Nasionalisme Lewat Indomie

Beberapa tahun lalu, Indomie merupakan barang langka di sini.  Kalaupun ada, itu pun jarang-jarang dan varian rasa tidak semua tersedia.  Untuk orang Asia, terutama orang Indonesia yang merantau di luar negeri, Indomie bagai dewa penyelamat saat kantong kering (baca : belum gajian) atau sudah sangat lapar tapi tidak sempat masak.  Maka, tidak berlebihan kiranya bila aku menyebut Indomie sebagai P3K (Pertolongan Pertama Pada saat Kelaparan).

Aku lupa, kapan persisnya Indomie ekspansi sampai Genova.  Seingatku, untuk beberapa tahun kami terpaksa makan mie China (sebutan mie instant selain Indomie).  Hingga suatu hari tiba-tiba Indomie nangkring manis di rak salah satu Asian Store.  Kita happy dong, meski harus kuakuin rasa Indomie yang beredar di sini tidak seenak Indomie yang biasa kita makan di Indonesia.  Indomie di sini cuma asin doang, minim rasa rempahnya.  Ga spesifiklah nikmatnya.  Tapi ga mengapa, segitu juga kita udah seneng kok.   Ga ada lagi cerita tiap balik ke Genova harus isi koper dengan Indomie aneka rasa.

Suatu hari aku lagi ngantri di kasir dengan membawa beberapa bungkus Indomie.  Di depanku juga sedang ngantri seorang pria kulit hitam.  Sama, dia juga membawa banyak Indomie siap bayar.  Belanjaan kami sama persis ;D.

Suasana toko yang penuh membuat aku dan pria di depanku beberapa kali bersentuhan.  Ia melihat ke arahku sambil minta maaf, aku mengangguk hingga pandangannya tertumbuk pada belanjaanku.  Indomie.

”Kamu juga suka makan mie itu?”  Ia bertanya sambil mengisyaratkan Indomie yang kubawa.  Aku menggangguk.

”Aku juga,” katanya sambil mengangkat belanjaannya.  Ini salah satu produk terbaik kami, ia menambahkan.

”Dari mana?”  tanyaku.

”Nigeria.” jawabnya.

”Dari mana?” Ulangku

”Nigeria.”  Jawabnya sambil menjelaskan cara memasak Indomie dengan baik dan benar, termasuk opsi menambahkan daging, telur dan cabai bila suka.  Aku  menggeleng,

”Itu tidak benar,  Indomie itu dari Indonesia.” Aku meluruskan informasinya.  Eh dia ga terima.  Kang Mas malah cerita dengan suara berapi-api kalo Nigeria punya pabrik Indomie, terbesar di Afrika.  Produknya kualitas export hingga Eropa.  Sebagaimana khasnya orang Afrika kalau bicara suaranya kenceng dan to the point, berhasil menyulut emosiku ampe ke ubun-ubun.  Nasionalismeku langsung mengalir keras di seluruh pembuluh darahku.  Bela Indonesia.

”Eh denger ya, mas!  Begitu aku ga minum air susu ibu lagi, makanan pertamaku itu Indomie.  Seluruh dunia pun tau kalo Indomie itu dari Indonesia!”  kataku sengit.

”Itu mie yang lain kali.”  katanya.  Eh buset dah, nih orang makin semena-mena.  Ga tau aja nih orang kalo dulu orang tuaku punya warung makan dan jualan Indomie juga.  Jadi, aku tahu pasti mana Indomie dan yang bukan.

”Gini ya, sejak kecil aku uda makan Indomie,  ya sama seperti Indomie yang kamu pegang sekarang ini.  Jadi, berhenti ngaku-ngaku kalo Indomie itu dari Nigeria.  Indomie itu made in Indonesia.”  Aku menunjukan sikap tidak mau melanjutkan perdebatan dan mengalihkan padangan ke arah yang lain.*ngambek.

Tiba-tiba dia meletakan keranjang belanjanya di meja dan mengambil sebungkus Indomie lalu membolak-baliknya.  Dia mencolek bahuku.

