Panik Itu Merepotkan dan Urusan Jadi Panjang

Siapa diantara kalian yang ga pernah panik?  Biasanya, kalo aku panik bakal gigit-giti kuku, pulpen plus mondar mandir.   Tapi aku ga sampe gigit-gigit sendal.  (Itu mah si Piko, gugukku yang di Jogjaj).   Kalo mau nutupin perasaan panik, biasanya cengengesan ga jelas, sambil dalam hati mengutuki sumber kepanikan.

Pagi-pagi sekali (waktu sini, udah siang di Indonesia), kakakku nge-ping berkali-kali ngebangunin aku.  Katanya lewat BBM yang aku terima, bahwa duit yang kukirim Jumat lalu atas namanya ga bisa diambil. Check baby check, segala PIN udah bener.  Tapi, tunggu dulu… Aku melakukan kesalahan menulis namanya.  Mestinya tertulis JONI PARLINDUNGAN, kok ya aku tega nulis JONI MANURUNG.  Duhhhh…ini kesalahan fatal yang pernah kulakukan.

Moneygram

Umumnya kesalahan penulisan nama terjadi pada pihak agen Moneygram.  Nama Parlindungan kadang ditulis Parundungan atau Parvindungan.  Tergantung model huruf L yang kuberikan saat menuliskan nama penerima di atas secarik kertas.  Biasanya, sebelum mengirimkan duit, kita disuruh menulis nama lengkap penerima sesuai KTP, jumlah kiriman dan negara tujuan.  Kekeliruan ga pernah ada di pihakku.

Tapi, coba lihat apa yang terjadi. setelah 3 hari berlalu, dan kami baru menemukan kesalahan fatal ini.  Akibatnya, seharian ini kakakku muter-muter agen Moneygram di Bandung.  Mencoba mengambil dana walau ada kesalahan nama.  Kakakku menjelaskan, bahwa Joni Parlindungan dan Joni Manurung adalah orang yang sama.  Nama lengkap kakakku ya Joni Parlindungan Manurung.  Hanya saja, sejak punya akte lahir sampe sagede bagong gini, marga  kami ga pernah dicantumkan. Kecuali kakakku yang cowok satunya lagi.

Hubungannya cerita apesku ini dengan judul di atas adalah : pas waktu kirim duit itu, ada kesalahan hitung dana yang aku terima.  Kronologisnya gini, aku disuruh mengirimkan duit ke Bandung oleh adikku.  Sepeninggal adikku, duit kuhitung ulang, tarolah jumlahnya 1000 euro yang terdiri dari pecahan 50 euro, 20 euro dan 10 euro.  Kemudian, di depan loket ketika dihitung ulang, ternyata dananya kurang 10 euro.

Aku angkat telfon dan terdengar suara adikku di ujung sana.  Aku ceritakan tentang dana yang kurang 10 euro.  Eh, adikku malah bilang ” Kayaknya kurang 200 euro deh.  Tadi kan kukasih 1200… (misalnya).”   Haaaa… gubrak… Konsentrasiku langsung pecah.  Tiba-tiba kepikiran, jangan-jangan duitnya jatuh di jalan pas lari-lari tadi.  Walau dalam hati aku berdoa semoga memang ketinggalan di meja.  Antrian di depan loket makin panjang karena urusan ini.   Ditambah lagi tatapan petugas pos yang sedari tadi menunggu konfirmasiku, apakah pengiriman jadi atau ga dilakukan.   Aku menganggukan kepala kepada petugas itu.  Srettt…sret…sret… Bunyi formulir pengiriman sedang dicetak.  In processing.

Dewi Fortuna

Di ujung sana,  adikku masih  menceritakan rangkaian kejadian ketika ia bertemu denganku pagi itu, mulai dari memberiku segepok duit hingga ditinggal sebentar untuk ngambil duit ke resto karena dana yang dibutuhkan masih kurang.   Kalo orang panik, semua seakan nyata.  Aku antara bingung, protes dan berusaha mengingat kejadian yang belum 30 menit berlalu.

Sebetulnya, aku masih dikasih kesempatan untuk mengecek lagi seluruh data di formulir.  Tapi berhubung isi kepala muter-muter, aku malah lebih fokus ke nominal pengiriman dan nilai tukar euro terhadap rupiah saat itu 😦.  Aku tanda tangan formulir dan petugas memberiku selembar sebagai salinan untukku and bye Poste Italiane. Selain itu, aku juga udah pengen cepet-cepet nyampe toko, barangkali duit yang dimaksud tertinggal di meja.  Atau barangkali aku masih menemukannya di jalan pas berangkat tadi.


Pagi Tadi

Sampai pagi ini, BBM-an kakakku semuanya berisi tentang ditolaknya dia mengambil kiriman.  Bahkan di bank langganan yang sudah kenal baik dengannya,  prosedur standar tetap harus dijalankan.   Karena, kalau salah ketik 1 huruf bisa dimengerti, tapi kesalahan 1 kata pada nama? Weleh….weleh…

Maaf ya Bet, udah bikin harimu kacau.  Semoga besok Dewi Fortuna mengedipkan mata padamu.  Ough….

Ayo Bet, kamu bisa…. hehehheehhe… (*nulis ini sambil garuk-garuk kepala, merasa ga enak hati).

Salam,


Ket : gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s