Angkot, Motor Pitung atau Terrano. Yang Mana Tipe Pacarmu?

Beberapa hari yang lalu seorang teman minta waktu khusus untuk bercerita.  Karena sedang longgar, aku terima tawarannya untuk ngobrol ngalor ngidul.  Saling bertukar khabar pastinya, hingga obrolannya nyerempet ke masalah pernikahan (kalo masalahku ga menarik…hihihihi, jadi ga perlu dicatat di sini).   Kita ikutin yuk obrolan kami berdua.

Menurut temanku ini, setelah bertahun-tahun berlalu, keluarganya  (terutama ibunya) masih belum bisa menerima kehadiran pacarnya.  Kemarin saat pulang untuk merayakan Lebaran di kampung, baik dia dan ibunya sama-sama kikuk dan menghindar untuk membicarakan pacarnya ini.  Walau satu sisi, temanku ini tahu bahwa baik ibu dan keluarganya sangat penasaran perkembangan relasi mereka.  Begitu juga dengan temanku ini, ingin bertukar pendapat dengan mereka mengenai rencana pernikahannya.

Usia relasi temanku ini lumayan lama, total hampir 3 tahun sudah termasuk acara putus nyambung beberapa kali.  Ketika aku tanya alasan keluarganya tidak menyetujui relasi mereka ini, awalnya temanku tidak mau bercerita.  Hingga akhirnya dia mengeluh, masak status duda jadi alasan ga boleh menikah lagi? Tanyanya dia dengan membubuhkan tanda tanya sebanyak 5 buah pada chat box siang itu.

”Beneran duda atau duda-dudaan?” Tanyaku…hehehehe… Eh, memangnya ada duda-dudaan ya?

”Duda, tapi cuma 1 anak kok.”

”Oke, kita abaikan dulu jumlah anaknya, cuma 1 jadi sebetulnya ga terlalu berat untuk mencari pendamping lagi.” Jawabku

”Memang bukan karena duda aja, tapi cowokku memang kadang agak minus juga sih.”

”Minus berapa?  Mata kanan atau kiri?” Hihiihihih…aku mencoba mencairkan suasana.  ”Maksudku, duda cerai atau…”

”Cerai…!!!” Belum sempat kulanjutkan pertanyaanku, temanku langsung menyambar, dengan menambah 3 tanda seru pada akhir kata cerai.

”Alasannya?”

”Udah ga cocok kali.”  Bales temanku

”Yah, udah kayak artis aja.  Ga cocok dikit langsung cerai.” Sindirku

”Pokoknya ceritanya panjang deh.  Lagian, ga penting kan kenapa mereka bercerai?”

”Tentu saja penting, untukmu bukan untukku.”  Terangku

”Ga enak ah buka aib orang.  Tapi aku tahu dia mau berubah dan sedang berusaha.”

”Syukurlah kalau begitu.  Lalu dimana masalahnya?” Aku agak bingung ujung pangkal obrolan ini.

”Ya itu, ibuku belum mau menerima kehadirannya.  Katanya yang suka melirik perempuan lainlah, malas kerjalah atau suka mabuklah.  Selalu ada aja alasan penolakan dari keluargaku.”  Beber temanku.

”Menurutmu sendiri gimana?”  Tanyaku.  Kadang, walau teman sendiri tapi kita harus bersikap netral dalam memberikan pendapat.

”Masalah playboy atau ga, aku belum pernah menemukan atau melihatnya langsung.  Tapi kalau malas, sebetulnya tidak begitu.  Dia bekerja kok, cuma saja pendapatannya lebih kecil dari aku.”  Jelas temanku.

”Perihal suka mabuk?”  Aku mengingatkan 1 poin yang lupa dia jelaskan.

”Ya itu mah udah kebiasaannya dari dulu.  Mau digimanain lagi.  Waktu aku bertemu dia juga udah begitu.  Kalau dikasih nasehat suka marah-marah, mending didiemin aja.”  Sampai di sini aku manggut-manggut saja, sambil memijit jempolku yang keriting karena chat dari handphone.  Keypadnya keras dan kecil-kecil.  🙂

”Ehmm…gitu ya?  Jadi, kau cerita biar sekedar plong atau memang butuh nasehatku?”  Ini pertanyaan standard, biar aku tahu dalam bersikap.

”Terserahlah… Kalau ada kalimat yang bisa menghiburku, itu lebih baik.”

”Menghibur atau tidak tergantung jawabanmu.  Mau dengar pandangaku tentang masalahmu atau cuma sekedar menghibur saja?” Aku kembali menegaskan.

