Dia yang Telah Kembali Menjadi Udara

Tiba-tiba aku ingin bercerita tentang sosok satu ini, yang dalam bayanganku mungil, bibir merah dengan jari-jari tangan yang kecil pula.  Mungkin dulu jari tangan itu selalu terkepal dan kakinya menendang-nendang ke udara.  Dia dalam bayanganku bersorak gembira karena setelah melewati perjuangan yang sulit, akhirnya Aria melihat dunia.  Aria menjadi salah satu manusia yang pernah eksis di bumi ini.

Cuti tahunanku masih jauh, sekitar 3 atau 4 bulan lagi, walau gosipnya untuk mudik yang akan datang dimajukan menjadi Januari.  Kebiasaan tiap Februari cuti tahunannya.   Tapi walau masih lama, tak urung membuatku harus menyiapkan agenda perjalanan dan cara menyiapkan bekal untuk mudik nanti.  Terlebih pulangnya dimajukan 1, 5 bulan dari jadwal biasa.

Agenda selama liburan yang akan datang justru mengingatkanku akan agenda mudik yang lalu.  Mestinya, kemaren pas mudik itu kami menyempatkan diri mampir ke Malang, bertemu Aria Azzura.  Seorang bocah laki-laki, anak seorang teman yang kemudian menjadi anak angkat kami.  Menjadi bagian dari aku, pacarku dan temen-temen di Yogya.

Aria Azzura, adalah nama pemberianku yang dipilih oleh teman-teman dari sekian opsi yang ada.  Aria dalam bahasa Italia berarti udara.  Sedangkan Azzura berarti biru.  Udara Biru.  Nama Aria cukup fleksibel.  Mungkin kalau di Magelang sana, mestinya akan dipanggil jadi Aryo.  Lebih kerasa unsur Jawa-nya.

Sayangnya, pas mudik lalu, aku sangat sibuk karena ada perhelatan keluarga.  Untuk berangkat ke Malang dibutuhkan waktu minimal 4 hari untuk pulang pergi.  Perjalanan ditempuh dengan bus malam.  Kemudian dengan berat hati kami harus menunda mengunjungi Aria, yakni menjadi tahun yang akan datang.  Saat waktu longgar dan keuangan lebih siap.  Karena pengen juga ngajak Aria jalan-jalan, atau sekedar membelikannya sebuah baju hangat dan satu stel pakaian warna biru muda.

Mestinya, tahun depan kami ke Malang, trus bawa Aria nginep di Jogja.  Sebelumnya, udah terbayang kita mau mengunjungi Taman Pintar dan Kebun Binatang.  Pasti Aria akan suka.  Pengennya bawa ke Bandung, tapi terlalu jauh.  Asal bisa liat Aria dan meluangkan waktu barang seminggu juga pasti akan sangat menyenangkan.  Tapi apa hendak dikata, Aria ga cukup sabar menunggu kepulanganku tahun depan.

Bulan Maret lalu, tepat beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke 5 bulan, Aria menyerah dari  penyakit Penyempitan Usus Besar.  Saat itu, kami lagi liburan di Bali.  Merupakan hari-hari terakhir di Indonesia, kami menerima telfon dari teman yang selama ini mengasuh Aria.  Adalah telfon dari Malang, bercerita tentang kemalangan pula.

Aku sangat sedih, pun dengan teman-teman yang selama ini terlibat mengurus proses kelahiran Aria.   Terlintas semangat teman-teman saat membantu Aria melewati masa sulit selama hampir 2 bulan di rumah sakit.   Bergantian menjaga Aria, jangan sampai malaikat kecil itu terlepas dari pandangan mata.  Tapi rupanya Sang Empunya Kehidupan lebih suka membuat cerita menjadi  lain.  Aria lahir pada tanggal 14 Oktober 2009, menginap hampir 2 bulan di rumah sakit.  Berarti hanya 3 bulan Aria benar-benar merasakan kehangatan sebuah rumah, merasakan kasih sayang sebuah keluarga.  Minggu kedua di bulan Maret tahun ini, Aria dipanggil Yang Maha Kuasa.

Bete? Pasti itu mah… Terlebih sebelumnya aku tidak sempat melihat apalagi menyentuhnya.  Aku tahan rasa penasaranku dengan tidak meminta foto-foto Aria.   Biar pas ketemu lebih terasa euforianya. Teringat pas musim dingin lalu, jalan-jalan ama Teh Maya ke bagian pakaian anak.  Aku sangat senang melihat pakaian anak lucu-lucu.  Terbayang juga kalau Aria mengenakan sweater biru, pasti hangat dan cakep.

