Tahun Ajaran Baru. Orang Tua : ”Aint’ Goin’ Down”

Sepotong bbm-an antara aku dan Tony (keponakan) yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional Sekolah Dasar.   Sebelumnya, Tony sudah melaporkan kebutuhan biaya pas masuk SMP nanti.

Tony : ”Tante pusing ya karena mikirin kami?.”

Aku  : ”Ga, tante ga pusing… Tante bakal pusing kalau kalian nakal.”

Saat ini, Tony lagi menimbang-nimbang SMP yang akan dipilihnya.   Faktor kualitas sekolah, biaya dan lokasi menjadi pertimbangan utama kami dalam memilih sekolah.  Secara umum, masalah biaya menjadi kajian paling mendalam. ;)    Maklum, salah mengambil keputusan, akan berpengaruh pada si anak dan (keuangan) keluarga.

Setiap tahun ajaran baru tiba,  pengeluaran selama beberapa bulan ke depan membengkak.  Misalnya, menjelang pembagian raport, umumnya SPP didobel (dimajukan pembayarannya).  Seperti bulan ini, kiriman harus ditambah untuk SPP bulan Juni.  Sedangkan bulan depan,kiriman harus ditambah untuk  pembayaran SPP bulan Juli.

*****

Beberapa bulan ke depan (paling tidak sampai Agustus) ”tahun ajaran baru syndrome” akan terasa.  Ini bulan-bulan yang berat bagi keluarga di Indonesia yang mempunyai anak masih sekolah.  Paling tidak, keriuhan tahun ajaran baru sudah aku rasakan beberapa tahun terakhir ini.

Bukan semata masalah uang pangkal (pendaftaran) atau  SPP yang dimajukan pembayarannya, masih ada item lain yang memaksa orang tua merogeh kocek lebih dalam.  Apalagi kalau bukan masalah seragam, buku tulis dan buku cetak hingga penggaris.

Kalau dalam keluarga cuma 1 orang anak usia sekolah, mungkin jeritan beratnya biaya sekolah tidak sampai terdengar.  Namun kondisi berbeda terjadi di keluargaku yang saat ini ada 3 orang anak kakak menjadi tanggung jawab kami.  Ajaibnya, nyaris setiap tahun ada saja yang masuk atau mendaftar ke sekolah dengan jenjang lebih tinggi.  Seperti tahun ini, Tony harus mendaftar SMP setelah tahun lalu Lia lulus TK dan menyusul Tony di SD yang sama.

Sudah sejak lama aku menyiapkan tabel pendidikan untuk Tony, Uih dan Lia.  Tabel ini berisi tahun masuk dan lulus para keponakanku.  Sebetulnya, aku pengen menyertakan tabel pendidikan mereka pada catatan kali ini, namun karena aku membuatnya di agenda, hasil foto pakai handphone malah membuat tabel tersebut kelihatan buram.

Secara garis besar, tabel tersebut seperti ini

Peta Pendidikan

*maaf, tampilan tabel berantakan.  Nanti aku edit lagi.

Dan seterusnya hingga masing-masing anak menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.  Jika tidak ada aral merintang dan semua terjadi seperti tabel yang aku buat, maka bisa ditelusuri (perkiraan) tahun kelulusan dari perguruan tinggi sebagai berikut :

Tony akan lulus kuliah tahun 2023

Uih akan lulus kuliah  tahun 2027

Lia akan lulus  kuliah tahun 2027

Masih butuh sekitar 15 tahun lagi proses mengantarkan Tony dan adik-adiknya menempuh pendidikan.  Semoga Tuhan memberikan kekuatan untukku dan keluarga agar bisa melewati semua ini.  Bagaimanapun juga, pendidikan mereka yang utama.  Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, pun begitu saat anak-anak menjadi tanggung jawabku.  Kadang suntuk sih pas tahun ajaran baru gini, pengeluaran edan gedenya.  Di alam bawah sadarku, udah tertulis : ain’t going down buat anak-anak.

Hidup menjadi lebih berwarna saat banyak hal difikirkan dalam waktu bersamaan. Mulai dari urusan pendidikan anak-anak, pernikahan,  bisnis di Indonesia hingga dana pensiun kelak.  Well, aku belum patah semangat mendeklarasikan akan pensiun dini pada usia 40 tahun.  Pensiun dini tak perlu  diartikan sebagai  ”total tidak bekerja.”