”Menurutmu, aku salah ga sih berusaha mempertahankan cinta?  Kok orang tua ga senang ya lihat anaknya bahagia?”

”Oke.  Kita bahas satu-satu.  Umumnya kebahagiaan anak adalah yang utama bagi orang tua.  Jangan karena hal ini, kamu langsung menuduh begitu.  Tidak setuju bukan berarti keluargamu ga pengen lihat kau bahagia”

”Iya seihhhh… Tapi, sampai Lebaran kemaren mereka masih tetap tidak menerima dia.”  Balasan dari temanku masuk ditambah emoticons orang lagi nangis… Uuuuhhhh…sungguh aku sedih melihatnya begini.  😦

”Kalau ditilik-tilik, kau dan orang tuamu itu punya karakter yang sama, mendiamkan masalah.  Kau juga ga punya hak suara bahkan melihat pacarmu hobi mabuk-mabukan.”  Aku memulai dengan perbandingan dia dan orang tuanya.

”Bukannya aku ga mau ngomong.  Tapi cowokku itu lho, ga mabuk aja suka marah, apalagi kalau mabuk.  Itu namanya membangunkan macan yang sedang tidur.”  Hehehhehe, ada-ada saja.  Masak pacar disamakan dengan macan 🙂

”Padahal dalam hati pengen nyekek pacarmu itu ya?”

”Bukan nyekek, tapi pengen ta’ siram make air dingin, sedingin-dinginnya biar sadar.”

”Nah itu dia, bukankah sebetulnya kau juga ada andil membiarkannya jadi pemabuk?  Kalau gajinya dikit, mestinya bisa jaga duitnya, berhemat, bukan malah beli minuman.  Pas gimana dia mabuk? Hmm…apa alasannya?”

”Ga jelas juga sih… Kadang kalau lagi banyak pikiran, kayaknya.  Tapi lebih banyak pas kumpul-kumpul sama temannya.  Malah, aku pikir dia milih mabuk-mabukan daripada nemanin aku nonton.”

”Nah lho, gawat ini.”  Seruku.

”Aku ga mau dikira terlalu menuntut.  Aku pikir, benar juga sih dia butuh waktu bersosialisasi dengan teman-temannya.”  Runut dia.

”Benarkah seperti itu?  Apa menurutmu pembagian waktu untukmu dan untuk teman-temannya sudah seimbang, adil?

”Ya gaaaa… Makanya, kadang bete juga sih.  Ini, aku sudah kirim SMS seharian, belum dibalas juga.  Kalau nekad aku telfon, bisa dicaci maki.  Katanya, aku orang yang ga sabaran.”  Keluhnya.  Oh my dear… Masak mau digituin? ”Pusing, pusing, pusing… Pengen putus lagi, tapi aku sayang sama dia.  Aku berharap dia masih bisa berubah.” Tambahnya lagi.

”Terus terang ya, aku secara pribadi tidak suka dengan pria egois seperti pacarmu itu.  Dari ceritamu aja sudah terlihat kalau dia tipe sakarep e dhewe (seenaknya sendiri).  Dalam relasi, saling menghargai itu penting.”

”Ya mau digimanain lagi?  Orang tuanya juga mengakui kalau dia itu memang temperamen kok.”  Bela temanku.

”Lha, sudah tahu playboy, temperamen dan suka mabuk, kok masih diharapkan lagi?”

”Udah kadung sayang.  Apalagi relasi kami udah lama.  Males ah memulai relasi lagi.”

”Gila… Ini mah namanya cinta buta, sist.” Aku membalas dengan ditambah emoticon orang berkacamata.

”Yahhhh, kok gitu sih?  Kok kayaknya semua menyalahkan pilihanku.” Dia pun menjawab dengan tambahan orang menangis.

”Gini ya… Dalam menilai sesuatu, baiknya jangan bawa perasaan tapi logika.  Atau, begitu kau menemukan gelagat tidak sedap dari pacarmu, baiknya kau mencari pria lain.”

”Haaaa….?????”

”Kok haaaaa???”  Duhhh, selama ini internet cuma dipake FB-an doang sih.  Gini deh akibatnya. ”Buka mata dan telinga,  sist.  Begitu banyak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terjadi di luar sana.  Mau jadi salah satu anggota mereka?”  Serangku

”Buset,  elo ngedoain gue digebukin?”  Kembali dia menangis, maksudku emoticonnya.

