Ajarkan Cuci Piring Sekarang Juga

Malem semua, selamat datang di Ruang Keluarga Lintasophia.  Belakangan ini aku kembali suka menulis, untungnya Lintasophia punya motto ; Mencatat hal-hal biasa.  Jadi yang kutulis juga hal-hal light aja.  Seandainya ekspektasi atas tulisanku di blog ini sesuatu yang dalem dan berat, aduh maaf ya untuk saat ini belum bisa aku penuhi.

Sumber tulisanku juga ga jauh-jauh dari yang terjadi di sekitarku.  Seperti hari ini, aku pengen ngobrol tentang profil remaja sekarang, terutama kebiasaan di rumah.  Temanku tadi nanya info, apakah aku punya pekerja domestik (pembantu) yang bisa dipake selama beberapa hari sebelum dan sesudah Lebaran (lama-lama, hobiku nambah nih, selain konsultan perkawinan juga agen pekerja rumah tangga… hehehehehe…).

Dari informasi yang kudapat, pas Lebaran ntar rumah temanku menjadi base camp seluruh keluarga untuk ngumpul seperti kebiasaan tiap tahunnya.   Aku sarankan, nyari pekerja itu sebagai pilihan akhir aja.  Bukankah nanti anggota keluarga bakal nambah, kenapa ga bagi-bagi tugas aja?

Masih menurut temanku, bahwa anggota keluarga yang kumpul kebanyakan paman dan bibi, jadi udah lumayan sepuh. Tak pantes dan ga enak rasanya meminta mereka untuk kerja rodi selama Lebaran nanti. Bukankah mereka tamu?   Hmmm, ada benernya juga sih.  Lalu bagaimana kalau memberdayakan para keponakan aja?  Toh mereka udah gede.  Lagian, ga perlu pekerjaan rumah tangga yang sifatnya berat-berat dan bisa ditunda untuk dilakukan pas ngumpul nanti, misalnya ngepel rumah, membersihkan jendela, taman dan sejenisnya.   Untuk pekerjaan itu, mungkin bisa minta tolong si bibi untuk merampungkannya sebelum mudik.  Para keponakan bisa kita minta tenaganya untuk mencuci piring, membersihkan bak mandi, membuang sampah dan sejenisnya.

Kalian tau jawaban temenku? Doooohhh, boro-boro kali ngebersihin bak mandi, nyuci piring aja ga bisa. Please deh, masa anak SMP dan SMA ada yang belum kenal tekhnologi mencuci piring?  Suatu pekerjaan yang usianya hampir sama dengan manusia itu sendiri, kecuali dia makan make daun  (*smile).

Aku ungkapkan penasaranku mengenai keterampilan minus keponakannya ini.  Kata temenku, rata-rata keluarganya punya pekerja domestik.  Tugas seorang anak adalah belajar dan sekolah.  Oke, aku ngerti kalau seorang anak harus belajar.  Tapi bagaimana dengan hidupnya sehari-hari di rumah, apakah semua dilayanin ama si bibi?  Enak betul….

Temanku membenarkan ucapanku.  Katanya, di rumah si bibi yang masak, nyuci dan nyetrika.  Keponakan temanku cukup mengumpulkan pakaian kotor dan nanti pas dia pulang dari sekolah dia akan menemukan semuanya telah bersih dan disetrika.  Begitu pun kamar dan tempat tidurnya. Buset dah, masa anak SMA tempat tidur masih dirapikan orang lain? Alasannya karena dia berangkat sekolah cukup pagi.  Hahahahahha, emangnya ngerapihin tempat tidur butuh sejam?  Hermannn….herman…. (baca : herannn….heran…).  Tapi kata temenku yang kebetulan berasal dari keluarga berada, sampai usianya nyaris kepala tiga, bisa dihitung berapa kali dia mencuci piring.  Itu pun biasanya kalau terdesak, atau kebetulan makan bareng di rumah teman.  Ini mah jaga imej judulnya.

Entahlah, untukku ini cukup ganjil dan ini bukan pola asuh yang aku suka.  Sayangnya, keponakan orang lain, kalau keponakanku mungkin udah aku jitak satu-satu.  Di rumahku ada 3 orang anak kecil.  Yang paling gede berumur 9 tahun.  Tony, keponakanku paling besar ini dari kecil udah kami ajarkan untuk mengurus dirinya sendiri, misalnya menyiapkan sendiri peralatan sekolahnya, terutama pakaian, kaus kaki dan sepatu.  Kalau mencuci dan setrika ama si ibu (sebutan kami untuk pekerja domestik di rumah).

