Matikan Televisi, Kita Bertanam Strawberry

Keluargaku  punya mainan baru, yakni bertanam strawberry.  Ada 100 bibit strawberry siap tanam.   Ide awalnya adalah saat aku ingin mencoba menanam buah ini di Bantul.  Rasanya mustahil karena buah ini jenis tanaman yang tumbuh di daerah sejuk.  Tapi rasa penasaran menggodaku untuk mencobanya.  Akhirnya, dengan bantuan kakakku yang tinggal di Bandung, aku berhasil mendapatkan 200 bibit strawberry.

Awalnya, aku cuma meminta sekitar 50  bibit saja, namanya juga iseng-iseng berhadiah.  Kalau bisa tumbuh di Bantul ya syukur kalau tidak ya tidak rugi terlalu besar.  Harga bibitnya pun tidak seberapa.  Cuma Rp. 3.000 sampai Rp. 4.000 saja, pikirku.  Setelah beberapa waktu mempelajari seluk-beluk strawberry ini, akhirnya aku yakin untuk memesan bibitnya.  Eh, ternyata harga eceran bibit strawberry di Ciwidey itu Rp. 10.000/bibit, bukan Rp. 4.000 seperti yang tertulis di internet.  Harganya  lebih murah kalau kita ambil dalam partai besar, minimal 200 bibit.

Setelah hitung punya hitung, akhirnya kita ambil jumlah minimum pembelian dalam partai besar, yakni 200 bibit.  Kami bayar sekitar Rp. 800.000.  Sudah diluar budget.  Tapi, kalau beli 50 bibit dengan harga eceran juga sudah Rp. 500.000.  Nah, setelah itu bibit kami bagi 2.  Sebagian untuk ibuku dan sebagian lagi telah dikirim ke Jogja, via Leuwigajah.   Biaya bibit aku bagi 2 dengan ibuku.

Ada cerita lucu nih, bahwa sebetulnya ibuku yang sangat minat bertanam strawberry.  Ibuku sedikit ”dongkol” terhadap bapakku yang tidak membolehkannya menyentuh tanaman-tanaman milik bapak.  Oh ya, bapakku juga sangat suka berkebun.  Mungkin ini ciri khas para manula menghabiskan waktunya.  Nah, kemaren pas masih hunting rumah, bapakku selalu suka rumah yang berada di gunung.  Biar bisa berkebun, katanya.  Awalnya, orang tuaku juga minta dibelikan sepetak ladang untuk bercocok tanam.  Namun, kendala lokasi yang jauh membatalkan rencana ini.  Dengan tubuh yang sudah renta, agak mustahil bagi mereka pergi ke ladang.   Ide rumah dan ladang di gunung masuk peti es.  Bersyukur kami akhirnya menemukan rumah kecil di kota, jaraknya cuma 15 menit berjalan kaki dengan rumah ibuku.  Dan, yang membuat bapakku senang yaitu, ada sedikit tanah kosong untuk berkebun.  Beredar khabar, bahwa bapakku sudah menanm pohon sawo untuk kelak dipindah ke rumah baru.  Horeee….

Sampai saat ini bapakku masih setia dengan bunga-bunganya.   Tentang hal ini, ada beda pendapat antara bapak dan ibuku.  Kalau menurut ibuku, lebih baik menanam buah dalam pot.  Jelas hasilnya dan bisa dimakan atau dijual….halah…  Sedangkan alasan bapakku, menanam bunga  tidak ada urusannya dengan berjualan, lebih ke kebahagiaan bathin.  Ini awalnya mengapa ibuku tidak diperbolehkan menyentuh tanaman bapak.  Mungkin bapakku paranoid kalau ibuku akan merusak tanamannya (ini fikiran burukku saja :) ).

Ketika kuutarakan niat menanam strawberry, ibuku sangat semangat bahkan menawarkan diri untuk mengambilnya langsung ke Ciwidey.  Sekalian lihat kebun strawberry dan belajar bertanam, kata ibuku.  Ide ini ditolak mentah-mentah oleh kakakku.  Tidak jelas negosiasi seperti apa yang dilancarkan oleh kakakku hingga akhirnya bisa pergi sendiri ke Ciwidey, mengingat sebelumnya ibuku mengancam hanya akan memberikan duit beli bibit jika beliau diajak.

*****

Kemarin ibu dan keponakanku sudah mulai memisah-misahkan bibit strawberry ke polybag yang lebih besar.  Dari sekian banyak, ternyata ada salah satu pohon yang mulai berbuah.  Bayangan kelak bisa makan strawberry sepuasnya membuat Tony, Uis dan Lia (para keponakanku) sangat semangat membantu ibuku.  Keponakanku tidak peduli walau tangan mereka kotor dan kaki berlumpur.  Saat ibuku bercerita tentang ini, aku juga terbawa senang.  Sebaliknya dengan ibuku yang lebih suka anak-anak bersih.