”Liat nih, produce in Nigeria.”  Jarinya menunjuk kuat-kuat pada sebaris tulisan di kemasan Indomie.  Aku cuma melirik ga minat.  *masih ngambek.  Eh dia malah menyodorkan lebih dekat lagi. Aku mengambil Indomienya dan membaca lekat-lekat.   Benar saja, di kemasan ada 2 baris kalimat cetak tebal (kalau tidak salah ingat);

PT. Indofood Sukses Makmur T.b.k (Indonesia)

Produced in Nigeria

Kampret, kalah telak aku.  Sesungguhnya, itu baru pertama kali aku baca kemasan Indomie yang edar di sini.  Biasanya cuma fokus pada varian rasa dan tanggal kadaluarsa.

”Permisi, giliranku.  Aku mau bayar Indomie made in Nigeria.”   katanya sambil mengambil Indomie milik dia dari tanganku.  Aku mengangguk sambil memandangi lantai.

Salam,

 

Lintasophia

 

 

 

Iklan

Partai Politik Boleh Berganti, Tapi Ideologi tak Pernah Mati

Partai politik boleh berganti, tapi ideologi tak pernah mati.  Kalimat menakjubkan itu aku dengar pertama kali dari ibuku. Seorang perempuan perempuan biasa yang notabene jauh dan tidak pernah terjun langsung ke hingar bingar dunia politik.

Bandung 1999

Setelah pergolakan politik, ekonomi dan sosial sepanjang tahun 1997 hingga 1998 yang melahirkan berbagai peristiwa penting, salah satunya adalah Indonesia memasuki Era Reformasi dengan tumbangnya Era Orde Baru, pemerintah memutuskan mempercepat pemilihan umum, sedianya 2002 menjadi 1999.

Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama dimana aku ikut nyoblos.  Aku buta politik, bingung harus milih partai apa.  Seperti anak kecil tersesat di keramaian pasar.  Gimana ga tersesat, jumlah partai peserta pemilu biasanya cuma 3, yakni Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Aku cuma tau, merah, hijau dan kuning.   Untunglah ada ibuku sehingga aku tidak tersesat lama.

Mulailah obrolan-obrolan kecil dengan ibuku mengenai faktor apa yang harus diperhatikan dalam menentukan partai pilihan.

Aku : ”Pemilu nanti milih apa ya?”

Ibuku : ”PDI-P.”

Aku : ”Kenapa bukan Golkar?”

Ibuku : ”Karena Golkar adalah partainya pegawai negeri.”

Aku : ”Oh… Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen!”

Aku :”Haaaaa?”  Itu pertama kali aku mendengar kata Marhaen (sebutan bagi penganut Marhaenisme).

Berikutnya, ibuku mulai sering bercerita tentang betapa heroiknya Soekarno.  Sangat mudah mendapat cerita kehebatan Soekarno, baik lewat cerita dari mulut ke mulut warga kampung, maupun dari opung doli.  Selama masa pengasingan di Sumatra Utara, opung doli (bapak dari ibuku) merupakan salah satu ajudan dari Soekarno.

Masih menurut ibuku, saat itu rakyat cinta sekali terhadap Soekarno.  Baik yang muda maupun yang tua setia dan militan mengikuti Soekarno selama pengasingan di Sumatra Utara.   Menurutku, mungkin ini salah satu alasan mengapa di tubuh partai PDI-P banyak sekali orang Batak.  Karena secara historis ada hubungan emosional.  Soekarno pernah menginjakan kaki di Sumatra Utara.  Sampai sekarang, banyak orang tua yang bertahan dan setia dengan PDI-P. Imbasnya adalah, para orang tua ini menurunkan Marhaenisme dengan kemasan baru (PDI-P) kepada anak-anaknya.  Contohnya adalah ibuku.

Ibuku gemar sekali bercerita tentang Soekarno dan opung doli, padahal ibuku tidak mengalami langsung masa saat Soekarno ditahan di Sumatra Utara.  Ibuku cuma mendengar penuturan dari opung doli dan orang-orang sekampung.   And you know what, kami pun ga pernah bosan mendengar, padahal yang diceritain sama aja….hahahhaha….

Aku seneng moment saat ibuku bercerita, wajahnya ga bisa bohong kalo ibuku sangat bangga dengan sepak terjang bapaknya.  Bercerita adalah kesempatn untuk ”memiliki  kembali” almarhum opung doli.

