihat profil FB-ku yang kebetulan masih menulis tentang alamat posko bantuan bencana alam dari Bandung.  Cuma ada 1 jempol tanda ia menyukai postinganku.  Pertanda apakah semua ini?  Benarkah kita cuma tertarik segala sesuatu yang riuh rendah?  Apakah terlalu seringnya bencana alam membuat kita kebal dan mati rasa?  Sudah terlalu biasakah semua kepedihan ini?  Tertelan dimanakan makhluk yang bernama ”PEKA?”

Semoga memang faktor kebetulan saja tidak ada yang peduli dengan status alamat posko yang aku dan temanku tulis.  Aku juga berharap bahwa di dunia nyata, kita masih ingat dengan saudara-saudara kita.  Benar-benar  pula aku berharap bahwa sebetulnya kita masih setia menganut pepatah ”bila tangan kanan memberi maka tangan kiri tidak perlu tahu.”  Tidak perlu  seperti aku yang sampai menuliskannya dalam bentuk catatan ini.  Hihihi, walau sebetulnya catatan ini aku buat sebagai kenang-kenangan untuk Tony.  Kelak Tony bisa baca lagi sebuah fase kehidupannya.

Ini sekedar ajakan saja untuk teman-teman yang belum menyumbang.  Ayo, menyumbang sekarang juga.  Tidak perlu malu karena nilai nominalnya.  Karena walau sedikit tapi ”patungan” pasti hasilnya akan banyak.  Untuk ibu rumah tangga yang kebetulan sudah kehabisan dana, mungkin bisa mengajak anak-anak patungan.  Ide tidak jajan seperti yang dilakukan Tony aku pikir sudah tepat.  Buat yang tinggal di kos-kosan, bisa mengkoordinir sumbangan dari seluruh penghuni pondok.  Apalagi ya?  Ahhh…kalian bisa mengumpulkan sumbangan warga 1 RT/RW lalu kemudian membawanya ke posko bantuan terdekat.

Kebetulan besok weekend.  Bagaimana kalau besok kita mengadakan sehari tanpa jajan.  Atau yang sudah punya rencana hang out di caffe Sabtu besok, bagaimana kalau ditunda minggu depan saja.  Menunda hang out tetap masih  tetap anak gaul kok.  Menyumbang sedikit ga akan membuat teman-teman jatuh miskin.  Atau seperti kata ibuku, ga jajan sekali ga akan mati.

Kebetulan pula kemarin Hari Sumpah Pemuda.  Ayo kita bersatu saling bantu.  Cuma mengeluh dan saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah.  Paling tidak, kita bantu saudara-saudara kita ini melewati masa sulit.  Selanjutnya kita bisa belajar bersama agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.  Maksudku, tentu saja kita tidak bisa menolak gunung meletus, tapi mungkin kita bisa meminimalisir jumlah korban yang jatuh.

Duka mereka adalah duka kita.  Duka Indonesia.  Kalian bisa mencari alamat posko bencana alam terdekat.  Palang Merah Indonesia juga setia menanti kedatangan kalian.  Atau untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dapat menghubungi kedutaan besar Republik Indonesia atau PPI.  Masih merasa ribet atau jauh dengan Kedubes RI?  Tinggal pergi ke agen pengiriman duit terdekat dan kirimkan bantuan.  Ajak teman-teman yang lain biar sekali kirim saja.

Semoga duka ini cepat berlalu dan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah tabah menjalaninya.  Aku harap instansi terkait bergerak lebih taktis dan praktis.  Pangkas prosedur dan protokoler yang mempersulit  pengiriman bantuan.  Terakhir, tentu saja tidak boleh korupsi.  Setiap sen sangat berharga saat musibah gini.  Masa sih mau dikorupsi juga?  Untuk yang suka menyalahgunakan bantuan, mestinya menjawab pertanyaan ini : sudahkah Anda menyumbang kali ini?

Salam,

Ket. : gambar dari Google

Video : Youtube

2 thoughts on “Tidak Jajan Sekali Tak Akan Mati. Sudahkah Anda Menyumbang Kali Ini?

    • lintasophia berkata:

      Makasih mbak…
      Semoga banyak yang tergerak ya. Aku masih percaya bahwa gerakan peduli sesama ini harus dimulai dari rumah. Salam hangat dari sini. Tetap semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s