Doa Sempurna Seorang Ayah

Doa Sempurna Seorang Ayah

”Itu laguku waktu SMP.”  teriak adikku saat Sleeping Child-nya Michael Learns To Rock menghentak riang ruang toko tempatku bekerja.

”Oh ya?”  Tanyaku.

”Lagu pas pelajaran bahasa Inggris tepatnya.”  Tambah adikku. ”Dulu, kami wajib hafal lagu ini.  Sekalian belajar grammar.”  Adikku menambahkan sambil menggusur posisiku dari depan komputer.  Secara bersama-sama  kami menyanyikan Sleeping Child yang dipopulerkan oleh Jascha Richter yang berasal dari Denmark.

*****

Sleeping Child sebuah lagu yang hebat.  Bisa dikatakan salah satu lagu favoritku, mungkin juga jadi  lagu favorit untuk generasi usia 30 tahun ke atas, seperti aku dan adikku.  Ketika lagu Sleeping Child booming sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah), ada perasaan campur aduk.  Maksudku, senang karena  karena ini sebuah lagu easy listening.  Enak untuk disenandungkan.  Tapi cemburu merupakan  kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku saat itu.

Secara singkat, dulu setelah aku beranjak remaja, hubunganku dengan bapakku tidak begitu dekat.  Bawaannya berantem melulu.  Sampai sekarang, bapak  mengingatku sebagai anak pembangkang dan keras kepala… ;) .  Berbeda dengan kakak atau adikku yang pembawaannya lebih tenang.  Tidak ketinggalan, relasi bapak dan ibu juga tidak selalu indah saat itu.  Padahal pada lirik lagu terdapat satu kalimat  manis menurutku : I’ll sing for you, I’ll sing for mother.  Lirik sederhana itu terasa istimewa karena jarang lho lagu yang menyelipkan isteri ke dalam ceritanya.  Biasanya sebuah lagu sebatas untuk kekasih saja.  Setelah punya anak, biasanya laki-laki fokus mencurahkan kasih sayangnya pada anak. Ayo, bapak-bapak ngaku…. :) .

Kembali lagi ke latar belakang peristiwa. ;) Karena aku masuk kategori sering berantem dengan bapak, pas dengar lagu ini (yang  menceritakan doa seorang bapak untuk anak dan isterinya), muncul keinginan seandainya bapakku yang menyanyikan lagu ini. Seandainya yang menyanyikan Sleeping Child itu bapakku.   Seandainya bapakku selembut Jascha Richter dan kawan-kawan.  Dan masih banyak seandainya, seandainya…

Ternyata Tuhan mendengarkan doaku.  Si Dia mengirimkan banyak sekali bapak yang baik untukku, salah satunya bapak seorang sahabat yang kini bermukim di Bali.  Memang sih beliau tidak cakep (hihihihi, maaf Mr. D).  Ia tidak pula bisa menyanyi atau bermain gitar seperti Jascha Richter.   Namun cara Mr. D (panggilanku pada bapak temanku) memperlakukan anak-anak dan isterinya sangat memukauku. Mr. D sangat sayang anak-anaknya dan tentu saja pada isterinya.  Ia bapak yang hangat dan bertanggung jawab.

Setelah bertemu Mr. D dan keluarga, perlahan aku mulai melupakan Sleeping Child dan rasa cemburu yang menyertainya.  Kini aku memiliki bapak Sleeping Child!   Walau harus kuakui, pengaruh lagu Sleeping Child  tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku.  Pengaruh lirik lagu ini menginspirasiku saat mencari laki-laki kecengan….tsaaahhhh…  :)

Selain kudu pinter dan enak diajak bicara (mulai dari masalah tempe, sendal jepit hingga pesawat luar angkasa), salah satu kriteria laki-laki yang OK menurutku adalah mengerti cara memperlakukan perempuan.  Seorang laki-laki hebat tahu cara menghormati dan menyayangi isterinya.  Laki-laki yang keren harus terlebih dulu sayang pada ibu dari anak-anaknya dan Sleeping Child adalah doa sempurna dari seorang ayah ;)

Oh my sleeping child, the world’s so wild

But you’ve build your own paradise

That’s one reason why

I’ll cover you sleeping child

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Melatih Kesabaran Secara Digital