Akhir cerita ibuku udah bisa ditebak, beliau akan cerita tentang namanya.  Jadi, karena situasi tidak kondusif saat itu, opung doli memilih mengikuti Soekarno di pengasingan (menurut ibuku bukan pengasingan, tapi penjara) daripada menemani opung boru yang sedang mengandung ibuku.

Di penjara Soekarno memberi nama Megayani untuk ibuku, biar mirip dengan nama putrinya.  Sedangkan nama lengkap ibuku adalah ; Megayani Puspa Pangungsian Hamardekaon P (semoga aku ga salah nulis).  Mungkin karena diberi nama oleh Soekarno, ibuku merasa ”terikat” dengan Soekarno.  Setiap mudik dan ngumpul, kam masih suka menggoda ibu : ”deuuhh…yang dikasih nama (dari) Soekarno.”  Ibuku sumringah betul kalo digituin.

Bandung tahun 2000-an

Ibuku : ”Kalo mau masuk partai politik, masuklah ke PDI-P.”

Aku  : ”Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen.”

Aku  : ”Kalo PDI-P bubar, gimana?”

Ibuku : ”Terserah partai apa aja, yang penting Marhaen.”

Aku : ”Kok gitu?”

Ibu  : ”Partai politik boleh berganti (nama), tapi ideologi tak pernah mati.”

Salam,

Lintasophia

 

Hidup Bahagia Secara Frugal

Pengantar

5.-FrugalityPernah mendengar kata frugal?  Aku mendengar kata frugal sekitar 2011, secara ga sengaja nemu di youtube.  Saat itu, sekitar tahun 2010 sampai September 2012 aku hidup dalam kondisi gaji yang minim karena pengurangan jam kerja, sementara post-post yang harus dibayar sama saja seperti sebelumnya.  Di situlah aku mulai belajar lebih serius bagaimana orang-orang di luar sana bisa survive dengan penghasilan minim.  Sayangnya, sampai sekarang tidak banyak artikel maupun video tentang frugal dalam bahasa Indonesia, kebanyakan dari Amerika.

Baca-baca artikel hingga nonton youtube dengan kata kunci ”living in budget,” mengantarkanku ke deretan video tentang frugal living.  Jadi, frugal itu adalah istilah bule untuk hidup sederhana. Hidup di bawah penghasilan.  Serba minimalis dan ekonomis.  Sesuatu yang sebetulnya sudah diajarkan nenek moyang kita ya.

frozen frugalityDulu pas liat di youtube, para frugalista (sebutan untuk para pelaku hidup frugal), kok hidupnya mesakke yo?  Bikin selai sendiri, bikin saos tomat dan acar berbotol-botol lalu disimpan di gudang.  Serasa zaman perang.  Belum lagi jejeran makanan bekunya yang bikin merinding.  Nyaliku udah ciut duluan liat polah mereka.  Mana mungkin aku yang pemilih dan mudah bosan dalam hal makanan bisa hidup seperti itu?  Aku sih milih makan sekali sehari daripada makan makanan beku begitu. Belum lagi gaya belanja mereka yang menggunakan kupon makanan.  Oh Gosh, ribet bener!  Secara sederhana, aku memangkas beberapa pengeluaran yang tidak penting, misal biaya komunikasi, makan di luar dan beberapa hal kecil lainnya.

Pada intinya, frugal itu kemampuan hidup sederhana (di bawah penghasilannya), dengan melakukan belanja atau pilihan bijak serta ekonomis dan mengalihkan sebagian pendapatannya untuk sebuah tujuan terencana.  Menjadi frugalista tidak terjadi dalam satu malam, setahun atau dua tahun.  Lebih lama dari itu.  Karena itu, seorang frugalista sangat menghargai proses.

Seorang frugalista memilih sesuatu/barang karena value daripada prestise, apalagi sekedar gengsi.  Karena itu, seorang frugalista umumnya pintar bersyukur  dan bahagia dengan apa yang ia punya.  Mungkin pula itu sebabnya, seorang frugalista mampu tampil bersahaja, gembira dan penuh suka cita sekalipun penampilannya jauh dari rupa sosialita.   Seorang frugalista juga mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.  Point yang terakhir susah banget, percayalah… *hapus keringat.

