Bohong Kalau Bilang Ga Suka Gossip

Salah satu sudut San Lorenzo

Tadi siang ada yang lagi berantem di jalan depan toko tempatku bekerja.  Terdengar suara wanita marah-marah.  Setengah teriak setengah histeris.  Awalnya aku abaikan, tapi penasaran juga.  Di toko sedang ada tamu tak mungkin kutinggalkan keluar.   Rasa penasaran membuncah tapi kupendam saja.

Suara teriakan makin keras, entah dari mana.  Setelah tamu keluar toko, aku segera meletakan patung-patung kecil yang sedang kulap.  Bergegas aku keluar mencari sumber suara, tapi aku tidak menemukannya.  Aneh, ada suara tapi ga ada wujud.  Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.  Oalaaaa….ternyata itu suara tetanggaku.  Dia tinggal di salah satu gedung apartemen di belakang toko tempatku bekerja.  Pantes aja, perempuan ini sangat berisik.  Bahkan sebelum orangnya terlihat, suaranya udah terdengar kemana-mana.

Seorang perempuan, remaja asal Bulgaria, urakan dan tidak punya sopan santun.  Dikenal juga dengan tabiatnya yang tidak mau ngantri dan suka ngutil buah dari toko buah langgananku.

Ternyata dia sedang beradu pendapat dengan seorang perempuan yang kutaksir berumur sekitar 50 tahunan.  Dia orang Bulgaria juga.  Penampilannya lebih tenang.  Tangan kanannya menggendong seorang anak kecil, sedang tangan kiri menuntun anak kecil berusia sekitar 3 tahun.   Posisi anak kecil itu terjepit diantara 2 perempuan yang sedang marah.

Walau perempuan muda yang sedang dilanda amarah itu ngamuk selama 5 menit, perempuan paruh baya ini hanya diam saja.  Paling menjawab singkat.  Dia pasrah aja saat perempuan muda itu mendorong-dorong badannya.  Dia memilih memegang tangan anak kecil yang dituntunnya.

Adegan serba tidak jelas ini menjadi tontonan semua orang yang lewat.  Film mini berdurasi 30 menit  cukup menjadi hiburan kami warga San Lorenzo. Sekalipun   siapa korban dan siapa tersangka dalam masalah ini serba abu-abu,tidak sedikit yang memilih menghentikan langkahnya dan asyik menikmati polah perempuan muda berdada besar  (sebuah payudaranya mengingatkanku akan melon dengan berat nyaris 2 kg yang kubeli musim panas lalu).  Setiap saat dadanya bergoyang.  Goyang ke kanan, goyang ke kiri.

Pasangan beda aliran ini (yang satu pendiam, yang satu doyan teriak) terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan puluhan orang.  Kerumunan makin bertambah.  Bahkan para pengunjung bar sebelah rela menunda makan siangnya demi menyaksikan peristiwa ini.  Padahal, orang sini terkenal cuek dan tidak mau tahu terhadap urusan orang lain.

Bisik-bisik mengatakan, mungkin ini masalah pembayaran yang tidak pas dari perempuan paruh baya terhadap perempuan muda.  Penonton ada yang memasang muka serius, ada pula yang pura-pura tidak tertarik.  Aku sendiri ga ngerti duduk persoalannya karena aku tidak mengerti bahasa mereka.

Kedua perempuan itu berhenti sekitar 20 meter dari tempatku berdiri. Tapi suaranya masih sama kencengnya seperti saat mereka lewat di hadapanku beberapa menit lalu.  Kerumunan penonton menghalangi pandanganku.  Waktu seakan berhenti.  Riuh break makan siang tak terdengar lagi.   Waktu berhenti.  Konsentrasi fokus cuma untuk kedua perempuan ini.

Sesekali aku keluar untuk melihat perkembangan di lapangan.  Hampir saja jambak-jambakan terjadi di tengah jalan.  Kendaraan pengangkut sampah yang hilir mudik membuyarkan rencana itu.  Tak terhitung berapa kali perempuan muda mendorong perempuan di depannya.  Dia ingin berantem secara jantan (?), tapi perempuan paruh baya itu tidak melayaninya.   Anak lelaki bersembunyi di belakang perempuan paruh baya.  Dia memilih jalan aman.

Aku masuk kembali ke toko.  Adegan itu terlalu panjang untuk diikuti semua.  Belum semenit aku masuk, lagi-lagi terdengar  teriakan itu.  Kembali kulangkahkan kaki keluar.  Mereka berbalik arah.  Kali ini iring-iringan perempuan ini lebih banyak.  Ada 2 laki-laki Bulgaria.  Dalam adegan ini tidak jelas peran mereka sebagai apa.  Jumlah penonton juga bertambah dan yang pasti, jumlah pemain figuran lebih banyak.  Termasuk 3 orang carabinieri (polisi) berjalan diantara perempuan itu.

Tampak salah satu petugas memegang lembar kerja.  Berjalan sambil mencatat sesuatu.  Entah bagaimana perasaan carabinieri saat itu.  Berjalan diantara dua perempuan yang sedang dilanda amarah dan bahasanya sama sekali tidak kita mengerti.  Bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?

Perempuan muda itu masih asyik-asyik memotong pembicaraan perempuan paruh baya yang sedang ditanyai petugas.  Perempuan paruh baya tampak tersinggung.  Jarinya menunjuk-nunjuk perempuan muda.  Perempuan muda kembali meledak amarahnya, tangannya hampir melayang ke tubuh perempuan paruh baya.  Dengan sigap carabinieri melerai aksi kekerasan ini.  Mungkin karena jam tayangnya masih siang, tidak baik ditonton anak-anak.

Suasana tegang.  Penonton terpaku.  Semua diam menikmati detik demi detik yang tersaji.  Saat keadaan makin panas, petugas yang sedari tadi sibuk mencatat menyuruh kedua perempuan itu diam. ”Ayo ke kantor polisi, kita bereskan masalah kalian di sana” Bentakan petugas tidak membuat perempuan muda surut langkahnya.  Dia menyorongkan dadanya yang tidak perlu disorongkan pun sudah aduhai besarnya.  Perempuan paruh baya terdiam.  Mungkin dia tidak menyangka urusannya akan panjang begini.  Atau mungkin tidak terpikirkan sebelumnya kalau mereka harus berakhir di kantor polisi.

Penonton yang sedari tadi tertib mengeluarkan lenguhan panjang.  Tanda protes bahwa kenikmatan mereka terganggu.  Ibarat sebuah film asyik, polisi tadi terlalu ekstrim memotong/menghentikan penayangannya.  Satu per satu penonton meninggalkan tempat dengan sesekali melemparkan pandangan ke arah 2 anak kecil, 2 perempuan Bulgaria dan 3 polisi.  Aku sama seperti mereka yang baru saja bergerak.  Sama-sama penasaran akan akhir cerita ini.

Moral cerita

Kadang kita tidak sadar bahwa sebetulnya kita menikmati kemalangan orang lain.  Entah itu gosip tidak jelas atau sekedar pertengkaran seperti ini.  Jadi, bohong ah kalau ada yang bilang tidak suka gossip.

Salam,


Ket : gambar dari Google

Iklan

2 thoughts on “Bohong Kalau Bilang Ga Suka Gossip

  1. Rosda berkata:

    Suka sih suka…tapi hanya sebatas permukaannya aja. Untuk tau lebih jauh ? Ogah ahh….masih banyak pekerjaan lain yang membutuhkan perhatian… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s