Take That and I’ll Kill You

Holaaaaa… Apa khabar semua? Gimana puasa hari pertama.  Sukses, sedikit lemes atau malah babak belur?  Semoga yang terakhir ga sampe terjadi ya… ^_*.  Oh ya, khabarku di sini baik-baik aja.  Barusan nelfon ke rumah, sedikitkhawatir karena baca berita tentang gempa.  Puji Tuhan, di rumah keadaan aman terkendali.

Teman, aku pengen nanya ama kalian, khususnya kaum pria.  Bila pasangan Anda membeli sesuatu (katakanlah baju, sepatu atau apa saja).   Apakah pasangan harus bertanya pendapat Anda?  Berapa persen sih peran suara Anda dalam memutuskan suatu transaksi terjadi atau tidak?

Tadi, sekitar pukul 19.00, masuk sepasang pengunjung ke toko, setelah mereka mengamati etalase selama beberapa menit.  Yang perempuan tipe pesolek, mengenakan asesoris yang ramai.  Sepatu, rok bunga-bunga, sendal dan tasnya berwarna serba  merah marun.  Cuma you can see warna putih polos.

Dia mencoba beberapa cincin, khususnya warna merah (tampaknya warna favoritnya).  Setelah itu, perhatiannya beralih ke jejeran kalung.  Satu per satu dicoba di depan cermin sambil bertanya ke pasangannya kalung yang tepat untuknya.  Sang pria menggelengkan kepala dan si perempuan bergeser ke jajaran gelang.  Mencoba beberapa gelang berwarna merah.  Kembali sang pria menggelengkan kepala untuk  menjawab pertanyaan serupa.

Ia meletakan kembali gelang-gelang tersebut ke posisi semula.  Kali ini ia melirik sendal.  Ia kelihatan disorientasi nih dan sebetulnya tidak tahu mencari apa.  Atau jangan-jangan mereka cuma mau lihat-lihat (tepatnya ngacak-ngacak doang).

Si perempuan merah marun menanyakan apakah ada ukuran sendal warna pink seperti yang di etalase.  Aku menemukan sendal yang dimaksud plus sepasang warna putih dengan manik-manik warna beige sebagai pilihan lain untuknya.

Mondar-mandir dicobanya sendal itu.  Katanya ia suka warna pink, karena lambang cinta. Mengandung kelembutan sekaligus kekuatan cinta, juga melankonia…halah… Aku mengiyakan aja pembenerannya atas makna warna pink, yang penting dia beli.  Sendal pink itu kelihatan pas di kakinya.

 

Qualle ti piace di piu?” (terjemahan = yang mana yang kamu suka?) Tanyanya pada pria.

Putih.” Jawab si pria asal… Hehehehe, soalnya dia udah bosen nungguin selama 30 menit ini.

Pero’, mi piace di piu fucsia.” (terjemahan = tapi, aku lebih suka yang pink).

E prendilo se ti piace.” (terjemahan = ya udah ambil aja kalau suka).

 

Itu merupakan jawaban standar seorang pria yang mulai bosen dengan pasangannya saat belanja.  Sang pria menjawab gitu dengan raut muka berkerut, seakan berkata : Take that and I’ll kill you… (terjemahan = kalo elo ambil yang itu, gua tabok elo….).  Huuuuu, serem ga sih urusan sendal aja butuh pertimbangan si dia?

Kembali dicobanya sendal, yang kanan warna pink dan kiri warna putih.  Mondar-mandir, mondar mandir.  Maju mundur, maju mundur.  Mukanya bingung atau linglung tepatnya.

” Oke, aku ambil yang putih.”  Haaaa, please deh kok jadi yang putih?  Bukankah ia yang tadi pengen harus warna pink?  Bukankah ia tadi yang memberiku pelajaran filosofi warna pink.  Kok bisa berubah 180 derajat?  Setelah melewatkan 45 menit penuh dengan konrontasi, masa harus nyerah sih?

Selama beberapa tahun aku kerja sebagai penjaga toko, kejadian serupa nyaris tiap hari aku saksikan.  Itu merupakan tipikal pasangan Italia dalam berbelanja.  Misalnya nih, pernah pagi-pagi seorang perempuan nongol di toko.  Ia tertarik ama cincin perak bertahtakan batu Peridoth.  Kebetulan ukuran dan modelnya pas.  Tapi dia bilang pikir-pikir dulu.  Oke, untukku ga masalah….

