Terbanglah Kemana Angin Membawamu

Honey, aku sekarang nyampe Bali.  Akhirnya aku menginjakan kaki di Bali. Itu salah satu potongan messages petualangan Ipung (partner tetapku saat ini, entah nanti) yang masuk inbox-ku hari Selasa (12/8) pukul 00.28.  Walaupun masih jauh dari kota tujuan Sumbawa, tapi aku bersyukur semua lancar.  Perjalanan kali ini agak spesial, karena benar-benar bertualang (setidaknya demikian penilaianku berdasarkan report-nya). Ipung mencatat semua rute perjalanan kali ini, dan berjanji kelak membawaku mengulang petualangannya (semoga ga nyasar…)

Sebagian sms tentang rute perjalanan dengan menyesal harus kuhapus, mengingat daya tampung handphone yang rendah.  Tapi sebagai gambaran, Ipung dan Daviv yang asli Sumbawa berangkat pagi dari Yogyakarta menuju Banyuwangi, secara estafet. Dari sini masih jauh perjalanan yang harus ditempuh, karena harus menggunakan ferry untuk tiba di Bali sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Lombok.  Transportasi laut banyak berperan dalam perjalanan kali ini (salah satu alasanku untuk khawatir, Ipung tidak bisa berenang).  Setelah tiba di Lombok, perjalanan masih jauh hingga Tambora sebagai tujuan utama.

Rabu (13/8) pukul 15.45, ada sms masuk kami sudah sampai di rumah Daviv (lega rasanya).  Rencananya setelah istirahat dan silaturahmi dengan keluarga Daviv, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Tambora, tempat dimana Ipung akan memberikan Pelatihan Kepemimpinan bagi pemuda setempat.

Sebetulnya, ketika hari Minggu lalu Ipung memberitahu rencananya untuk ke Tambora, aku agak keberatan, mengingat rutenya yang agak sulit.  Tapi, kami berkomitmen untuk tidak pernah menghalangi langkah  pasangan, terlebih bila hal itu sesuatu yang positif dan berguna untuk orang banyak.

Ipung bercerita sedikit tentang acara yang akan diikuti dimana ia menjadi salah satu motivator (lebih enak didengar daripada istilah pembicara).  Jadi, ini bukanlah acara pelatihan kepemimpinan yang biasa mendatangkan pembicara-pembicara hebat, berada di hotel-hotel ber-AC, makanan yang tersedia pun biasanya lezat.  Untuk mengisi acara ini, di ranselnya Ipung membawa sendiri logistik yang terdiri dari roti, mie instan dan kopi.  Ini langkah tepat, karena perjalanan Yogyakarta-Tombora memakan waktu hampi 3 hari, estafet dan berganti-ganti alat transportasi.

Pelatihan Kepemimpinan ini berkelas kampung, atau mungkin sangat kampung, karena berada sangat jauh dari kota dan aku sendiri tidak pernah mendengar nama dan gaung kota ini.  Semangat perubahan yang ada dalam hati pemuda-pemudi Tambora inilah yang menguatkan hati Ipung untuk berkunjung.  Ini merupakan kunjungan pertama Ipung ke Tambora, bahkan kedatangannya juga sebagai kunjungan balasan atas kedatangan beberapa orang perwakilan dari Tambora untuk pelatihan kepemimpinan di Yogyakarta tahun lalu, dimana Ipung juga terlibat sebagai motivator.

Aku dan Ipung tidak sempat berbicara banyak tentang kegiatannya kali ini. Tapi menurutku, bila diundang orang sekampung untuk kegiatan kali ini, berarti kegiatan sebelumnya bermanfaat dan menarik minat orang banyak.  Kami percaya, bila seorang pemimpin bisa lahir di mana saja, entah di kota besar, dari sawah, hutan, gunung bahkan dari Tambora.  Semangat ini agaknya yang menguatkan Ipung untuk mengangkat ransel dan dengan mimpi telah berada di Tambora, mereka dapat melewati rintangan yang ada. Ipung sedang menjumpai cintanya di Tambora.

Oh ya, sedianya teman-teman dari Tambora yang akan datang ke Yogyakarta seperti tahun lalu,  tapi ternyata dengan mendatangkan lebih akan lebih menguntungkan, karena semua orang bisa terlibat, efek yang dihasilkan pun lebih besar daripada menjadi motivator untuk beberapa perwakilan pemuda Tambora, dan tentu saja lebih ekonomis.

Seorang teman bertanya, resep awet kami dalam menjalani Long Distance Relationship (LDR) selama hampir 8 tahun ini  (buset dah, dipake nyetak anak udah dapet berapa biji…).  Aku suka ketawa sendiri mendapat pertanyaan seperti itu  (bahkan sejujurnya, tidak ada resep khusus!).  Yang jelas, LDR itu berat di pulsa dan berat diongkos hehehehe.

Tapi bagi kami, cinta itu saling menguatkan dan saling mendorong demi kemajuan setiap pribadi. Keep support one each other.  Sangat jarang kami melarang kegiatan partner, karena selama partner suka kegiatan tersebut dan bermanfaat, ya why not… It’s so easy that’s right?…

Sehari ini aku baru terima 2 smsnya, yang menceritakan bahwa mereka telah tiba dengan selamat di Tambora.  Dari awal Ipung sudah cerita bahwa mungkin di Tambora  tidak ada jaringan atau bakal sulit berkomunikasi, tapi aku tidak perlu khawatir karena semua akan baik-baik saja.

Doa merupakan bagian dari cinta yang luas, menguatkan, tanpa batas dan dapat menembus hutan, gunung, laut , sungai bahkan samudera.  Aku saat ini yang berada di Eropa hanya dapat mengirimkan dukungan dengan berdoa bahwa semua akan baik-baik saja.  Aku percaya bahwa Tuhan yang Maha Baik akan menjaga mereka.

Cinta itu membebaskan, ia tidak mengikat sang partner di sangkar khusus.  Cinta itu harus disebar hingga ke tempat yang bahkan sebelumnya tidak pernah kau dengar.  Bagiku cinta itu seluas alam raya, terbanglah kemana angin membawamu.

Salam,

Ge, 13 Agustus 2008 (* pertama kali ditulis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s