Orang Tua Harus Kompak dalam Mengurus Anak

Holaaaa… met malem, met siang dan met pagi semuanya.  Kali ini aku mau cerita dikit tentang serba serbi menjadi orang tua (walau aku sendiri belum menikah dan punya anak… :).

Keluarga Kompak

Cerita kali ini adalah perlunya kekompakan orang tua dalam mengurus anak (jangan kompak pas bikin doang… no offense and keep smile 🙂 Sebagai gambaran, ketiga orang keponakanku tinggal di rumah dan diurus oleh bapak dan ibuku.  Salah satu rumor yang sering muncul adalah, bahwa seorang anak yang diurus oleh kakek dan neneknya cenderung akan manja.  Sedikit banyak hal ini sudah diantisipasi orang tuaku yang notabene sudah malang melintang di dunia pengurusan anak.

Tidak mau rumor menjadi kenyataan, maka ibuku udah mengambil peran sebagai seorang nenek yang penuh kelembutan namun sekaligus tegas.  Sedikit berbeda dengan peran bapakku dalam mengurus keponakan yang cenderung lembut dan tidak tegas.

Permasalahan sering muncul karena perbedaan persepsi antara bapak dan ibuku mengenai apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh keponakanku.  Misalnya, Natalia (keponakanku paling kecil dan satu-satunya perempuan), cenderung bersikap menang sendiri.  Perhatian keluarga yang melimpah terhadap dirinya, sering dimanfaatkan Natalia untuk merugikan abang-abangnya.   Walau paling kecil, tapi Natalia paling galak terhadap kedua abangnya…

Suatu hari, Natalia nakal bukan kepalang (aku lupa lagi kronologisnya), tapi yang pasti ibuku udah jengkel melihat Natalia yang suka seenaknya terhadap abangnya. Akhirnya…pssssss…. Sebuah cubitan mendarat di paha Natalia, dan dia menangis.

Kata ibuku : ‘kau yang paling kecil tapi tau yang paling bandel…’ Belum selesai omelan ibuku, tiba-tiba bapak nongol dan membujuk Natalia ” Sini, sini Lia, sama opung aja.” Bisa dibayangkan, imej ibuku runtuh saat itu juga  (my poor mom).

Dari situasi di atas, dapat dilihat kalau bapak dan ibuku bener-bener ga kompak, yang satu marah terhadap Natalia sedangkan yang satu lagi justru membela.  Sisi buruk dari situasi di atas adalah :

  • Si anak akan bingung menentukan sikap, selain mengikuti pihak yang menguntungkan dirinya.
  • Kemudian, si anak akan memberi label ”protagonis” dan antagonis terhadap bapak/ibu dan atau kakek neneknya.
  • Si anak tidak mencoba berubah lebih baik, karena dia yakin bahwa akan ada yang membelanya.

Lalu, bagaimana menghindari situasi di atas? Yuks kita coba saranku berikut ini, demi win-win solution…halah…

  • Orang tua harus memiliki persepsi yang sama mengenai batasan/tingkat kompromi terhadap kenakalan anak.
  • Orang tua harus satu suara satu perjuangan di depan anak.  Jangan sampe si bapak udah marah-semarahnya, eh si ibu malah membela si anak.  Pokok e, harus ngambek dua-duanya.
  • Bila Anda tidak  sependapat dengan pasangan atau tidak tega melihat si anak dimarahin, Anda boleh pura-pura tidak melihat atau lakukanlah aktivitas lain.
  • Jangan bertengkar apalagi sampai mengeluarkan kata-kata tidak sopan di depan anak, karena Anda adalah panutan, idola bagi anak.  Apa yang Anda lakukan akan dianggap benar dan ditiru.
  • Apabila ada hal yang tidak berkenan, Anda dan pasangan boleh membicarakannya di kamar.  Jangan lupa tutup pintu dulu.
  • Minta pasangan Anda (si tokoh protagonis) untuk berbicara dengan anak mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan beserta alasannya.
  • Perlu juga dipikirkan hukuman bila si anak benar-benar nakal; misalnya tidak ada makan malam di luar sampai si anak berlaku manis
  • Sedari dini, ajarkan anak untuk respek satu sama lain.

Selamat menjadi orang tua yang kompak…

Salam,


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s