Selain itu, Tony juga bertugas memberi makan guguk di rumah, walau kadang dia lupa.  Memeriksa tamu yang datang dan membukakan gerbang untuk mereka.  Menjawab telfon masuk dan membuang sampah juga bagian dari tugas Tony. Yang paling utama adalah, dia bertanggung jawab menjaga adik-adiknya.  Lalu, apa dong kerjaan si ibu?  Si ibu cuma ngepel rumah 2 kali seminggu, nyuci dan nyetrika pakaian. Menyapu taman dan ngurus keperluan keponakan, misalnya antar jemput Uis ke sekolah.  Kalo masak mah bagian ibuku, ga bisa diganggu gugat… Tetep, eksistensi diri ibuku ga mau kalah…


Si ibu kerja dari pukul 06.00-16.00 sore, relatif singkat dan ringan pekerjaannya.  Kalau si ibu udah pulang, maka Tony dan ibuku bergantian membersihkan meja makan dan nyuci piring sehabis makan malam.  Kalau aku bandingkan si Tony yang kelas 4 SD dengan keponakan temenku yang duduk SMP dan SMA membuatku geleng-geleng kepala.

Katanya sih, kebanyakan remaja Indonesia terutama yang tinggal di kota besar sudah jarang membantu orang tuanya di rumah.   Kebanyakan remaja kita menghabiskan waktunya di luar, entah di sekolah, di bimbingan belajar, di angkot, di pusat perbelanjaan dan di arena pentas seni atau bazaar.

Iya…iya…aku ngerti kalau anak sekarang itu jauh lebih sibuk dibanding jaman aku dulu.  Tapi sesibuk-sibuknya anak, pasti malamnya pulang ke rumah dong.  Atau hari libur tetap ada kegiatan?  Atau ini semua faktor kebiasaan keluarga aja yang ga mengenalkan anaknya untuk saling bantu di rumah.

Mungkin lain padang lain belalang, lain keluarga lain pula aturan mainnya.  Tapi aku lebih sepakat mengajarkan kemandirian kepada anak sejak dini.  Keuntungan dengan sistem/pola asuh ini adalah :

  • Ada tenaga bantuan, jelas ini mah.  Apalagi kalau di rumah sedang ada kumpul-kumpul keluarga kerasa  banget manfaatnya.
  • Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab.
  • Dengan pembagian kerja yang jelas, kita tahu harus menjitak siapa kalau ada pekerjaan yang ga beres  :)
  • Anak merasa dirinya eksis dan kehadirannya berarti di dalam keluarga.
  • Anak akan menghargai proses dan dia tidak gampang protes bila sesuatu terjadi tidak seperti keinginannya. Karena dia juga tahu kalau  setiap pekerjaan ada tantangannya tersendiri.
  • Hampir sama dengan poin sebelumnya, melatih anak tidak manja, apalagi berharap selalu dilayani orang lain.
  • Anak mampu empati terhadap pekerjaan orang lain.
  • Kalau tiba waktunya, kita tidak takut untuk melepasnya sendirian.  Karena kita sudah membekalinya dengan sikap kemandirian.

Mungkin ada yang kapok liat hasil pekerjaan anak yang bukannya malah bersih tapi malah membuat sekitarnya berantakan, tapi itu tidak lantas alasan kita membuatnya berhenti berusaha.  Tony dulu juga kalau nyuci piring, air krannya muncrat kemana-mana.  Belum lagi dia kapok karena pernah memecahkan piring.  Tapi itu kan bagian dari proses.  Bantu anak untuk memperbaiki diri dan mengembalikan semangatnya.

Untuk kalian yang udah dan punya anak, bagaimana pola asuh yang kalian terapkan?  Sharing yuk di kolom komentar.

Met puasa, met menyambut Lebaran.  Masih ada waktu untuk mengajar anak kita untuk terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Salam,

4 thoughts on “Ajarkan Cuci Piring Sekarang Juga

  1. vera berkata:

    Jd ingat klo dirmh, kami berempat bagi2 tugas. Semua aku yg bagi, mungkin krn aku kaka pertama. Ga perempuan atau laki2 dirmh hrs bisa semua, nyuci piring, masak, nyuci baju, ngepel, nyapu, belanja, jaga warung. Walaupun terkadang ada aj malaznya mereka, paling aku cuma cerewetin aj. Mungkin mereka dah bosan kali ya kakanya cerewet..hehehehe….

  2. Sophie berkata:

    Anakku yang kecil tugasnya juga cuci piring, senang kali dia main air🙂

    Nov, sekedar sara, halaman ini susah dibaca. latar belakangnya sudah gelap ditambah tulisan warna hitam, kacamata mesti double nih. Kalau mau tulisan warnanya ngejreng habis supaya gampang dibaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s