Pribadi Konsumtif. Salah Siapa?

Pengantar

Met pagi semuanya, terutama untuk kalian yang ada di tanah air.  Gimana puasa kemaren, semangatnya masih kayak hari pertama atau udah mulai luntur?   Hari ini apa ya topik menarik?  Ahaaaa, mumpung masih bulan puasa, kita ngobrol tentang pengendalian diri yuk.  Kita tidak semata berbicara tentang menahan lapar dan haus, tapi lebih dari itu kita akan bahas serba serbi menahan nafsu belanja.  Nah lho, apa hubungannya dengan bulan puasa?

Setahuku, puasa itu salah satu cara kita menjadi lebih rendah (hati), lebih sederhana, lebih bersyukur.  Tapi coba lihat apa yang terjadi setiap bulan puasa?  Pengeluaran membengkak karena kita terbiasa memanjakan lidah dengan hidangan yang serba enak, lebih meriah dari hari-hari biasanya.  Atau mungkin itulah seninya menjalani puasa, ada beberapa penganan yang hanya bisa kita temui pas bulan ini aja. Jadi apa salahnya kalau kita menikmati apa yang ada? Kalau begitu, apa bedanya bulan ini dengan 11 bulan lainnya?

Tentu saja tidak ada yang salah selama kita tidak memaksakan diri.  Ayo pada jujur, siapa yang  setelah puasa dan Lebaran dompetnya menipis atau bahkan tabungannya habis? Tapi kan, Lebaran cuma setahun sekali, boleh dong kita rayakan dengan baju baru, sepatu baru, hidangan yang istimewa. Mungkin itu jawaban Anda dan betul, hari kemenangan harus dirayakan, tapi jangan berlebihan.

Pepatah kuno mengatakan : sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.   Oitsss… jangan langsung mutung kalau aku ngomong tentang gaya hidup sederhana bahkan pada saat Lebaran sekali pun.  Hidup sederhana sepanjang tahun!  Nah lho, jumlah pembaca yang mutung bertambah nih  :).  Untung ngobrol di dunia maya, jadi kalo yang pengen jitak aku terpaksa nahan diri ya.  Ga baik jitak-jitakan di bulan puasa (* smile).


Pribadi Konsumtif.  Salah Siapa?

Cerita di atas cuma sebagai pengantar.   Ide awal dari tulisan ini adalah karena liat foto-foto di FB-nya teman yang kelihatan hidupnya nyaman (piknik ke sana ke mari, nongkrong di cafe saban hari, ga pernah melewatkan nonton film-film terbaru di bioskop dan sederet hal-hal enak lainnya).  Apa yang salah dengan nongkrong di cafe tiap hari?  Hahahaha, tentu aja ga salah selama itu tidak memaksakan diri.

* Note : sambil buat anggaran pendapatan dan pengeluran, klik lagu di bawah ini  :)

Hayo masing-masing ambil pena dan kertas, sambil baca tulisan ini kita analisis kemampuan keuangan dan gaya hidup kita selama ini.  Coba tuliskan di kolom kiri  kertas, kasih judul : PENGHASILAN.   Berapa penghasilan bulanan Anda, entah itu UMR, bonus, THR dan sumber pemasukan lainnya.   Kemudian di bagian kanan kasih judul : PENGELUARAN, yang kemudian dibagi lagi : URGEN, PENTING/ BISA DITUNDA, TIDAK PENTING/BOLEH DILUPAKAN.  Setiap kolom pengeluaran tulis item pengeluaran Anda sehari-hari.

Untukku, kolom URGEN berarti pengeluaran yang tidak boleh dilewat, yakni : hutang, menabung, bayar asuransi, bayar tagihan listrik atau gas, bayar kontrakan rumah, transportasi.  Konsekuensi kolom urgen ini bersifat tegas dan langsung, misalnya ; ga bayar utang maka bunganya akan semakin mencekik leher.  Kalo ga nabung, berarti aku harus ekstra hati-hati, ga boleh sakit.  Karena kalo aku sakit maka ga bisa kerja dan ga akan punya duit.

Sedangkan kolom PENTING bersifat tentatif, artinya Anda ga akan kena masalah seandainya tidak melakukan pembayaran item PENTING, misalnya : beli pakaian baru, TV kabel, ikut klub kebugaran, ikut klub fotograsi, jalan-jalan, ke salon dan silakan tambah sendiri.  Artinya, Anda boleh saja melakukan aktivitas pembayaran untuk kolom PENTING, tapi jumlahnya bisa dikompromikan.  Tidak perlu beli baju tiap bulan.  Anda masih bisa menyaksikan stasiun TV swasta yang telah ada dan gratis pula.  Lakukan penyiasatan dalam anggaran Anda, misalnya ;  Anda terlanjur jatuh cinta dengan klub fotografi yang sekarang, coba coret item jalan-jalan dari agenda Anda.  Atau sebaliknya, coret klub fotografi dan belajar membidik kamera saat jalan-jalan.