”Bukan gitu.  Sebetulnya, dengan pacarmu suka berbicara kasar dan kau tidak suka,  itu sudah termasuk KDRT secara psikis.  Ditambah dengan hobinya mabuk, salah dikit bisa-bisa kau babak belur.”

”Sialan.  Elo nakut-nakutin gue ya?  Tapi kayaknya ga sampe segitunya deh.  Dia juga punya ibu dan anak perempuan, ga mungkinlah mau kasar terhadap perempuan.” Duuuhhh…dasar cinta, cinta.  Walau matahari terbit dari barat, tetep aja dibela.

”Tapi orang dengan tipe kayak gitu berpotensi atau punya bakat alam untuk melakukan KDRT.  Kebayang ga sih, kalau kau salah dikit langsung dikatain yang ga-ga?  Udah seharian kau nungguin balesan SMS darinya.  Sebetulnya, kau lagi mikir, apakah dia baik-baik saja.  Iya kan?”  Cecarku.

”Iya sih, tapi dia ga semudah yang kau pikirkan sih… Memang,  butuh tenaga dan kesabaran ekstra menghadapinya.” Jelas temanku.

”Masalahnya, kau bakal sabar ga?”

”Insya Allah bakal sabar.”  Dalam hati aku sebel deh sama perempuan begini.  Kok ya mau diinjek-injek?

”Sebetulnya, dia sayang ga sih sama kau?”  Ini pertanyaan akhirnya keluar juga.

”Katanya sih sayang.  Kalau ga sayang, mana mungkin kami membicarakan pernikahan.  Kendalanya, orangtuaku ga setuju.  Jadi masalahnya makin ruwet”  Balas dia dengan sendu.  Ihiks…ihiks…jadi pengen nawarin bahu… 😦

”Begini ya… Kalau kita ibaratkan kau adalah seorang sales, dan keluargamu adalah calon konsumen.  Kau bakal menjual kendaraan bermotor, dalam hal ini adalah pacarmu…” Duh, ini obrolan jadi kemana-mana deh….  Sebetulnya, aku juga mati gaya untuk kasih semangat berubah.

”Halah, kasihannya… Masak pacarku disamain dengan motor?”  Dia tertawa.

”Psst ah… Ini mah cuma berandai-andai.  Hmmm…gini, gini.  Kau berniat menjual angkot, motor pitung dan mobil Terrano ke keluargamu.  Menurutmu, keluargamu bakal milih yang mana?”

”Lha, mana kutahu… Tapi kalo angkot kayaknya ga deh… Soalnya ga sesuai dengan kebutuhan.  Kalau Terrano masih masuk akal, karena mobil kami sudah tua.  Motor sudah ada…” Temanku mengira-ngira jualannya yang bakal laku.

”Oke… tapi angkot kan bisa dipake nyari duit dan bisa dipake buat ngangkut seluruh keluarga pula?”  Tanyaku lagi.

”Iya, tapi Terrano lebih cakep… Hehehehhehe…”

”Tapi Terrano bensinnya boros dan cuma cukup 5 orang, udah termasuk supir.”  Terangku.

”Haaaa…??? Ya trus gimana dong.  Mahal dong kalo boros bensin.  Perawatannya gimana?” Tanya dia lagi.

”Berdasarkan pengalaman sih, mobil itu agak rewel.”  Temanku mulai agak bingung arah pembicaraan.

”Berarti, mestinya aki nawarin angkot ya?”  Tanya dia.

”Ga juga.  Sebelum kau menawarkan angkot, kau mesti tahu kelebihan dan kekurangannya.  Nilai ekonomisnya di masa yang akan datang.”  Temanku mulai protes karena obrolan makin muter-muter.

”Nawarin motor aja gitu?  Lebih simple kayaknya.  Motor Pitung pan harganya stabil ya?”  Aku tertawa.

”Pitung itu motor bebek warna merah, tahun 70-an kalau tidak salah.  Harganya memang stabil, tapi tidak bisa lebih mahal lagi. Cuma bisa untuk 2 orang.   Bensinnya memang hemat, tapi tidak bisa dipakai ngebut.”

”Aku jadi bingung…”  😦

”Menurutmu, antara angkot, si pitung dan Terrano, yang mana tipe pacarmu?”

”Kalo angkot, ya kok seakan pacarku milik ramai-ramai ya.  Sedangkan Terrano, aku tahu itu mobil cantik.  Tapi pacarku ga cakep.  Satu kesamaannya dengan Terrano adalah, dia suka menghambur-hamburkan duitnya untuk miras.  Eh, rewel juga.  Pundungan kata orang Bandung mah.”  Tampaknya temanku sudah bisa mengikuti permainanku.

