Catatan Sehabis Bertemu Seorang Romo

Tadi siang, aku bertemu kembali dengan seorang teman dari Indonesia yang sedang belajar di Italia.  Sejak Agustus lalu hingga akhir September ini dia ada pelayanan di salah satu kota kecil di Genova.   Ini adalah pertemuan ketiga, obrolan lebih akrab dan cair.  Kalau pertemuan pertama, aku masih bingung mencari topik pembicaraan, berhubung dia memperkenalkan diri sebagai seorang calon pastor.  Aku jadi takut salah-salah omong…halah…

Sedangkan pertemuan kedua cuma beberapa menit, sebab yang bersangkutan terburu-buru mau belanja ke toko oriental.  Pertemuan yang ketiga ini, nasiblah yang membawanya terdampar di toko tempatku bekerja  :).  Awalnya dia turun ke kota adalah untuk mengambil buku pesanannya ke salah satu toko buku.  Berhubung buku yang dimaksud belum ada, jadi lah mampir ke tempatku.

Penampilan orangnya biasa banget, seperti orang kebanyakanlah.  Melihat sosoknya, mengingatkanku akan orang-orang di Jogja sana.  Berpenampilan sederhana.  Lupakan tentang rosario dan kitab mungil di genggaman seorang Romo.   Tadi dia nongol dengan sweater hijau plus ransel Eiger.   Tidak tampak seperti pemuka agama.

Baru aku sadar, kalo selama ini aku ga pernah menyuruhnya duduk, padahal ada 2 kursi di toko.  Biasanya aku duduk di meja dengan kaki menopang pada salah satu kursi yang ada.  Sedangkan dia yang biasa kupanggil ”mas” (bukan kupanggil Romo)  cuma berdiri aja. Semoga Tuhan mengampuni dosaku karena tidak mempersilakan seorang Romo untuk duduk   😦

Setelah bertukar khabar, ga make cipika cipiki ,dia nyelutuk ” Bon Jovi.’‘ menunjuk komputer di atas meja yang sedang muter playlist lagu-lagu Bon Jovi.   Aku terkejut karena dia kenal juga ama band-band ”lagu duniawi.”

” Sampean tau Bon Jovi juga tho?” Tanyaku takjub.

” Lha iya noooo…”  Jawabnya.

” Kirain sampean tiap hari cuma mendengarkan kidung-kidung pujian.” Aku masih merasa terkejut

” Aku lebih suka musik jazz, tapi aku tau juga beberapa band  (musik) rock.”

” Kalo band Indonesia, siapa favoritmu?”  Perasaan, gara-gara Bon Jovi, obrolan jadi enak begini  :).

” Ah, aku malu ngomongnya.” Kata dia

” Kok malu?  Band opo tho?”

” Soale orangnya udah di penjara!”

” Whatttt….sampean suka Peterpan?”  Aku nyaris kejengkang (jatuh) dari meja karena jawabannya ini.   Wkwkwkkwkwk…. Masa seorang Romo mendengarkan Peterpan.  🙂 🙂

Akhirnya, temanku ini bercerita bahwa dia berusaha tetap up to date dengan perkembangan sekitarnya. Termasuk lagu-lagu yang sedang diminati pemuda desa dimana dia melakukan pelayanan.   Ini cara dia masuk ke remaja yang menjadi jemaatnya.

” Sayangnya aku ga bisa main gitar.  Pastinya jauh lebih asyik kalo bisa nyanyi sambil main gitar ama pemuda desa itu.” Dia tetap bercerita tanpa peduli bahwa aku belum menguasai diri seutuhnya dari kelucuan ini.

Obrolan mengalir dengan riangnya.  Harus ta akuin, Romo yang satu ini membuka mataku tentang sosok Romo yang setiap hari aku lihat mondar-mandir di sekitar Katedral.  Kebetulan toko tempatku bekerja berdekatan dengan sebuah gereja dan katedral.