Menjalani Frugal Karena Kepepet

Terhitung sejak 2010 aku serius menjadi frugalista meski masih berantakan.  Menjadi frugalista tidak semata hidup hemat dan sederhana tapi juga harus hidup bahagia. Nah, aku sering gagal di perasaan bahagia.  Masih suka ngambek kalo gaji abis padahal kan buat bayar rumah.  Ibarat kata kondisiku saat itu, situ yang beli rumah lha kok situ yang ngomel-ngomel?  Kurang lebih seperti itu.  Atau dulu menurutku, aku akan bahagia jika hutang telah beres dan hidup normal.  Bisa hang out dan belanja-belenji lagi. Aku tertekan dan belum bisa menikmati konsekuensi setiap pilihan.

Bolak-balik mantengin youtube dan melihat perbedaan antara aku dan mereka.  Setelah dijalani dan belajar lagi, aku menemukan ternyata esensinya bukan di situ.  Tidak semata bisa patuh terhadap budget dan nabung sebanyak mungkin tapi ya harus bahagia menjalaninya.

Bahagia itu cara hidup sekarang, bukan tujuan hidup yang akan datang.  Aku pernah gagal memaknai bahagia.  Kurang lebih, berbahagia dan bersyukurlah apapun keadaannya.  Dengan begitu, setengah beban terangkat dan semua menjadi lebih mudah.  Susah?  Terus terang, iya.  Susah adaptasi pada awalnya.  Masih suka nostalgia masa-masa keemasan saat duit tidak menjadi masalah besar, tapi akhirnya terbiasa kok.

Memutuskan Menjadi Frugalista

debt freeKeadaan keuangan membaik itu sekitar Oktober 2012 (3 tahun lalu), saat seorang rekan mengundurkan diri dan aku menggantikan posisinya.  Jelas pendapatan bertambah.  Namun aku dan Mas Ipung memutuskan tetap melakoni hidup frugal.  Kita membuat target baru, yakni melunasi hutang yang kecil-kecil akibat huru hara selama 2 tahun terakhir.  Bila ada kelebihan dana, kita belikan emas batangan yang kelak ini membantu biaya pernikahan kita.

Tahun 2013 keadaan keuangan lumayan tapi hidup lebih frugal lagi karena sedang mempersiapkan pernikahan yang berlangsung 2014 lalu. Semua dianggarkan.  Pendapatan dan pengeluaran dicatat dengan detail.  Pengeluaran ditekan seminim mungkin.

Beruntung aku punya pasangan seperti Mas Ipung yang mau diajak belajar bersama.  Kita membuka diri terhadap hal-hal baru termasuk masalah keuangan.  Beberapa seminar kita ikuti termasuk membeli buku-buku finansial.  Model keluarga seperti apa yang kita inginkan kelak sudah kita bicarakan jauh-jauh hari, termasuk masalah income dan gaya hidup.

Setelah menikah, sebetulnya keadaan agak mendingan.  Satu event yang memakan biaya besar terlewati.  Tapi mungkin karena kita kadung cinta dan terbiasa hidup secara frugal, maka kita memutuskan melanjutkan gaya hidup ini.  Kita menambah beberapa target yang harus dicapai, misalnya menambah aset, membuka usaha, melunasi hutang-hutang hingga dana darurat.

Saat ini target yang sedang kita lakukan adalah akan mulai mengumpulkan dana darurat dan melunasi hutang-hutang.  Tahun ini adalah tahunnya membayar hutang-hutang dan dana darurat.  Beberapa kali kami salah strategi.   Misalkan, sebaiknya menyiapkan dana darurat dulu baru bayar hutang, tapi kami melakukan sebaliknya.  Akibatnya, sebelum dana darurat terkumpul, sudah terjadi beberapa hal yang membutuhkan dana dan tentu saja kami tidak siap.  Akhirnya ya gitu deh, gali  lubang tutup lubang.