Melatih Kesabaran Secara Digital

Sudah setahun ini, tepatnya sejak summer tahun lalu, Blackberry kesayanganku (disayang karena hapeku satu-satunya) selalu membuat kacau, balau dan galau….halah…  Sejak aku membelinya 2 tahun lalu, hape ini sering banget bikin darah tinggi.  Ada saja tingkahnya, sebut saja; ngehang atau loadingnya lama.  Tahun lalu, keypadnya benar-benar tidak mau bekerja sama dengan baik.  Yang ditekan apa, keluarnya huruf apa, borongan pula!  Maksudnya, langsung muncul beberapa huruf sekaligus.

Masih di periode yang sama, Blackberry tipe 8250 Curve ini malah mati total saat aku harus tinggal di luar kota (Firenze) untuk jangka waktu agak lama.  Acara jalan-jalan sedikit terganggu karena kami tidak bisa mengabadikan momen dan tempat-tempat indah.  Beberapa hari terakhir di Firenze, aku memutuskan membeli kamera poket demi memuaskan keinginan bernarsis ria.  Hasilnya tidak maksimal, selain momen yang terlewat dan tak mungkin terulang, alasan lain adalah banyak tempat tidak  berhasil kami abadikan karena waktunya sangat mepet menjelang pulang ke Genova.  Yang penting, ada dokumentasi, begitu fikirku.

Teman-teman yang sering melihat aku uring-uringan karena hape ini menyarankanku untuk segera berganti hape.  Mereka juga kadang terganggu saat sulit menghubungiku, misalnya kebetulan hapeku sedang error.  Beberapa bulan terakhir ini, kondisi hapeku makin parah.  Nada (dering) saat Bbm (blackberry messenger) masuk menghilang.  Padahal, aku tidak mengubah settingannya.  Terjadi begitu saja.  Menghilang!  Jadilah, sekarang gayaku itu laksana orang paling sibuk sedunia, sebentar-bentar check hape, barangkali ada Bbm masuk namun tak terdeteksi.   Kalau bbm dari teman-teman aku bisa tunda untuk membalasnya, biasanya mereka ngerti bahwa aku sedang sibuk.  Tapi coba banyangkan kalau majikan yang Bbm dan butuh direspon secara cepat?  Haduh!

Bukan karena aku ketergantungan akan tekhnologi maka perkara hape error bisa bikin aku seakan terguncang jiwanya.  Karena sebelum hape ini error, komputerku sudah duluan rusak sekitar  3 tahun lalu.  Mak, komputer sudah rusak masih dipertahankan?  Hihihihihih, lagi bokek berat nih.    Maka, perkara mengganti laptop dan hape saat ini bukan prioritas.   Terpaksa, berbesar dan bersabar hati menggunakan piranti yang ada.

Bersabar?  Ya, bersabar (kamu tidak salah baca).    Ternyata ada sisi lain dibalik rusaknya hape dan laptopku.    Semua ini melatih kesabaranku.  Usia hidup komputer dan hapeku yang tidak dapat ditebak membuatku lebih hati-hati menggunakannya.  Katakanlah,  bila hari ini laptopku bisa nyala maka esok hari belum tentu demikian.

Sadar akan kondisi ini, sekarang laptop aku pakai untuk hal-hal yang penting saja.  Berjalan-jalan di dunia maya juga sudah semakin jarang kulakukan.   Dengan hape dan laptop dengan kondisi ala kadarnya pula membuat waktu di sekitarku melambat.  Serangan informasi yang berlebihan tidak menderaku.  Kebetulan pula cuaca sudah membaik, aku lebih senang kembali ke dunia nyata (untungnya aku belum lupa passwordnya),  nongkrong di bar, keluar masuk gang dan sebagainya.  Enak deh! :) .  Buah kesabaran menggunakan gadget rusak memang terasa adanya.  Beberapa buku berhasil kulahap sampai tuntas.  Hebat tho?

