Keluar dari Dominasi Ungu

Met hari Minggu semua… Apa khabar?  Apa yang kalian lakukan dalam menghabiskan akhir pekan kali ini?  Berburu kebutuhan Lebaran sambil ngabuburit, nyuci dan setrika baju, atau sepanjang hari tiduran aja sambil dengerin lagu-lagu dari band Ungu?  Lha, kok bisa kemaren ngomong tentang Sepultura sekarang tiba-tiba Ungu.  Jauh amats…

Hari ini aku merasa bad mood.  Itu lho, perasaan serba ga jelas.  Ini semenjak bangun tadi, bawaan rasanya ga pengen ngapa-ngapain.  Ditambah masih batuk dan kepala berat.  Sayangnya, setiap keluar rumah, kepala juga harus dibawa ya… 🙂

Berhubung lagi suntuk dan sejuta bad mood lainnya, selesai bersih-bersih di toko, aku nongkrong di pinggir jalan.  Bukan nunggu mobil tumpangan lewat sambil ngacungin jempol.  Toko tempatku bekerja memang persis di jalan utama.  Lumayanlah bisa cuci mata.  Hari yang cerah, di tambah banyak turis yang berkunjung membuat suasana jalan ramai oleh yang lalu  lalang.

Kebiasaanku kalo duduk atau nongkrong di luar toko, ya memperhatikan orang lewat.  Barangkali dari sekian banyak makhluk yang bergerak ini, ada yang bisa jadi inspirasi untuk ditulis.  Para turis yang lewat ada yang terdiri dari tour secara berkelompok maupun perorangan.  Lucunya, yang lewat hari ini banyak sekali mengenakan pakaian berwarna ungu.   Termasuk saat aku nulis catatan ini.  Seorang cewek dengan tank top ungu nangkring tepat di depan pintu masuk.

Astaga, pengamatan warna ungu kulakukan cuma hari ini aja, dan ternyata banyak sekali yang memakai baju, celana, topi, anting-anting dan tas warna ungu.  Kalau dulu ungu tabu digunakan kaum pria, pagi ini aku menemukan banyak pasangan yang kompak berwarna ungu.  Ini pengamatan selama setengah hari, kebayang kalau aku memperhatikan warna ungu selama 2 tahun ini.  Bisa gila!

Jadi teringat 2 minggu lalu saat aku jalan-jalan ke pertokoan.  Koleksi terbaru untuk autumn dan winter 2010 masih didominasi oleh warna ungu.  Artinya, sampai awal musim semi tahun depan kita masih ditawarin segala macam yang berwarna ungu.   Padahal  trend warna ungu sudah berlangsung selama 2 tahun ini.  Lama-lama bosen juga nih melihat ada ungu dimana-mana.

How purple is your love

Kembali lagi ke masalah warna ungu tadi.  Di salah satu toko aku mencoba sebuah gaun, modelnya aku suka.  Klasik dan simple.  Di ruang ganti, aku menatap sosok bergaun ungu sedang mematut diri di depan cermin.  Rasanya aneh melihat tubuhku dibungkus warna lain.  Tiba-tiba gaun itu keliatan jauh dari menarik.

Seingatku, ga satu pun pakaianku berwarna ungu, abis ga suka sih.  Dulu, waktu ibuku tinggal di sini, beliau kadang nyetrika bajuku.  Nah, kadang kalo aku nyari kemejaku yang item, ibuku suka bingung jawabnya.  Karena 90 % kemejaku warna hitam.  Bahkan beberapa kemeja dengan model yang sama pula.  Ini ga aku sarankan.   Keliatannya aku ga pernah ganti baju.  Mengikuti saran ibuku, agar aku membuka diri terhadap warna lain, maka pelan-pelan duniaku lebih berwarna, tapi tidak satu pun berwarna ungu.

Baru sekitar 2 tahun ini aku memiliki tambahan berupa beberapa kemeja warna coklat atau abu-abu.  Selain itu, aku punya 1 kemeja warna pink (yang aku pakai sebagai avatar) dan 1 lagi warna merah.  Setelah aku beli setahun lalu, belum pernah aku pakai sama sekali  😦 .

Mengapa begitu banyak yang suka warna ungu?  Berdasarkan penelusuran di internet, warna ungu melambangakan kemewahan.  Selain itu, ungu berarti senang akan perhatian.  Sifat ini didapat dari warna merah sembagai salah satu komponen pembentuk warna ungu setelah bercampur dengan warna biru.   Apakah artinya kita  mencintai kemewahan?  Kadang aku juga sesuatu yang mewah dan glamour  :), kecuali warna ungu.   Mungkin awalnya menarik, tapi akhirnya warna ungu tidak mewah, karena semua orang mengenakannya.  Warna ungu menjadi  sesuatu yang umum dan membosankan.  Kalau dipakai ramai-ramai, itu namanya seragam ungu.

Membandingkan ungu dan hitam yang bermakna lebih tenang, klasik dan agak misterius.  Mungkin ini istilah lain untuk kepribadian yang tidak suka menjadi pusat perhatian. (Kalau yang ini, tampaknya mirip dengan kepribadianku).

Trend ungu ini udah berlangsung cukup lama dan kaum pria juga menyukainya.  Apakah ini pertanda kalau tiap individu  sedang membutuhkan pengakuan akan eksistensi dirinya?  Apakah ungu berarti sebuah pengakuan bahwa : AKU ADA. Gimana dengan kamu?

Sedikit konyol, aku sendiri berharap  ini periode terakhir untuk trend warna ungu.  Aku bosen. Kembali  mengutip ucapan ibuku, dunia tidak hanya warna hitam, putih dan abu-abu.  Ada biru, hijau gading dan merah.   Tapi tidak juga cuma warna ungu.   Aku pengen berjodoh dengan ungu, tapi kasih aku waktu sampai aku merindukannya.  Aku pengen keluar dari dominasi warna ungu.

Salam,

Ket : gambar dari Google

Iklan

2 thoughts on “Keluar dari Dominasi Ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s