Selepas Gajian

Barusan, aku habis gajian 🙂 .  Eh, bukan mau cerita tentang gajiannya, tapi bagaimana cara mengelola gaji agar menjadi sesuatu yang berharga.  Ga mau dong capek-capek kerja, eh gaji cuma numpang lewat.  Mending kalo sebagian berakhir di rekening tabungan, tapi banyak juga diantara kita yang gaji habis, saldo dari bulan ke bulan ya segitu-gitu aja.  Oke, malem ini lagi-lagi kita akan membahas Perencanaan Keuangan ala Lintasophia.  Oittsss…jangan pada berkerut dulu.  Perencanaan Keuangan itu mudah, yang sulit itu pelaksanaannya…  Kita coba step by step ya…

MEMBUAT PERENCANAAN KEUANGAN SECARA TERPERINCI

Alamak, yang ini bagian paling menjengkelkan.  Sumpah, sampai sekarang aku juga belum bisa benar-benar disiplin untuk mentaati Perencanaan Keuangan (selanjutnya kita sebut : PK).  Padahal PK itu aku yang buat, logikanya aku harus konsekuen menjalaninya.  Tapi kenyataannnya ga tuh.  Walau kemaren aku udah buat PK sampai tahun 2013, tapi aku lalai 1 hal, yakni evaluasi PK.  Nanti kita bahas di akhir tulisan ini makhluk apakah Evaluasi  PK?

Lalu, komponen apa saja yang diperlukan dalam selembar PK?  Idealnya, seperti akuntan yang membuat neraca lajur, sebelah kiri kolom Pendapatan dan sebelah kanan Pengeluaran.  Neraca kedua kolom harus sama besar, atau lebih besar Pendapatan daripada Pengeluaran.   Karena kalau Pengeluaran lebih besar dari Pendapatan, kita menyebutnya dengan Lebih besar pasak daripada tiang.  Ingat kan?  Ternyata dari kecil kita sudah dikenalkan PK ya, cuma kadang tidak menyadarinya.  Oh ya, ga perlu ribet, cukup di atas kertas buat tabel Pendapatan bagian atas disusul tabel Pengeluaran di bagian bawah.  Ini faktor kebiasaan saja, karena biasanya tabel Pengeluaran lebih panjang dibanding pendapatan.

Tabel Perkiraan Pendapatan

Komponennya terdiri dari :

Seluruh jenis sumber pemasukan, mulai dari gaji pokok, bonus, THR, pesangon, pendapatan dari bisnis sampingan, bunga deposito.  Pokoknya apa saja yang kalian anggap sebagai pendapatan.  Lebih baik lagi kalau semua ditulis secara detail, mulai dari gaji pokok-pajak = gaji bersih.  Bunga deposito-pajak dan biaya produksi lainnya, hingga pada akhirnya menemukan angka gaji bersih.  Tapi, sebagai permulaan, menulis pendapatan bersih juga sudah memadai.  Hampir saja terlupa, tabel Pendapatan ini terdiri 3 kolom yakni : JENIS PENDAPATAN,  PERKIRAAN PENDAPATAN dan JUMLAH PENDAPATAN SEBENARNYA.

Mengapa harus ada perkiraan pendapatan?  Jawabnya, karena kita sedang melakukan proses perencanaan, bisa sama persis seperti dugaan tapi kadang meleset juga.  Keuntungannya, dengan memprediksi bakal pendapatan kita, berikutnya kita memiliki komando dalam membuat tabel Pengeluaran.  Karena pada dasarnya, kita terbiasa saat membuat anggaran pengeluaran, menuliskan apa saja yang terlintas di kepala kita.  Bukan apa saja yang kita butuhkan.  Nah, dengan adanya perkiraan pendapatan, sebelum menulis perkiraan pengeluaran, secara otomatis mata kita akan melirik tabel pendapatan dan otak kita menyesuaikan bakal pengeluaran dengan perkiraan pendapatan.  Mudah kan?