Saat berhasil  menyalakan laptop dan mengakses internet, hanya  hal-hal yang menurutku baik dan berguna yang kubaca (menurutku sih…heheheheh…).    Teman-teman dekat, baik yang kukenal dari dunia nyata maupun maya atau mereka yang memiliki minat yang sama denganku kusapa secara intim.   Selebihnya aku skip…..hihihihihi…

Punya waktu dan sarana terbatas memang secara tidak sadar memfilter diri kita untuk melakukan sesuatu yang penting, salah satunya ya model berkomunikasi dengan teman dan kerabat seperti yang aku tulis di atas.  Memang tidak semua dapat disapa, tapi sekarang terasa bedanya, setiap sapaan benar-benar dari hati…*smile.

Sosok pembaca yang terdiam di sudut dunia maya,  merupakan panggilan yang tepat untukku.  Bukannya mendadak sombong, tapi jika aku menyapa atau berkomentar di dunia jejaring sosial, maka notifikasi yang masuk mampu membuat hapeku meledak.   Seandainya meledak (baca : hang) dalam waktu sebentar masih bisa dimaklumi, tapi menyalakan kembali hapeku itu lho yang butuh perjuangan dan kesabaran lebih.  :) :) .   Batere harus dilepaskan dan didiamkan beberapa saat, terkadang batere  aku tiup-tiup dulu (yang aku sendiri ga tahu manfaat meniup batere hape sebelum memasangnya kembali).  Bosku cuma geleng-geleng kepala setiap aku bongkar pasang batere hape.

”Cah uedan!”  komentar bosku dalam bahasa Italia tentunya.

Setelah itu,  batere kemudian dipasang lagi dan tunggu deh hingga ada tanda kehidupan.   Nah, ini yang aku sebut sebagai melatih kesabaran secara digital.  Mau lihat bagaimana hal ini bekerja?  Coba cari perangkat elektronikmu yang sudah error  (setengah hidup atau setengah mati) dan paksa dirimu untuk tetap menggunakannya.  Hasilnya cuma ada 2.  Entah kamu berubah jadi lebih sabar atau malah jadi gila. ;) ;)

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Ultah Ibu dan Kesempatan Terlewat

Ultah Ibu dan Kesempatan Terlewat

Hari ini ulang tahun ke-64 ibuku.  Seneng banget mendengar suaranya barusan walau cuma beberapa menit.  Ibu juga seneng mendengar suaraku.  Ibuku bercerita bahwa pagi ini ia kesiangan bangun.  Tadi malam tidurnya sangat pulas.

”Perasaan jadi ga karuan kalau kesiangan.  Kerja jadi serba salah.”  tutur ibuku.

”Ini ultahmu, your special day.  Mestinya libur.”  Saranku  yang dibalasnya dengan suara renyah.   Pagi ini ia sangat riang.  Secara ga sengaja, ibu bilang kangen juga terhadap kami yang jauh ini.  Aku menahan diri untuk tidak menangis, karena ibu jarang sekali mengatakan rindu.

Takut  bikin kalian menjadi lemah,  begitu alasannya ketika suatu hari kutanya mengapa ia tidak pernah merajuk karena rindu.  Berbeda denganku yang  selalu memborbardir ibuku dengan telfon saat aku rindu atau galau….halah….

”Sayang sekali, hari ini kita ga bisa ngumpul ya.”  sesalku.

”Ah, ga perlu difikirkan.  Ga perlu difikirkan.”  kata ibuku buru-buru meralat seakan baru saja  melontarkan sebuah rahasia negara.  Begitulah ibuku.  Perempuan yang selama ini kukenal setangguh batu karang tiba-tiba pagi ini aku menemukannya dalam sosok lain.  Sosok ibu yang merindukan kehadiran anak-anaknya.

”Doakan kami semua sehat dan keadaan di sini membaik sehingga cepat-cepat bisa buka usaha di Indonesia.”

”Pasti, pasti itu mah…”  jawabnya yakin.

”Aku juga udah ga sabar pengen pensiun dini biar bisa ngumpul lagi.”  aku meminta beliau untuk lebih sabar atas perpisahan yang tak terelakan ini.

”Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan jaga kesehatan.  Kasih aku waktu untuk membayar kesempatan indah yang telah terlewat.”

”Pasti….”  jawab ibuku pelan saja, nyaris tidak terdengar.

Selamat ulang tahun pelita hatiku.  Luv u so much…. *crying.

Lintasophia