Kumpulkan Informasi, baru Putuskan

Tadi sore, 2 orang pria Indonesia masuk ke toko tempatku bekerja.  Di sela-sela mengawasi pengunjung, kami sempat ngobrol panjang lebar, atau tepatnya aku sempat mendengarkan curhat salah satu dari mereka.  Sebut aja si A (kami belum sempat saling memperkenalkan nama).  Kapal mereka sudah beberapa hari ini berlabuh di Genova.  Hari ini mereka senggang dan mendapat ijin turun ke darat, sehingga mereka memutuskan untuk jalan-jalan dan mengenal Genova lebih dalam.

Tadi si A lebih banyak memposisikan diri sebagai penanya dan aku sebagai narasumber tentang serba serbi hidup di Italia.  Si A menanyakan pendapatku tentang kemungkinan bagaimana kalau ia bekerja di Italia, karena ada temannya yang berjanji akan membantunya mendapatkan visa.  Sayangnya, si A belum mengetahui susahnya mendapatkan visa kerja di sini.

Teman si A berjanji akan mengajukan visa kerja sebagai pekerja domestik, jadi makan dan tidur akan ditanggung oleh teman si A, yang kelak akan sebagai majikannya.  Selain itu, teman si A berjanji akan memberinya upah 250 euro/bulan.  Jadi, bisa dikatakan, 200 Euro /bulan merupakan pendapatan bersih si A tiap bulannya.

Berbekal pengalaman selama hidup di sini, aku tekankan bahwa 200 Euro itu tidak akan cukup walau dia tidak harus bayar makan dan kontrak rumah.  Kadang kita harus membeli pulsa telfon, atau kaus kaki atau sweater.  Sangat jarang dalam sebulan tidak mengeluarkan duit sepeser pun selain bayar kontrak rumah, gas dan listrik.

Karena obrolan ini si A yang memulai, maka aku pun tidak sungkan menanyakan gajinya tiap bulan selama kerja di kapal pesiar.  Ternyata, penghasilan bersihnya itu hampir 10 juta /bulan.  Net…net..net… Si A benar-benar memasukan 10 juta rupiah tiap bulan ke dompetnya.  Karena makan, tempat tinggal dan laundry ditanggung perusahaan.

Pengeluarannya tiap bulan tidak banyak, karena terbiasa berhemat.  Paling mengirimkan sangu sedikit ke keluarganya di Jawa sana.  Bahkan, penghasilannya bulan lalu masih utuh, karena untuk mengirim ke kampung dan keperluan pribadi, ia menggunakan tip dari penumpang kapal pesiar… Wow!

Lalu, apa alasan si A untuk memikirkan berganti profesi?  Ternyata, si A dari dulu mengidamkan kerja di luar negeri, tapi di darat.  Tidak seperti sekarang ini, di kapal pesiar.  Masih menurut A, kerja di kapal itu sangat capek, kadang sehari bekerja selama 15 jam, walau diselingi dengan istirahat sebentar.

Ternyata, impian si A mendapat angin positif dari atasannya yang merupakan orang Italia.  Bahkan sang atasan mengajaknya untuk menginvestasikan dananya untuk membuka usaha di Italia.  Hmmm… sampai di sini instingku mengatakan ada yang tidak beres.

Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mengatakan, jangan terlalu percaya mulut manis orang.  Mungkin karena atasannya tahu bahwa si A memiliki banyak duit tabungan dan bisa saja memiliki niat jahat dibalik tawarannya itu.  Tapi aku tidak mengatakan persis seperti itu.  Lebih aku tekankan untuk berhati-hati.

Kemudian aku tambahkan, bahwa untuk membuka usaha di Italia saat ini bukan ide yang bagus.  Banyak caffe, bar atau toko yang berganti-ganti pemilik.  Inflasi dan krisis sangat terasa.  Jadi, amat riskan untuk membuka usaha saat ini.  Tapi, di atas semua itu, kekhawatiranku yang paling utama justru takut si A ditipu.  Tanpa pengalaman bekerja atau mengelola suatu usaha sebelumnya di Italia dan tidak memiliki informasi yang akurat mengenai Italia, sangat berpotensi untuk dikadalin.

Belum lagi biaya operasional yang harus dikeluarkan majikan untuk seorang karyawan itu tinggi, walau kemudian upah minimum di Italia itu merupakan salah satu yang terendah di Eropa.  Biaya hidup yang meliputi; sewa rumah, gas, listrik dan makan sehari-hari cukup menguras gaji standar 1000-1200 Euro/bulan.  Sebagai gambaran, untuk sewa kamar di Genova itu rata-rata 300 Euro/bulan, belum termasuk listrik sekitar 25 Euro/bulan.  Sedangkan gas sangat mahal, tergantung musim dingin atau panas.  Kemudian, biaya lain yang harus diperkirakan adalah kebutuhan makan selama sebulan.  Untuk standar, aku butuh minimal 200 Euro/bulan untuk membayar sarapan, shampoo, sabun, bedak.  Masih ada pulsa telfon dan internet yang harus dimasukan ke pengeluaran bulanan.  Itu belum termasuk bekalku, misalnya pengen jajan atau makan siang di luar.   Lalu apalagi ya?  Hmmm…. mudik!  Bagaiman dengan tiket pulang pergi Indonesia?

Sampai di sini temanku manggut-manggut, karena selama ini tiket pesawat ditanggung oleh perusahaan.  Ketika aku menyebutkan nilai nominal  tiket pulang pergi Indonesia, si A terbelalak.  Kalau dirupiahkan besar juga ya, katanya.  Selama ini semua urusan dokumen perjalanan yang dibutuhkan hingga tiket pulang pergi di urus oleh agennya.  Para kru kapal terima beres.  Aku sarankan, lebih baik mulai peduli terhadap hal seperti ini, agar dapat mempertimbangkan sesuatu dari berbagai sisi.