Entah kenapa, dulu aku ga membeli aja sweater biru yang kutaksir di salah satu toko pakaian di sini.  Karena saati itu dalam bayanganku,  pas mudik kelak,  aku akan ke toko pakaian anak bersama Aria.  Mungkin aku akan ambil 2 potong sweater, yang satu ukuran pas di badan dan 1 satu dengan 1 ukuran lebih besar.  Maksudku, biar Aria punya cadangan sweater.  Mestinya aku kirimkan sweater biru itu.  Paling ga, Aria pernah merasakan sentuhanku.  Sayangnya aku juga ga sempat memiliki Aria meski hanya lewat selembar foto.

Tapi sutralah, semua udah terjadi.  Aku tidak pernah benar-benar menjadi seorang ibu bagi Aria.  Ga akan pernah jalan-jalan ke Taman Pintar dan Gembiraloka.  Padahal aku udah belajar cara mengurus bayi.  Dalam rencana waktu itu Aria akan di Jogja beberapa hari saja, tapi aku udah berjanji akan memperhatikan kebersihan tanganku.  Tidak akan ada kuku panjang apalagi kotor.  Rumah akan bebas bakteri.  Aria tidak akan sakit lagi.  Aku udah tahu cara membuat bubur tim yang lezat.  Bahan bakunya hati ayam dan potongan wortel serta seledri.

Itu  sisa cerita  saat mudik yang  lalu.  Mudik yang akan datang pasti berbeda.  Tidak perlu penjadwalan ke Malang, paling di rumah aja, maen ama keponakan.  Atau paling pulang ke Jogja.  Tapi kali ini tidak akan ada Aria.  Karena Aria telah kembali menjadi udara.  Bulan depan merupakan ulang tahun Aria.  Apakah  untuk dia yang telah pergi masih boleh disebut sebagai ulang tahun?  Atau cukup aku berkata : baik-baik di sana ya, nak.

Salam,

Ket : gambar dari Google

6 thoughts on “Dia yang Telah Kembali Menjadi Udara

  1. Rosda berkata:

    Hmmm…jadi Aria lah baby itu. Yach sudahlah…tak ada yang perlu disesasali, Aria sudah senang disana. Kita berencana, Tuhan yang menentukan…

  2. judistira berkata:

    “When I fall in love,
    I will be forever,…”

    cuplikan lagu diatas adalah lagu yg sering kunyanyikan berulang-ulang ketika giliranku menjaga dan menemani aria azzura ketika menghabiskan sebagian besar hari-harinya yg singkat di RSA empat lima dan RSUP sardjito.
    Menemani dan menjaga berarti siaga memberikan pelayanan terbaik yg dibutuhkan seorang bayi,membuatkan susu dengan takaran yg sesuai,mengganti popok,memandikan,membedong,menyelimuti serta mencuci pakaian kotornya yg biasanya kulakukan ketika aria terlelap dalam mimpinya.
    Kebersamaan kami yang singkat merupakan perjuangan yg yang melelahkan,bagaimanapun menyediakan kebutuhan seorang bayi yg perlu mendapatkan perhatian khusus tidaklah mudah.
    Beberapa kali kami melakukan solidaritas pengumpulan dana,dibeberapa asrama mahasiswa dan komunitas yang kami kenal,tp bagian tersulit adalah ketika berhadapan dg management RS maupun dinas sosial untuk mengurus pelayanan jaminan kesehatan masyarakat yang memakan waktu lama karena banyak sekali pintu dan meja yg harus dimasuki.
    Tapi semua itu akan terbayar ketika senyuman,tangisan dan kaki serta tangan mungilnya meronta-ronta menyambut kehadiranku saat giliran jagaku tiba.
    Selama hampir 2 bulan aria berjuang keras untuk bertahan diantara,infus,selang oksigen,alat operasi dan bau obat serta pasien lainnya.
    Perjuangan akhirnya terhenti pada minggu kedua bulan maret 2009,dia pergi melepaskan semua deritanya yang tidak dia tanggung untuk seorang bayi seusianya.
    Secara pribadi aku berterimakasih kepada lintasophia karena mengangkat kisah aria dalam tulisan diatas.

    Salam

    • lintasophia berkata:

      Cuma bisa bales : ihiks…ihiks… Jadi sedih lagi. 😦
      Ga apa, ntar kita buat anak sendiri…. hehehehehe… Makasih udah mampir dan menambahkan info tentang kondisi Aria saat itu. Luv u and take care!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s