Mengenalkan Konsep Ketuhanan dan Keberagaman Agama Pada Anak

Note : ini adalah obrolanku dengan keponakan yang berumur 5 tahun.  Tidak ada maksud merendahkan agama tertentu.  Semoga catatan kali ini bermanfaat.

Pagi itu sekitar pukul 08.00 waktu sini atau sekitar pukul 13.00 WIB (Waktu Indonesia bagian Bandung), obrolan terjadi antara keponakanku Uis Pongo.

” Uis, udah makan? Make apa?” Tanyaku pada Uis

” Belum, kan belum maghrib.” Jawabnya.

” Lha, kok nunggu maghrib?”

” Kan aku lagi puasa.”

” Haaaaa, sejak kapan Uis puasa?  Kita pan Kristen…” Jawabku

” Soalnya teman-temanku juga pada puasa, biar boleh Lebaran.”   Buset dah nih bocah.  Lalu Uis bertanya,

” Tan, kenapa Edo puasa sedangkan aku dan abang ga puasa?” Edo merupakan anak bungsu dari kakak perempuanku yang bertama.  Dia menjadi mualaf setelah menikah dengan orang Padang.

Aku juga mencoba menjelaskan, kalau Edo dan keluarganya beragama Islam, jadi diwajibkan untuk berpuasa sebelum Lebaran.  Dasar bocah ngeyel, Uis malah balik nanya, ” Oh ga boleh makan babi ya?”

” Iya…” Jawabku

” Ah aku puasa aja, biar besok ikut Lebaran.”

” Jangan Uis, kita juga punya hari raya.  Desember nanti pan kita Natalan, inget kan?

”Ah masih lamaaaaa….”  Lalu Uis kembali bertanya ” Kenapa atuh aku dan Edo bisa beda-beda agamanya?  Sejenak aku terdiam.

” Ehmmm…. gini aja deh.  Ntar pas tante pulang, kita ngobrol lagi tentang ini ya.  Pulsa tante ga banyak.  Sekarang mah cerita aja tentang sekolahmu.  Udah belajar apa aja?”

” Ahhh… itu mah bukan belajar, cuma main, nyanyi dan belajar gambar.”

” Masa sih dari dulu cuma belajar nyanyi ama gambar?” Tanyaku

” Ada sih belajar sholat, ngaji ama tidur 10 menit.”  Apa maksud tidur 10 menit tidak sempat aku tanyakan kepada Uis.  Sekedar informasi, Uis memang bersekolah di TK  Islam, berbeda dengan abangnya yang bersekolah di SD Katholik.  Ini pilihan terakhir, karena lokasi TK tersebut dekat dengan rumah.  Konsekuensinya, walau Uis beragama Protestan, dia wajib mengikuti pelajaran agama Islam dan unsur-unsur pendukungnya.

” Uis  belajar sholat juga?”

” Iya, tapi susah, mana  lama pula.  Tan, aku suka lupa urutannya.  Mending menggambar atau main bola aja.” Jelas Uis.

” Ohhhhh…. gitu ya.  Trus, Uis belajar apa lagi?”

” Hmmmm… Ada belajar masak-masakan.  Jum’atan ama doa harian.”

” Doa harian?  Apaan tuh?”

” Itu lho Tan, doa sebelum makan.  Doa sebelum pergi ke sekolah.  Ada doa yang lain, tapi lupa lagi.”

” Uis udah bisa berdoa?”

” Belum, doanya susah ah, make bahasa Arab.” Duh, Uis… polos banget sih.

” Tante, ntar aku sekolahnya di sekolah si abang aja ya.”

” Memangnya kenapa, Uis?”

” Di sekolah si abang mah doanya gampang.  Make bahasa Indonesia.” Kali ini aku ga bisa nahan tawaku.  Dasar Uis ga mau kalah.  Sekarang minta baju Lebaran, besok minta dibelikan baju Natal.