Setelah beberapa saat, aku pengen merokok.  Tapi aku urungkan niatku, ga enak rasanya merokok di hadapan seorang Romo.  Rokok yang udah kuambil, kuumpetin di balik laptop yang di atas meja.  Terlintas untuk minta ijin meninggalkannya sebentar di dalam toko dan aku akan merokok barang setengah batang saja.  Rasanya, males juga kalo ntar dia memberiku petuah tentang sisi negatif tembakau.

Waktu berjalan, aku putuskan untuk minta ijin meninggalkannya beberapa menit.

” Mau kemana?” Tanyanya

” Mau ngasep sebentar.” Jawabku

” Ngasep itu opo tho?”

” Hmmmm….ini…” Aku menunjukan sebatang Marlboro Light dan lighter hitam.

” Oh…ya aku ikut.” Katanya dengan logat Jawanya yang kental

” Eh jangan mas.  Ntar asapnya kena sampean.” Larangku

” Ya ndak.  Aku juga mau merokok kok….”  Dia mengeluarkan sebungkus rokok dari ranselnya.

” Aku sukanya yang slim walau  biasanya Gudang Garam Filter.” Katanya sambil menyalakan sebatang rokok.

” Haaaaa…. sampean ngerokok juga?”

” Lha piye tho.  Aku juga manusia.  Masak udah ndak boleh punya istri masih dilarang ngerokok juga.”  Sumpah, kali ini aku ngakak lagi.

Aku bilang, selama ini dalam bayanganku seorang pastor itu sosok yang bener-bener suci.  Paling ga, itu terlihat kalo pas mereka lewat di sekitar sini.  Walau banyak juga sisi buruk para pemuka agama ini dibuat menjadi buku dan menjadi best seller.  Bayanganku tentang Romo tak tersentuh  itu terbantahkan lewat sosok Romo yang satu ini. Orangnya agak aneh tapi sangat membumi.

Jadi teringat pertemuan pertama dengannya yang sempat bikin aku parno begitu aku tahu kalo dia seorang Romo. Tapi keparnoan itu berlangsung cuma beberapa saat aja.  Orangnya sangat easy going.  Dia berbicara dengan bahasa yang cukup gaul untuk seorang Romo yang berasal dari daerah pedalaman.  Pertanyaan-pertanyaanku yang dodols (ga bermutu) kadang berlompatan gitu aja.  Tak terkendali.  Dan dia kadang juga menjawab pertanyaan  dengan gaya yang dodols juga  :o)

Banyak cerita-cerita yang terlalu pribadi untuk dibagi di sini, tapi cukup membuatku mengakui bahwa seorang Romo juga manusia biasa.  Punya hasrat dan segala macam seperti orang biasa.  Yang membedakannya adalah, mereka mampu mengolah pikirannya dan mengendalikan itu semua.  Kecuali rokok tampaknya  🙂   🙂

Salam,

Ket : gambar dari Google

Iklan

8 thoughts on “Catatan Sehabis Bertemu Seorang Romo

  1. Sophie berkata:

    Hahaha, lah iyalah Romo itu tetap manusia, moso doraemon..
    Nov, tulisannya makin ok. Kapan ya Nov aku juga bisa menulis buat diri sendiri, punya blog pribadi bukan buat orang lain 🙂

  2. lintasophia berkata:

    Aslinya, Romo yang satu ini jauh lebih kocak. Dia bercerita tentang apa aja itu make bahasa sederhana. Kadang pertanyaanku yang kesannya dodols banget, berlompatan gitu aja. Paling abis nanya, aku garuk-garuk kepala merasa ga enak hati.
    Makasih banget mbak…

  3. Sigit Kurniawan berkata:

    Cerita yang menarik. Kadang, banyak hal tak terduga datang justru saat kita membongkar balok-balok prasangka di batok kepala kita. Btw, salam buat Si Romo ya. Salam juga buat Genova… 🙂

    • lintasophia berkata:

      Bener juga ya. Kadang pikiran kita justru dikurung oleh prasangka dan mitos-mitos yang ada.
      Makasih udah mampir, mas. Ntar salammu ta’ sampaikan kalo si mas turun gunung dan mampir di tempatku bekerja.
      Take care ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s