Beberapa Perubahanku Setelah  Menjadi Frugalista

Melakoni hidup frugal artinya mengubah cara pandang dan gaya hidup.  Pernah merasakan hidup lumayan tiba-tiba harus Senen Kemis dan sebaliknya membuat daya juang bolehlah diadu. 😉 . Proses naik turun (baca : keuangan) memang menguji sekuat apa kita bersyukur.  Kalo kondisi sedang baik, tentu bukan hal sulit mengucapkan Puji Tuhan.  Iya, kan?  Kalo sedang susah?

Mengubah cara pandang juga terhadap uang.  Sama seperti aku, dulu Mas Ipung juga ga berat buat hang out dengan teman-teman tiap akhir pekan.  Tapi sekarang udah jarang banget.  Mending buat beli emas atau hal penting lainnya, katanya.  Atau ngumpul di rumah bersama teman-teman atau tetangga. Ingat, yang mahal itu gaya hidup bukan biaya hidup.

Aku sendiri sudah lama ga makan siang dan ngopi di luar.  Dulu, post ngopi-ngopi ini memakan lebih dari separuh bekelku.  Sekarang, sejak 2 tahun terakhir ini aku bawa bekel dan kopi dari rumah.  Ini sangat menghemat pengeluaran bulananku.

Urusan membawa bekel ini menjadi tantangan tersendiri saat keuangan sedang baik seperti saat ini.  Tapi nilai juangnya justru di situ, pengendalian diri. ;). Pernah karena kecapean, aku memutuskan makan di luar selama 2 bulan penuh.  Lumayan enak dan ga ribet sih.  Paling resikonya, dompet menipis sedangkan pinggang melebar…hiihihihih…. Di sinilah seorang frugalista harus bisa membedakan antara need and want. Biaya bulananku dipangkas sebesar 30% hingga 50 %, dialokasikan untuk goals kami selanjutnya.

Punya duit tapi irup  kok sengsara tenan, men?  Ga sengsara kok.  Semua tergantung cara kita menjalaninya.  Masih ada biaya huru hara eh hura-hura alias bersenang-senang.  Sebisa mungkin aku sisihkan sedikit untuk belanja barang yang sifatnya tidak penting tapi menyenangkan.  Misalnya, tas atau sepatu.  Kalau membutuhkan biaya besar ya harus ngumpulin dulu.  Post hura-hura ini boleh digunakan untuk makan di luar, nonton ke bioskop atau nongkrong di bar.  Tapi tentu saja sifatnya terbatas.  Begitu budgetnya abis ya sudah… Kalo dulu ya terbalik, selama sudah mengirim ke keluarga, bayar ini itu dan nabung, berarti sisanya boleh dihabiskan.  Pun goals yang kita buat sederhana dengan kondisi yang nyaman memang membuat kita ga terlalu lihai mengelolanya.  No pressure.

Perubahan apalagi ya? Kalo kata Mas Ipung, aku sekarang udah jinak, jarang marah-marah.  Masih menurut beliau, setiap bulan ada 2 kali aku marah-marah, saat PMS dan tanggal tua.  Tapi itu dulu.  Sekarang Mas Ipung bahkan lupa kapan terakhir kali aku mengeluh karena tanggal tua.  Iyalah, karena setiap bulan duit belanja udah dimasukan ke amplop-amplop tersendiri.  Jadi uda bisa mengatur umur duit belanja.  Ga selalu mulus, tapi lumayan terkendalilah kecuali kalo ada pengeluaran mendadak.

Frugal sama dengan Pelit?

Bisa ya bisa juga tidak, tergantung dari mana memandangnya.  Untuk beberapa hal aku mungkin pelit dan penuh perhitungan tapi di sisi lain, sampai sekarang masih bisa membantu keluarga, teman atau menjadi donatur.  Puji Tuhan.

Teringat kata Mas Ipung.  Perkara hidup khususnya pas gajian, bukan semata jumlah nominalnya.  Tapi bagaimana kita mampu mensyukuri, mengelola dan membaginya hingga bermanfaat bagi orang lain.  Terutama keluarga atau teman dekat.  Yang dikelola jangan cuma gajinya tapi juga hatinya.  Mengelola gaji ya mengelola hati.  Hidup susah aja empati ga boleh mati apalagi hidup berkelimpahan.  Begitu kalimat yang sering dialamatkan Mas Ipung padaku.  Hidup boleh frugal tapi ingatlah berbagi.  Karena berbagi makes you happy…*eh, abaikan grammarnya.