Moral Cerita

Obrolan di atas cukup membuat skor 1-0 untuk Uis dan aku.  Idealnya, orang tua atau orang dewasa sudah belajar dan mempersiapkan bagaimana cara mengenalkan konsep ke-Tuhanan YME, termasuk di dalamnya tentang keberagaman agama.

Pertanyaan-pertanyaan anak kecil kadang kedengarannya sederhana atau sepele, tapi sulit untuk dijawab.  Berbincang dengan anak kecil kadang tidak sadar membawa kita ke ranah filsafat.   Untukku ini  menjadi unik.   Dengan pertanyaan ala kadarnya itu, justru membuatku sadar untuk belajar lebih keras lagi masalah Ke-Tuhanan, termasuk menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut kepada anak, disesuaikan dengan umur dan tingkat pemahamannya.

Sampe di sini dulu ya sharingnya.  Walau Uis bukan anak kandungku, aku mau  baca-baca lagi nih, termasuk mencari doa yang sederhana dan mudah dipahami anak kecil.  Bayanganku, Tony, Uis, Lia serta keponakanku yang lain tidak hanya kenyang secara jasmani, tapi tercukupkan juga makanan rohaninya.  Semoga mereka tumbuh menjadi orang-orang yang penuh cinta kasih.  Terima kasih untuk kalian yang udah meluangkan waktu membaca catatan kecil ini.  Semoga bermanfaat and  GBU.

Salam,


Ket : gambar dari Google


Iklan

4 thoughts on “Mengenalkan Konsep Ketuhanan dan Keberagaman Agama Pada Anak

    • lintasophia berkata:

      Yup, betul sekali. Kalau biasanya orang tua menyuruh anaknya untuk belajar, kali ini terbalik. Anak-anak mengingatkan orang tua untuk tetap belajar.
      Makasih udah mampir.

  1. judistira berkata:

    Percakapan uis pongo dengan tante di atas,secara implisit merupakan tema besar yg sangat relevan utk kondisi masyarakat kita yang majemuk.
    Pernyataan uis pongo bahwa dia mau puasa seperti teman-temannya yg muslim,secara tidak langsung dia belajar dan mempraktekan toleransi trhadap temennya yg berbeda agama dengan dirinya.
    Akan tetapi memang,mengenalkan nilai dasar agama kepada anak2 sesuai dengan agama yang dianutnya,walaupun mngkin dia belum tahu,adalah sangat penting sehingga dia bisa mengidentifikasi siapa dirinya dan apa keyakinan ato agama yg dianutnya,sehingga dia bisa mulai belajar dan memahami,tentunya dengan cara berpikir seorang anak,akan perbedaan yg sangat mungkin dalam maslah keyakinan.
    Dengan demikian si anak akan mulai belajar untuk meyadari keadaan tersebut,menerima dan berbaur dengan temannya tanpa membedakan keyakinan yg dianutnya.
    Pengenalan konsep pluralisme terhadap anak adalah mutlak dilakukan agar menumbuhkan sikap toleransi,dan yang pasti mengenalkan kepada si anak bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk berinteraksi dan bersosialisai.
    Long live uis pongo

    • lintasophia berkata:

      Malem mas…
      Makasih untuk komentarmu. Tapi menurutku, pada usia Uis (5 tahun), dia belum paham tentang toleransi beragama. Motivasi Uis ingin berpuasa justru lebih ke masalah eksistensi diri Uis, yang ingin menunjukan bahwa ia mampu berpuasa seperti teman-temannya.

      Sesuai dengan sifat anak-anak yang suka bertanya, aku harap orang rumah juga mempersiapkan diri untuk kondisi tersebut. Biasanya anak akan bertanya alasan dibalik setiap tindakan.
      Makasih ya udah sharing… Have a nice weekend.

      * Aku tambahkan…
      Dasar Uis, kemaren dia minta dibelikan baju Lebaran, eh tadi pagi minta dibelikan baju Natal. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s