Sujud Syukur Pada Blackberry

Tadi, kami baru pacaran jarak jauh, sekaligus nostalgia.  Lho kok?  Soalnya, sejak ada handphone pintar Blackberry, aku dan Mas Ipung jarang banget ngobrol sampai berjam-jam.  Kendalanya apalagi kalau bukan aku yang sok sibuk 🙂 . Biasanya kami bertukar khabar pagi hari saat aku bangun, kemudian komunikasi dilanjutkan beberapa jam kemudian.  Sekedar bertukar khabar juga, saling mengingatkan jangan sampai lupa makan siang (di sana makan malam).  Terakhir, pas aku mau berangkat ke restoran, Mas Ipung mengucapkan selamat bekerja.  Hihihihi…standar banget ya?

Lalu, kenapa aku sebut malam ini serasa nostalgia?  Karena, hingga beberapa bulan yang lalu, jadwal pacaran kami ya Selasa malem saat aku tidak bekerja.   Ya persis kayak yang barusan kami lakukan, kencan di Selasa malam. Jam pacarannya pun ga tentu, harus mengikuti jadwalku.  Biasanya, setelah aku stand by di depan komputer, aku mengirim SMS pemberitahuan.  Ini demi penghematan pulsa di pihak si dia.  Lagi pula, dengan gitu Mas Ipung tidak harus menunggu lama dan bisa melakukan urusannya terlebih dahulu.

Kadang aku kerja setengah hari, kadang juga full.  Nah, berhubung aku free cuma pas Selasa sore, maka belanja mingguan pun kulakukan selepas kerja.  Kalau sudah begini, jadwal tatap muka via YM-pun terpaksa ikutan mundur.  Meski kami menjadwalkan Selasa malam sebagai wakuncar, tapi bersifat fleksibel kok.  Sering karena terlalu lama menunggu aku, Mas Ipung ketiduran dan mengundurkan diri sebelum kencan dimulai… Hihihi, kasihan… 🙂  Eh, kayaknya ga adil kalau gagalnya kencan kesannya karena kesalahanku.  Mas Ipung juga kadang sering menggagalkan agenda mingguan ini.  Biasanya karena dia ketiduran atau ga punya pulsa…halah…

Sekarang sih, komunikasi lebih lancar berkat Blackberry.  Bisa saling berkirim pesan  (BBM) kapan saja tanpa khawatir pulsa membengkak.  Berbeda saat dulu masih menggunakan metode SMS-an dan telfon.  Demi penghematan, kadang seminggu ga bertukar khabar.  Kejam ya?  Ya namanya juga manusia, keuangan dan pengeluaran tidak selalu tetap.  Kalau si dia yang bokek, aku telfon sebentar, cuma memastikan semua aman terkendali.  Soalnya percuma di SMS, pasti ga akan dibales…hihihihihi…

Sejarah kami memutuskan punya Blackberry juga cukup unik dan lebih ke faktor kepepet.  Jadi, pas mudik lalu HP-ku error.   Lalu  aku meminjam HP Mas Ipung.  Jangan ditanya rupa dan model HP-nya.  Jelek banget!  Sampe lupa lagi, apakah Nokia pernah mengeluarkan seri itu… 🙂 .  Tapi tidak masalah, toh fungsinya cuma terima telfon dan berkirim SMS.  Walau akhirnya aku harus menahan emosi saat HP-ku dibuat mainan oleh keponakanku yang bandel itu.  Udah harus nahan emosi karena tindakan semena-mena keponakanku terhadap HP itu, penghargaaan publik dari keluargaku juga sangat rendah terhadap HP itu.

Pernah HP itu tergeletak di lantai dekat tempat tidur keponakanku, eh si ibu (pengasuh anak yang di rumah)  yang melihat tapi tidak mengambilnya.  Pas aku tanya kenapa dibiarkan saja tergeletak di lantai, si ibu cuma jawab : ” Eh kirain teh mainannya Uis…” Gubrakkkk…

Tapi memang iya sih, parah banget.  Masak pas ngecharge batere, kabelnya harus dipastikan dalam posisi sempurna.  Kalau tidak, walau berjam-jam dicharge tuh HP tidak terisi baterenya.