Sejatinya, dalam beberapa tahun ke depan, aku mau  bekerja karena aku pengen bekerja, bukan semata tuntutan materi.  Punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri.  Ini sebagai kompensasi selama ini selalu berjauhan dengan keluarga.  Apakah  mustahil?  Maybe yes maybe not.  Kita lihat saja nanti.  Kebetulan, aku suka memikirkan sesuatu diluar kemampuanku, termasuk perkara pensiun dini yang hitungan waktunya tidak lama lagi.  Waktu yang akan menjawab….kekekekeek…  ;) ;) .

Kamu tahu hal pertama yang jadi perhatian bila kelak aku menikah?  Yup, mengatur kehamilan dan kelahiran anak.  Orang tua bahagia, anak sejahtera. *

Semangat berjuang untuk para orang tua yang sedang menunggu hasil ujian nasional.

Salam hangat,

Lintasophia

Menangkap Peluang

Beberapa hari yang lalu, saat aku menjaga stand di sebuah fiera, aku mendapat  pelajaran yang kemudian menjadi bahan tulisan kali ini.  Sore itu, cuaca sedang tidak jelas.  Sebagai gambaran, meski kalender sudah menunjukan (nyaris) akhir bulan April, dingin dan hujan enggan meninggalkan Genova.  Padahal, sudah sebulan kita menginjak musim semi.  Berdasarkan pengalaman 9 tahun tinggal di sini, biasanya akhir April begini, sudah pantas kita hanya mengenakan sepatu teplek (ballerina) dan sekedar jaket atau blazer tipis saja.  Fenomena alam kali ini berkata lain.  Udara masih dingin walau sesekali matahari muncul.  Anomali alam.  Maka, sudilah kiranya kita menyebut fenomena yang tak biasa ini sebagai pendinginan global. :)

Di sekitarku, banyak pedagan asongan, mulai dari magnet (tempelan di kulkas) bertuliskan Genova, kacamata  hitam dengan frame warna warni, balon hingga tas palsu dari merk kenamaan.  Umumnya, pedagang suvenir khas Genova itu berasal dari India atau Bangladesh (penilaian murni berdasarkan ciri fisik dan bahasa yang digunakan mereka yang tampaknya dari kedua negara tersebut).  Kemudian, penjual tas dan payung biasanya orang Marocco dan Senegal.  Sejak kapan spesifikasi ini muncul, aku kurang memperhatikan.  Ada juga pedagang gelang bermaterial stainles steel.  Pada gelang ini, kita bisa minta diukirkan nama atau kata sesuai keinginan.  Umumnya, pedagang gelan porta fortuna (pembawa keberuntungan) ini berasal dari negeri China.

Sekedar informasi, pedagang asongan ini masuk kategori ilegal dan sering ditertibkan pihak keamanan.  Karena itu, kalau ada pedagang yang terbirit-birit, bisa dipastikan bahwa sedang ada penertiban.  Soal sanksi yang dikenakan, aku tidak faham.  Sejauh yang pernah aku lihat, pedagang yang tertangkap biasanya diperiksa dokumennya oleh petugas.  Baru sampai proses itu yang aku pernah lihat.

Nah, siang itu cuaca lumayan cerah setelah hujan mengguyur Genova sejak semalam.  Udara belumlah terasa hangat meski matahari sudah unjuk diri.  Sekarang, sudah tidak bisa langsung bertepuk tangan saat ada mentari, karena bisa saja beberapa saat kemudian hujan turun sangat deras.  Bila berada di luar ruangan, harus rajin bawa payung dan memandang langit.

Sedang asyik memandang sekeliling, ada seorang Senegal berlari dengan sangat kencang dari kejauhan.  Titik tolak ia berlari, persis dari sebuah trotoar  di depan Acquario di Genova.  Lokasi dimana para pedagang asongan menggelar jualannya.  ”Wah, ada penertiban nih.”  Fikirku.  Pria itu berlari sambil membawa jualannya berupa lempengan karton yang digantungi aneka kacamata hitam dengan frame warna-warni.  Ternyata ia cuma berlari sendiri.  Pedagang asongan yang lain tetap tenang-tenang saja.  Dalam sekejap, ia menerobos sebuah stand (milik orang Afrika).  Tidak lama kemudian ia keluar dari stand dengan membawa beberapa payung panjang dan pendek (lipat).  Secara tidak sadar, aku langsung menengadah.  Ternyata hujan turun lagi. Aku tidak menyadarinya karena terlalu asyik memandangi para pedagang di sekelilingku.