Tabel Perkiraan Pengeluaran

Komponennya terdiri dari :

A. Tabungan

Walau sedikit, tapi usahakan menabung.  Para pakar mensyaratkan untuk menabung sebanyak 10 persen dari pendapatan Anda.  Tapi dengan ancaman inflasi dan kenaikan kebutuhan hidup, maka 10 persen tampaknya kurang.  Karena kemudian, tabungan juga akan dibagi 2, yakni tabungan biasa dan dana cadangan.  Untuk topik tabungan, kalian bisa baca catatanku sebelumnya.  Heheheehe…. 🙂  Jujur, saat ini aku ga punya tabungan, apalagi dana cadangan.  Ini akibat salah strategi dan tidak mampu menahan diri… Ohhhh… 😦    Tapi salah satu keuntungan memiliki kebiasan membuat PK adalah, aku tahu kapan kelak bisa nabung lagi.  Horeeee…. 🙂  Walau sedikit, tapi segitu terima gaji, langsung sisihkan untuk ditabung.  Oiiittsss….jangan cuma asal disisihkan, tapi diantar ke bank ya.  Kalau ditaro di bawan bantal, besar kemungkinan dana itu akan menguap.

B. Hutang

Untuk kalian yang sedang terlilit hutang, jangan putus asa.  Dengan sedikit strategi dan perencanaan yang matang, kita bisa bayar utang-utang yang ada.  Asal ingat, jangan menambah hutang kecuali dalam keadaan terdesak.  Apalagi menambah hutang yang bersifat konsumtif, big No..No…No…  🙂

Di lembar lain, nanti buat daftar hutang, dan lihat mana yang paling besar bunganya.  Bayar hutang itu duluan dibanding hutang-hutang yang lain.  Ketika hutang dengan bunga paling besar telah lunas, budget untuk membayar hutang pertama (yang telah lunas) gunakan untuk segera melunasi hutang yang lain.  Begitu seterusnya…

Sekedar sharing, aku punya kartu kredit dengan sistem revolving (bayar tagihan dengan cara cicil dengan minimum payment sesuai kesepakatan).  Kartu kredit semacam ini kadang menggoda untuk dipakai, karena kita terbayang bahwa cicilan tiap bulannya kecil.  Padahal, setelah dihitung ulang, jumlah hutang yang kita bayar menjadi sangat besar.  Persis metode yang digunakan rentenir, membungai bunga uang.  Kapok deh… 🙂

C.  Pengeluaran Rumah Tangga

Mulailah dengan membuat daftar yang bersifat wajib, atau dalam istilah kerennya menggunakan skala prioritas, bayar sewa (cicilan rumah) misalnya.  Untuk yang masih ngontrak, bisa menyisihkan tiap bulan sekian rupiah, sehingga pas tiba saatnya bayar kontrak rumah dana sudah tersedia.  Tidak perlu panik apalagi harus nambah hutang baru.  Lho, rumah masih ngontrak, sudah masih disuruh nabung dan menyisihkan kontrakan rumah untuk bulan berikutnya?

Lalu, bagaimana dengan jajan bakso, mie ayam, rokok dan lain-lain?  Hmmm…kadang membuat PK memang bikin sakit hati, karena kita harus mengetatkan ikat pinggang.  Selain itu, kita  akan menemukan bahwa pengelolaan keuangan kita selama ini tidak sehat.  Asal mau disiplin mentaati, pasti bisa menjalani PK yang telah kita buat.  Uppsss….asal ikhlas juga menjalaninya. To the point : daripada jajan melulu, mending kurangi dana mie ayam untuk bayar kontrakan.

Kembali ke urusan pengeluaran rumah tangga yang banyak rupanya.  Ajak pasangan dan anak-anak Anda untuk bersama-sama membuat PK setiap bulannya.  Ajarkan juga nilai uang dan bagaimana susahnya mencari uang, sehingga kita harus sama-sama berhemat.

Misalnya nih, Anda terbiasa membiarkan anak Anda jajan setiap ada tukang jajan yang lewat?  Hati-hati…. Hal-hal kecil seperti ini yang kadang menjadi pengacau dalam PK.  Pepatah ” dikit-dikit lama-lama menjadi bukit” masih relevan untuk kasus ini.  Temukan cara terbaik agar keluarga bisa mengurangi jajan, misalnya dengan memberi uang saku harian atau mingguan, dengan aturan main : tidak ada tambahan selain uang saku.

Bagaimana dengan pengeluaran rumah tangga lainnya, seperti beras, minyak, gula dan lain-lain.  Selain membuat daftar belanjaan dan mematuhinya, Anda bisa menggunakan produk-produk dengan merk kurang terkenal.  Tidak perlu malu untuk membeli gula tanpa stempel perusahaan besar pada kemasannya.  Demikian juga dengan teh.  Anda bisa menggunakan teh bubuk, bukan celup.  Selalu ada peluang menghemat sekian rupiah dari hal-hal kecil.