”Berarti pacarmu itu kayak motor pitung dong?”  Tanyaku menggoda.

”Haiyaaahhh… Aku tahu sih dia jauh lebih tua dari aku dan duda pula, tapi doi bisa ngebut kok.”  Lagi-lagi dia membela pujaan hatinya.

”Emang udah pernah nyoba ya?” Heheheheh…temanku tersipu malu.  ”Sayangnya, dia tidak hemat bensin.  Argghhh…” Sahut temanku gemas.

”Balik lagi ke masalah perumpamaan yang tadi.  Jadi, yang mana yang akan kau tawarkan ke keluargamu.  Biar mereka beli dan aku ditraktir nih.”

”Ga tau.  Semua ada untung ruginya.  Bingung nawarin yang mana.”  Keluh temanku.

”Lho, katamu kayak si Pitung?  Ga akan ditawarin tuh motor bebek?”  Temanku menggeleng… Heehehhehehe…

”Begitu pun manusia, pasti ada kekurangan dan kelebihannya.  Tinggal kita yang harus membuka mata dan fikiran menilainya.  Sebaiknya, jangan memutuskan masalah ketika sedang emosi.  Ambil waktu untuk berfikir dengan tenang.”  Saranku  🙂

”Sering sih mikir gitu.  Tapi ya itu, putus nyambung terus.  Susah kalau sudah sayang.”

”Itu mah pengakuan umum orang yang kasmaran, terlebih perempuan yang lebih senang memainkan perasaannya saat sedang menghadapi masalah.”

”I see…”

”Lalu, gimana menurutmu relasimu yang sekarang?  Sehat atau ga?”

”Entahlah…”

”Ga apa, pikir pelan-pelan.  Tapi kau juga harus jujur menilai. Kalau dibandingkan, selama relasi ini pengorbanan kalian setara tidak?   Ke depannya, kau bakal sanggup menghadapi dia?  Kadang kita perlu menyiapkan diri untuk kondisi terburuk.  Katakanlah, dia tidak berubah.  ”  Aku mencoba memberi pandangan.

”Sering terpikir seperti itu… Tapi, masih ada waktu untuk berharap dia berubah.”  Karena ini chat, aku ga bisa membedakan apakah dia optimis atau justru memelas.

”Kadang perempuan mengharapkan laki-laki berubah, walau kenyataannya kebanyakan justru perempuanlah yang berubah.  Lebih gemuk, tidak merawat diri… kekekkekeke… Just kidding.” Seruku.

”Seandainya, pacarmu salah satu diantara angkot, si pitung atau Terrano.  Kau milih yang mana?”  Walah, temanku balik nanya.

”Aku milih mencari kendaraan lain….kekkekkekeke…”  🙂  🙂

Salam,

Ket.  : gambar dari Google

Iklan

5 thoughts on “Angkot, Motor Pitung atau Terrano. Yang Mana Tipe Pacarmu?

    • lintasophia berkata:

      Iya, bener…
      Gambarnya bercerita lebih dahsyat dari catatanku.
      Walau serem, tapi itu gambar ilustrasi yang pas banget untuk catatan kali ini. Makasih udah mampir… Kapan-kapan aku maen lagi ke tempatmu. Soalnya, aku lagi butuh hiburan nih…

  1. joseph berkata:

    obrolan yg lucu
    si teman bingung dg bbrp pertimbangan :
    special offer : buy 1 get 1 free
    special condition : sudah diajak ngebut

    sehingga ga bisa bedain mana yg baik dan benar dan selalu mencari pembenaran atas pemikirannya sendiri. Spt pertandingan bola, pemain tidak tahu strategi lawan saat bertanding, itulah gunanya pelatih di pinggir lapangan

    Sebagai pelatih, strategi Anda bagus kayak Pep Guardiola meramu permainan taka tiki menghadapi org yg buta karena cinta atau sudah ke blubuk (terlanjur) he….

    • lintasophia berkata:

      Buy 1 get 1 free? Maksudnya beli Pitung dapet Terrano? 🙂
      Makasih mas, semoga catatan kecil ini bermanfaat untuk temen-temen. Makasih udah mampir, salam hangat dari sini. 🙂

      • joseph berkata:

        ”Beneran duda atau duda-dudaan?” Tanyaku…hehehehe… Eh, memangnya ada duda-dudaan ya?

        ”Duda, tapi cuma 1 anak kok.” + buy 1 get 1 free 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s