Beneran, Aku Sudah Tersenyum Kok!

Siang tadi seorang perempuan masuk ke toko tempatku bekerja.  Salamku tidak dibalas karena telinganya sibuk mendengarkan musik lewat earphone-nya.  Dia bersenandung kecil, kadang secara tak sadar badannya bergoyang-goyang mengikuti musiknya.

Sebetulnya, dari segi tata krama, masuk ke toko sambil mengenakan earphone atau berbicara di telfon sangat tidak disarankan.  Sama halnya ketika masuk ke toko tidak menanggalkan kaca mata hitam.  Seakan tidak menghormati yang punya rumah (toko).  Sangat tidak elok.  Mungkin hal ini tidak berlaku ketika kita masuk ke super market.

Ini bukan kejadian pertama yang kualami, tapi aku tidak pernah menegur.  Biarkan saja, yang penting mereka nyaman selama berada di tokoku.   Karena mungkin tamu hanya sekedar melihat-lihat.  Terkadang mendengarkan musik melalui earphone juga cuma alibi tamu agar pemilik toko sungkan untuk bertanya.  Takut mengganggu.  Demikian juga pemikiranku kali ini.  Aku membiarkannya hingga beberapa lama.  Sesekali aku mengawasinya, barangkali dia membutuhkan bantuan.

Masih bersenandung dan menggoyang-goyangkan badannya.  Aku berfikir keras, lagu apa gerangan yang sedang didengarkannya hingga dia tidak peduli sekelilingnya?  Atau jangan-jangan karena keasyikan mendengarkan musik, sebetulnya dia tidak sadar bahwa kakinya telah melangkah ke toko ini?…halah…

Aku memandangi perempuan ini lebih teliti, dari ujung kepala sampai ujung sepatu.  Bukan orang sini.  Mungkin dia sedang ada waktu senggang dan bingung mau jalan-jalan kemana lagi di kota ini.  Karena hari Minggu kebanyakan toko tutup, kecuali toko-toko yang dimiliki oleh orang asing.   Sesekali tangan kanannya sibuk memencet benda hitam yang terselip di balik ranselnya.  Mungkin sedang replay atau forward.

Dia mencoba beberapa cincin dan dari gumamannya, aku tahu bahwa ukuran cincin yang ada terlalu besar untuknya.  Aku menawarkan ukuran lain, tapi dia tidak mendengarku.  Aku kembali membiarkannya.  Tak lama kemudian perempuan itu beralih ke lemari yang memajang kalung-kalung.  Matanya tertumbuk pada sebuah kalung putih dengan pengait kayu.  Dia lalu meraihnya dan berusaha membuka pengait kalung yang bentuknya berupa kepala ikat pinggang.  Aku melihat dia kesulitan membukanya.

Kali ini aku menawarkan bantuan dengan suara lebih keras dan dia mendengar.  Dia membalikan badan dan menyerahkan kalung yang di tangannya untuk kubuka.  Sambil menyerahkan kalung yang telah kubuka pengaitnya, aku menunjukan cermin besar.  Tempat dimana dia bisa mematut diri.  Tidak banyak obrolan kami, karena dia lebih peduli dengan musik dari handphone atau playernya itu.

Dia kembali ke hadapanku setelah mencoba kalung tersebut dan berkata :

” Kamu lagi marah ya?”  Tanya dia.

” Ga marah.  Memangnya kenapa?”

” Kelihatannya kamu lagi marah ya?”  Dia mengulang pertanyaan yang sama, kali ini dengan volume suara lebih tinggi.

” Ga maraaaahhhhh….” Jawabku ikut-ikutan teriak sambil bolak balik menunjuk kupingku dan dia.  Maksudku, lepas dulu earphonemu.  Terus terang, kali ini aku lepas kontrol karena ikut berteriak.  Apa boleh buat, dia tidak mendengarku dan di luar juga sangat berisik.

Dia tergopoh-gopoh melepas earphone-nya yang sebelah kanan, dan mengulang pertanyaan yang sama.  Aku pun memberi jawaban yang sama pula.

” Tapi kamu tidak senyum.”  Katanya dalam bahasa Spanyol, tapi aku cukup mengerti.  Apalagi gesture tubuhnya, jari-jarinya mengangkat bibirnya.  Tanda ”smile.”

” Kamu harus banyak senyum biar banyak yang masuk.” Tambahnya lagi.

Haaaaa, nih orang seenaknya banget ngomong.  Perasaan dari awal dia masuk, aku langsung menyapanya dengan senyuman.  Bukan salahku kalau pada akhirnya keningku berkerut-kerut setelah beberapa kali dia mengacuhkan tawaranku untuk membantunya. Batinku, emangnya enak ngomong sendiri?

Lalu dia bertanya;  ” Kamu asli mana”

” Indonesia” Jawabku.

” Tepatnya Indonesia sebelah mana?”

” Jawa.”

” Hei, orang Indonesia terutama dari Jawa terkenal ramah-ramah lho, ga kayak kamu.”  Aku masih belum percaya bertemu orang seperti ini.  Bisa-bisanya dia menceramahiku tentang keramah-tamahan, sedangkan dia sendiri berbicara  denganku sambil mendengarkan musik.

”  Kalau kamu kan kerja di sini, harus selalu tersenyum.  Berbeda dengan aku yang sebentar lagi juga pergi.”  Tolong…tolong…, aku merasa dihakimi sekaligus tidak berdaya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.  Rasanya aku pengen marah, tapi  cuma senyum terpaksa alias nyengir yang dapat kulakukan.  Yo wis, sakarepmu mbak, pikirku dalam hati (sambil menahan geram).

” Jadi, jangan lupa, tetap tersenyum.  Terima kasih.”  Dia mengatupkan kedua tangan di dadanya, membungkukan badan secara takzim sambil mengucapkan ”terima kasih.”  Iya, benar.  Dia mengucapkan thank you dalam bahasa Indonesia. Mungkin dia pernah ke Indonesia, pikirku.

Setelah dia pergi, aku menyesal tidak sempat membela diri dan menjelaskan, bahwa sedari tadi aku senyum, tapi dia sendiri  yang sok cool dengan dunianya, dengan musiknya.  Selama jadi penjaga toko, aku tidak pernah marah kepada tamu, betapa pun kadang mereka sangat menjengkelkan.  Berbeda dengan orang sini yang cenderung tidak sabar dan meledak-ledak dalam melayani tamu.  Tapi tindakanku yang serba nrimo tadi justru dianggap salah oleh pengunjung yang satu ini. Padahal, beneran kok  kalo sedari tadi aku udah senyum!

Jadi, siapa yang dodols dalam kasus ini? Weksss… 😦 😦

Salam,


Ket : gambar dari Google


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s