Kolom TIDAK PENTING/BISA DILUPAKAN berisi hal-hal remeh tapi kadang menempati porsi terbesar pada pengeluaran kita, misalnya ; jajan. Nah lho, orang udah capek kerja masa ga boleh jajan?  Hidup kan cuma sekali, harus dinikmatin dung.  Toh duit ga dibawa mati.  Tul ga? Hehehehehe…. betul, hidup cuma sekali dan harus dinikmati.  Tapi hidup tidak hanya hari ini atau bulan ini.  Apa yang udah kita punya selama ini dan apa yang udah kita siapkan untuk masa depan anak-anak kita kelak?

Seseorang bisa dikatakan kaya, bukan karena gaya hidupnya yang glamor, tapi dilihat dari seberapa banyak tabungannya atau seperti apa investasinya. Duh, kok ribet ya? Sebetulnya ga ribet, asal mau merubah diri.  Sebaiknya begitu terima gaji, langsung tabung sebagian, misalnya 20 persen dari total gaji Anda.  Setelah itu, barulah Anda membaginya untuk item-item yang udah ditulis seperti kolom di atas.  Skala prioritas adalah kata kuncinya.  Kebiasaan belanja dulu baru nabung justru membuat kita tidak akan pernah menabung.  Iya kan?

Mungkin dari hasil pembagian berdasarkan skala prioritas, Anda akan menemukan bahwa sebetulnya selama ini Anda terlalu memaksakan diri untuk nongkrong di cafe setiap hari.  Kemudian, Anda akan melihat jumlah fantastis yang harus dikeluarkan untuk nonton film plus cemilan di dalam bioskop.  Lalu, apalagi ya?  Bagaimana dengan kebiasaan Anda yang suka membeli pakaian karena modelnya yang lucu-lucu, bahkan sampai Anda tidak sempat memakai pakaian yang telah Anda beli.

Setelah tercengang, mungkin Anda akan mengeluh, hidup kok nyiksa diri sendiri ya? Bukan nyiksa diri, tapi mengendalikan diri.  Anda masih bisa kok tetap minum kopi kesukaan Anda di cafe langganan, tapi bagaimana kalau frekuensinya dikurangi?  Atau, nyewa VCD aja dan nonton di rumah.  Keuntungannya, Anda ga perlu keluar duit untuk beli cemilan dan bensin.  Anda tidak tahan akan godaan baju-baju lucu yang dipajang di etalase?  Mulai sekarang, tetapkan diri Anda untuk beli baju hanya kalau proyek Anda berhasil.  Anggap aja reward untuk perjuangan Anda.  Sisi baiknya, Anda akan terpacu untuk bekerja lebih baik lagi… hehehehehehe… Ga perlu menjadi sufi dan memutuskan  tinggal di gunung agar bisa hidup sederhana.   (*smile).

Penutup

Memang sih prakteknya ga selalu mudah, karena ini menyangkut kebiasaan.  Tapi segala sesuatu harus dimulai kan?   Bahkan puncak gunung yang tinggi sekalipun ga akan tergapai kalau tidak melakukan langkah pertama.  Anda ragu mulai merubah diri karena di sekitar Anda banyak mall, belum lagi hajaran iklan di televisi dan kiriman katalog yang ga pernah berhenti.  Jangan takut, semua pihak  melakukan perannya masing-masing. Mall, TV, sales dan sebagainya hanya menjalankan tugasnya  dan tugas Anda adalah membentengi diri sendiri dan keluarga.  Tidak perlu menyalahkan pihak lain saat kita tumbuh menjadi pribadi yang konsumtif.  Jadilah pribadi cerdas dan tahan godaan.

Kembali lagi ke masalah hubungannya hidup sederhana dan bulan puasa, ya karena ini bulan pengendalian diri.   Keuntungan lainnya, bulan puasa biasanya frekuensi pertemuan keluarga lebih tinggi.  Kalau biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, maka di bulan ini sahur dan berbuka puasa bersama.  Ini kesempatan emas untuk Anda yang telah punya anak untuk menanamkan nilai-nilai luhur, salah satunya konsep hidup sederhana tapi penuh kepastian.   Bukankah generasi sekarang adalah produk bentukan generasi sebelumnya.  Kalau kita konsumtif, mungkin dulu orang tua kita kurang mengenalkan pola hidup hemat dan sederhana.  Bagaimana kehidupan anak-anak kita kelak?  Ayo kita tentukan dari sekarang!

Salam,

Ket : gambar dari Google




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s