D.  Pendidikan

Tulis secara rinci mulai SPP anak, buku, peralatan tulis, transport dan uang saku.  Oh ya, menjadi remaja jaman sekarang harus tahan godaan.  Ajak berbicara anak Anda betapa pentingnya memiliki semangat untuk berhemat dan tidak mudah tergoda memiliki handphone canggih seperti temannya.  Anak sekarang juga senang keluar masuk mall.  Mungkin Anda bisa menggagendakan hari Minggu sebagai hari keluarga.  No ekstrakurikuler, no les no PR.  Apa yang kalian lakukan pada hari Minggu bisa diputuskan bersama (ke mall barangkali?) termasuk anggarannya.

E.  Asuransi

Kecuali Anda sudah yakin bahwa kekayaan Anda akan cukup hingga 7 turunan, boleh mengabaikan hal yang satu ini.  Tapi kalau sekiranya belum, mungkin sekarang saat yang tepat untuk memiliki asuransi.  Ada begitu banyak jenis asuransi.  Pilih salah satu yang paling murah preminya, tapi dengan perlindungan maksimal.  Untuk mendapatkan asuransi yang sesuai kebutuhan keluarga, jangan sungkan untuk bertanya lebih detail terhadap perusahaan penyedia asuransi.

E.  Budget Mimpi

Iya, aku menyebutnya sebagai budget mimpi, dimana Anda harus menyisihkan sebagian penghasilan Anda untuk mencicil mimpi Anda, misalnya membeli mobil atau tamasya ke luar negeri.

Mungkin untuk saat ini, Budget mimpi tidak menjadi prioritas karena Anda masih terbelit hutang.  Tapi setelah PK Anda buat setiap bulan dan mengetahui kondisi keuangan keluarga Anda, maka aku bisa bilang kalau Anda  sudah dapat mereka-reka kapan start dan  membuat draft cara-cara yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi itu, salah satunya dengan Budget Mimpi ini. Daripada tiap bulan dana Anda terkuras untuk hang out GJ (Ga Jelas… hihihi, dapet istilah baru dari teman nih… ), mending  dananya dialihkan untuk sesuatu yang real dan berguna untuk masa depan.

F.  Pengeluaran Lain-lain

Misalnya dana sosial yang termasuk di dalamnya untuk  membantu orang tua, amplop undangan pernikahan, kematian, ulang tahun anak teman.  Jangan sampai dana sosial membuat keuangan keluarga menjadi berat.  Lagi-lagi semua harus disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga.  Di atas semua itu, jangan lupa menyisihkan kolekte untuk kalian yang beragama Kristen dan kolekte untuk yang beragama Islam.

Kalau tabel perkiraan pendapatan dan pengeluaran sudah jadi, selamat  Anda 50 % sudah menjadi seorang Financial Planner!    Lho, kok baru setengah?  Karena sisanya adalah pelaksanaan PK, tapi itu juga belum membuat Anda menjadi 100 % seorang Financial Planner.  Berikutnya, aku mau mengenalkan tabel lain yang perlu dimiliki saat membuat PK, yakni Tabel Aset dan Hutang.

 

MEMBUAT TABEL KEKAYAAN DAN HUTANG

A.  Tabel Kekayaan

Daftar semua barang-barang yang Anda miliki, mulai dari motor, mobil, rumah, kontrakan, mesin produksi dan lain-lain.  Jangan lupa perkiraan penyusutan atau pertambahan nilai barang setiap tahunnya.  Ada juga instrumen lain, yakni : asuransi, reksadana, tabungan, deposito, pesangon, THR, emas dan lain-lain.  Sama seperti kekayaan yang bersifat benda, setiap perubahan nilai kekayaan tulis secara rinci.  Ini untuk mengetahui kondisi sebenarnya kekayaan Anda.  Karena kadang, banyak diantara kita kelihatannya mobilnya banyak, tapi ternyata belum lunas.  Jadi, yang namanya kekayaan itu adalah : TOTAL KEKAYAAN – HUTANG.

Lalu, bagaimana cara menulis kekayaan yang sifatnya masih dalam proses kredit?  Gampang saja.  Pada kolom Kekayaan tuliskan dana Anda yang sudah masuk, misalnya :  DP rumah 10 juta rupiah.  Sisa yang masih harus dibayar nanti dimasukan ke dalam kolom hutang.  Mudah yaaaa…

B.  Tabel Hutang

Terus terang, ini juga bagian yang tidak menyenangkan.  Aku bahkan harus tutup mata demi melihat angka hutang yang aduhai besarnya.  Dalam hati aku teriak : ga nyangkaaaaa…ihiks…ihiks..ihiks… 😦 .  Tapi tunggu dulu, setelah tabel kekayaan dan hutang aku buat untuk beberapa bulan, aku mulai terhibur.  Alasannya, setiap bulan hutangku berkurang dan nominal kekayaan bertambah.  Kan setiap kekayaan (barang berupa kreditan) yang telah dibayar, otomatis menjadi kekayaan.  Horeeee…. 🙂 .