*****

Menurut temanku, peluang terasa indah bila sudah disikat oleh orang lain dan memang benar adanya.  Perasaan yang sama juga sering terjadi padaku.  Efeknya,  muncul sedikit penyesalan kenapa tangan tidak tangkas menangkap peluang yang ada. Atau, menyesal karena terlalu banyak pertimbangan yang membuat kita malah abai terhadap peluang yang sudah menanti sentuhan tangan.   Mengapa biasanya menyesal saat peluang hilang?  Ya, karena sesuai karakteristiknya, peluang muncul hanya sesekali, itu pun kedatangannya nyaris tak dapat diramal.  Hanya mereka yang siap mampu menangkap dan memanfaatkan peluang.   Jangan berkceil hati dulu,   para pakar juga berpendapat bahwa peluang dapat diciptakan.

Menciptakan peluang? Hmmmm…  Bagaimana caranya?  Adakah sekolah yang mengajarkan cara menciptakan peluang?  Menurutku sih, ada benarnya bahwa peluang dapat diciptakan.  Mereka yang biasa berlatih dan memiliki kepekaan tingga yang mampu menciptakan peluang.   Seperti pemuda Senegal penjual kacamata sekaligus payung yang kuceritakan di atas.   Saat mentari terik, ia berjualan kacamata sedangkan saat hujan maka payunglah yang ia tawarkan.  

Aku tidak hanya mengagumi ketangkasan kakinya saat berlari (mungkin karena terbiasa berlari cepat saat ada penertiban), namun lebih dari itu.  Aku juga mengagumin kecepatan fikirannya menangkap peluang yang datang.

Selamat melatih otot kaki sambil  mengasah kepekaan.

Salam hangat,

Lintasophia

Semoga Tahun Terakhir Pacaran

Yeay….  Judulnya gurih banget!!.  

23 Maret 2013 kemarin, tepat 10 tahun berpacaran antara aku dan Mas Ipung.  Jangan ditanya gimana rasanya pacaran selama itu.  Namun kita menjalaninya dengan santai, saking santainya sampai ga terasa 10 tahun dan jarak jauh pula.  Kalau difikir-fikir, selama 10 tahun pacaran, baru sekali saja  kita merayakan ulang tahunku, ulang tahun Mas Ipung, Natal dan tahun baru  secara bersama-sama.  Sisanya dirayakan di udara (baca : telfon atau SMS).

Jadi, dulu setahun pertama pacaran, aku masih tinggal di Bandung dan Mas Ipung di Jogja.  Sebulan sekali, ia mengunjungiku di Bandung selama 2 atau 3 hari atau aku menyambangi Jogja.  Ah gila, waktu benar-benar ga terasa ya.  Dulu waktu pertama kali ketemu, Mas Ipung rambutnya panjang banget, nyaris sepinggang.  Gayanya rock and roll.  Januari lalu pas ketemu, rambutnya sudah klimis khas gaya kelas pekerja.

Menurutnya, 12 tahun lalu pas kita pertama kali ketemu (belum pacaran), gayaku ancur dan preman banget.  Ini semua orang mengakuinya dan ampe sekarang juga masih ancur sih.  Tapi kemaren pas ketemu, si dia memujiku.  Katanya, walau secara gaya berpakaian masih gitu-gitu  aja (kaos oblong atau kemeja dengan lengan dilinting), sekarang aku lebih rapi dan  lembut cara jalannya.  Thank’s to  God!

*****

”Hei, kapan kalian kawin?”  Tanya seorang sahabat lama kami pas ngumpul-ngumpul suatu malam saat menghabiskan beberapa teguk miras yang sengaja kubawa sebagai buah tangan.

”Belum tahu.”  Jawabku acuh sambil membenahi jaketku untuk mengusir dinginnya malam di seberang Taman Societet Jogja.

”Dulu  (tahun 2011), kalian bilang target untuk  nikah 2 tahun lagi (artinya 2013, saat percakapan ini terjadi).”  Tanya sahabatku lagi.

”Lha, bukannya target memang harus dilewati?”  Jawabanku yang diplomatis tak urung membuat suasana lewat tengah malam layaknya baru lepas maghrib.

