Phobia Obat

Pengantar

Pasar Sehat

Tadi sore, oleh majikan aku disuruh berburu obat ke apotik.  Aku sebut berburu obat, karena ini hari Sabtu, biasanya apotik buka setengah hari saja.  Terlebih lagi musim liburan seperti sekarang ini.  Bla bla bla…nama obat udah kudapat dan senang sekali karena aku tidak harus pergi ke kampung sebelah untuk mendapatkan obat yang dimaksud.  Ternyata apotik di dekat tempatku bekerja masih buka sampai sore tadi.  Thank’s God (* sambil kedip-kedip).

Obat yang dimaksud oleh majikanku udah di tangan.  Sebuah botol plastik warna kuning.  Mendadak aku pengen beli obat flu juga untukku yang udah 7 (hari) susah tidur karena idung mampet.  Suara pun udah serak-serak becek mirip suara Dewi Perssik (* smile).

” Aku butuh obat pilek.” Kataku ke petugas yang ada sambil menunjuk idungku.  Ini merupakan apotik langgananku.  Dulu, dia suka membantuku membuatkan janji untuk kunjungan ke laboratorium.  Terakhir, aku beli obat di sini tahun lalu karena urusan Sinusitis. Orangnya sangat sabar…bar….bar….

” Pilek dan demam?” Tanya si pak tua.

” Udah batuk juga.” Dia membenahi letak kacamatanya.  Berfikir sejenak.  ” Udah flu berapa lama?” Identifikasi masalah sedang dilakukannya terhadapku.

” Seminggu, pak….”

” Udah ke dokter?”

” Belum, pak….”

” Whatttt….seminggu flu tapi ga ke dokter?” Tanyanya terkaget-kaget.  Belum tau aja bapak ini kalau di negaraku banyak orang yang sampai bertahun-tahun walau sakit tapi terbiasa ga ke dokter.  Hehehehehe….

” Tau ga sih, jaman edan kayak gini banyak penyakit berbahaya diawali dengan gejala flu.  Kelihatannya sepele.  Tapi setelah 3 hari gejala flu ga reda, segera ke dokter.  Virus flu-mu bisa menyebar dan menyebabkan orang lain sakit juga.   Ojo ngeyel ” Tekannya.

” Manut, Pak Dhe…”

Salah satu obat flu bebas resep dokter

” Ambil ini…” Dia memberiku sekotak kecil Zerinol.  Tertulis komposisinya parasetamol dan clorfemina maleato. Keluaran Boehringer Ingelheim.

” Apakah ini pahit?  Aku mau ambil Supradyn aja.” Tolakku sambil membaca informasi yang tertera di kemasan obat.

” Hampir semua obat pahit.  Kalau mau, ada yang rasa strawberry tuh.  Tapi untuk anak-anak. Mau?”   Petugas yang udah kukenal bertahun-tahun ini tertawa mendengar pengakuanku.

” Aku ga suka obat…” Kataku memberi alasan.

” Mana ada orang yang doyan ngemil obat.  Ada-ada aja.  Lagian, Supradyn itu multivitamin.  Ia menjaga kondisi tubuh dan mencegah flu.  Kalau udah kena flu, apa boleh buat, kau harus minum obat.”   Yahhhh…. akhirnya aku nyerah juga dengan pak tua ini.

” Minum pagi dan malam setelah makan.” Ahhh syukurlah cuma 2 kali sehari…

” Jangan lupa, kalau dalam beberapa hari masih flu, segera ke dokter.

” Yes, sir…” Jawabku sambil meninggalkan apotik.

Phobia Obat

Mungkin aku bukan satu-satunya orang yang takut atau tidak suka minum obat.  Kapan persisnya aku ga suka obat, ga begitu jelas juga sih.  Bisa jadi  pas SMP, kala aku sering mendapat serangan sakit kepala.  Dulu, aku rutin berobat ke Hasan Sadikin Bandung.  Perawatannya lumayan lama dan yang aku ga suka itu bentuk obatnya gede-gede, pahit dan suka nyangkut di tenggorokan.  Kadang termuntahkan kalau perutku menolak.  Butiran obat yang tidak termuntahkan ini biasanya bentuknya udah agak encer karena bercampur air saat minum obat.  Rasanya makin pahit bukan main.  Akibatnya, sering obat-obat itu bersarang di bawah kasur atau kolong tempat tidurku.

Organ Reproduksi Perempuan

Periode lain dimana aku harus minum obat dalam jangka waktu panjang itu sekitar 8 tahun yang lalu.  Ginekolog menghadiahiku vonis penyakit kista.  Obatnya banyak, segenggaman tangan.  Warna-warni, tapi rasanya tetep aja sama. Pahit.  Kalau ga keingetan harga obatnya yang sangat mahal plus biaya kunjungan  ke dokter, pasti aku udah umpetin obat-obat itu di bawah kasur.  Hal yang sama sering aku lakukan waktu pengobatan kepala dulu.  Penyakit kayak gini ga boleh lengah, karena ukuran kista harus dikontrol secara rutin.  :(

Nah, dalam 2 tahun terakhir ini kondisi badan juga udah menunjukan gejala turun mesin.  Walau sekedar flu tapi cukup mengganggu.  Konyolnya, tiap aku mudik pasti sakit.  Tahun 2009 lalu, dengan susah payah aku menarik badanku ke ruangan dokter di apotik Guardian bandara Changi, Singapore.  Dokter yang masih muda dan juga ramah itu menghadiahiku sekantung obat flu.

Tahun ini kejadian yang sama terulang lagi.  Bahkan selama liburan di Bali, aku terpaksa rela tiap malam demam.  Liburan cuma sebulan lebih, tapi terhitung 3 kali berurusan dengan rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta.  Ada-ada aja nih…. Mudiknya sehat tapi  baliknya sakit melulu.  Salah satu yang menjadi catatan untuk kuperhatikan adalah; aku punya kebiasaan buruk bahwa aku ke dokter kalau kondisiku udah mengenaskan  :(

Penutup

Aneka model dan warna tablet

Kadang pikiran buruk kita justru mengurung kita untuk hidup lebih sehat dan maju.  Mudik 6 bulan lagi…. Horeeee…. Dan aku udah bertekad untuk jaga kesehatan  (* crossed fingers).  Mudik sehat, balik pun harus happy dan lebih sehat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s