Salam hidup sederhana,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cinta 0 kilometer

Rindu itu permainan kata-kata

Mengubah jarak menjadi angka tak bermakna

Menyulam waktu menjadi bilangan semata

Membuat warna tak lagi sama

Ribuan persinggahan yang harus dilewati

Pada musim yang silih berganti

Cinta di 0 kilometer

Bikin gila sekaligus menguatkan

Abah dan Emak, don’t worry. Kami Bahagia.

Barusan liat foto-foto pertemuan kembali seorang sahabat istrinya yang tengah menempuh pendidikan di LN.  Umumnya istri yang nyusul suami ke LN, ini malah kebalikannya.  Sahabatku dan 2 anaknya yang menyusul istrinya ke LN.  Selamat ya, bang.  Ikut seneng untuk kalian.  Terharu liat foto-foto pertemuan kalian di bandara.

Teringat pertanyaan beberapa sahabat dan juga ibuku, tentang gimana rasanya tinggal berjauhan dengan suami untuk waktu yang belum pasti tahu sampai kapan.  Terutama untuk ibuku yang selalu kujawab bahwa aku dan Mas Ipung bahagia walau (mungkin) tak sempurna.  Ini bukan jawaban mengada-ada agar ibu tidak cemas memikirkan masalah kami tinggal berjauhan. Ini perasaan kami  sebenarnya yang mencoba mensyukuri apa pun kondisi saat ini.  Bukan rekayasa.

Beberapa hari lalu dengan Uni, Uning dan Henski kita ngobrol di WA.  Mereka adalah sahabat karib semasa kuliah dulu.  Biasanya kita sharing  bertukar resep masakan hingga kekonyolan dan kelucuan suami masing-masing, pokoknya obrolan-obrolan ajaib ala emak-emak.   Sebagai orang yang terakhir menikah diantara para sahabat karib, tentu aku masih harus belajar lebih banyak dari mereka.

Henskih cerita tentang pernikahannya yang bahagia.  Suaminya meski tidak romantis namun selalu ada saat dibutuhkan.  Ia juga suami yang asyik sekalipun sering ditinggal keluar kota karena urusan pekerjaan.  Begitu juga Uni yang belakangan ini menggeluti baking dan jogging.  Bentuk dukungan suami tidak semata membelikan peralatan masak memasak, juga bekerja sama  menjaga anaknya saat Uni harus jogging di pagi hari.   Seorang isteri tidak semata dicukupkan lewat materi.  Ada unsur lain, misalnya support suami untuk kemajuan isteri.

Mendengar kebahagiaan sahabat karibku, tentu saja aku ikut senang.  Mungkin sama seperti yang dirasakan ibuku di seberang sana saat aku bilang bahwa aku dan Mas Ipung bahagia.  Dimana-mana, seorang ibu pasti menginginkan anaknya (terutama anak perempuannya) hidup bahagia.  Tidak hanya menghibur aku, rupanya ibuku juga sering berkomunikasi via telfon dengan Mas Ipung.  Biasanya ibu menghibur Mas Ipung agar sabar karena selalu kutinggal merantau.

JON_0378Beberapa hari setelah menikah, ada pertanyaan yang mengusik benakku mengenai perpindahan keyakinan yang dilakukan oleh Mas Ipung sekalipun akhirnya dikucilkan keluarga besarnya.  Rupanya pertanyaan yang sama juga muncul dari beberapa teman kami.  Jawab Mas Ipung : ”Karena ia (aku) memang pantas dibela.”

Pujian demi pujian dilontarkan Mas Ipung yang membuatku jumawa saat mendengarnya.  Baginya, aku serupa gift from heaven.  Tapi itu dulu.  Nyatanya, bila di-flash back, justru Mas Ipung adalah gift  untukku.  Ia adalah keajaiban itu sendiri.  Bagaimana ia mampu bertahan menunggu dan mendampingiku hingga belasan tahun lamanya.  Padahal kalau mau, ia bisa dengan mudah mencari penggantiku.

