Menempelkan Semangat di Mana Saja

Beberapa hari yang lalu ada pesan masuk inbox Facebookku.  Dia mengomentari tentang sebuah kalimat indah yang terdapat di profi Facebook-ku.

Kerja adalah cinta yg ngejewantah.

Dan jika kau tiada sanggup bekerja dgn cinta, hanya dengan enggan.

Maka lebih baik kau meninggalkannya, lalu mengambil tempat di depan gapura candi.

Meminta sedekah dari mereka yg bekerja dgn sukacita (Sang Nabi-KG)


Lalu aku bales inbox tersebut : Hihihihi…iya, aku suka (Sang Nabi). Salah satu ayat emas untukku biar rajin kerja, selain surat tagihan ini itu tentunya.

Percaya atau tidak, kalimat di atas lebih dari sebuah puisi indah.  Untukku itu semacam sumber tenaga kalo malesku lagi kumat.  Petikan puisi di atas ada di tiap agenda yang aku punya, selama 11 tahun ini.  Setiap ganti agenda, selalu mencatat ulang Sang Nabi.   Namanya juga manusia, mengalami semangat up and down adalah hal yang lumrah.  Sesekali tak mengapa, nikmati aja kalo lagi males.  Ambil waktu untuk refreshing dan keluar dari rutinitas.  Setelah penat hilang, berjanjilah akan bekerja lebih baik lagi.

Malem ini aku mau share sedikit tentang hal-hal kecil yang bisa membuatku semangat.  Semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

a.      Sang Nabi

Seperti udah aku ceritakan sedikit, Sang Nabi sangat menginspirasiku untuk bekerja secara halal.  Intinya, tidak boleh males-malesan.  Kalo pengen dapet duit tanpa bekerja, ya nongkrong aja di depan rumah ibadat.  Menengadahkan tangan.  Beres masalah.

b.     Foto Keluarga dan Foto si Dia

Namanya juga cinta jarak jauh, ya harus nyelipin foto keluarga, entah di meja belajar atau di agendaku.  Sedangkan untuk foto si dia, cukup di dompet.  Ukurannya pun 2R.  Lebih ga jelas wajahnya, kangennya lebih kerasa…halah...  Semangat….semangat…berhemat….berhemat… Biar bisa pulang.

c.       Bel Pintu Rumah

Ini adalah bel untuk pintu rumahku yang baru beli bulan Juli lalu.  Duitnya hasil menabung dan pinjem kanan kiri atas bawah.  Sedangkan rumah sendiri harus lunas dalam waktu 3 tahun ini.  Jadi kebayang pan gimana ketatnya hari-hariku saat ini, hingga  3 sampai 5 tahun yang akan datang.  : (   Kerja apa aja dijabanin.  Tiap mau jajan, pasti udah mikir gini : duh lumayan kalo ditabung, bisa jadi genteng. : )

Ada cerita lucu tentang bel pintu ini.  Jadi bel ini aku beli di hotel tempat aku nginep di Lisbon, Portugal.  Hari pertama aku lihat, hatiku udah terpikat.  Udah pengen beli aja, walau saat itu membeli rumah di Bandung baru sebatas angan-angan saja, mengingat harga rumah di Bandung yang sangat aduhai mahalnya.  Sempat terpikirkan untuk aku pakai di Jogjakarta saja.  Tapi masalahnya, rumah yang di Jogja bergaya sederhana, tidak cocok dikasih benda mengkilap beginian.  Tapi ga apalah, cepat atau lambat aku usahakan membeli rumah juga di Bandung. Hari terakhir di Lisbon aku mampir ke toko suvenir di lantai dasar hotel.  Semoga ini pertanda baik untukku.

Setelah pulang ke Genova, hunting rumah dilanjutkan.  Bapak, ibu dan kakakku yang di Bandung sangat antusias mensurvei tiap lokasi dan kasih laporan. Luv u so much. Biasanya dalam mencari rumah, kami memakai patokan budget yang ada.  Tiap rumah ada aja kurangnya, biasanya masalah harga… :(.  Ada yang sesuai budget, tapi letaknya di balik gunung.  Jaraknya sekitar 5 kilometer dari jalan raya.  Alamak jauhnya… Hingga akhirnya ada info tentang sebuah cluster, letaknya dekat rumah ibuku.  Dulu banget, aku suka berkhayal, seandainya bisa beli rumah dekat dengan ibu,  pasti asyik.  Kalo laper tinggal mampir ke dapur ibu  dan pulang lagi. 🙂

