Penyakit itu Bernama Konsumerisme

Pengantar

Berikut ini adalah penggalan percakapan antara tetangga depan tempatku bekerja dengan salah seorang pelanggannya.  Perempuan penjual makanan hewan itu bernama Cristina atau berikutnya kita singat CPS (Cristina Pet Shop.  Sedangkan pelanggannya ada PBP (Perempuan Bersepeda Putih), memang pelanggan ini sedang menggunakan sepeda warna putih.

‘ Wah bo, daerah ini sepi sekali… Cuma kalian aja penghuni tetap yang berkeliaran di sini.” Obrolan dibuka PBP.

” Lha emang begini kalo summer, tau sendiri pan orang sini pasti travelling keluar kota atau sekedar pergi ke pantai.”

” Wah, naga-naganya krisis udah lewat nih….” Ledek PBP

” Lewat apaan?  Lewat dari Hong Kong?  Liat aja sebentar lagi tiap orang mengeluhkan ga punya duit karena habis liburan.”

” Lha, yang namanya abis liburan pasti bokek tho?  Emangnya salah ya kalo orang sekali-sekali menyenangkan diri?” Kilah PBP

” Wait, ini mah bukan masalah senang tidak senang, tapi orang kita itu lho… Libur dikit pergi vacanze  (jalan-jalan). Cuma Harpitnas pergi ke montagna (gunung).  Summer begini, kota hampir kayak kota mati, semua pergi ke pantai.”   CPS menghitung ultang kaleng-kaleng makanan anjing.  Dia lupa tadi hitungannya udah sampai mana karena keasyikan ngobrol.

Pantai merupakan tujuan favorit saat liburan musim panas

” Kau aneh deh Cris.  Libur sebentar komplein, orang pergi ke gunung kau komplein juga.  Bahkan summer begini kau kritik juga.  Trus enaknya gimana?”  PBP memisahkan kaleng yang sudah dihitung ke sebelah kiri meja.

” Bukan vacanze yang aku ga suka, tapi gaya hidup orang kita itu yang pengennya bersenang-senang.” Kayaknya, baru kali ini aku denger cara pemikiran seorang Cristina.  Bertahun-tahun kenal, aku belum pernah ngobrol panjang lebar dengannya.

” Tau ga sih, aku pikir kadang orang kita itu taunya cuma mengeluh tentang krisis, tapi mereka ga mau adaptasi dengan keadaan.” Tegas CPS lagi.

” Ya sudahlah, toh itu duit mereka.  Bokek ya mereka sendiri yang pusing.  Aku cabut dulu ya.  Dadaaahhh….” PBP memasukan belanjaannya ke keranjang sepeda, meninggalkan CPS yang masih manyun.

Gaya Hidup Orang Italia

Apa yang diutarakan penjual makanan hewan itu ada benarnya.  Orang Italia itu sangat suka bersenang-senang, walau krisis keuangan tiap hari menjadi tontonan di televisi.  Sebagai gambaran, pada bulan Juli akan dimulai libur musim panas.  Puncaknya pada bulan Agustus, yakni terjadi eksodus para traveller.  Di kotaku sendiri, kebanyakan toko pada tutup bulan Agustus.  Perekonomian berjalan cuma sekitar 20 %.  Paling yang buka restoran China atau toko-toko yang pemiliknya orang asing.

Tutup untuk Liburan

Untuk tahun ini, toko tutup lebih pendek dibanding tahun sebelumnya.  Jikas sebelumnya rata-rata tutup selama 4 minggu, maka tahun ini berdasarkan pengamatanku sekitar 2 minggu saja.  Kalau aku tidak begitu sepakat kalau kota dibiarkan seperti kota mati, karena sangat sulit untuk berbelanja.  Rasanya juga turis akan kecewa bila berkunjung ke sebuah kota dengan fasilitas seadanya.

Sebetulnya, pemerintah sudah mengeluarkan himbauan agar aktivitas ekonomi tidak berhenti pada saat libur musim panas.  Tapi tampaknya semua menutup mata akan himbauan itu dan ramai-ramai angkat koper meninggalkan kota.

Lalu, apa hubungannya liburan dengan konsumerisme?  Menurut wikipedia, konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksisecara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.