Dulu aku meminta pada Tuhan agar diberi pendamping yang lembut hatinya.  Seorang  pria yang hormat pada perempuan yang melahirkannya, ibuku dan aku sendiri sebagai calon ibu dari anak-anaknya.  Mas Ipung adalah doa-doa yang mengejewantah.    Hatinya sangat lembut.  Belasan tahun bersama, aku belum pernah dengar ia marah atau tinggi nada suaranya.  Tidak padaku, tidak juga pada yang lain.  Ia pun memperlakukanku dengan sangat hormat baik di depan umum maupun saat berdua.  Pun sayangnya pada orang tuaku sama seperti pada orang tuanya.

Beberapa hari setelah menikah, kita silaturahmi ke beberapa teman lama.  Mereka memuji kita sebagai pasangan yang humoris, lucu dan kompak.  Ya, kita memang udah komitmen untuk tidak menunjukan kemarahan di depan orang lain.  Urusan domestik ada di balik pintu kamar.  Bisa jadi aku lagi ngambek, tapi pas ada tetangga atau teman berkunjung, kita biasa lagi.  Tinggalkan amarah di parkiran.  Itu kita lakukan kalo aku lagi ngambek dalam perjalanan.

Setelah menikah, ia punya kebiasaan lain untuk meredakan ngambekku.  Kalo sampe sore aku masih ngambek, ia akan menunjuk-nunjuk arlojinya.  Ini berkaitan dengan nasihat perkawinan bu pendeta yang menyatakan bahwa amarah harus sudah reda sebelum matahari terbenam.  Wah, repot kalo ngambeknya siang menjelang sore.  Urusan belum beres, harus udah harus maaf-maafan.  Rasanya rugi kalo ngambeknya siang-siang, mending dari pagi sekalian… 😉 😉

Berbicara tentang suppor, maka supporter terbesarku adalah Mas Ipung, yang bertahan tetap di sampingku saat keadaan sedang susah-susahnya.   Dukungannya selalu melimpah ruah.  Aku boleh  melakukan apa aja selama itu baik dan bikin aku senang.  Cuma itu saja syaratnya.  Tanpa dukungannya, pasti aku ga akan pernah seperti sekarang ini.

Diantara kebaikannya, sikap ikhlasnya menerima para keponakanku menjadi pertimbangan lain yakin memilih Mas Ipung.  Hal yang tidak kudapatkan dari pria-pria lain (sebelum menikah, masih ada beberapa pria yang mendekatiku).  Umumnya, mereka angkat tangan kalau kelak para keponakan ikut aku.  Katanya, mendekati aku serasa mendekati janda beranak 3.  Banyak banget anaknya!  Begitulah, kedekatan dan rasa nyaman para keponakanku bersama Mas Ipung  jadi petunjuk sendiri bahwa ia adalah pria yang tepat.

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna, demikian aku dan Mas Ipung.  Dengan keterbatasannya sebagai manusia, Mas Ipung selalu berusaha membuat aku merasa istimewa.   Kebaikan-kebaikannya menutupi kesalku saat ia (nyaris) selalu lupa ulang tahunku.  Tampaknya kondisi dan situasi yang mematangkan aku dengan Mas Ipung.  Menjalani masa pacaran dan nikah dengan cara tidak lazim (berjauhan) membuat kita berusaha memandang setiap masalah dengan cara berbeda.  Jalan yang kita tempuh juga tidak mudah,  namun rupanya ini menjadi arena sekuat apa kita saling mendukung satu sama lain.

Sebagai pasangan yang baru menikah kemarin sore, kita masih harus belajar lebih banyak lagi. Pastinya bakal nemu banyak masalah lagi.  Semoga bisa tetep solid setiap bertemu masalah.  Mungkin kita tidak punya banyak foto saat berdua.  Tapi kita bisa mencatatnya.  Hingga suatu hari nanti, anak-anak bisa membaca bahwa ayah dan ibunya bahagia.  Demikian juga untuk abah dan emak, jangan terlalu banyak fikiran.  Don’t worry, kami bahagia kok.

Salam sayang,

 

Lintasophia