Apa daya, belum apa-apa harganya udah diluar budget, apalagi rumah ini letaknya di pusat kota.  Pengen nangis deh waktu itu.  Kepada pihak pengembang, aku minta kakakku untuk bercerita tentang keadaan dan kemampuan keuanganku.  Dan oleh pihak pengembang aku boleh nyicil selama 3 tahun.  Horeeee….  Rumah di Bandung dapet juga dengan proses mudah yang tidak terbayangkan sebelumnya.  Mimpiku menjadi kenyataan.   Lucu juga transaksi rumah jarak jauh.  Cuma bermodal chat via blackberry ama kakakku, transaksi terjadi.    Terima kasih banyak untuk keluarga   dan teman yang bersedia jadi debitur.   Sabar ya darl, selama masih kerja dan sehat lahir bathin, semua utang pasti kubayar. I promise.

Nah, bel pintu yang kubeli di Portugal ini, sengaja kuletakan di atas TV, persis di ujung tempat tidurku.  Jadi begitu bangun  pagi dan nyalain lampu, ini benda pertama yang aku lihat.  Kalo udah lihat bel berbentuk bendera ini, semales apapun aku, tiba-tiba ada semangat membara.  Langsung ambil handuk dan teriak : hajaaarrrrr…

d.     Surat Tagihan dan Jadwal Pembayaran Hutang

Di agendaku, lengkap anggaran pengeluaran tiap bulan.  Kemaren udah sampai agenda pengeluaran sampai tahun 2013, tapi karena ada beberapa perubahan, aku harus membuat anggaran pendapatan dan pengeluaran lagi.  Nah, yang ini penting.  Kalo aku lagi males, langsung inget segala macam hutang yang harus dibayar.  Belum lagi tagihan listrik, gas dan telfon.  Itu diluar pengeluaran rutin, seperti bayar kontrak apartemen,  nabung, kirim sedikit untuk keluarga di Bandung dan belanja kebutuhan pribadi.

Sebetulnya, surat tagihan dan jadwal pembayaran hutang ini ga mutlak bikin semangat 45, kadang malah bikin pusing.  Dulu, waktu rumah di Jogja belum lunas, aku nempel semacam kalender pembayaran di atas kertas besar.  Lalu kalender ini aku tempel di dinding tempat tidurku.  Nah, pernah pas lagi males-malesnya, badan udah rontok jadi a thousands pieces, tiap membuka mata aku melihat kalender ini.  Bukannya makin semangat tapi malah pening…ning…ning…  Akhirnya kalender itu aku cabut, aku remas-remas dan lempar ke kolong kasur.  Aku menarik selimut dan mecoba tidur.  Rasanya puas!

e.     Celengan Babi

Ini celengan babi yang terbuat dari kayu dan bagian bawahnya ada jendela kecil untuk kita ngambil duit sewaktu-waktu.  Apa hubungannya celengan babi dengan semangat?  Intinya, tiap sen begitu berharga, walau sebetulnya aku membuat batasan dengan hanya memasukan receh pecahan 1 atau 2 euro.  Celengan ini aku letakan di lemari kecil yang berisi pembersih muka dan parfum.  Ini merupakan  area terakhir aku nongkrong sebelum berangkat ke sawah.  Setiap pagi aku selalu menggoyang celenganku dan bilang : sampai ketemu ntar malem ya. Itu berlaku kalau aku ga punya koin untuk ditabung.  Tapi kalau aku ada receh, aku selalu bilang : met pagi.  Hari ini kamu ta’ kasih makan 3 euro aja.  Sorry, lagi bokek nih.  Sabar ya, selama 5 tahun ini makanmu seadanya.  🙂

Kesannya kayak orang gila ya, tapi memang ini konsekuensi yang harus aku tanggung setelah memutuskan membeli rumah di Bandung dan telah kusadari sepenuhnya.  Kadang yang sulit itu menahan perasaan, pengen ini pengen itu.  Kemaren aku bercerita ke ibuku, tentang tas lucu di sebuah toko.  Harganya cuma 50 Euro, tapi kok rasanya jauh banget ya dari jangkauanku.  Terbayang ranselku yang dulu kubeli untuk kuliah kondisinya juga masih bagus dan harganya pun lumayan selangit.  Tinggi badanku tergerus sebanyak 4 centimeter karena terlalu sering pakai ransel.

”Pengen beli tas,  modelnya lucu.  Tapi aku ga ada budget untuk itu.”   Awalnya ibuku ngakak mendengar penuturanku.

” Please deh Nit, masak tas 50 Euro kau bilang mahal dan ga sanggup beli?”   Tanya  ibuku.