Tapi, apa yang terjadi?  Siang hari pas jam makan siang, perempuan itu kembali dengan seorang pria (mungkin pacar atau suaminya).  Kembali ia mencoba cincin itu, tampak lebih menarik saat dikenakan jarinya.  Seperti pengalaman yang udah-udah, si pria menjawab : ” Prendilo se ti piace…’ Jangan lupa mimik muka seperti yang udah aku tulis di atas. Take that and I’ll kill you…

Aku yakin cincin itu ga akan dibeli, karena suasana di antara mereka hening.  Jadi, kalo pun perempuan itu sangat minat ama cincin itu, ia ga perlu mengharapkan bakal ditraktir pria itu.  Mereka meninggalkan toko tanpa mengucapkan sepatah kata.

Eh, sore harinya perempuan itu kembali dengan bapak, ibu dan adiknya.  Mereka diajak ke toko untuk dimintai pertimbangannya mengenai cincin Peridoth itu.  Buset dah, emangnya mau beli cincin harga ribuan euro, ribet amat sih.  Sang ibu suka ama cincin itu, tapi bapak dan adiknya menggeleng. Mereka keluar meninggalkan toko.   Perasaanku biasa aja melihat adegan itu.

Besok paginya, perempuan  itu kembali lagi dengan teman perempuannya.  ‘‘ Mungkin semalaman ia ga bisa tidur kepikiran cincin itu.”   Bathinku dalam hati.  Biasanya kalo tamu kembali lagi dengan teman, maka kemungkinan besar ia akan langsung membeli.   Apalagi kemarin dia udah datang beberapa kali.   Selain itu, mungkin sebagai perempuan, temannya itu akan mampu meyakinkannya untuk membeli saja cincin itu.

Mereka ngobrol, menimang-nimang cincin itu.  Meletakannya di bawah matahari.  Memutar-mutar, menggigit batu cincin itu untuk melihat keaslianyaa.  Kemudian cincin dicoba lagi, bercermin lagi.  Cincin dipindah lagi ke tangan yang satunya lagi. Dicoba dan tangannya diputar berulang-ulang.  Aku pura-pura tidak mempedulikan mereka, agar mereka lebih leluasa.

Beberapa menit berlalu, mereka masih asyik berdiskusi.  Pertanda baik nih.  Tapi coba lihat apa yang terjadi?  Perempuan itu menyorongkan cincin itu, mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan aku yang udah GR karena yakin mereka akan beli.  Weeeewww,  hari gini masih ada perempuan yang ga independen, bahkan untuk hal remeh sekalipun (baca : berbelanja).

Seperti yang aku bilang di atas, merupakan kebiasaan orang Italia untuk bertanya terhadap pasangannya mengenai barang yang akan dibeli.  Untuk masalah model atau harga, atau barang yang tidak biasa, mungkin aku bisa mengerti, karena bisa jadi menyangkut masalah keuangan keluarga.  Tapi please deh, cuma untuk nentuin warna sendal aja harus ribet  dan make acara mutung-mutungan segala.

Kesimpulannya, kalo kebetulan papasan pasangan Italia di jalan, kita bisa menilai selera pria itu dari cara berdandan perempuannya… hehehehehehe….

Kalo kamu, gimana cara belanjamu dengan pasangan?

Salam,

Iklan

2 thoughts on “Take That and I’ll Kill You

  1. Sophie berkata:

    Kalau aku mendingan pergi shoping sendiri, rame2 atau berdua malah bingung, tanya sana sini ujung2nya ngak jadi. suamiku ok2 aja mengenai apa yang aku beli.
    Ada banyak wanita seperti diatas karena mereka biasanya tdk PD takut pilihannya tdk bagus, buat aku sih as long as suka ya bungkuslah.

  2. lintasophia berkata:

    Bener ya, kadang kalo kita udah tau mau belanja apaan, mending pegi sendiri. Tapi kalo sekedar liat-liat, rame-rame juga ga masalah.
    Wah, ga banget deh jadi perempuan ga independen (apalagi cuma urusan warna sendal ;).
    Take care ya mbak, makasih udah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s