Memahami Eksistensi Diri Anak Kecil

Met malem, met siang, met pagi dan selamat berpuasa untuk kalian yang menjalankannya.  Hari ini aku ga punya catatan apa-apa  :(  Atau, kalau kalian suka cerita tentang anak kecil (ga kecil-kecil banget sih, umur 5 tahun), aku bakal cerita dikit.

Ini tentang Uis Pongo, keponakanku (abang Natalia yang tempo hari aku ceritakan).  Tahun ini Uis masuk TK, dia sangat senang.  Berbulan-bulan sejak Uis tahu bahwa dia akan masuk sekolah, Uis berubah lebih baik, dalam arti tidak cengeng dan lebih mandiri.  Sangat terharu kalau mendengar betapa semangat Uis sampai hari ini masih seperti gelora pada hari pertama.

Pukul 06.00 pagi Uis sudah rapih berpakaian menunggu bapak (opungnya) untuk mengantarnya.  Padahal kelas dimulai pukul 08.00 pagi.  Kadang Uis bangun dan berpakaian duluan dibanding kakaknya yang harus diantar pukul 06.00 pagi karena kelas mulai pukul 07.00.  Kami sudah bilang bahwa Uis boleh bangun lebih siang karena sekolahnya agak siang dan dekat rumah.  Tapi Uis ga peduli.  Tiap pagi ia menyiapkan diri dengan sigap, ada rona bahagia di wajahnya.  Suatu pagi, Uis udah stand by seperti biasa, jam menunjukan pukul 06.00.  Melihat itu, bapakku ketawa, katanya : ” Gurumu aja belum bangun jam segini.”

Dari ki-ka : Natalia, aku, Tony, Kombet dan Uis PongoHari pertama masuk sekolah, aku nelfon rumah menanyakan perkembangan sekolah anak-anak.  Ibuku menjawab telfon dengan terburu-buru.  Katanya, beliau harus segera ke supermarket beli mie goreng untuk bekel Uis besok.  What?  Please deh, gimana mau pinter dibekelin mie goreng.

Kata ibuku, ini permintaaan Uis sendiri.  Ada kejadian lucu, pas bapakku menjemput, bapak melihat Uis meminta mie goreng temannya  (Duh, masa hari pertama dan baru kenal udah minta-minta).  Padahal, sehari sebelumnya ibuku sudah menyiapkan kue-kue spesial sebagai bekal Uis (maklum, hari pertama agak spesial), tapi mistingnya malah ga disentuh sama sekali.  Uis malah memilih makan mie goreng temannya.

Sampai beberapa hari, Uis masih minta mie goreng sebagai bekalnya.  Lain hari minta chicken nugget dan nasi goreng.  Besoknya masih chicken nugget dan sedikit nasi putih.  Buset dah, ibuku sebagai penguasa dapur mati kutu dibuat permintaan Uis ini.  Karena kadang Uis  minta sesuatu yang ibuku ga tau dimana mendapatkannya.  Misalnya; Uis minta nasi kuning.  Lha, ibuku selama ini ga merhatiin dimana ada penjual nasi kuning.  Ga jelas bagaiman akhir nasi kuning idaman kemarin.

Moral cerita di atas adalah, bahwa anak kecil ingin keberadaannya diakui.  Mungkin agak berlebihan kesimpulan tersebut.  Tapi dari berbagai kejadian, anak kecil cenderung menginginkan benda yang sama seperti temannya untuk menunjukan bahwa ia juga mampu memilikinya.  Misalnya pada kasus Nasi Kuning.  Di keluargaku tidak ada kebiasaan memakan nasi tumpeng/kuning, jadi pasti Uis sudah melihat sebelumnya temannya membawa bekal Nasi Kuning.  Uis ingin menunjukan bahwa ia adalah anggota dari lingkungannya.

Eksistensi diri pada anak kecil berbeda dengan orang dewasa.  Bila orang dewasa memilih barang yang eksklusif (tidak pasaran) sedangkan anak kecil justru bersifat massal (common).   Lihat saja fenomena mainan.  Umumnya anak kecil menginginkan boneka teletubbies persis seperti milik temannya.

Hihihihi….ini cuma pengamatan iseng-iseng aja.   Semua cerita di atas kudapat via telfon dari ibu dan keponakanku.  Kalau butuh penjelasan ilmiahnya, maka Google siap menjawab.

Salam,

2 thoughts on “Memahami Eksistensi Diri Anak Kecil

  1. Sophie berkata:

    Betul deh, anakku juga kalau bawa lunch box liat temannya bawa apa, pulang kerumah pasti minta dibawain.
    Sharing terus ya, aku jadi suka baca webmu..hihihihihi….kasih tau abang ah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s