Bila jalan-jalan pada musim panas tak dapat ditinggalkan lagi maka besar kemungkinan dia sudah addicted.  Umumnya, bila seseorang sudah ketergantungan, maka dia akan memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhannya.  Bukankah sesuatu yang memaksakan diri dan berlebihan itu tidak baik?

Libur Kreditan

Beberapa tahun ini, muncul paket-paket liburan yang bisa dicicil pembayarannya setelah kembali dari liburan.  Aneh? Tapi ini banyak peminatnya lho…  Seperti orang ngajuin KPR ke bank, ada 2 cara yang bisa ditempuh.  Pilih paket yang ditawarkan agen perjalanan atau buat sendiri rencana perjalanan Anda.  Semua biaya akan ditotal dan dibuat sistem pembayaran sesuai kemampuan kita.

Bukankah ini membantu masyarakat yang ingin jalan-jalan tapi ga punya duit?  Jangan terlena.  Ini jebakan yang akan membuat Anda masuk dalam lingkaran utang yang sebetulnya bisa dihindari.  Beli sesuatu kalau memang udah punya duit, termasuk jalan-jalan.

Kadang aku bingung, orang sini kapan punya duitnya kalau jalan-jalan terus?  Selain liburan musim panas, maka libur Natal dan Tahun Baru biasanya dipakai jalan-jalan ke rumah keluarga untuk merayakan Natal.  Lalu, akan ada libur Paskah.  Belum lagi Mayday dan libur (tanggal merah untuk merayakan hari para Santa/Santo).  Jadi, kebayang kan dalam setahun berapa kali orang Itali pergi jalan-jalan.

Kembali ke topik konsumerisme.  Kalau diperluas, konsumtif ini bukan cuma urusan jalan-jalan tapi bisa kita tambah ke gaya hidup lainnya, misalnya aperitivo (hang out/cocktails), belanja-belanji, aneka hadiah untuk berbagai kesempatan dan masih banyak lagi.

Aneka Kado. Salah satu penyebab bengkaknya pengeluaran keluarga

Untuk urusan belanja, orang Italia sangat gila mode dan merk.  Menurut pengamatanku, dalam setahun orang sini minimal belanja pakaian 6 kali, bahkan mungkin ada yang tiap bulan.  Italia memiliki 4 musim, yakni ; musim dingin, semi, panas dan musim gugur.  Nah, setiap pergantian musim rata-rata beli pakaian dan sepatu baru.  Itu belum termasuk asesoris  pelengkapnya (tas, ikat pinggang, kalung, gelang, anting-anting, kaca mata dan sebagainya).  Disusul kemudian dengan belanja pada musim SALE.   Aku akuin, SALE memang memiliki kekuatan magis yang kadang ga bisa ditolak untuk membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan.

Oittssss….cerita belanja belum selesai sampai di sini.  Masih ada belanja untuk kado ulang tahun, Natal dan San Valentino.  Alamaaaakkkkk….  Bagaiamana cara orang Italia membagi gajinya untuk hidup seperti ini?  Hihihi… mungkin ini cuma keanehan untukku, tapi untuk orang Italia biasa aja tuh… hahahahhaha….

Udahan dulu ah cerita isengnya.  Gemes aja kalo hasil nguping tadi ga dibagi untuk temen-temen semua.  Moral ceritanya ya simpel aja sih.  Jangan berlebihan dan memaksakan diri.  Apalagi untuk hal yang ga penting.  Jangan sampai kena penyakit konsumerisme.  🙂

Salam,

Iklan

2 thoughts on “Penyakit itu Bernama Konsumerisme

  1. saw-bandung berkata:

    mirip sama orang2 rantau kayak saya. Setahun menabung, habis dalam sekejpb untuk mudik tahunan. Orang bilang, kapan kayanya orang2 macam saya, setiap punya uang yang di pikir mudik ke kampung halaman melulu.

    :D:D:D

    • lintasophia berkata:

      Yah biarin aja teh orang mau ngomong apa. Selama kebutuhan utama uda dipenuhi, pulang setahun sekali aku pikir ga masalah. Asal jangan berlebihan dan bikin rugi bandar… hehehehehe.
      Met shaum ya teh, met nyiapin keperluan mudik. Makasih udah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s