Menikmati Rindu pada Ibu

Beberapa hari lalu aku ngobrol dengan teman lama.   Dia menanyakan kapan aku mudik dan kemungkinan nanti kami ngopi bareng.  Aku jawab ” Insya Allah bulan Februari yang akan dateng.’‘   Dia kembali bertanya, apakah aku udah beli tiket pesawat hingga seyakin itu menjawab Februari yang akan datang.  Lalu aku bercerita dikit tentang kebiasaan kami mudik setiap bulan Februari.

Dia mengomentari bahwa aku cukup royal untuk pulang setiap tahun.  Seandainya biaya tiket dan akomodasi plus oleh-oleh untuk pulang diinvestasikan pasti sudah menghasilkan banyak duit.  Mungkin komentarnya benar, ini aku akui.  Malah kadang bukan masalah royal, karena kenyataannya untuk bisa pulang juga harus menabung beberapa bulan sebelumnya.

Sekedar saran katanya, apakah ga lebih baik pulang setiap dua atau tiga tahun aja, biar lebih heboh kangennya.  Lagian lebih hemat… Hahahahahah, boro-boro kali bertahun-tahun, aku ga nelfon beberapa hari aja, ibuku pasti udah komplein.  (Seminggu bisa beberapa kali aku nelfon ke rumah.  Sedangkan ke pacar bisa berminggu-minggu ga aku telfon.  Sorry…kekekekekek… ).  Ga ada temen, katanya.  Padahal ibuku cukup aktif di arisan atau kumpulan gereja selingkungan rumah.   Mustahil sebetulnya beliau kesepian.

Aku dan ibuku sangat dekat, seperti layaknya sahabat.  Obrolan sangat lepas dengannya.  Dulu, waktu aku remaja, aku melihat ibuku sebagai perempuan tangguh sekaligus funky kopral.  Beliau sangat mudah berbaur dengan teman-temanku yang berasal dari berbagai kalangan.  Cenderung polos dan ngomong apa adanya.  Tidak sekali dua kali kami mengeledeknya.  Ya itu tadi, kami semua sangat dekat dengannya.   Kadang sih ga sabar juga kalau sifat pikun atau kanak-kanaknya mulai keluar.

Saat ini usianya jalan 63 tahun dan semoga masih bisa bersamanya lebih lama lagi.    Kembali lagi ke masalah mudik tiap tahun yang tadi aku bahas bersama teman lamaku.  Dilihat secara materi, pulang tiap tahun memang memberatkan.  Tapi berat atau tidak bisa kita minimalisir, kita bisa beli tiket low price.   Selama di Indonesia berpaket hemat, sing penting bisa ketemu ibu.

Ada satu hal yang bikin aku berjanji untuk akan pulang tiap tahun selama beliau masih hidup, yakni membayar kebersamaan yang dulu masih terasa kurang.  Dulu, pas hidup di bawah garis kemiskinan, tidak mudah bermanja-manjaan dengannya, walaupun ibuku selalu dekat dengan kami.  Ketika ibu sempat tinggal beberapa tahun di sini, aku juga sibuk banget kerja.  Tak jarang kupandangi wajahnya yang tertidur pulas di sebelahku.  Dalam hati diam-diam aku minta maaf karena sering mengabaikannya.  Di beberapa malam saat aku tidak sempat memandangi wajahnya, kadang aku seperti melihat kerutan baru di wajahnya.  Apakah setiap kerutan itu sebagai episode ceritanya yang kulewatkan?

Beberapa waktu ini kondisi kesehatan ibuku kurang stabil, ada aja masalahnya.  Mulai dari flu, batuk karena pancaroba hingga kesulitan jalan karena kegemukan.  Di ujung telfon sana, ibuku berusaha ceria.  Tapi aku mengenalnya selama 30 tahun lebih dan aku yakin ia sedang merasakan kondisi yang tidak fit.

Aku ungkapkan kekhawatiranku tentang kesehatannya, tapi ibuku ga mau ngaku kalau dia sakit.  Semua sakit dianggapnya sebagai gejala flu dan batuk.  Pastinya ibu ga mau menambah beban pikiran kami.  Pernah aku bilang kalo aku kangen, tapi ibuku malah ketawa dan nganggap aku cengeng.  Abis itu aku ga pernah lagi bilang kalo aku kangen padanya.  Paling aku bilang pengen pulang ketemu keponakan.  Dan ibuku juga ga pernah bilang kangen ama aku.  Dasar aneh.

Beberapa hari yang lalu, suaranya agak lemah, katanya kecapaian.  Aku memintanya untuk jaga kesehatan.  Aku sangat takut untuk kehilangannya, belum siap dan ga pernah siap.  Tapi dasar orang tua, diajak ngobrol gituan ibuku malah mengalihkan pembicaraan tentang koleksi tasnya yang mulai berkurang karena diberi ke saudara yang main ke rumah.  Kami sangat cocok kalau udah berbicara tentang tas-tas lucu… hahahahaa… mungkin itu satu-satunya topik yang pas untuk kami.  Sedangkan topik yang kadang kami hindari adalah tentang pernikahanku.  Sorry ya mom, yang ini mah ntar aja kita bahas pas pulang nanti ya.  Sambil berburu tas.

Obrolan tentang tas ini menyita hampir satu jam pulsa ditelfon.  Sebelum mengakhiri pembicaraan, aku ingatkan kembali beliau untuk jaga kesehatan.  Takut ada apa-apa.  Kata ibuku, semua rambu-rambu dan pantangan sudah ditaati.  Tapi kalo masalah umur mah hak prerogatif yang di Atas.  Bisa aja kita-kita yang masih muda ini mendahuluinya…

Kenapa beliau setenang itu? Saran bijaknya keluar; Ga penting berapa lama kita hidup, tapi lebih penting itu kita ngapain aja selama hidup.  Ahhhh….mendengar itu rasanya aku ingin pulang dan sujud di kakinya.  Bulan Mei lalu, pas ultahnya aku mengucapkan selamat ulang tahun, semoga panjang umur.  Lagi-lagi ibuku ketawa saat aku memintanya berdoa biar dikasih sehat dan umur panjang.

” Mana boleh ngomong gitu.  Terlalu banyak minta ntar Tuhan marah.  Kemaren beliau udah berdoa minta dikasih kesempatan untuk melihat kakakku menikah, dan terkabul.  Sekarang masa doa yang sama lagi biar bisa liat aku nikah. ”Lha, wong kau aja belum tau kapan nikahnya”. Gubrakkk… ”Jangan bikin Tuhan bingung karena terlalu banyak permintaan.” Katanya lagi.  Weeewwww….bete deh  😦

Mumpung orang tua masih hidup, aku usahakan pulang.  Demikian aku reply message dari temanku.  Duit masih bisa dicari sedangkan waktu dan kesempatan ga bisa diulang.  Tadi ga sengaja ke-klik lagu Bunda-nya Melly Goeslaw dan aku berjanji untuk menuliskan sesuatu tentang ibuku.  Berjauhan gini memang lebih berat kangennya, tapi dinikmati aja.

Salam,




Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s