Hari ini ulang tahun ke-64 ibuku. Seneng banget mendengar suaranya barusan walau cuma beberapa menit. Ibu juga seneng mendengar suaraku. Ibuku bercerita bahwa pagi ini ia kesiangan bangun. Tadi malam tidurnya sangat pulas.
”Perasaan jadi ga karuan kalau kesiangan. Kerja jadi serba salah.” tutur ibuku.
”Ini ultahmu, your special day. Mestinya libur.” Saranku yang dibalasnya dengan suara renyah. Pagi ini ia sangat riang. Secara ga sengaja, ibu bilang kangen juga terhadap kami yang jauh ini. Aku menahan diri untuk tidak menangis, karena ibu jarang sekali mengatakan rindu.
Takut bikin kalian menjadi lemah, begitu alasannya ketika suatu hari kutanya mengapa ia tidak pernah merajuk karena rindu. Berbeda denganku yang selalu memborbardir ibuku dengan telfon saat aku rindu atau galau….halah….
”Sayang sekali, hari ini kita ga bisa ngumpul ya.” sesalku.
”Ah, ga perlu difikirkan. Ga perlu difikirkan.” kata ibuku buru-buru meralat seakan baru saja melontarkan sebuah rahasia negara. Begitulah ibuku. Perempuan yang selama ini kukenal setangguh batu karang tiba-tiba pagi ini aku menemukannya dalam sosok lain. Sosok ibu yang merindukan kehadiran anak-anaknya.
”Doakan kami semua sehat dan keadaan di sini membaik sehingga cepat-cepat bisa buka usaha di Indonesia.”
”Pasti, pasti itu mah…” jawabnya yakin.
”Aku juga udah ga sabar pengen pensiun dini biar bisa ngumpul lagi.” aku meminta beliau untuk lebih sabar atas perpisahan yang tak terelakan ini.
”Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan jaga kesehatan. Kasih aku waktu untuk membayar kesempatan indah yang telah terlewat.”
”Pasti….” jawab ibuku pelan saja, nyaris tidak terdengar.
Selamat ulang tahun pelita hatiku. Luv u so much…. *crying.
Lintasophia