Kemudian si A bertanya lagi, apakah sebaiknya dia menolak tawaran temannya untuk bekerja di Italia?  Ini kesempatan emas yang selama ini ia tunggu-tunggu.  Si A sangat yakin temannya akan membantunya, bahkan kalau perlu dengan membuatkan visa keluarga.  Sampai di sini aku kembai mengerutkan dahi.  Karena visa keluarga itu berlaku untuk pasangan yang telah menikah, atau untuk mengundang anak-anak yang orang tuanya telah bekerja dan atau ingin mengundang orang tua.

Si A masih bingung ketika aku menjelaskan hal ini.  Untungnya, ada majikan di dekatku, jadi kami bisa bertanya lebih detail mengenai masalah visa terhadap majikan ini.  Tampaknya, si A mulai mendapat gambaran lebih mengenai pengurusan visa ini.  Pelan-pelan aku dan majikan mengenalkan tahapan pengajuan visa kerja.  Jadi, pengajuan visa kerja itu ya dilakukan pihak sponsor (calon majikan) di Italia, bukan di Indonesia seperti yang dibayangkannya.  Kemudian, setelah visa kerja disetujui dan si A tinggal dan bekerja di Italia, baru deh ngurus ijin tinggal (permesso disoggiorno), nomor pokok wajib pajak (codice fiscale), KTP (Carta D’Identita) dan lain-lain.

Aku bilang, terus terang, aku tidak berhak mengatakan si A untuk  mengambil atau melupakan tawaran itu.  Lebih baik bersikap logis.  Kalau aku jadi dia, bisa punya pendapatan bersih 10 juta rupiah /bulan, walau kerja 17 jam sehari pun pasti akan aku lakukan.  Bukankah masih banyak orang di luar sana kerja lebih berat, lebih lama tapi pendapatannya bisa jadi cuma 1/5 dari penghasilannya.  Si A cuma tersenyum  :).

”Setiap pilihan pasti ada pengorbanannya say…” Jawabku

”Kalau hidup di sini sangat mahal, bagaimana cara kalian bertahan di Italia?”  Tanya si A.

”Itulah perlunya perencanaan dan tujuan keuangan.”  Kali ini si A yang mengerutkan dahi, saling berbalas pandang dengan temannya yang sedari tadi asyik sebagai penonton.

”Gini lho, mas kerja untuk apa?” Tanyaku

”Ya buat nyari nafkah mbak…” Jawabnya.

”Oke, itu jawaban paling dasar.  Selain itu?”

”Apa ya?” Si A malah balik tertawa karena pertanyaanku 🙂

”Gini, mas ga mungkin dong mau meninggalkan tanah air, bekerja di lautan kalau tidak ada tujuan spesifiknya.”

”Hihihi, aku cuma pengen kerja di luar negeri.  Tapi di darat.”

”Baiklah… Mas bisa putusin semua itu kalau sudah siap.  Artinya, tidak karena emosi atau karena mumpung ada tawaran dari teman.  Harus dilihat juga hidupmu jangka panjang.”  Saranku.

”Kalo mbak bisa hampir 7 tahun hidup di Italia, aku juga pasti bisa.”

”Mas, kondisi keuangan tiap orang itu sangat personal.  Berbeda.  Kalau aku ceritakan semua beban dan duka hidup di luar negeri, sampean pasti sujud syukur bisa kerja seperti ini.”  Jawabku.

”Maksudnya?”

”Aku punya tujuan yang harus diwujudkan, salah satunya ya harus  kerja seperti sekarang ini.  Tidak betul juga kalau orang kerja di luar negeri itu kehidupannya selalu menyenangkan.  Tinggal di negara seperti Italia, harus berhemat dan kuat menahan diri.  Kalau ga, ya ga bisa nabung.”

”Ooohhh…  .”

”Mas bilang, pendapatanmu tiap bulan sangat besar dan utuh.  Apa sampean pernah memikirkan untuk apa duit itu?”  Tanyaku.

”Sebagian aku tabung, sebagian aku pegang sendiri.  Tapi belum punya rencana mau ngapain, karena keburu mikirin tawaran teman tadi.”

”Kalau aku boleh kasih saran, pertimbangkan lagi semua ini.  Pikir  baik-baik apa tujuan hidupmu, buat rencana keuanganmu dengan cermat.  Kalau sampean memang memiliki minat buka usaha sendiri, mulailah cari info tentang itu.”

”Caranya?”

”Yaeeeellllaaahh…banyak gitu lho di internet.  Atau, kalau lagi mudik, lihat peluang yang ada di Indonesia.”

”Hihihihihi…iya ya, ga kepikiran juga seperti itu.”

”Ya iyalah, wong sampean udah mikirin kerja di Italia terus, sampai menutup diri terhadap hal lain.”

”Tenanan lho mbak, selama ini aku ga kepikiran …hihihihihi…”

”Yo wis, mau nanya apa lagi?”

”Ga ada mbak.  Ini juga udah lebih dari yang aku bayangkan.  Kami pamit dulu.  Kapal kami sampai 23 Oktober ini masih di Genova, nanti aku balik ke sini lagi.”

”Dengan senang hati…”  Kedua pria itu meninggalkan toko.  Majikanku berharap si A tidak mengambil tawaran temannya itu.  10 juta sebulan, net…net…net…bahkan di Italia pun susah dapat.

Salam,

Ket : gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s