Tidak ada debat panjang tentang ini.  Aku cuma meminta ibuku membiarkan anak-anak  untuk menikmati dunianya.  Menurutku, ini jauh lebih baik bermain-main di kebun strawberry daripada menghabiskan waktu di depan televisi.  Ibuku sepakat.   Ibuku juga tidak suka anak-anak selalu menonton televisi, kecuali saat ibuku butuh ketenangan di dapur. Saat seperti ini, televisi hadir sebagai penyelamat keadaan. Dengan adanya kebun strawberry ini, ibuku bisa mematikan televisi.  Begitu bangun pagi, anak-anak langsung meluncur ke kebun.  Say hello ke si Bolang, Blacky dan Chika.  Setelah itu mereka larut diantara tekhnik bertanam strawberry.  Mereka juga membantu bapakku menyusun polybag berisi bibit strawberry.  Ini jauh lebih baik untuk anak-anak.  Aku juga menyarankan agar ibuku mengurangi khawatirnya terhadap kesehatan anak-anak.

Tadi malam aku sarankan agar ibuku memberi ijin para keponakanku hujan-hujanan.  Sesekali tidak mengapa, asal jangan tiap hari.  Begitu juga menonton televisi, asal tidak berlebihan dan nonton program khusus anak tentu baik juga untuk mereka.  Ibuku menyanggupinya termasuk membiarkan anak-anak sesekali berjalan kaki tanpa sandal atau sepatu.  Pas mudik nanti, aku juga berencana mau mengajak mereka untuk kemping (tidur di dalam tenda).  Tempatnya ga jauh-jauh tapi di kebun strawberry.  Awalnya ibuku menolak, takut anak-anak masuk angin.  Tapi aku memenangkan proposal kemping ini.  Ibuku pasrah.

Nah, selama berkebun ini, ada saja obrolan para keponakanku.  Menurut Lia, sebaiknya buah hasil panen dibuat kue saja atau jadi selai roti, seperti yang selama ini Lia suka makan.  Tapi menurut Uis, lebih baik dijus karena lebih segar.  Waduh, khayalan tingkat tinggi nih.  Ketahuan banget deh kalau fikiran Lia dan Uis itu tidak jauh dari makanan.  Ide paling gila itu milik Tony.  Ia menyarankan agar kita menjual hasil panen ke pasar atau supermarket dekat rumah saja.  ck…ck…ck…

Tadi pagi, sambil menunggu Lia dipanggil dari kebun, ibuku bercerita kalau Lia sekarang tidak nonton Sponge Bob di pagi hari.  Begitu bangun, Lia langsung meluncur ke kebun.  Begitu juga Tony dan Uis.  Sangat senang mendengarnya.  Dengan kebun mini ini, ikatan batin mereka semakin kuat.  Kata ibuku, seandainya dari dulu menanam buah, pasti sudah menghasilkan.  Kalau nanem kembang seperti hobi bapakku, tidak semua anggota keluarga bisa terlibat.  Mungkin ini juga jadi bahan pertimbangan kalau teman-teman memilih berkebun sebagai sarana rekreasi keluarga.  Pilih tanaman yang menghasilkan (sebagai rewards untuk anak-anak) dan mudah pemeliharaannya.

Sebelum aku menutup telfon, ibuku membuat pengakuan mengejutkan.  Ternyata dalam fikiran beliau selama ini, pohon strawberry itu menjuntai-juntai, bukan ditanam di dalam pot.  Halah…. itu mah pohon anggur, kataku :) .

Salam,

Ket. gambar dari Google.

9 thoughts on “Matikan Televisi, Kita Bertanam Strawberry

    • Aku di Sedayu, Bantul. Kemaren baru nyoba bertanam strawberry dan ternyata ga cocok dengan cuaca Bantul yang panas, sekalipun di musim penghujan.
      Ntar nyoba nanem yang laen….hehehhehe…
      Makasih ya udah mampir, salam kenal.

  1. bukannya di daerah panas juga bisa berbuah? cuman mungkin ga sebanyak di daerah dingin
    salam kenal…….yang di sedayu bisa ndak mbak?

    • Salam kenal kembali, mas…
      Kemaren gagal karena layu semua… Blass ga ada yang nyisa.
      Bingung salah dimana, padahal sambil konsultasi juga sama toko buah-buahan tempat beli pupuk. Diagnosis sementara, terlalu panas.
      Makasih udah mampir ya, mas… :)

  2. Aku juga di bantul dan nanem strawberry juga. Hidup kok..

    Dari 5 tanaman sekarang udah 23, sebentar lagi mau ketambahan 13 dari perbanyakan stolon..

    Bisa hidup kok, di daerah panas

    Asal sering di siram atau di spray dan tanahnya harus gembur

  3. salam sejahtera
    saya rajid gani di palembang
    saya ingin bertanya, untuk sentral penjualaln bibit sroberi di are bandung di mana ya_
    tolong kasih tau alamat yg bisa saya datangi. trimakasih_

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s