” Ga mahal dan bukan ga sanggup beli, tapi rasanya sayang.  Daripada beli tas, mending nambahin DP (uang muka) rumah.” Kataku

” Besok Selasa, pas abis kerja kau mampir ke toko itu dan belilah tas yang kau suka itu.  Potong aja kirimanmu bulan depan.”   Sik….asik….asik…, ibuku merestui aku beli tas.  Katanya, sesekali aku boleh beli sesuatu yang aku suka.  Hidup ga cuma 3 atau 5 tahun ini.   Yang penting hidup lebih semangat.   Luv u mom! 🙂 🙂

Untuk kalian yang lagi patah semangat, bisa meniru caraku di atas.  Entah itu menempel daftar mimpi-mimpi, katalog barang yang kamu incar, map negara yang ingin kamu kunjungi, universitas yang ingin kamu masuki, pria atau perempuan yang ingin kamu nikahi dan lain-lain.  Ga ada yang mutahil.  Tetap semangat mewujudkan mimpi-mimpimu.

Salam,

Ket : gambar koleksi pribadi dan dari Google

Iklan

7 thoughts on “Menempelkan Semangat di Mana Saja

  1. GendukNdeso berkata:

    Hi Mpi…
    memang tidak ada yg mustahil di dunia ini jika kita memang benar-benar menginginkannya…dan seluruh alam semesta akan membantumu untuk mewujudkannya jikalau kau bersungguh-sungguh…hmmm..KG banget ya..Aku suka banget baca postinganmu yg ini..benar-benar INSPIRATIONAL…halah!!salam..

    • lintasophia berkata:

      Hehehehe… makasih Syukurlah kalo catatan kecil ini sedikit bermanfaat.
      Ini tulisan akhir bulan, jadi lebih ke bentuk menghibur diri sendiri karena udah diserang penyakit bokek .
      Ya, aku percaya kekuatan mimpi. Persis seperti yang mbak tulis. Makasih udah mampir, salam hangat dari sini.

    • lintasophia berkata:

      Wow… doamu bagus sekali Kang… Hatur nuhun, hatur nuhun.
      Ga pernah terpikirkan untuk jadi penulis profesional apalagi dengan bayaran, karena secara pengalaman dan materi tulisan masih jauh tertinggal dibanding yang lain. Sedikit bercerita, blog ini aku persembahkan untuk keponakan-keponakanku yang tidak tiap hari bisa aku ajak bercerita. Juga untuk (bakal) anak-anakku. Karena secara umur kalo ntar aku punya, udah tua sekali dan mungkin kesempatan untuk bersama mereka juga singkat saja. Nah, blog ini sedikit tentang aku untuk mereka.
      Kang, sekali lagi makasih untuk doamu. Semoga yang Empunya Kehidupan merestuinya. Salam hangat untukmu.

  2. Rosda berkata:

    Mpi…hidupmu rapi banget.
    Semua tertata dengan rapi dan nunut. Aku juga punya mimpi-mimpi, tapi aku tak berani mengungkapkannya, malu rasanya …jadi,cukup kusimpan dalam hatiku. Tapi tak pernah padam….dan hampir semua impianku menjadi kenyataan. Begitupun,sampai sekarang aku masih tetap bermimpi…..hahahahaaa

    • lintasophia berkata:

      Hihihi…aku ga serapi yang mbak bayangkan, cuma untuk hal-hal tertentu aja aku mencatat semua, misalnya pemasukan dan pengeluaran gaji. Untuk masalah mimpi/target hidup juga biasa aku catat. Sederhananya sih, aku catat tentang hambatan dan potensi yang ada dalam mewujudkan setiap rencana. Kemudian, berapa lama butuh mewujudkan mimpi itu. Dan yang terakhir, kalo mimpi itu gagal, kita bisa lanjut ke rencana cadangan. Ga selalu sesaklek itu sih, cuma gambaran aja. Tapi dengan membuat catatan yang rapih, kita gampang mengkoreksinya bila terjadi kegagalan.

      Aku lupa lagi baca dimana, tapi dengan membuat daftar mimpi (secara visual menarik) akan membantu otak kita lebih kuat memikirkannya dan semangat kita ga pernah padam untuk mewujudkannya. Ada hormon (pada alam bawah sadar kita) yang membuat kita fokus untuk itu semua. Membuat daftar, cocok untuk mereka yang selalu butuh ”penegasan” tentang target-target yang harus dicapai. Itu alasan kenapa orang marketing ruangannya penuh dengan grafik warna warni.
      Makasih banyak udah menyempatkan diri mampir. Salam hangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s