Bahkan dengan menggunakan teori-teori yang aku temukan bertebaran di internet, aku bisa menghitung kapan nilai aset berubah menjadi 2 kali lipat.  Bukankah ini  menyenangkan?  Setelah mengetahui bahwa PK tidak sesulit bayangan orang-orang, sekarang aku bahkan bisa menambah daftar mimpiku yang lainnya, walau pun pada akhirnya aku harus berkompromi dengan PK yang telah aku buat.  Tapi mengetahui kapan bakal terbebas dari hutang, kapan aset bernilai ganda dan kapan mewujudkan mimpi yang lain membuat pelaksanaan PK sehari-hari menjadi amat menyenangkan.

EVALUASI

Lagi-lagi aku harus jujur, karena aku sering lalai untuk mengevaluasi semua PK yang telah aku buat sebelumnya.  Seringnya sih melirik kembali PK pas udah mau ketemu tanggal gajian.  Ini kebiasaan buruk, jangan ditiru.  Idealnya, semua pengeluaran harian dicatat untuk mengetahui kemana larinya uang kita.  Sebelumnya, pengeluaran pribadiku sangat besar.  Misalnya, kita ambil angka 500 euro sebagai pengeluaran totalku selama sebulan.  Biasanya itu aku bagi 2, dengan komposisi 200 Euro untuk bayar gas, listrik, telfon, belanja kosmetik dan belanja makanan.  Sedangkan  300 Euro aku alokasikan untuk makan siang, rokok dan kopi.

Nah, berhubung sekarang keuangan sedang sekarat sedangkan ada kebutuhan lain yakni bekal untuk mudik, maka aku harus kompromi dan memilih.  Telah beberapa bulan ini aku menekan pengeluaran untuk makanan mingguan, kosmetik dan belanja yang masih bisa ditunda.  Pun halnya dengan makan siang dan kopi.  Sekarang ditiadakan.  Lho, bagaimana bisa kerja kalau melewatkan makan siang?  Aku percaya kalau pada dasarnya manusia punya jam biologis tersendiri.  Kalau kita membiasakan diri makan siang pukul 12.oo, ya otomatis setiap jam segitu kita akan merasa lapar.  Aku memundurkan waktu jam makan siangku, sehingga aku bisa makan siang di rumah.  Agak nyiksa diri sih, tapi sekarang pilihannya, mau mudik atau ga?  Sedikit lapar, tapi aku bisa menghemat sekitar 120 Euro setiap bulannya.

Lalu bagaimana dengan kopi dan rokok?  Biasanya, minimal aku beli brioches dan cappuccino pagi harinya dari bar sebelah.  Aku juga menghindari begadang, agar tidak mengantuk dan tidak harus mengambil kopi saat bekerja.  Dengan kompromi seperti ini, aku bisa berhemat sebanyak 100 Euro setiap bulannya cuma dari urusan kopi saja.  Selain itu,  dengan  tidak begadang juga mengurangi konsumsi rokokku.    Walau harga rokok naik terus, tapi untuk yang satu ini masih sulit ditinggalkan.

Nah, sesuai dengan judul Evaluasi… Luangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membuka halaman PK Anda.  Banyak pasangan yang komunikasinya mandek saat berbicara masalah keuangan keluarga.  Dengan cara ini, aku harapkan Anda bisa lebih jujur secara finansial. Berarti, sehabis gajian ini, Anda sudah tau harus ngapain ya… 🙂

Selamat menjadi Financial Planner yaaa.  Jangan pernah putus asa… Semoga berhasil.

Salam,

Ket : gambar dari Google


Iklan

2 thoughts on “Selepas Gajian

  1. Rosda berkata:

    Hebat kamu Mpi…teliti banget. Aku tak sampai sejauh itu melakukannya. Aku hanya mencatat pengeluaranku setiap hari.
    Setelah membaca tulisanmu ini…semoga aku bisa menjadi seorang Financial Planner….

  2. lintasophia berkata:

    Hihihihi, ini faktor kebiasaan aja.
    Aku mencatat bukan cuma pengeluaran, tapi pemasukan dan anggaran yang akan datang. Termasuk catatan hutang piutang. Makasih udah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s