Pas balik lagi ke sini, ternyata tuh HP  pinjeman mati total.  Duh!  Mau minjem sama teman, kok yo rasane malu-maluin? Mosok timbang HP aja minjem… Tiba-tiba aku rajin mengamati katalog barang elektronik, memilah-milah HP dengan harga manusiawi.  Ada yang murah banget, kalo ga salah harganya sekitar 19 Euro + pajak 20 %.  Masih keluaran Nokia jadul juga.  Saat aku tanya ke kakak yang kebetulan tukang jual HP, eh dia malah kaget kalau seri yang kumaksud masih eksis…ihiks…   Katanya sih, sekarang orang Indonesia udah ga ada yang make HP jenis itu.  Wadow!

Lalu kakakku menawarkan pakai Blackberry   (selanjutnya kita sebut : BB) saja.  Aku yang selama ini tidak peduli dan tidak kepikiran punya BB menolak.  Pertimbanganku, tetap ke fungsi utama  : sekedar telfon dan SMS-an.  Hingga kemudian kakakku mengeluarkan kata kunci yang aku suka : pakai BB jatuhnya lebih hemat. Aku : Oh ya?

Kemudian, aku mencari lebih lengkap wujud asli BB itu seperti apa sih?  Kok orang Indonesia betah amat mainin BB.  Saat aku cari info itu, HP pinjemanku mulai menunjukan kondisi kritis.  Dan aku masih butuh pertimbangan untuk mengambil BB atau HP biasa saja.

Selama seminggu aku konsultasi dengan beberapa pengguna HP pintar ini, termasuk toko HP di sini.  Rata-rata jawabannya ya BB itu kayak komputer mini.  Bisa chat, FB-an, push email, browsing internet dan segala macam.

Lalu, kembali ke pertanyaan standard :  Berapa harga langganan BB per bulan?  Eh, ternyata murah, cuma 12 Euro/bulan.  Bahkan kalau aku ambil paket salah satu provider, maka biaya langganan BB ini gratis selama setahun.  Eh, belum selesai aku menimbang-nimbang, pada suatu hari HP butut itu mati total.  Iya, mati total.  Huwaaaa….sedih deh.

Kakakku yang ahli dalam masalah per-HP-an angkat tangan.  Nokia yang sempat dikira mainan oleh keponakanku tidak terselamatkan.  Mungkin saking jadulnya HP ini, pas kakakku berusaha memperbaiki, dia menimbang-nimbang HP ini di tangannya.  Diangkat ke udara dan diamati di bawah lampu.  Haiyaaahhh…  Wajah kakakku kayak arkeolog yang baru menemukan benda sejarah.  🙂

Nah, setelah gajian dan punya sedikit duit, oleh adikku aku diseret ke toko HP terdekat.  Aku disuruh beli HP saat itu juga, karena sudah 4 hari susah dihubungi.  Dan voila!  BB putih ada di genggamanku.  Mulailah aku jadi pengguna BB.  Saling add PIN dengan beberapa teman dan saudara.  Tapi kok malah Mas Ipung ga ada di daftar teman yang aku punya?

Mulailah aku merayu Mas Ipung untuk beralih ke BB.  Awalnya dia menolak, karena tidak sesuai dengan kebutuhannya.  Kalau aku punya BB tapi tetap harus SMS ke Indonesia, berarti sama juga bohong dong.  Tapi Mas Ipung keukeuh kumeukeuh ga mau ganti HP.

Hingga pada suatu hari, saat perjalanan pulang dari Bandung ke Jogja, kereta api yang ditumpanginya anjlok di dekat Garut (kalau tidak salah).  Mas Ipung cuma kirim pesan tentang tertundanya perjalanan karena KA anjlok di Garut.  Kemudian pada SMS-nya ditambahkan pula : Don’t worry babe, I’m Ok.  Maaf ga bisa SMS lg  (lagi), pulsa trakhir (terakhir).