”Semprullll….”  Balas temanku.

Obrolan di atas merupakan kondisi umum ketika aku diajak bicara mengenai pernikahanku; acuh, dingin dan ga asyik.  Aku bisa berubah jadi monster menakutkan bila ada pihak yang memaksaku untuk membicarakan hal ini.  Belum pernah dalam sejarah, aku mampu membicarakan atau memikirkan pernikahan selama 1 jam penuh.  Biasanya cuma kalimat ini yang melintas  ”Menikah?  Oh, ntar aja deh.”  Nah, untuk kalimat seperti itu, menurutmu butuh waktu berapa lama untuk melintas di benakku?

Tapiiiii, itu dulu.  Sejak mudik Januari lalu, sudah hampir 2 bulan aku memikirkan  pernikahan ini. Bahkan  setiap hari.  Hebat kan?  Belum pernah aku memikirkan sebuah masalah  seserius ini, bahkan sanggup menguras beberapa kilo berat badanku dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Sekarang, aku lagi menahan berat badanku agar tidak terjun bebas.  Bila Tuhan berkehendak, mungkin sekitar Januari atau Februari 2014 kita bakal menikah, masih 10 bulan lagi.  Aku ga mau menikah dengan kondisi tubuh kering kerontang, rambut kusam karena kurang gizi.

10 tahun pacaran dan aku masih menolak untuk memikirkan untuk menikah.  Hingga 2 bulan lalu, beberapa hari menjelang pulang kembali ke sini, fikiranku berubah.  Ceritanya, setelah melihat ibu dan bapak yang semakin tua, juga permintaan anak-anak (keponakan) yang membuatku akhirnya melunak.  Kebetulan, aku (bersama kakak dan adik)  diberkahi untuk menanggung  kebutuhan para keponakanku yang saat ini tinggal bersama bapak dan ibu.

Orang tuaku sudah tidak muda lagi dan sering sakit-sakitan.   Mereka kewalahan mengurus para keponakanku.  Selain itu, para keponakanku juga sudah menagih aku untuk pulang dan tinggal bersama mereka.  Rencananya, setelah aku dan Mas Ipung menikah, mereka akan ikut kita tinggal di Jogja.  Tak terhitung berapa kali mereka menanyakan tentang ini, biasanya saat aku menemani mereka sarapan.   Dengan alasan takut pertanyaan-pertanyaan keponakan membuatku semakin terbebani, ibu melarang mereka untuk menanyakan hal serupa.  Namun bukan anak-anak namanya kalau tidak kehabisan akal.  Saat tidak ada ibu alias opung mereka,  maka pertanyaan-pertanyaan senada selalu membombardir diriku.  Reaksiku?  Cuma bisa diam.

*****

Demi ibu dan anak-anak juga demi rencana-rencana lain, aku berubah fikiran.  Mas Ipung seneng banget saat aku mengiyakan untuk menikah.  Bapak dan ibu, kakak adik,  para sahabat, sepupu juga ikut berteriak kencang.  Sahabat-sahabatku malah sudah sibuk hunting model dan warna kebaya.  Ada pula yang sudah tidak sabar ingin ke Pasar Baru  untuk lihat-lihat bahan kebaya….halah…  Belum lagi cerita sahabatku yang lainnya, ia mulai menabung untuk menjahit jas dan ongkos ke Bandung.  Sahabatku yang lainnya akan menjaga absen kerjanya sepanjang tahun ini, agar tahun depan bisa datang dan tinggal lebih lama di Bandung.   Ya Tuhan, benar-benar terharu lihat reaksi mereka.  Gila, aku ga pernah memikirkan efek rencana nikahanku akan sedahsyat ini.  Makasih ya, ciiinnn….

Lalu, sudah sampai mana persiapannya?  Bisa dikatakan sudah 1 %.  Iya, benar, sudah  satu persen.  Kita mencoba untuk berfikir positif dan fokus pada rencana akbar ini.  Kendala terbesar adalah dana.  Mungkin karena sedianya aku dan Mas Ipung pengen nikah 2 tahun lagi, bukan tahun ini, jadi kami belum memiliki dananya.  Dulu, kita sudah sempat nabung, namun karena belum ada kejelasan kapan akan menikah, akhirnya dana diputar dan hasilnya kurang sesuai dengan harapan.