Saat itu sudah hampir subuh di Indonesia.  Aku langsung menghubungi adikku yang saat itu sedang berada di Bandung untuk mengisi pulsa Mas Ipung.  Tapi karena hujan deras, adikku susah keluar rumah (di dekat rumah ada supermarket 24 jam yang jualan pulsa juga).  Adikku juga ga bisa share pulsa, kebetulan habis banget.  Akhirnya, ibuku membagi pulsanya dengan Mas Ipung.  Huuuuhhh… malu-maluin ga sih?

Keesokan harinya, aku mencoba menghubungi Mas Ipung, tapi tidak aktif.   Mungkin masih istirahat karena kemaren perjalanannya lebih lama.  Terus  menerus aku coba telfon via Skype,  eh  seharian nomornya tidak aktif.  Rasanya mangkel banget.  Aku harus bilang, seandainya dia mau menggunakan BB, pasti ga ribet bolak-balik ngisi pulsa.  Dalam hati, seandainya telfonku dijawab, aku mau marah lagi.  Tau ga sih gimana rasanya pengen marah tapi ga tersalurkan?  Ya gituuuu….

Nyaris 2 hari sejak KA anjlok, aku ga tidur karena kehilangan khabar Mas Ipung.  Hingga hari ketiga (kalo ga salah), tiba-tiba dia nongol di YM-ku, minta PIN BB.  Oalaaaa…. Ternyata diam-diam Mas Ipung survey harga BB dan provider yang cocok untuknya.  Dengan sedikit minta maaf dan memperbanyak rayuan, Mas Ipung mengakui kalau dia salah sangka terhadap BB.  Sekarang Mas Ipung udah gape pakai BB dan komunikasi kami lebih lancar, tanpa khawatir akan pulsa.

Sering aku dikirim foto-foto, walau yang terbanyak ya foto Piko guguk kami.  Atau mengirim foto pecel lele.  Fotonya sendiri jarang dikirim.  Takut ketularan narsisi, katanya.  Sampai sekarang, kadang aku masih menggoda kekonyolannya untuk tidak memiliki BB.  Malah katanya, kayaknya kita harus sujud syukur nih ama Blackberry eh tekhnologi.  Dengan 2 kali klik, kita sudah bisa mengirimkan foto.  Semuanya terasa lebih mudah dan dekat.  Halah….  Lupa ya kalau  kemaren menolak BB?

Nah, setelah beberapa bulan kita menggunakan BB, terasa banget ringan di dompet.  Untukku benar-benar sebuah penghematan demikian juga Mas Ipung.  Dan yang penting, kita bisa komunikasi kapan saja, tidak harus saling tunggu, buat jadwal dan konfirmasi via SMS.  Karena ada perbedaan waktu antara sini dan Indonesia, maka dengan tidak chat Selasa malam, kami punya waktu lebih untuk istirahat.  Sudah tidak pernah lagi begadang demi chat.  Kalau pun ngantuk, kan obrolan masih bisa dilanjutkan keesokan harinya.  Ahhh…menyenangkan sekali.

Salam,

Ket : gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Sujud Syukur Pada Blackberry

  1. vera berkata:

    Aku jadi terhibur nih dgn tulisanmu, jd teringat masa2 pacaran. Pacaran jarak jauh yg kualami bisa dibilang berat di pulsa, bukan aku aja, abang jg. Akhirnya diputuskan ak jatah sms, abang jatah tlp tp seminggu cuma 2 kali. Klo aku sms kaya minum obat, 3 x sehari…tulisannya, ya begitu2 aja. Sampe di simpan abang, dlm setahun ada ribuan. Berhubung dulu belum pasang internet, jd klo mau YM sambil web cam. Harus jln jauh, untungnya langsung pasang internt. Jd bisa skype tiap hr, tp hrs disesuaikan dgn wkt senggang abang. Jd kepikiran klo nanti jauh2an lg, kayany oke jg klo pake BB. Tp abang orgnya dah mlz sms, paling skype aja….

  2. lintasophia berkata:

    Makasih udah mampir.
    Sebetulnya, kata kunci itu hemat dan nyaman. Kadang percuma juga lebih hemat tapi ribet…ribet…ribet pemakaiannya. BB cocok untuk orang yang waktu dan hidupnya ga jelas seperti aku…hahaahha…
    Take care yaaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s