Menurut  teman-teman yang sudah menikah, kita cuma perlu berusaha dan ikhtiar.  Niat baik akan dimudahkan oleh si Dia.  Tuhan tidak tidur, kata Mas Ipung menguatkanku.  Aku harap kami bisa melewati rintangan yang bakal datang.  Semoga saja benar bahwa ini tahun terakhir kami pacaran, setelah itu ke pelaminan.  

Mohon doanya ya temans…

Salam hangat,

Lintasophia

Selamat datang, November

Hei, untuk kalian yang bernama Novi atau Novita, ini bulan kita.  Bulan yang ditandai dengan derai hujan. November di depan mata. Sebuah hitungan waktu yang menunjukan bertambahnya usia.  Menjadi  17, 20, 30, 30 something dan seterusnya.   Berkah atau tulah kala fisik menua?  Apapun itu, selamat datang November!

Salam hangat,

Lintasophia

Kemenangan Jokowi dan Naiknya Harga Properti di Jakarta

Judulnya dong, dalem banget.   Tulisan asal ini berasal dari pengamatan dengan metode asal-asalan pula.  

Semua berawal dari email-email penolakan dari bank pemberi KPR di Indonesia, yang sampai saat ini bersikeras untuk tidak memberikan kredit untuk kami yang bekerja di luar negeri.    Beruntung aku tergabung dalam sebuah milis properti hingga suatu hari berkesempatan berbincang-bincang dengan profesional property investor.

Menurut temanku ini, ia bisa membantu memuluskan jalan mendapatkan KPR selama properti masih wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi).  Apa lacur, sampai saat ini aku tidak tertarik untuk tinggal di keempat wilayah yang aku sebutkan di atas.  Aku ga bisa membayangkan tinggal di kota yang macet terus menerus.  Setengah dari umur habis di jalan raya.  Kapan waktu untuk  istirahat dan ngumpul dengan keluarga?  Sebetulnya, properti yang kuincar bukan untuk kutinggali namun lebih investasi.  Tapi, membayangkan aku pergi  ke Jakarta….haduhhhh….  Untuk sementara, jalan tengah yang ditawarkan seorang teman harus aku abaikan.

Sebagai gambaran,  dulu aku pun mengabaikan wawancara kerja dari stasiun televisi di Jakarta.  Aku lebih menyukai tinggal di kota kecil, bebas polusi, bebas macet, tanpa banjir lima tahunan apalagi yang bersifat harian, setiap hujan pasti banjir.  Selain itu, kota favoritku harus sederhana (tidak metropolis) dan minim kriminalitas.  Mungkin  itu sebabnya mengapa Jogja masih di urutan pertama kota dimana aku akan menghabiskan masa tuaku kelak.  Bandara Sukarno Hatta dan jalan toll sekitarnya, juga Stasiun Gambir  serta Kedutaan Italia  nama beberapa tempat di Jakarta yang pernah aku datangi.  Cuma itu.

Kemeriahan Pilkada gubernur DKI Jakarta menimbulkan harapan akan perubahan lebih baik di ibu kota.  Sangat prihatin melihat kondisi Jakarta saat ini dan tidak sanggup membayangkan keadaannya beberapa tahun yang akan datang.

Angin segar harapan berhembus.  Kehadiran calon gubernur Joko Widodo (Jokowi)  dan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) dianggap menjadi jawaban atas kegelisahan akan nasib Jakarta.  Aku pun ikut senang dan berharap mereka yang terpilih.  Semoga kelak Jokowi dan Ahok mampu membuat sistem yang mengubah Jakarta menjadi lebih baik.  Istilahnya Jakarta Baru dalam kampanye tim yang diusung partai PDIP Perjuangan dan Gerindra.

Seandainya Jakarta telah menjadi kota yang aman dan nyaman untuk dihuni, tentu semakin banyak orang yang berani tinggal di sana, mungkin salah satunya aku.  Sedikit berkelakar, aku akan memikirkan untuk memiliki properti di salah satu tempat di Jabotabek seandainya Jokowi terpilih.  Selamat tinggal ketakutan….hehehehhehe….   Jadi, siap-siap ya, bila kubu kotak-kotak menang pada Pilkada putaran kedua September nanti, kemungkinan harga properti bakal naik…*big smile ;)

Salam hangat,

Lintasophia